Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 44. Pendekatan Kris dan Vera


__ADS_3

Kal dan Delon saat ini sedang berjalan-jalan di pasar penjual oleh-oleh dan pernak-pernik khas Hawai. Karena malam nanti mereka sudah harus terbang ke Maldives.


Meski hanya 3 hari saja di Hawai, Kal sudah sangat bahagia. Baginya, liburan terlalu lama di satu tempat hanya akan meninggalkan kesan kurang semangat lagi ketika hendak datang lagi.


Karena semua tempat sudah di kunjungi ketika lama berlibur di satu tempat saja.


"Mas! Kita beli kaos ini, yuk!"


Delon mengangguk sembari tersenyum pada Kal. Menyetujui permintaan istrinya untuk membeli sepasang kaos berwarna ungu dengan gambar pantai di belakangnya.


Kal dengan semangat mengambil kaos itu dan beberapa kaos lainnya untuk kedua saudaranya dan juga Vera. Kal juga membeli oleh-oleh lain untuk keluarga lainnya.


Tidak banyak memang yang di beli oleh Kal, mengingat kalau mereka masih akan bertolak ke Maldives.


"Mas! Kok kita jalan-jalannya ke pantai-pantai terus sih? Kalau cuma mau ke pantai tidak usah jauh-jauh ke luar negeri. Di negara sendiri banyak pantai," ucap Kal.


Keduanya kini sedang makan siang di salah satu restoran.


"Kamu maunya kemana?" Tanya Delon sembari menyodorkan sendok berisi daging kepiting.


Kal nampak berpikir setelah menerima suapan dari suaminya.


"Ke Paris mungkin, kata Bohay di sana tempatnya romantis dan cocok untuk pasangan."


Delon mengangkat kepalanya menatap Kal sembari mengunyah saat mendengar ucapan Kal.


"Siapa Bohay? Memangnya itu manusia?" Tanya Delon serius.


Karena setahu pria itu, bohay itu julukan untuk bentuk tubuh seorang wanita. Tapi kenapa istrinya malah mengatakan seolah itu adalah sebuah nama.


"Ya jelas manusia lah, Mas. Itu si Vera, aku panggil dia bohay." Delon mengangguk.


Memang dia sering mendengar Kal memanggil temannya dengan kata 'Bo' sedangkan Kal sendiri di panggil 'Mok'.


"Kalau kamu di panggil apa sama dia? Semok?" Tebak Delon saat memikirkan sambungan dari panggilan gebetan Kris untuk istrinya.


"Iya," sahut Kal santai sembari terus makan.


"Hm ... Memang iya sih, kamu semok. Banget lagi," ucap Delon sembari mengedipkan sebelah matantanpa pada Kal.


Kal sendiri yang mendengar ucapan dan kedipan mata suaminya jadi melotot. Untung saja ia belum memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Jadi tidak ada adegan tersedak makanan.


"Biasa saja matanya kali, Mas. Tidak usah genit," kata Kal.

__ADS_1


"Cuma sama kamu," sahut Delon enteng.


Pria itu ingin mencoba lebih terbuka dan selalu berusaha membuat Kal nyaman dengannya. Mengendurkan sedikit sikap datarnya agar istrinya tidak merasa bosan apa lagi suntuk bersamanya.


Kal memilih acuh dan melanjutkan makannya. Ia bukanlah wanita yang selalu berharap di puji dan di goda suami. Meski tidak di pungkiri kalau ia akan senang mendapatkan hal seperti itu dari suaminya.


Namun lihat-lihat tempat dan situasi juga kalau mau menggombal apa lagi genit.


Hingga waktu terus berjalan dan kini mereka sudah terbang kembali untuk ke tempat selanjutnya.


 


Di tempat lain ...


Kris menunggu di depan gerbang kampus Vera untuk menjemput gadis itu. Meski pekerjaannya sedang banyak karena kepergian bonya.


Kris menyempatkan diri untuk bertemu gadis pujaannya itu.


"Lama ya?" Vera yang sudah datang merasa tidak enak hati pada Kris yang sudah menunggu.


Meski bukan keinginan Vera untuk di jemput pria itu. Tetap saja ia merasa sungkan karena Kris harus menunggu lama dari waktu ketika pria itu mengabarinya.


Keduanya memang sudah bertukar nomor ponsel dan sering bertukar kabar. Meski tidak intens karena pekerjaan Kris, itu bukan masalah bagi Vera.


Gadis itu juga sudah merubah sedikit cara berpakaiannya. Jika sebelumnya ketat dan terbuka, kini Vera sudah berpakaian tertutup meski masih sedikit membentuk tubuh.


Setelah acara pernikahan Kal selesai, Vera membawa pakaiannya ke tukang jahit dan merombak semuanya.


"Ayo!" Ajak Kris yang berjalan menuju pintu sebelah kemudi.


Membukakan pintu untuk Vera sembari tersenyum. Vera salah tingkah di buatnya, sekaligus merasa tersanjung dengan perlakuan manis pria itu.


Saat Vera akan masuk ke dalam mobil, datanglah seseorang yang sangat tidak ingin di temui oleh Vera.


"Wah, wah, wah ... Lihat siapa itu? Gadis malam yang menemukan mangsa baru."


Vera memutar bola matanya malas mendengar ucapan Wina. Kris sendiri diam saja menatap wanita yang sedang duduk di dalam mobil bersama seorang pemuda.


Kris mencoba mengingat di mana ia pernah melihat wanita itu.


"Wah, wah, wah ... Lihat siapa itu? Perempuan kepedean yang selalu mengaku sebagai menantu keluarga Adijaya. Dapat gebetan baru, Non? Sudah di campakkan sama Tuan Muda Adijaya, ya?" Ejek Vera balik.


Kris yang mendengar nama tuan besarnya di sebut. Jadi teringat dengan acara pesta bosnya. Wanita yang di dalam mobil itu adalah orang yang mengaku sebagai kekasih Boy.

__ADS_1


"Mending juga orang biasa seperti ini, meski cuma pegawai tapi di jamin kesetiaannya. Dan juga sangat bertanggung jawab," ucap Vera sembari menyandarkan kepalanya di pundak Kris.


Sontak saja jantung Kris berdisko ria mendapatkan perlakuan seperti itu dari Vera. Ia tersenyum lebar menatap gadis di depannya.


"Biarkan saja dia, sayang. Jangan suka meladeni orang tidak berguna," ucap Kris yang membuat Vera gantian berdebar.


Dengan malu-malu karema di panggil sayang oleh Kris. Gadis itu masuk ke dalam mobil, namun sebelum itu.


"Jangan sampai ketahuan boroknya, ya. Nanti tidak bisa mendapatkan fasilitas mewah lagi dari kebohongan kamu," ucap Vera.


Kris menutup pintu setelah Vera masuk, Kris dengan cepat menuju pintu sebelah dan melajukan mobilnya.


Wina yang di ejek oleh Vera jadi merasa kesal sendiri.


"Ish, awas saja kamu wanita malam."


"Sudahlah, nanti kita urus dia. Tidak akan ada yang tahu tentang hubungan kita," ucap seorang pria yang di sebelah Wina.


"Bapak, harus kasih dia nilai yang jelek. Supaya dia tahu rasa tidak bisa lulus," kata Wina manja.


"Tenang saja, itu bisa di atur."


Mobil itu melaju meninggalkan lingkungan kampus.


Di mobil yang di kemudikan oleh Kris, keduanya saling lirik dan malu-malu. Tapi ada sesuatu yang harus Kris tanyakan pada Vera untuk memastikan lagi.


"Siapa pria yang sama perempuan tadi?" Tanya Kris.


Vera segera menatap ke arah Kris mendengar pertanyaan pria itu. Kedua matanya memicing curiga.


"Memangnya kenapa? Mas, suka sama dia?" Tuding Vera yang membuat Kris gelagapan.


"Eh! Tidak, tidak. Aku cuma penasaran saja, soalnya kemarin dia kan mengaku sebagai adik iparnya, Nyonya Bos. Kenapa sekarang kok malah sama pria yang lebih cocok jadi pamannya? Apa itu memang pamannya?"


Kris dengan cepat menjelaskan maksudnya supaya Vera tidak salah paham.


"Entah pamannya atau bukan, yang pasti pria tadi Dosen," ucap Vera apa adanya sesuai yang di ketahuinya.


Kris mengangguk saja mendengar penjelasan Vera.


"Mau makan bareng?" Tawarnya di angguki Vera.


Akhirnya mereka berdua singgaj di restoran lebih dulu untuk makan siang bersama.

__ADS_1


__ADS_2