Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 12. Sakitnya Kal


__ADS_3

Ayah Indra dan Ferdi berjalan mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan pasien. Kedua orang itu bahkan tak menyadari kalau masih memakai piyama tidur.


"Sebenarnya ada apa dengan adikmu, Fer?" Tanya ayah Indra karena Dokter belum juga keluar.


Pria itu berharap dapat sedikit mendengar apa kesakitan anaknya.


"Mas Delon, bukannya bilang kalau Kal sakit perut," ucap Ferdi mengingat teriakan sang saudara.


"Pasti sakit yang tadi siang," gumam ayah Indra membuat Ferdi menatap ayahnya.


"Apa maksud Ayah?"


"Tadi siang, Kal sempat mengeluh sama Ayah kalau perutnya tidak nyaman. Ayah, sempat mengajaknya ke rumah sakit, tapi dia menolak. Jadi Ayah mengatakan padanya untuk bicara kalau perutnya kembali tidak nyaman." Ayah Indra menjelaskan.


"Haduh, sakit apa anak itu?" Ferdi kembali berjalan mondar-mandir setelah tadi sempat diam saat bicara pada sang ayah.


"Ayah, hanya bisa berharap sakitnya tidak parah." Doa tulus ayah Indra dengan mata yang berkaca kala mengingat wajah kesakitan Kal.


Bahkan wajah cantik putrinya yang penuh keringat dan pucat masih dapat di ingat oleh ayah Indra.


Pria tua itu jadi teringat dengan sang istri yang dulu meninggal karena sakit juga. Ingatan itu membuat tubuh tuanya sedikit limbung.


"Ayah!" Ferdi langsung memapah tubuh ayahnya dan mereka duduk di kursi tunggu.


"Tenanglah, Ayah. Kal pasti baik-baik saja." Ferdi mengusap punggung ayah Indra karena di lihatnya wajah tua itu begitu sedih.


"Ayah, hanya takut kehilangan adikmu, Fer. Entah kenapa Ayah tiba-tiba teringat dengan ibumu." Ayah Indra menutupi wajahnya dengan ke dua tangannya.


"Tidak akan terjadi apapun pada Kal, Ayah. Kal itu gadis kecil kita yang sangat kuat."


"Iya, kamu benar. Adikmu sangat kuat." Ayah Indra mencoba menguatkan dirinya dan meyakini kalau sang putri tidak akan sakit parah.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangan pemeriksaan terbuka. Dokter yang memeriksa Kal mendekati ayah dan anak itu.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dokter?" Tanya ayah Indra tak sabar.


Sang Dokter menarik napas lebih dulu lalu menghembuskannya. Setelahnya baru memberi penjelasan pada kedua orang di depannya.


"Putri Bapak baik-baik saja, hanya lambungnya cukup sensitif. Kedepannya tolong di jaga pola makannya. Karena sepertinya putri Bapak habis memakan sesuatu yang pedas, bercampur manis dan dingin yang kuat. Dan itu membuat lambungnya sakit. Jadi lebih perhatikan setiap makanannya, jangan biarkan dia memakan makanan yang pedas, terlalu asam atau manis, juga dingin."


"Jika dia ingin makanan yang manis dan dingin, pastikan dulu makanan itu aman untuk di konsumsinya. Tidak terlalu manis atau dingin, karena makanan yang pedas di campur dengan makanan dingin dan manis. Itu bisa membuat perut sakit, apa lagi untuk lambung yang sensitif seperti putri Bapak."

__ADS_1


Ayah Indra mengucap syukur dalam hatinya karena putrinya tidak mengidap penyakit parah. Meski penyakit lambung juga merupakan penyakit mematikan. Namun selama bisa menjaga pola makannya, maka masih aman.


"Terimakasih banyak, Dokter." Ayah Indra menganggukkan kepalanya pelan.


"Sama-sama, Pak. Tolong lebih di perhatiakn lagi putrinya, agar kejadian ini tidak terulang lagi." Peringat si Dokter.


"Iya, Dokter. Saya akan selalu mengingat pesan, Anda."


Setelah selesai berbincang si Dokter pun pergi, bersamaan dengan Kal yang di bawa keluar dari ruang pemeriksaan menuju ruang perawatan.


Ayah Indra dan Ferdi mengikuti bed yang membawa Kal. Hingga mereka berhenti di sebuah ruangan VVIP.


Setelah perawat yang membawa Kal pergi, barulah ayah Indra dan Ferdi masuk ke dalam ruangan Kal.


"Kal! Kamu dengar Ayah, Nak?" Lirih ayah Indra dengan pandangan sendu menatap putrinya.


"Kita harus lebih perhatikan lagi makanannya, Yah. Entah apa yang di makannya tadi siang? Aku yakin dia pasti makan sesuatu." Ferdi menatap adiknya tidak tega.


"Nanti di kantor kamu periksa cctv di ruangan, Ayah. Soalnya tadi siang dia minta makanan sama mas mu." Ingat ayah Indra akan permintaan Kal tadi siang pada Edo.


Ferdi mengangguk paham dengan permintaan ayahnya.


"Ya sudah, kamu cepatlah pulang. Mas mu pasti sangat cemas sekarang, menunggu kabar dari kita."


Ferdi mengangguk mendengar ucapan ayahnya, pemuda itu langsung bergegas keluar ruangan Kal.


Hingga akhirnya Ferdi sampai di rumah dan mendapati Edo yang duduk dengan cemas di ruang keluarga.


"Bagaimana, Fer? Kal sakit apa?" Todong Edo tak sabar.


"Sakit perut, Mas. Kata Dokter, kemungkinan Kal makan sesuatu yang terlalu pedas sama manis trus dingin sekaligus. Lambung sensitifnya tidak kuat."


Edo menghela napas panjang mendengar penjelasan dari Ferdi.


"Jadi bagaimana keadaannya sekarang?"


"Sudah lebih baik, mungkin beberapa jam lagi sudah sadar. Dokter juga kasih infus untuk Kal."


"Ya sudah, kamu mandi sana. Nanti Mas ke sana juga sebelum ke kantor, sekalian bawain sarapan untuk ayah sama Kal."


"Pastikan makanannya sehat ya, Mas. Jangan terlalu pedas dan panas." Ferdi mengingatkan saudaranya tentang ucapan Dokter.

__ADS_1


"Iya, Mas bilang dulu sama bibi di dapur." Edo langsung menuju dapur menemui pelayan yang memasak di sana.


Sedangkan Ferdi memasuki kamarnya untuk mandi dan bersiap.


"Kenapa, Mas?" Tanya Mina saat melihat suaminya sedang membicarakan sesuatu dengan bibi di dapur.


"Kal sakit karena makan makanan terlalu pedas. Jadi Dokter menyarankan supaya makanan di perhatikan lagi," sahut Edo menatap sang istri yang baru tiba di dapur.


"Kalau begitu buatkan bubur ayam saja, Bi." Mina menatap bibi pelayan.


"Baik, Non. Bibi juga tadi kepikiran untuk buat itu, ternyata kita satu pemikiran." Bibi pelayan itu tersenyum pada Mina yang di balas wanita itu.


"Mas, naik dulu untuk bersiap. Jangan lupa siapkan sarapan untuk ayah juga," ucap Edo sebelum beranjak.


"Iya, Mas. Nanti aku siapin semuanya."


Edo mengecup kening istrinya lebih dulu sebelum beranjak pergi ke lantai atas. Karena hari yang semakin cerah membuat pria itu harus segera bersiap.


"Ada apa ini?" Tanya Tuti yang baru hadir dengan wajah sombongnya.


Mina yang melihat kedatangan ibu tiri suaminya menghentikan kegiatannya menyiapkan buah.


"Tidak ada apa-apa," sahut Mina singkat lalu kembali sibuk.


"Apa yanh di minta suamimu? Jangan mentang-mentang anak, trus kalian bisa seenaknya di rumah ini. Aku Nyonya di sini." Sinis Tuti menatap menantu suaminya.


Tuti benar-benar tidak suka dengan Mina yang bahkan lebih di sayang oleh suaminya juga.


Mina hanya diam saja mendengar ucapan Tuti, suaminya pernah mengatakan kalau ibu tirinya itu memang orang yang sombong. Tidak ada rasa simpati apa lagi perhatian pada anak-anaknya.


Yang di pikirkan wanita itu sehari-hari hanya keuntungan dan kemewahan saja.


"Apa kamu dengar, apa yang ku ucapkan?" Sentak Tuti kesal karena di acuhkan.


"Jangan mengganggu orang yang lagi sibuk, Ma. Kalau Mama tidak ingin membantu pekerjaan, lebih baik diam." Suara Dea membuat Tuti berbalik melihat anaknya.


Kamu lagi, dasar anak kurang ajar! Mama belum buat perhitungan dengan kamu soal tadi malam." Tuti melotot pada Dea yang sama sekali tidak perduli.


"Lebih baik Mama pikirin cara lepas dari amarah ayah karena masalah tadi malam." Enteng Dea mengingatkan kesalahan mamanya.


Sontak saja Tuti terdiam mendengar ucapan Dea. Ia bahkan hampir melupakan masalah itu karena kesal tidak di perdulikan oleh menantu suaminya.

__ADS_1


__ADS_2