Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 7. Alasan Ayah


__ADS_3

Kal tertidur di pelukan Ferdi karena menangis tadi. Kebiasaan gadis itu setiap habis menangis dan menahan kesedihan hati. Kal pasti akan tertidur jika sudah mendapatkan tempat nyaman baginya.


Ayah Indra yang tadi mendapatkan telpon dari Edo dan memberitahu tentang Kal yang ada di rumahnya. Pria tua itu langsung meluncur ke rumah anak pertamanya itu.


"Dimana Kal, Edo? Loh, kamu di sini juga, Fer?" Tanya ayah indra.


Pria itu duduk di sofa ruang keluarga bersama anak dan cucunya. Sedangkan menantunya sedang tidak ada.


"Iya, Yah. Tadi malam begadang sama Mas Edo di kantor, jadi ikut pulang sekalian ke sini." Jelas Ferdi pada ayahnya yang di balas anggukan.


"Trus, adik kalian dimana?" Tanya ayah Indra lagi karena tak melihat keberadaan anak gadisnya.


"Di kamar, Yah. Lagi tidur dia," sahut Edo yang sedang memangku anaknya.


"Ya sudah, biarkan saja. Mungkin sebentar lagi dia bangun. Bawah sini anak kamu!" Ayah Indra memajukan kedua tangannya meminta sang cucu.


"Sini, Nak. Sama Kakek, ya! Sama Kakek." Ayah Indra menimang-nimang cucu laki-lakinya yang baru berusia satu tahun itu.


"Yah! Apa iya, Ayah setuju sama perjodohan yang di buat bibi Tuti?" Tanya Ferdi.


Ferdi dan Edo memang memanggil Tuti dengan sebutan Bibi. Karena bagi mereka, hanya ada satu orang yang akan menjadi ibu mereka dan itu yang sudah meninggal.


Sedangkan Kal memanggil Tuti dengan sebutan mamanya Dea. Karena wanita itu yang tidak pernah bersikap tulus padanya. Dan bahkan terkesan tak perduli meski ada sang ayah.


"Iya, kenapa? Kalian tidak setuju dengan keputusan Ayah?" Tanya ayah Indra balik.


"Bukan tidak setuju, Yah. Hanya saja, Kal terlihat tidak setuju dan seperti tertekan." Edo mengeluarkan pendapatnya tentang kondisi sang adik.


"Iya, Yah. Kal kelihatan sedih banget," sambung Ferdi pula.


"Ayah setuju sama perjodohan itu karena yakin sama calonnya," sahut ayah Indra.


"Memangnya siapa calonnya, Yah? Lagian, kenapa bibi Tuti mau jodohin Kal? Kenapa tidak menjodohkan anaknya saja?" Penasaran Edo.


"Dea, sudah punya pacar. Ayah juga sebenarnya penasaran, kenapa sampai Tuti menjodohkan Kal dengan anak teman arisannya?"


Ayah Indra nampak berpikir sembari masih menimang cucunya di pangkuan.


"Ayah, tidak bertanya padanya siapa yang akan di jodohkan dengan Kal? Jangan-jangan pria tua dengan perut buncit? Atau pria jelek yang cacat?" Ferdi mengungkapkan apa yang ada di dalam kepalanya.

__ADS_1


Pletak


"Mulut kamu itu kalau bicara jangan sembarang. Tidak boleh menjelek-jelekkan orang lain," ucap Edo menasehati adiknya setelah memberi jitakan manis di kening Ferdi.


"Jangan-jangan pria itu sudah punya banyak istri? Kal di jadikan istri muda!" Edo juga mengeluarkan pikiran buruknya.


"Hhuuu ... tadi aku di jitak, tahu-tahu dia sendiri juga begitu. Mana sok nasehati orang lagi," kesal Ferdi melihat Edo.


"Itu kan cuma tebakan aja, lagian logikanya memang begitu kan? Anaknya tidak di jodohkan karena sudah punya pacar. Sedangkan Kal belum punya pacar, tapi di jodoh-jodohkan."


Edo mencari pembelaan untuk dirinya dari kekesalan sang adik.


"Cih, mencari pembenaran atas kesalahan yang sudah di depan mata." Cibir Ferdi menatap Edo sinis.


Edo sendiri hanya mengangkat kedua bahunya acuh mendengar cibiran adiknya.


"Karena Ayah tahu siapa yang akan di jodohkan dengan, kal. Itu sebabnya Ayah setuju dengan perjodohan itu," ucap ayah Indra menatap kedua anak laki-lakinya.


"Ayah kenal sama orang itu? Siapa dia?" Tanya Ferdi.


"Anak sulungnya Asti," jawab ayah Indra.


"Masa sih, Yah?" Ucap Edo tak percaya.


"Ayah tidak bohong kan? Nanti Ayah di prank lagi sama bibi Tuti." Ragu Ferdi dengan apa yang di katakan ayahnya.


"Darimana bibi Tuti bisa kenal dengan tante Asti?" Tanya Edo.


"Tempat arisan," sahut ayah Indra.


"Wah, jangan-jangan niat terselubung dari perjodohan itu." Curiga Ferdi menatap ayahnya.


"Ayah juga sempat berpikir begitu. Nanti malam mereka akan datang ke rumah untuk membicarakan tentang perjodohan. Ayah akan coba mencaritahu."


"Itu lebih baik, Yah. Bukan maksud kami untuk tidak mempercayainya. Hanya saja, semua ini terasa janggal dan memang harus di curigai," ucap Edo.


"Apa lagi bibi Tuti, tipe ibu tiri yang tidak sayang pada anak tirinya. Bahkan dengan anaknya sendiri pun sebenarnya dia kurang perhatian," kata Ferdi di angguki Edo.


"Sudah lah, biarkan saja dia ingin berbuat apa. Selama nenek kalian masih ada, dia akan terus bersikap begitu karena mendapat dukungan dari nenek kalian." Ayah Indra menghela napas berat.

__ADS_1


Mengingat jika selama ini ia selalu di tekan oleh Tuti melalui sang ibu. Beruntung ayah Indra bukanlah laki-laki yang mudah di tindas di bawah tekanan.


Meski Tuti selalu mencoba menguasai dan mengendalikannya. Ayah Indra tetap bisa tegas dan keras pada wanita itu. Sehingga anak-anaknya tidak ada yang di sentuh atau di sakiti oleh Tuti yang memang teelihat tidak suka anak-anak.


"Ayah! Kenapa Ayah bisa di sini?" Terdengar suara Kal yang masih serak seperti habis bangun tidur.


Ayah Indra menoleh dan mendapati Kal berjalan kearah Edo. Duduk di samping Edo sembari memeluk pria itu dengan manja.


"Kak Mina kemana, Mas?" Tanya Kal yang tak mendapati sang kaka ipar di sana.


"Lagi ke supermarket sama bibi," sahut Edo sembari merapikan rambut Kal yang menutupi wajahnya.


"Kal! Ayah ingin bicara serius dengan kamu."


Kal menatap ayahnya sembari menagngguk, tapi tak mengubah posisinya yang sudah enak di pelukan Edo.


"Nanti malam keluarga tante Asti akan datang ke rumah untuk membahas masalah perjodohan kamu dan anak sulungnya. Jadi, Ayah harap kamu bisa pulang dengan Ayah."


Wajah Kal langsung berubah murung kembali setelah mendengar ucapan ayahnya. Ia kira sang ayah datang untuk memberitahukan tentang pembatalan perjodohan.


Tapi ternyata kedatangan ayah Indra malah membahas perjodohan nanti malam.


"Ayah, tidak akan menerima perjodohan itu kalau Ayah sendiri tidak tahu siapa calonnya. Sedangkan orang yang di maksud akan di jodohkan dengan kamu itu, Ayah tahu siapa dia dan bagaimana sikapnya."


"Bukan cuma Ayah, kedua Mas kamu juga sudah mengenalnya. Dia orang yang baik dan sangat menghargai sebuah hubungan baik. Ayah baru akan tenang menyerahkan kamu dengannya, Kal."


Kal menatap kedua saudaranya yang mengangguk menatapnya.


Ayah Indra berbicara dengan lembut pada Kal seperti biasanya. Memberi penjelasan dan pengertian dari alasan ia menerima perhodohan itu.


"Percayalah, Nak. Kamu akan bahagia bersama dengannya. Hanya dia yang Ayah rasa mampu menerima kamu dengan segala sikap manja kamu itu. Sikapnya dewasa, dan Ayah rasa dia bisa membimbing kamu, Nak."


Kal menunduk dalam di pelukan Edo, hatinya bimbang. Alasan ayahnya menerima bukan karena tak sayang padanya atau sudah tak mau dirinya lagi dan lebih memilih ibu tirinya.


Tapi sang ayah malah sudah sangat memikirkan dirinya. Hingga msalah jodoh untuknya pun sang ayah memikirkannya.


Karena memang Kal yang terlalu di manja. Terkadang masih bersikap seperti anak-anak yang suka menangis dan merajuk bila keinginannya tak di turuti.


"Baiklah, kalau menurut Ayah dia yang terbaik untukku. Aku terima perjodohannya," ucap Kal dengan berat hati.

__ADS_1


Ketiga pria itu tersenyum senang karena akhirnya Kal setuju.


__ADS_2