
Ibu tiri ayah Indra di larikan kerumah sakit karena pingsan saat mendengar kalau dirinya terusir dari semua kemewahannya.
Bahkan Tuti sang anak kandungpun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia membawa sendiri ibunya ke rumah sakit dengan di antarkan supir yang sebenarnya akan mengantarkan mereka pergi.
Ayah Indra juga sudah memberikan uang pada supirnya agar membayarkan biaya rumah sakit ibu tirinya untuk uang terakhir kali.
Bertepatan dengan keluarnya Tuti bersama sang Ibu. Ferdi baru saja pulang bekerja dan melihat neneknya tak sadarkan diri. Bukan bermaksud mebjadi cucu durhaka.
Hanya saja Ferdi memang tak pernah dekat dengan sang nenek. Semua itu karena neneknya yang tidak mau dan selalu mengultimatum kalau mereka bukan cucunya.
Karena sedari kecil di jauhi bahkan di musuhi. Kal, Edo dan Ferdi, secara naluriah tidak memiliki kesan apapun pada ibu tiri ayah mereka. Bahkan rasa simpatipun tidak ada, karena wanita tua itu yang tidak pernah menanamkan rasa simpatinya pada ketiga anak ayah Indra.
"Kenapa nenek, Yah?" Tanya Ferdi pada ayahnya yang sedang berdiri menyambutnya pulang.
"Pingsan," sahut ayah Indra sembari mengulurkan tangan kanannya untuk di cium Ferdi.
"Pingsan kenapa?" Penasarannya.
Ayah Indra merangkul Ferdi berjalan masuk ke dalam rumah. Ternyata sudah ada Kal dan Mina di ruang keluarga. Keduanya keluar saat mendengarkan kegaduhan akibat pingsannya nenek.
"Kalian di sini?" Tanya ayah Indra di angguki Kal.
"Tadi kami dengar suara teriakan minta tolong, makanya kami keluar, Yah." Kal mengangguki ucapan kakak iparnya.
Belum sempat ayah Indra bersuara, seseorang sudah berseru lebih dulu.
"Wah, wah, wah, lagi pada kumpul ternyata."
Mereka semua menatap kebelakang di mana Edo datang dengan membawa beberapa map di tangannya.
"Mas! Kok sudah pulang?" Heran Mina, pasalnya sang suami seharusnya baru akan pulang 2 jam lagi.
"Kamu ini, suami pulang cepat bukannya di sambut senyuman manis. Malah di kasih muka kaget gitu," ucap Edo menyerahkan tas kerjanya pada sang istri.
Lalu pria itu mengecup kening istringa dengan lembut.
__ADS_1
"Ya kaget lah, ini belum jam pulang kerja. Biasanya kamu pulang cepat kalau ada seauatu yang penting saja."
"Iya, memang penting. Mas, belum dapat jatah malam." Kedua mata Mina melotot mendengar bisikan suaminya yang tepat di telinganya.
"Mas, jangan buat malu di depan ayah sama adik-adik," kesal Mina sembari meninggalkan Edo yang hanya terkekeh saja melihat ekspresi istrinya.
Edo mendudukkan bokongnya di sofa samping Ferdi.
"Ada yang ingin Ayah sampaikan kepada kalian," ucap ayah Indra menarik perhatian ketiga anaknya.
Kal yang duduk di samping ayah Indra sudah nemplok di badan ayahnya.
"Ayah sudah bercerai dengan mamanya Dea." Mata ketiga anak itu melotot kaget.
"Kenapa, Yah? Apa ada masalah serius sampai Ayah menceraikan bibi Tuti?" Tanya Edo mewakili adik-adiknya.
Ayah Indra menghela napas panjang sejenak, lalu beralih mengecup kening Kal agar ia bisa tenang dalam menceritakan masalah tadi.
"Nenek, sebenarnya bukan ibu kandung Ayah. Dia cuma ibu tiri dan Tuti adalah anak kandungnya." Edo dan Ferdi melotot tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Serius, Yah?" Kaget keduanya.
"Bagaimana mungkin bisa? Bukannya dulu nenek yang maksa Ayah untuk nikahi bibi Tuti? Kenapa sekarang mereka jadi ibu anak kandung?" Ferdi masih tak menyangka dengan hot news yang baru di dengarnya.
"Kalau memang bibi Tuti anak kandung nenek, kenapa harus di nikahkan sama Ayah? Maksa banget lagi dulu nenek supaya Ayah mau nikah sama bibi Tuti. Sampai suruh-suruh kakek ngomong sama Ayah."
Edo masih ingat dengan jelas bagaimana dulu neneknya itu sangat memaksa. Bahkan kakeknya yang tidak perdulipun di hasut.
"Itu semua di lakukan supaya mereka berdua bisa sering bertemu tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi. Dan kehidupan Tuti bisa mewah seperti dirinya tanpa ia harus mengeluarkan uang lagi. Apa lagi saat itu Tuti menikah dengan seorang karyawan biasa, dan mereka juga tinggal di kontrakan."
"Jangan bilang kalau bibi Tuti pisah sama suaminya karena nenek? Trus bibi Tuti pisahin Dea sama papa kandungnya. Jadi nenek bisa paksa ayah untuk nikahi bibi Tuti setelah ibu tidak ada waktu itu."
Edo mencoba menebak kelanjutan jalan cerita sang ayah.
"Iya, memang itu kenyataannya." Ayah Indra mengangguk.
__ADS_1
"Wah, sinetron banget ya ceritanya," ucap Ferdi sembari tersenyum tipis menatap Edo.
"Sudah mirip sinetron kisah hidup Ayah," kata Edo pula.
"Judulnya, istriku adik tiriku." Ferdi dan Edo terkekeh bersama karena merasa sangat lucu dengan apa yang terjadi di keluarganya.
"Ada soundtrak ku menangisnya tidak? Kalau ada pasti seru," ucap Ferdi lagi yang malah membuat ayah Indra dan Kal tersenyum.
"Sudah, sudah, jangan bercanda lagi." Ferdi dan Edo meredam tawa mereka mendengar ucapan sang ayah.
"Ayah, tahu darimana kalau mamanya Dea anak kandung nenek?" Tanya Kal menatap sang ayah.
Ayah Indra tersenyum sembari melabuhkan kecupan di kening Kal.
Betapa ia sangat menyayangi anak gadisnya ini. Untung saja ia bisa mengurus ketiga anaknya sendiri meski ada Tuti. Ayah Indra tidak ingin melepaskan kepercayaannya pada Tuti dalam mengurus anak-anaknya. Karena takut apa yang di alaminya dulu akan terulang pada anak-anaknya.
Dulu ayah Indra di percayakan pada ibu tirinya untuk di rawat layaknya anak sendiri. Namun bukannya di rawat dengan baik, malah di abaikan dan sering di marahi.
"Seminggu yang lalu waktu Ayah lagi cari baju untuk olah raga. Ayah, tidak sengaja menjatuhkan buku kecil sama album foto. Karena Ayah merasa tidak asing sama album fotonya, Ayah buka dan lihat. Ternyata memang Ayah pernah pegang album itu, dan buku kecilnya Ayah buka karena penasaran sama isinya."
"Di buku kecil itulah semua tertulis tentang hubungan antara kedua perempuan di album foto itu. Bahkan ada juga foto terbaru antara Tuti sama ibunya. Karena tidak mau bertindak gegabah, Ayah minta tolong sama salah satu pekerja di rumah kakek untuk dapetin rambut nenek tanpa ada yang tahu."
"Ayah, juga cari rambut Tuti yang mungkin tertinggal di sisir. Setelah dapat kedua helai rambut berbeda itu, Ayah minta tolong teman yang bekerja di rumah sakit tempat kamu di rawat untuk lakukan tes sama kedua rambut itu. Hasilnya baru di berikan Ayah tadi pagi."
Ayah Indra menghela napas panjang, merasa sedih karena ternyata selama ini ia dan ayahnya telah di tipu oleh istri ayahnya.
"Ya sudah, Yah. Karena semuanya sudah terjadi, biarkan saja itu berlalu. Kalau Ayah memang sudah menceraikan bibi Tuti, biar mereka urus sendiri kehidupan mereka selanjutnya." Ayah Indra mengangguk setuju dengan ucapan Edo.
"Trus, kak Dea gimana, Yah? Apa dia sudah tahu siapa papa kandungnya?" Tanya Kal.
"Sudah, bahkan dia mau pindah tinggal sama papa kandungnya. Dia sudah tidak tahan dengan sikap mamanya yang terlalu banyak mengaturnya."
Kal hanya mengangguk saja mendengar jawaban ayahnya.
"Wah, jagoan Papi sudah tampan rupanya." Edo menatap sang anak yang baru datang bersama Mina.
__ADS_1
Tomy terlihat sudah mandi, dengan bedak yang menempel di wajahnya. Belum lagi aroma wangi minyak telon yang menguar, membuat Tomy semakin mempesona saja.
Mereka akhirnya bermain dengan Tomy di sore itu.