
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan, Nyonya?" seorang wanita datang bersama dengan pelayan toko tadi.
"Buatkan cincin pernikahan yang berbeda dengan yang lain." Delon hanya melihat sekilas saja wanita yang berdiri di depannya.
"Apa Tuan ingin sepasang cincin yang tidak akan kami jual lagi? Yang hanya ada sepsang itu saja?" Si desainer perhiasan memastikan.
"Hem," sahut Delon singkat.
"Baik, Tuan. Boleh saya tahu, model seperti apa yang di inginkan?" Si desainer itu duduk di sofa yang berseberangan dengan Kal dan Delon.
Delon meremas pelan tangan Kal lalu mengkode gadis itu untuk mengatakan. Bagaimana cincin pernikahan yang di inginkan gadis itu.
"Aku mau yang simpel saja, Mbak. Tapi tetap kelihatan cantik dan menawan cincinnya." Kal menatap wanita di depannya.
"Baiklah, saya akan selesaikan dalam waktu sebulan."
"Tidak bisa!" Kal dan Desainer itu maget mendengar ucapan Delon yang lumayan keras.
"Kenapa, Mas?" Tanya Kal menatap Delon heran.
"Waktumu hanya seminggu." Delon menatap tajam wanita di depannya.
"Baik, Tuan." Desainer itu hanya bisa menyanggupi saja.
Nyali wanita itu langsung menciut saat mendapatkan tatapan tajam dari pelanggannya.
Setelah selesai dengan urusan cincin, kini pasangan itu pergi dari mall menuju butik.
"Kita mau kemana lagi, Mas?" Tanya Kal setelah mereka duduk di mobil.
"Butik."
"Untuk apa ke butik? Aku tidak butuh baju baru." Gadis itu bicara sambil geleng kepala.
"Gaun."
"Gaun?" Kal berpikir sejenak. " Gaun pernikahan maksud, Mas?" Tanya Kal setelah mengerti.
"Hem."
Kal menghembuskan napasnya kasar dengan bibir bawah yang di majukan. Kesal bicara dengan calon suaminya yang pendiam ini. Antara pendiam dan cuek sepertinya, atau sikapnya memang dingin. Entahlah, batin Kal.
Sesampainya di butik, Delon membawa Kal masuk ke sebuah ruangan privat. Di sana sudah menunggu mami Asti yang sedang duduk bersama seorang wanita muda.
"Ah, datang juga akhirnya." Mami Asti berdiri dan menyambut kedatangan calin menantunya.
"Bagaimana kabar kamu, sayang?" Kal membalas pelukan hangat dari mama Asti.
"Baik, Ma. Mama sendiri gimana kabarnya?" Tanya Kal balik.
"Mama, sangat baik tentunya. Ayo sini, kamu pilih gaun yang cocok kamu mau."
Asti menarik tangan Kal untuk mendekat ke arah jejeran gaun yang tergantung rapi dan cantik di hanger.
"Ini calon menantu, Tante? Cantik banget." wanita muda yang tadi bersama Asti mendekati Kal.
"Iya, jelas cantik dong. Kalau mertuanya saja cantik seperti Tante, jelas menantunya juga harus cantik." Asti sangat senang.
__ADS_1
"Halo! Nama aku Putri, pemilik butik ini sekaligus Desainernya. Aku juga sepupunya, Mas Delon."
Putri mengulurkan tangan kanannya pada Kal dan di sambut baik oleh Kal.
"Halo! Aku, Kal. Senang berkenalan dengan kamu."
"Ya ampun, Manis banget sih calon Kaka ipar aku." Putri juga jadi ikutan semangat dan senang seperti Asti.
"Silahkan pilih, mau gaun yang mana? Kalau ada yang tidak cocok, bisa kita rancang ulang dari sekarang. Aku bakalan usahakan 3 hari sebelum pernikahan, gaunnya susah selesai."
Kal hanya bisa tersenyum kaku saja menanggapi ucapan Putri.
Kal melihat-lihat gaun mana yang menarik di matanya. Hingga gadis itu menarik satu gaun yang bagus simpel menurutnya.
"Aku pilih yang ini." Asti dan putri melihat gaun pilihan Kal.
"Wah itu rancangan yang baru aku selesaikan kemarin. Ayo ke ruang ganti, Mbak." Putri menarik Kal menuju ruang ganti.
"Yang ini juga, Put. Tante suka sama yang ini." Asti mengulurkan satu gaun juga pada Putri.
Tentu saja gadis itu menerimanya dan malah menyambar satu gaun lainnya untuk di coba juga.
"Gimana persiapannya, Ma?" Tanya Delon.
Delon memang mempercayakan semua persiapan pernikahan pada maminya. Namun semua biaya di tanggung oleh Delon tentunya.
"Sudah setengahnya, gedung, dekor, hidangan dan lain-lainnya. Sudah Mama selesaikan, tinggal minggu depan mereka mulai menghias gedung hotelnya saja."
"Mama, pakai hotel kita sendiri kan?" Delon ingin memastikan.
"Iya, percuma punya hotel dan gedung terbaik di negeri ini kalau masih harus sewa lagi."
"Mama, sangat senang karena akhirnya kamu mau menikah lagi. Semoga ini menjadi pernikahan kamu yang terakhir dan Kal adalah pilihan terbaik untuk kamu." Doa tulus Asti untuk anaknya.
"Terimakasih, Ma. Walaupun aku tahu apa yang Mami janjikan untuk dapatkan gadis itu."
Mata Asti melotot tak percaya menatap anak sulungnya. Ah, Asti hampir melupakan ke telitian Delon jika itu menyangkut dirinya dan keluarganya.
Sejak kejadian di ceraikan oleh istrinya dulu, Delon menjadi sosok yang pendiam dan cenderung dingin pada orang lain. Bahkan selalu waspada dengan orang-orang baru yang masuk ke dalam keluarga dan hidup mereka.
"Maaf, Nak. Tapi Mama melakukan itu dengan perhitungan dan pemikiran yang matang, kok."
Asti meyakinkan Delon kalau pilihannya tidak akan salah.
Delon mengangguk saja untuk mengiyakan ucapan maminya.
Kal keluar dari ruang ganti bersama dengan Putri di sampingnya. Gaun pertama yang di coba Kal adalah pilihannya sendiri.
Asti sampai melongo melihat penampilan Kal yang begitu anggun dan cantik.
(abaikan wajahnya😁).
"Lihatlah calon pengantin kita." Putri berseru heboh.
"Wuah ... Calon menantuku luar biasa. Kamu cantik sekali sayang." Asti mendekati Kal dengan sangat bahagia.
__ADS_1
"Terimakasih, Ma." Kal malu sendiri mendapat pujian dari Asti.
"Gimana, Lon? Cantik kan?" Mami Asti melihat anak sulungnya yang masih saja bengong dengan wajah kagumnya.
"Dia malah bengong." Putri cekikikan melihat bengongnya Delon.
"Biarin saja, Tante. Kalau tidak ada tanggapan, artinya cocok. Sekarang kita ganyi gaun yang lain."
Putri kembali membawa Kal ke ruang ganti. Hingga beberapa saat kemudian, gaun pilihan Asti di gunakan oleh Kal.
"Bagus, bagus, bagus." Asti bertepuk tangan seperti baru saja mendapatkan undian besar.
"Oke, selanjutnya." Putri membawa Kal masuk ke ruang ganti tanpa meminta persetujuan Del
"Luar biasa, semua gaunnya sangat pas di tubuh kamu, Nak." Asti benar-benar kagum di buat menantunya yang memiliki postur tubuh ideal dan sempurna.
Hingga 3 gaun berbeda pilihan mereka semuanya cocok di tubuh Kal.
"Iya, Tante. Badannya Mbak Kal memang bagus." Putri menatap Delon yang masih saja belum bergerak.
Pria matang itu benar-benar terpesona di buat calon istrinya. Walau belum di make up, tapi kecantikan Kal sudah paripurna.
Sadar akan satu hal, Delon langsung melayangkan protea keras.
"Ganti!" Perintah Delon.
Ketiga perempuan itu menoleh heran serempak menatap Delon.
"Kenapa, Nak? Gaunnya bagus dan cocok di tubuh, Kal." Asti menatap aneh anaknya.
"Iya, Mas. Gaunnya oke, kok. Yang tadi juga perfeck," ucap Putri.
"Lihat dadanya itu! Tidak! Aku tidak akan membiarkan orang lain melihatnya juga."
Kal menunduk melihat arah yang di tunjuk Delon.
"Mas ... Mesum kamu." Kal menutupi dadanya dengan perasaan malu.
Putri dan Asti terkekeh saat tahu alasan penolakan Delon.
"Sudah, yang kita pilih tadi saja. Sudah bagus juga." Asti menolak perintah Delon.
"Mama! Pokoknya aku tidak setuju dengan gaun yang itu dan yang pertama tadi. Terlalu terbuka, yang putih saja." Delon memilih gaun pilihan Asti.
"Yang putih untuk akad nikah, jadi memang harus tertutup. Kalau yang dua lagi untuk resepsi, yang ini untuk resepsi sorenya dan yang pertama untuk malam hari. Pas deh 3 setel gaunnya."
Asti merasa senang dengan keputusannya itu. Delon memasang wajah masam tidak setuju.
"Ma! Tapi ..."
"Sst ... Tidak ada penolakan. Kalau kamu menolak keputusan Mama, biar adikmu saja yang Mama nikahkan dengan, Kal." Asti mengeluarkan ancamannya.
"Tidak!" Delon segera mendekati Kal dan merangkul Gadis itu.
__ADS_1
"Dia milikku," tegas Delon dengan wajah datarnya.
Asti tertawa dalam hatinya melihat sikap posesif anaknya.