Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 25. Pekara bakso


__ADS_3

Delon sedang duduk di kursi kerjanya saat Kris masuk membawa berkas lainnya.


"Bos, saya boleh berpacaran tidak?" Tanya Kris yang membuat Delon mengangkat pandangannya.


"Siapa?" Tanya Delon balik yang di pahami oleh Kris.


"Temannya calon istri, Bos."


Kedua alis Delon terangkat penuh tanya pada Kris yang baru pertama kali di dengarnya ingin mendekati seorang gadis. Selama Kris ikut bekerja dengan Delon sejak awal merintis usaha.


Kris tak pernah melirik atau memperhatikan lawan jenisnya. Entah karena apa? Tapi kali ini pemuda itu mengungkapkan keinginannya untuk pacaran.


"Saya rasa teman nona sangat menarik, Bos. Tadi saya sudah melihat rekaman cctv di lobi, teman nona itu sangat setia kawan. Saya yakin kalau dia juga pasti orang yang setia." Kris menjelaskan alasannya ingin mendekati Vera.


"Bukan karena tubuhnya, kan?" Tanya Delon memastikan.


"Bukan lah, Bos. Ya, walaupun tidak bisa di bandingkan dengan calon istri Bos yang lebih besar." Kris tersenyum sumringah tanpa menyadari bahaya di depannya.


"Kris Atmana!"


"Iya, Bos. Maaf, maaf, saya tahu salah." Kris yang menyadari kesalahannya karena sudah lancang mempeehatikan calon istri bosnya, segera minta maaf.


Apa lagi Delon yang sudah menyebutkan nama lengkap dari Kris. Itu menandakan kalau atasan Kris itu tidak main-main dengan apa yang akan di lakukannya selanjutnya.


"Lembur seminggu." Kris menurunkan bahunya pasrah mendengar ucapan bosnya.


"Baik, Bos. Saya permisi," ucap Kris lesu berjalan keluar.


Delon melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena ucapan Kris tadi. Namun Delon sudah tidak bisa fokus lagi bekerja.


Setelah hampir 4 tahun ia menduda, baru kali ini Delon dekat lagi dengan seorang wanita. Banyak wanita di sekitarnya dengan kecantikan yang perlu di pertanyakan lagi.


Tapi memang hanya Kal yang menarik perhatiannya. Caranya berpakaian dan bersikap benar-benar menarik. Semua yang di lakukan gadis itu sangat natural dan apa adanya.


"Hah ... Semoga ini akan menjadi pilihan terakhirku dan pasanganku yang terakhir. Apapun akan ku lakukan agar pasanganku tidak pergi lagi. Walau aku harus mengurungnya sekalipun." Delon bertekat kuat.


Masa lalu di mana Delon di tinggalkan istrinya hanya karena tak bisa memenuhi keinginan sang istri. Membuat Delon merasa sangat kecewa dan sakit hati.


Meski terlahir sebagai anak orang berada dan sangat berkecukupan. Delon tak pernah meminta bantuan orang tuanya dalam membangun bisnisnya sendiri.


Ketika menikahpun, Delon menggunakan uangnya sendiri untuk memenuhi keinginan istrinya. Menikah dengan sangat mewah dan megah. Tapi karena saat itu perusahaan yang baru di bangun Delon masih sangat kecil.


Pesta pernikahan itupun hanya di gelar sesuai keuangan Delon yang tak seberapa.


Hanya 1 tahun pernikahan Delon berlangsung, istrinya sudah memberikan surat cerai dan pergi meninggalkan Delon.


Tok tok tok

__ADS_1


Delon terperanjak kaget mendengar ketukan pintu.


"Masuk."


Seorang pemuda masuk ke dalam ruangan Delon.


"Mas, sibuk tidak?" Boy duduk di kursi seberang Delon.


"Hm." Delon hanya menjawab singkat saja.


"Aku mau magang di sini, Mas. Bisa, kan?" Tanya Boy.


"Ikuti prosedur."


"Ck, tidak perlu lah itu. Mas, yang punya perusahaan dan aku adikmu. Langsung terima saja kami," ucap Boy menatap saudaranya memohon.


Delon mengangkat pandangannya dari berkas ke arah Boy.


"Kami?" Tanyanya.


Delon yakin kalau adiknya ini pasti mengajukan diri bukan untuknya sendiri.


"Iya, teman-temanku juga."


"Berapa orang?"


"Temanku 5 orang, di tambah pacarku jadi 6 orang."


Kerja tetaplah kerja, harus profesional meski dengan keluarga. Tapi tak berlaku bagi Kal tentunya.


"Ikuti prosesnya kalau tidak pergilah."


Boy menghela napas panjang, sangat sulit memang meluluhkan saudaranya itu kalau sudah bertitah. Ketegasan Delon yang selama ini membuat Boy segan dan takut.


"Tapi terima kami ya, Mas?" Boy masih saja berusaha membujuk Delon.


"Tergantung."


"Tergantung apa, Mas?" Tanya Boy.


"Kemampuan kalian," sahut Delon.


"Kalau itu tidak usah di pertanyakan lagi, Mas. Teman-temanku semuanya berkualitas, aku tidak sembarangan menerima teman." Yakin Boy menatap Delon mantap.


"Tanggung akibatnya kalau tidak sesuai ucapanmu."


Boy menelan salivanya kasar saat mengerti kalau saudaranya memintanya bertanggung jawab saat teman-temannya tak memenuhi kualitas.

__ADS_1


Boy pergi dari perusahaan Delon setelah menyerahkan berkas-berkas miliknya dan teman-temannya.


 


Kal dan Vera telah seleaai dengan kelas mereka, keduanya kini berjalan santai menuju kantin kampus. Setelah berjuang menyelesaikan kelas yang cukup menguras pikiran, kini perut sudha keroncongan.


"Hah ... Akhirnya hari ini selesai juga kelas kita." Vera mendudukkan dirinya di kursi setelah selesai memesan sebelum duduk.


"Besok lebih banyak lagi kelas kita, apa lagi salah satu Dosen minta ganti jam pelajaran. Yang seharusnya dua hari lagi jadi besok," ucap Kal di angguki Vera.


"Enak banget ya jadi Dosen. Bisa menentukan kapan mereka mau mengajar, kalau jam mengajar dan keperluan pribadi bertabrakan. Jam pelajaran yang di korbankan." Vera mendengus.


"Ya, begitulah. Jalani saja untuk satu tahun lagi," kata Kal.


Setelah pesanan tiba, Kal dan Vera makan dnegan lahapnya. Meski hanya bakso saja tapi sangat enak.


"Kok punya kamu tidak pakai saos, Kal?" Tanya Vera saat melihat mangkok Kal yang warnanya tetap sama tanpa ada campuran lagi.


"Tidak, ayah melarangku makan yang pedas."


"Kenapa?" Vera memasukkan baksonya setelah bertanya.


Kal hanya mengangkat kedua bahunya saja karena mulutnya sednag penuh dengan makanan.


Sedang asik menikmati makanan yang masih hangat. Datanglah orang yang paling tidak ingin di lihat oleh Kal dan juga Vera.


"Makan bakso, ya?" Wina datang sembari menatap Kal dan Vera menghina.


"Tidak, ini rudal." Vera menjawab dengan santainya.


"Rudal? Mata kamu buta, ya? Jelas-jelas itu bakso bukan rudal. Pergi periksa mata sana, supaya tidak malu-maluin." Ejek Wina tersenyum sinis.


"Iya, rudal. Rudal bakso yang bisa meledakkan mulut dengan kenikmatannya, juga perut dengan rasa kenyangnya." Kal ikut menjawab ucapan Wina sembari memasukkan potongan bakso ke dalam mulutnya.


"Makanan kampung di makan. Memang cocok sih dengan kalian berdua yang kampungan," cibir Wina.


"Jangan menghina makanan, nanti ada masanya kamu sulit untuk mendapatkannya." Kal mengingatkan.


"Kesulitan? Cuma bakso semangkok aku sampai kesulitan mendapatkannya? Bahkan uangku lebih dari cukup untuk membeli satu gerobak bakso." Sombong Wina yang tidak mendapat jawaban.


Setelah Kal dan Vera selesai makan dan minum, keduanya langsung berdiri untuk pergi. Karena sudah ada Wina, mereka tidak mau berlama-lama di sana.


"Pantas saja bakso tidak selevel dengan kamu, makanan kamu gerobak baksonya langsung. Hebat, hebat." Kal bertepuk tangan tiga kali lalu pergi.


"Ternyata Ratu rayap seperti ini, sebaiknya kamu jangan dekat-dekat dengan gerobak bakso. Nanti kamu di tuntut kalau makan tuh gerobak." Vera terkekeh dan meninggalkan Wina.


Wina yang lagi-lagi mendapatkan hinaan dari Kal dan Vera hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat.

__ADS_1


"Huh, lihat saja nanti. Kalian tidak akan bisa sombong lagi begitu tahu di mana aku kerja magang."


Wina melangkah pergi meninggalkan kantin dengan perasaan dongkol.


__ADS_2