Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 30. Hari pernikahan


__ADS_3

Delon mematut penampilannya di cermin yang ada di ruang ganti kamarnya. Pria itu masih terlihat santai dan memperhatikan penampilannya dengan sungguh-sungguh.


Delon ingin terlihat sempurna di hari pernikahannya. Meski ini yang kedua kalinya, pria itu tidak ingin terlihat biasa saja.


"Delon!" Suara mama Asti terdengar bersamaan dengan ketukan pintu. "Kamu sudah selesai belum?"


Delon berjalan keluar dari ruang ganti. "Sudah, Ma."


"Cepat! Waktunya satu jam lagi."


Delon melihat ke arah jam di dinding kamarnya. Berjalan membuka pintu dan melihat mamanya yang sudah selesai.


"Ya ampum, gantengnya anak Mama." Asti menatap Delon bahagia.


"Ayo, Ma." Mama Asti mengangguk semangat dan menggandeng lengan Delon.


Sampai di lantai bawah, papa Adi dan Boy sudah menunggu di ruang keluarga. Papa Adi mengangkat pandangannya saat mendengar langkah kaki mendekat.


"Kamu sudah siap, Nak?" Tanya papa Adi tegas pada Delon.


"Siap, Pa." Delon tak kalah tegas menjawab pertanyaan papanya.


"Setelah akad nanti, semua tanggung jawab istrimu berpindah padamu. Jaga dan lindungilah dia sekuat tenaga kamu. Jadi kan dia Ratu di rumah tanggamu. Muliakan dia sebagaimana kamu mulia kan dan perlakukan mama kamu."


Papa Adi memberi wejangan sebelum merak berangkat.


"Jangan pernah kamu sakiti hati istri kamu nantinya. Kalau sampai dia menangis atau terluka karena kamu. Papa, tidak akan segan-segan untuk menghabisi kamu."


Papa Adi menatap tajam putra sulungnya sebagai peringatan kalau ucapannya tidak main-main.


"Iya, Pa."


Setelah mendapatkan wejangan dan nasehat dari papa Adi. Mereka mulai bergerak meninggalkan rumah menuju kediaman pengantin wanita.


Keluarga yang lain juga ikut menyertai dan ingin melihat proses akad nikah.


"Ma! Memangnya siapa sih, calon istrinya Mas? Apa orangnya cantik? Tumben banget Mas mau nerima perjodohan ini. Biasanya juga selalu menolak."


Boy yang duduk satu mobil dengan kedua orang tuanya bertanya. Pasalnya selama Delon bertunangan, Boy tak pernah bertemu dengan calon kakak iparnya.


Bahkan saat pertama kali akan pergi kerumah calon kakak iparnya. Boy tidak ikut serta karena memilih berkencan dengan Wina dan berpesta dengan teman-temannya.


"Makanya, kalau ada acara keluarga kamu ikut. jangan lebih mentingin teman sama pacar kamu saja. Memangnya kalau seandainya kamu ada masalah, siapa yang bakalan tolongi kamu? Keluarga kan? Bukan teman apa lagi pacar kamu."

__ADS_1


Mama Asti marah menatap Boy, ia sangat pusing melihat putra bungsunya ini. Setiap ada acara keluarga, selalu sulit di bawa pergi. Alasannya selalu ada acara dengan pacar atau teman.


Pada hal Mama Asti tak pernah di kenalkan dengan pacarnya Boy. Entah siapa dan bagaimana wujud dari gadis itu? Tidak ada keluarga Boy yang tahu.


"Ini kan sudah ikut, Ma."


Boy yang duduk di depan dengan supir mengalihkan pandangannya ke depan. Setelah sebelumnya melihat mamanya di belakang.


"Siapa pacar kamu, Boy? Kenapa tidak pernah si kenalkan pada kami?" Papa Adi yang sudah penasaran dengan pacar Boy bertanya.


"Yang pasti perempuan, Pa."


Buk


"Aduh ... Sakit Ma," ucap Boy mengusap lengannya yang sakit.


Mama Asti yang mendengar jawaban Boy cukup geram hingga melayangkan tasnya memukul Boy.


"Kalau tidak perempuan lalu apa? Kamu mau pacaran sama laki-laki? Atau sama waria?"


Boy menggaruk tengkuknya yang tak gatal akibat ucapan mamanya.


"Si Mama bisa saja, kalau Mama setuju. Boy, akan cari pacar laki-laki atau waria nanti." Kekehnya melirik sang mama.


"BOY ... MAMA SUNAT KAMU, YA!"


Teriakan mama Asti cukup membahan di dalam mobil. Wanita itu begitu kesal mendengar ucapan anak bungsunya yang sering menguji kesabaran.


Di kediaman mempelai wanita ...


Kal duduk diam di depan meja kaca, di belakang dua orang perias sedang membantunya bersiap. Kal yang tak pernah di layani dan di make up seperti sekarang sudah merasa jenuh.


Untung saja ada Vera di sana yang bisa di ajaknya bercanda dan bercerita. Sedangkan kedua orang yang membantunya sedang fokus.


Sejak kemarin Vera sudah datang ke rumah Kal dengan di jemput supir kantor yang di mintai tolong oleh Edo atas permintaan Kal.


"Jadi kamu anak pengusaha terkenal, Mok? Ya ampun, rasanya aku tidak percaya."


Vera yang baru tahu tadi fakta tentang siapa keluarga Kal di buat tak percaya. Semalam setelah tiba di rumah yang mewah ini, Vera terus saja mengungkapkan kekagumannya.


Tak banyak foto keluarga yang di pajang di rumah besar Kal. Hanya ada satu foto berbingkai besar di ruang keluarga. Foto keluarga saat Kal baru berusia 2 tahun dan sang ibu masih ada.


"Kenapa tidak percaya?" Tanya Kal.

__ADS_1


"Kamu tidak kelihatan seperti anak orang kaya, bahkan kamu tidak pernah marah setiap kali Wina menghina kamu miskin dan kampungan. pada hal orang tua kamu itu pengusaha sukses loh. Ya, walaupun masih di bawah kesuksesan calon suami kamu. Perusahaan orang tua kamu berada di urutan 2 di Asia. Sebagai perusahaan terbaik."


Vera terus mengoceh tanpa henti tentang kekagumannya pada keluarga Kal yang baru di ketahuinya.


"Bahkan ayah kamu masuk jajaran orang terkaya ke 2 juga di Asia. Ya ampun, Mok. Ternyata kamu berlian yang bersembunyi di dasar lautan. Anak berjubah emas yang sukanya makan bakso di kantin."


Heboh Vera sembari menggulir ponselnya melihat berita tentang orang terkaya yang akan menikah. Pasangan yang juga anak orang kaya dan pengusaha, membuat dunia bisnis gempar.


Vera saja baru tahu kalau berita itu tentang Kal saat melihat nama idolanya yang di beritakan akan menikah hari ini. Namun nama pasangannya masih di rahasiakan.


"OMG, Mok. Rasanya aku mau pingsan begitu tahu siapa kamu yang sebenarnya. Jadi minder aku mau berteman sama kamu."


Vera berwajah sendu seketika saat ingat status mereka yang sangat berbeda.


Kal yang mendengar ucapan Vera melihat dari pantulan kaca.


"Minder kenapa, Bo? Jangan bilang kamu tidak mau berteman denganku lagi?"


"Bukan tidak mau, Mok. Tapi status kita jauh berbeda banget. Aku cuma anak seorang pegusaha kecil, sedangkan kamu anak pengusaha besar."


Kal berdecak kesal dan melempar Vera menggunakan penjepit rambut yang akan di gunakan perias.


"Jangan di buang, Non." Perias itu berbalik mengambil jepit rambutnya dari tangan Vera yang berhasil menangkap penjepit itu.


"Sadis banget, Mok." Vera menatap Kal dari cermin pula.


"Makanya kalau ngomong jangan asal, kalau kamu berani menjauh dari aku. Siap-siapa saja restoran papa kamu aku beli semua."


Vera melotot mendengar ancaman dari Kal.


"Jangan dong, Mok! Nanti kami mau gimana cari uang? Papa bisa sedih kalau restoran hasil jerih payahnya kamu beli."


"Makanya jangan ngomong sembarangan. Pertemanan itu tidak butuh status kamu siapa dan seperti apa? Yang penting kita bisa saling pengertian dan bahagia."


"Maaf deh, Mok. Aku cuma shok saja begitu tahu siapa kamu."


Kal menghela napas mendengar permintaan maaf Vera. Bukan tidak ingin memaafkan, Kal tidak ingin temannya itu merasa rendah diri hanya karena status mereka yang berbeda.


"Calon pengantin harus selalu bahagia, Mok. Mukanya jangan di tekuk-tekuk begitu, nanti kalau kamu kelihatan tua, suami kamu bisa di embat orang."


Vera merayu Kal agar tak marah lagi padanya dengan menggoda temannya itu.


"Coba saja kalau dia berani macam-macam sama perempuan lain. Masa depannya bakalan hilang selamanya."

__ADS_1


"Kumat lagi galaknya," ucap Vera.


Keduanya terkekeh bersama karena candaan tidak penting mereka.


__ADS_2