
Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan. Akhirnya pesawat mendarat juga di Hawai.
Kal tertidur pulas tidak di bangunkan oleh Delon. Karena jika wanita itu sampai bangun sebelum tiba di Vila. Delon akan pusing dengan banyaknya pertanyaan yang akan di lontarkan Kal.
Delon menggendong istrinya untuk turun dari pesawat dan langsung menuju mobil yang sudah menanti mereka.
Kal baru membuka kedua matanya saat merasakan guncangan. Dengan setengah sadar, wanita itu menatap sekitarnya yang sudah berubah.
"Kok pesawatnya jadi hitam, Mas? Apa lampunya mati?" Tanya wanita itu dengan suara serak khas bangun tidur.
Delon segera menunduk menatap Kal yang sudah terbangun dan sedang melihat sekitarnya.
"Kita sudah turun," ucap Delon yang menarik perhatian Kal.
"Turun? Turun kemana?" Tanya Kal.
"Mobil."
"Mobil? Dimana mobil?"
Delon diam dan meraih botol minum yang masih tersegel yang ada di pintu mobil. Membuka tutupnya dan menyodorkan pada Kal.
"Minum dulu."
Kal minum dengan cepat hingga air di botol kecil itu tandas. Setelah minum, wanita itu diam tanpa melakukan apa-apa.
Delon juga diam saja mengamati istrinya yang masih ngelag itu.
Kal menatap sekitarnya lagi dan baru sadar kalau kini ia sudah berada di darat. Di dalam mobil yang sedang melaju melewati jalanan.
"Mas! Kapan kita turun dari pesawat?" Tanya Kal menatap suaminya.
"Sepuluh menit lalu," jawab Delon.
"Ini di mana?" Tanya Kal untuk yang ke sekian kalinya menanyakan tujuan.
"Nanti kamu akan tahu," jawab Delon yang membuat Kal kesal dan memilih mencubit perut Delon.
"Ssh sakit ..." keluh Delon yang merasa panas dan sakit akibat cubitan Kal.
"Makanya jawab yang benar, Mas. Jangan buat aku semakin kesal," kata Kal.
"Coba kamu perhatikan baik-baik, kita ada di mana?"
Kal berdecak karena merasa suaminya terlalu berbelit dalam memberitahunya.
Memilih diam dan mengamati tempat yang di laluinya. Hingga mobil berhenti di salah satu restoran.
Kal melihat sekitar restoran dan mendapati satu nama yang membuatnya memekik kaget.
__ADS_1
"Hawai?"
Pandangan wanita itu beralih ke Delon yang menatapnya dengan senyuman tipis.
"Kita di Hawai, Mas? Ini beneran kan? Bukan prank atau hoaks?" Senyum Kal melebar dan binar matanya tampak cerah bahagia.
"Welcome to Hawai, istriku sayang."
Kal berjingkat senang dan langsung menubruk tubuh suaminya bahagia. Meski banyak orang yang melihat tingkahnya yang terkesan norak.
Tapi siapa yang perduli dengan pandangan orang lain jika sedang bahagia karena impiannya terwujud, begitulah Kal saat ini.
"Beneran, Mas? Kita di Hawai?" Kal masih saja tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Iya," sahut Delon yang membuat Kal benar-benar bahagia.
"Terimakasih, Mas. Sudah membawaku ke kemari," ucap Kal masih memeluk suaminya erat.
"Sama-sama, sayang."
Delon membalas pelukan istrinya tak kalah bahagia.
"Kita makan dulu, nanti ke Vila. Sebentar lagi sunset dan kita bisa melihat di tepi pantai."
Kal mengangguk semangat mendengar ucapan suaminya. Perjalanan jauh dan lama membuat mereka tiba keesokan harinya di sore hari waktu setempat.
Kal terus tersenyum senang begitu mengetahui dirinya berada di Hawai. Tempat yang selama ini menjadi impiannya untuk di kunjungi jika sudah sukses nantinya.
Tapi siapa sangka kalau justru ia akan datang ke tempat ini bersama sang suami. Rasa kesalnya sejak kemarin hilang sudah dan berganti rasa terimakasih.
Delon jadi ikut merasa senang dan bahagia melihat senyuman manis istrinya yang tidak luntur.
Selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan menuju vila. Sampai di vila, Kal sudah tidak sabar lagi ingin segera ke pantai. Apa lagi hari yang bagus dan berangin, semakin menambah semangat Kal.
"Mas, kita kesana yuk!" Ajak Kal menunjuk pantai yang hanya berjarak 100 meter dari vila.
"Sebentar, masukkan koper dulu," ucap Delon yang membuat Kal hanya bisa menurut saja.
Namun mata wanita itu tidak bisa lepas dari pemandangan pantai yang indah di sana. Kal segera pergi mandi begitu sampai di kamar.
Tubuhnya juga sudah tidak nyaman memakai pakaian itu sejak kemarin. Selesai mandi Kal berganti pakaian dan bersiap untuk keluar tanpa menunggu suaminya.
"Kal!" Panggil Delon yang membuat Kal urung untuk keluar kamar.
"Kenapa, Mas?" Tanya wanita itu polos.
Delon menghela napas melihat wajah polos istrinya.
"Jangan keluar tanpa, Mas." Delon memberi peringatan.
__ADS_1
"Ya sudah cepat mandinya, Mas. Nanti kelamaan, kita tidak bisa melihat sunsetnya."
"Ingat! Jangan keluar. Atau kita pulang saat ini juga," ucap Delon memberi seidkit ancaman pada wanita nakal itu.
"Siap, Bos." Patuh kal dari pada di bawa pulang sebelum menikmati suasana Hawai.
Delon tidak ingin istrinya keluar sendirian dari vila dan lepas dari pandangannya. Apa lagi Kal terlihat semakin cantik berseri saja setelah menikah. Hal itu membuat Delon merasa harus semakin waspada.
Apa lagi Kal memakai rok selutut dengan kaos putih yang pas di tubuhnya. Jadi kedua gunung besarnya sedikit terbentuk meski tertutup rapi.
Dengan cepat Delon mandi karena takut istrinya akan kabur atau apalah itu namanya. Pikirannya sudah tidak tenang sejak menutup pintu kamar mandi. Jadi dalam waktu 10 menit, pria itu sudah keluar.
Kal ternyata sedang menatap pakaian mereka ke dalam lemari pakaian. Delon bernapas lega karena istrinya tidak melanggar larangannya.
Memakai pakaian yang di pilihkan Kal, pria itu merasa nyaman meski hanya celana selutut dan kaos putih serta kemeja biru.
Setelah selesai mandi dan bersiap, berulah mereka berdua pergi ke pantai bersama. Kal begitu senang menikmati pemandangan indah di sana. Meski dekat dengan kota, tetapi pantainya bersih dan sejuk.
"Mau kelapa muda?" Tawar Delin di angguki Kal.
"Kita kesana." Pria itu menunjuk salah satu tempat penjual kelapa muda yang ada di sana.
Mereka duduk berdampingan setelah memesan kelapa muda. Duduk di tepi pantai dengan beralaskan tikar kecil yang di sediakan pihak kedai untuk pembeli.
Kal menyandarkan kepalanya di bahu Delon sembari memejamkan mata. Menikmati angin yang menerpa wajahnya dan menerbangkan rambutnya.
"Kamu merasa asing tidak dengan, Mas?" Tanya Delon.
Kal membuka kedua matanya lalu menegakkan posisi duduknya. Menatap Delon yang juga sedang menatapnya.
"Maksud Mas, gimana?" Tanya Kal kurang paham.
"Saat kita pertama bertemu di kantor ayah. kamu merasa kenal tidak dengan, Mas?" Delon mengulang pertanyaannya.
Kal geleng kepala karena ia memang tidak merasa mengenal Delon.
"Tidak?" Tanya Delon yang kembali di jawab gelengan oleh Kal.
"Ah, sedihnya." Kal mengerutkan alisnya mendengar ucapan sang suami.
"Sedih kenapa, Mas?" Tanya Kal. "Memangnya kita pernah ketemu sebelum di kantor ayah waktu itu?" Sambungnya.
"Apa kamu ingat saat dulu latihan karate dan berkuda?" Tanya Delon mencoba membangkitkan kenangan Kal.
"Iya, apa Mas juga salah satu dari peserta di karate? Atau latihan berkudanya?" Tanya Kal.
"Keduanya, bahkan semua pelatihan yang di ikuti oleh Edo, Mas juga ada."
Kening Kal semakin mengkerut dan mencoba mengingat. Menatap wajah Delon serius, tapi Kal tidak juga menemukan jawabannya.
__ADS_1