
Kal dan Vera berjalan bersama keluar kampus karena tugas mereka sudah selesai. Kal baru akan menghubungi ayahnya untuk menjemput saat melihat Kris berada di depan gerbang.
"Nona!" Panggil Kris melambaikan tangannya dengan semangat.
"Kamu? Kenapa kamu bisa di sini, Sekretaris Kris?" Tanya Kal heran.
"Tentu untuk menjemput Anda, Nona." Kris melirik-lirik Vera yang berdiri di samping Kal.
"Kamu sendirian?" Tanya Kal dengan mata yang memicing saat menyadari padangan Kris yang malah ke arah sampinya.
"Tidak, Bos ada di dalam mobil menunggu." Kris berdehem sembari merapikan jasnya.
Kal merasa ada yang aneh dengan Sekretaris calon suaminya itu. Kal melihat ke sampingnya dan mendapati Vera yang sedang menunduk malu-malu karena terus di lirik-lirik oleh Kris.
Kal memutar bola matanya malas, sepertinya temannya ini menaruh rasa juga pada Kris.
"Ayo! Apa kalian berdua ingin tetap di sini?" Tanya Kal saat ia sudah berjalan tapi kedua orang yang masih malu-malu itu malah diam saja.
"Baik, Nona." Kris menjawab dengan tegas dan mengeluarkan semua wibawanya.
Berjalan dengan gagah dan keren mendahului Kal yang menatap semakin aneh pada Kris.
Kal melihat Vera yang rupanya terpesona dengan Kris. Kal menarik tangan Vera untuk ikut masuk ke dalam mobil juga.
Kris membukakan pintu untuk Kal, setelahnya baru ia membukakan pintu untuk Vera dengan gaya kerennya.
"Tadi biasa saja sikapnya waktu bukakan pintu untukku. Giliran untuk si Bohay, sok keren banget dia." Kal menggerutu melihat tingkah pasangan yang malu-malu itu.
"Kris suka dia." Kal menoleh ke samping di mana Delon berada.
"Maksud, Mas. Sekretaris Mas itu suka sama ..."
Delon menghentikan ucapan Kal karena kedua orang itu sudah masuk di dalam mobil. Bahkan Vera duduk malu-malu saat tahu kalau dia di samping Kris.
"Bo, kamu kenapa?" Tanya Kal kala melihat Vera salah tingkah.
Vera cukup kaget mendengar suara Kal.
"A-apa, Mok?" Tanya Vera balik sembari menahan kegugupannya.
"Tidak, aku cuma heran saja melihat kamu."
"Heran kenapa?"
Vera tak berani menoleh kebelakang atau ke samping kanannya. Karena di belakang sebelah kanan ada idolanya. Sedangkan di samping kanan ada pria tampan lain yang tak kalah oke dari idolanya.
"Duduk kamu kok salah tingkah begitu? Kamu ambeyen?" Tanya Kal pura-pura polos.
Padahal Kal tahu kenapa temannya itu salah tingkah. Kal hanya ingin mengganggu Vera saja, apa lagi baru kali ini Vera terlihat begitu salah tingkah berdekatan dengan laki-laki.
__ADS_1
Biasanya Vera selalu percara diri dan galaj bila ada laki-laki yang menggoda atau melirik dirinya. Tapi kali ini berbeda dengan biasanya.
Kal juga tak akan begitu saja melepaskan Vera pada Sekretaris calon suaminya. Kal harus mencaritahu lebih dulu bagaimana sikap dan sifat Kris. Kal tidak mau temannya hanya di dekati karena tubuhnya saja.
"Tidak kok ... Aku cuma ... Cuma tidak biasa saja duduk di mobil semewah ini." Vera duduk kaku di tempatnya.
"Biasanya kita naik motor ya, Bo. Kali ini kita naik mobil mewah, pasti beda rasanya." Kal terkekeh saat melihat Vera mengangguk cepat, tali tubuhnya tetap duduk tegak.
Delon menarik tubuh Kal yang sedikit mencondong ke arah Vera.
"Sudah," ucapnya.
"Kenapa?" Tanya Kal tak mengerti maksud Delon.
"Tidak."
Kal menghembuskan napasnya karena pertanyaannya tak mendapatkan jawaban pasti.
"Ru ... Mah kamu ... Dimana?" Tanya Kris gugup sembari melirik Vera.
"Di jalan Melati, nomor 117 eh ..." Vera bingung harus memanggil apa pada pria di sampingnya.
Menyadari kebingungan gadis cantik di sampingnya yang tak tahu namanya. Kris segera memberitahu dengan gaya keren yang duduk tegap.
"Panggil saja, Mas Kris. Supaya kedengaran romantis."
"Baiklah, Mas Kris." Vera menunduk malu sembari tersenyum.
"Awas saja kalau kamu berani modusin teman aku, Sekretaris Kris. Apa lagi sampai permainkan perasaannya. Kamu bakalan berhadapan denganku." Kal berucap tegas sembari menakuti Kris dengan tinjunya.
Kal memang tak pernah main-main dengan ancamannya jika menyangkut keluarganya dan juga Vera.
Kal bahkan pernah mematahkan tangan seorang lelaki jalanan karena berani melecehkan Vera. Lelaki itu dengan sengaja menyenggol bokong Vera.
Melihat hal itu tentu saja membuat Kal marah, gadis itu menarik tangan laki-laki itu dan memelintirnya.
Kris yang mendengar ancaman dari calon istri bosnya menelan ludah kasar. Mengingat perkelahian Kal dengan Satpam membuat Kris takut berurusan dengan gadis jagoan itu.
"Jangan bicara dengan pria lain." Delon mengarahkan wajah Kal ke arahnya.
Delon tidak suka saat wanitanya melihat laki-laki lain. Walau hanya sebentar saja dan tidak ada maksud lain. Tapi tadi Kal sudah menatap Kris cukup lama menurut Delon.
Setelah mengantarkan Vera sampai rumahnya dengan selamat. Mobil kembali melaju menuju sebuah mall.
"Untuk apa ke sini, Mas?" Tanya Kal heran.
"Cari cincin," sahut Delon.
"Cincin untuk apa? Bukannya Mas sudah kasih aku cincin?"
__ADS_1
"Itu untuk tunangan, yang ini untuk nikah."
Kal menatap cincin berlian berwarna merah delima di jari manis tangan kirinya. Kal tak pernah membeli perhiasan ataupun barang brandid seperti gadis kaya lainnya.
Kal bahkan lebih sering membeli pakaian yang harganya di bawah satu juta. Dan keperluan lainnya yang harganya tak lebih dari 2 juta.
"Kenapa?" Delon yang melihat Kal diam menatap cincin tunangan mereka bertanya.
Takut gadis itu tak suka dengan cincin pemberian dari mamanya.
"Berapa harga cincin ini, Mas? Permatanya cantik, merah delima." Kal benar-benar terpesona dengan keindahan permata merah delima itu.
"Tak ternilai." Kal mengangkat kepalanya menatap Delon.
Mereka berjalan memasuki mall dengan tangan Delon yang merengkuh bahu Kal.
"Maksudnya?" Tanya Kal.
"Warisan keluarga, untuk setiap menantu perempuan."
"Jadi ini turun temurun, Mas?" Kal melotot tak percaya.
Delon mengangguk sebagai jawaban.
"Artinya kamu di akui seluruh keluarga dan di terima dengan baik."
Kal menggigit bibir bawahnya mendengar ucapan Delon. Ia tak menyangka kalau perjodohan yang sempat plin plan ini akan berakhir padanya.
"Kenapa Mas mau terima perjodohan ini?" Tanya Kal penasaran.
"Takdir." Kal menatap Delon yang melihatnya.
"Serius, Mas."
"Kalau bukan takdir, lalu apa?"
Kal memutar bola matanya, berbicara dengan calon suaminya terkadang memang menguji kesabaran.
Sesampainya di sebuah toko perhiasan mewah, Kal dan Delon masuk. Banyak jenis dan bentuk perhiasan di sana. Kal sampai melongo dengan keindahan dari kilauan perhiasan-perhiasan itu.
"Mau yang mana?" Tanya Delon saat mereka melihat-lihat banyaknya cincin.
"Bingung, Mas." Kal mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.
Matanya sibuk melihat ke sana kemari mencari yang paling cocok. Apa lagi semuanya menarik di mata gadis yang tak pernah masuk ke tempat perhiasan itu.
"Bisa saya bertemu dengan desainer kalian?" Tanya Delon pada pelayan.
"Bisa, Tuan. Kebetulan Desainer kami sedang ada di tempat. Mari ikut saya." Pelayan itu mempersilahkan Kal dan Delon.
__ADS_1
"Mohon di tunggu sebentar, Tuan. Saya akan memanggil Desainer kami."
Delon hanya mengangguk sembari duduk di sofa tunggu bersama Kal.