
Kal dan Delon duduk berhadapan dengan Delon yang memperhatikan penampilan Kal yang masih sama seperti pertama kali mereka bertemu di perusahaan ayah Indra.
"Ada yang sakit?" Tanya Delon menatap Kal serius.
Delon tidak mau kalau sampai calon istrinya ini terluka sedikit saja. Mengingat perkelahian tadi yang terlihat cukup keras. Belum lagi yang di lawan Kal 6 orang pria yang berbadan cukup tegap.
"Tidak, itu hanya pertarungan kecil. Bahkan mas Edo dan mas Ferdi yang sudah master di bela diri saja bisa ku kalahkan." Kal membanggakan dirinya karena pernah mengalahkan kedua saudaranya.
"Itu mengalah, bukan kalah." Kal menatap kesal pada Delon, merasa di remehkan.
"Mas, tidak percaya dengan kemampuanku? Ayo kita buktikan, aku pasti bisa mengalahkan Mas dengan cepat." Tantang Kal.
"Nanti, kalau sudah menikah," sahut Delon santai.
Kedua alis Kal berkerut tanda gadis itu tak paham dengan maksud Delon.
"Maksud, Mas?"
"Tidak ada."
Kal menghembuskan napasnya panjang sembari melipat kedua tangannya di dada.
Vera yang sudah tak mampu lagi menahan rasa penasaran dan keponya akan kedekatan temannya dan idolanya langsung bertanya.
"Sst, Mok!" Panggil Vera yang membuat Kal menatap Vera yang masih saja berdiri di samping Kris yang curi-curi pandang ke arah Vera.
Kal yang mengetahui arah pandangan Kris segera berdiri mendekati Vera. Memakaikan jaketnya di tubuh Vera bagian depan yang memang agak terbuka.
"Jaga mata Anda sebelum saya keluarkan dari tempatnya." Galak Kal menatap tajam Kris yang gugup karena ketahuan.
Kris bergeser menjauh dari kedua gadus itu sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Apa lagi sekarang Delon ikutan menatap Kris dengan tak enak.
Galak bener calon nyonya, tidak jauh beda dengan bos, batin Kris. Sekretaris merangkap Asisten Delon itu juga sangat kaget saat mengetahui siapa orang yang berkelahi dengan Satpam perusahaan.
Kris juga sempat mengira kalau Kal adalah seorang pria, karena mampu mengalahkan 6 Satpam. Tapi siapa sangka kalau ternyata itu adalah calon istri bosnya sendiri.
"Mas, kami dapat rekomendasi dari kampus untuk kerja magang di sini. Boleh kami tahu harus ke bagian mana?" Kal bertanya langsung pada Delon.
Kal sebenarnya ingin mencari perusahaan lain saja setelah mengetahui siapa pemilik perusahaan yang di datanginya ini. Namun saat mengingat bagaimana seanngnya Vera tadi, Kal jadi tidak tega kalau harus meninggalkan temannya sendirian di perusahaan besar ini.
"Mana?" Kening Kal mengkerut mendengar pertanyaan Delon.
"Apanya?" Tanya Kal balik.
"Berkas."
Vera yang paham langsung mengeluarkan berkas miliknya dan milik Kal dari tas ransel Kal sendiri. Lalu menyerahkannya pada Kal dan mendorong temannya.
"Kamu yang kasih," ucapnya.
Kal mendekati Delon dan menyerahkan berkas di tangannya. Delon bukannya menerima berkas yang di sodorkan oleh Kal.
__ADS_1
Tetapi matanya menatap lurus sesuatu yang terlihat besar terbentuk sempurna di lapisi kaos ketat yang Kal pakai.
Kal yang melihat arah pandangan Delon berbeda langsung mengikuti. Begitu histeris saat tahu kemana arah pandangan Delon.
"Kya, Mas Delon. Kamu sama saja dengan bawahanmu itu, dasar mesum." Kal menatap marah pada Delon.
Sedangkan pria itu berdehem dan melepaskan jasnya sendiri.
"Pakai." Delon mengulurkan jasnya dengan tangan kanan ke arah Kal.
Sedangkan tangan kirinya mengambil berkas di tangan kanan Kal.
"Kris!" Delon mengulurkan berkas itu pada Kris yang langsung mendekat dan mengambilnya.
"Jangan coba-coba memikirkannya," ancam Delon pada Kris karena tadi Delon sempat melihat mata Kris membulat saat melihat Kal tanpa jaket.
"Tidak berani, Bos." Kris langsung keluar dari ruangan bosnya karena sudah tidak tahan lagi dengan godaan yang ada di sana.
"Memikirkan apa, Mas?" Tanya Kal yang baru saja memakai jas Delon di tubuhnya.
"Tidak," jawba Delon menatap Kal.
Pria itu menahan senyumnya kala melihat tubuh Kal yang tenggelam di dalam jasnya. Tubuh kecil Kal hampir tertutup setengahnya.
"Mau di bawa kemana berkasnya, Mas?" Tanya Kal penasaran karena berkas mereka di bawa pergi.
"Di kumpulkan dengan berkas magang lain. Kalian juga harus ikut proses seleksi." Delon mendekati meja kerjanya.
Bagi Delon sendiri, memang dia akan membiarkan Kal dan temannya mengikuti proses seleksi. Namun ada perintah yang tak terbantahkan darinya untuk meluluskan Kal dan temannya.
Delon tidak akan merelakan calon istrinya yang ternyata waow itu untuk magang di perusahaan lain.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Mas." Delon menatap Kal yang berpamitan.
"Pulang?" Satu alis Delon di angkat.
"Tidak, kami harus kembali ke kampus karena masih ada satu kelas lagi."
"Tunggu!" Delon melakukan panggilan melalui telpon perusahaan.
"Siapkan mobil dan supir." Pria itu memutus sambungan begitu saja.
Mendekati Kal lalu menggandeng gadis itu keluar dari ruangannya.
"Mau kemana, Mas?" Tanya Kal heran dengan apa yang di lakukan calon suaminya itu.
"Lobi," jawab Delon santai sembari terus menggandeng Kal.
Vera hanya mengikuti saja kemana langkah kaki Kal pergi. Vera masih belum mengerti ada hubungan apa antara Kal dengan idolanya. Tapi ia tidak punya kesempatan untuk bertanya, jadi hanya bisa mengikuti saja.
Sesampainya di lobi perusahaan milik Delon. Sudah ada mobil yang menunggu di sana dengan seorang pria berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Antarkan mereka dengan selamat," ucap Delon.
"Baik, Bos Besar." Pria itu menunduk hormat.
Delon mengelus kepala Kal sebelum gadis itu masuk ke dalam mobil.
"Nanti Mas jemput."
Kal hanya mengangguk menurut saja, yang penting ia bisa segera pergi dari perusahaan itu. Jantungnya juga sudah dalam kondisi kurang sehat karena bekerja dua kali lipat setelah Delon mengelus kepalanya.
Setelah mobil yang membawa Kal pergi, Delon berbalik memasuki perusahaannya lagi.
Did alam mobil, Vera melanjutkan penasarannya yang tadi tertunda.
"Kamu punya hubungan spesial sama pak Delon ya, Kal?" Tanya Vera semangat untuk mendengarkan jawaba Kal.
"Iya," sahut Kal singkat.
"Sespesial apa? Baru dekat atau kamu pacarnya?"
"Calon istri." Vera membuka mulutnya lebar mendengar jawaban tak terduga temannya itu.
"Apa? Calon istri? Beneran, Kal?" Shok Vera melotot pada Kal.
Bahkan tanpa sadar Vera meremas tangan Kal saking kagetnya.
"Sakit, Bo." Kal menarik tangannya yang di cengkram Vera.
"Maaf, maaf, aku terlalu kaget soalnya." Vera merasa bersalah sudah menyakiti Kal.
"Kaget sih kaget, tapi jangan remes tanganku juga." Kal mengusap tangannya yang memerah hingga membekas tangan Vera di sana.
"Maaf, Kal. Aku beneran tidak sengaja." Vera ikutan mengusap tangan Kal yang memerah dengan perasana sangat menyesal.
"Sudahlah, nanti juga hilang merahnya." Kal tersenyum pada Vera agar temannya tak lagi merasa bersalah.
"Ini jaket kamu." Vera membuka jaket Kal dan mengembalikannya.
Kal menerimanya dan membuka jas Delon, memakai jaketnya sendiri lalu melipat jas milik Delon.
"Aku titip jas mas Delon ya, Pak. Nanti tolong berikan padanya," ucap Kal sopan pada supir di depan.
"Baik, Non." Supir itu menerima jas Delon dengan hati-hati agar tak merusak jas mahal itu. Meletakkannya di kursi depan sampingnya.
"Terimakasih, Pak. Sudah mau mengantarkan kami," kata Kal sebelum turun.
"Sama-sama, Non. Ini memang tugas saya mengantarkan sebagai supir." Bapak itu tersenyum kecil.
"Hati-hati di jalan, Pak." Vera menutup pintu mobil setelah berucap.
Mobil melaju kembali setelah penumpangnya turun dan berlalu.
__ADS_1
Kal dan Vera masuk ke kampus lagi untuk mengikuti kelas selanjutnya yang akan di mulai 15 menit lagi.