Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 20. Delon si duda


__ADS_3

Pagi ini, Kal sedang bersiap untuk pergi ke kampus. Gadis itu harus menyelesaikan beberapa tugasnya terlebih dahulu sebelum kerja magang pertengahan bulan depan.


Sedangkan pernikahannya 2 minggu lagi, Kal harus segera mempersiapnya semua keperluannya untuk kerja magang.


"Kamu yakin mau kuliah, Nak? Kalau belum sehat sepenuhnya, lebih baik tidak usah." Ayah Indra menatap khawatir pada Kal.


"Ayah, tenang saja. Aku sudah merasa lebih baik dari kemarin, lagian tugas kuliahku harus segera di selesaikan sebelum nanti cuti menikah."


Ayah Indra hanya bisa mengangguk saja membenarkan ucapan Kal. Bagaimanapun juga minggu depan Kal sudah tidak boleh terlalu banyak kelaur rumah.


Dan gadis itu harus sudah mengambil cuti kuliahnya.


"Ingat! Jangan makan sembarangan, ya? Ayah, tidak mau kamu sakit lagi." Ayah Indra mengecup kening Kal saat gadis itu pamitan.


"Iya, Ayah." Kal beralih pamitan pada Ferdi yang masih sarapan.


Ferdi memajukan pipi kanannya ke arah Kal karena tangan kanannya sibuk memegang sendok.


Cup


Kal mengecup pipi Ferdi lalu berjalan keluar rumah. Begitu sampai di luar rumah, bukan motornya yang terparkir di sana. Melainkan sebuah mobil mewah yang sedang di sandari oleh seorang pria tampan.


"Mas, kenapa bisa ada di sini?" Tanya Kal.


"Delon, jemput kamu. Pergilah sama calon suami kamu, Nak." Kal menoleh melihat ayahnya yang sudah berdiri di depan pintu.


"Tapi ..." Kal menatap ragu pada Delon.


Tanpa banyak berkata, Delon mendekati Kal dan langsung membopong tubuh gadis itu begitu saja.


"Akh, lepaskan. Ayah tolong! Anakmu di culik." Kal histeris karena di gendong seperti karung beras oleh Delon.


"Kamu harusnya seneng, Dek. Di culik sama pria tampan seperti Mas Ferdi mu ini."


Kal mendengar suara Ferdi, tapi tidak sempat melihat wajah pemuda itu. Karena Tubuh Kal sudah keburu di masukkan oleh Delon ke dalam mobil.


"Kami pergi dulu, Om." Pamit Delon yang di angguki oleh ayah Indra.


Delon masuk ke dalam mobil dan mendapati tatapan tajam dari Kal. Bukannya merasa takut dengan tatapan gadis di sebelahnya, Delon malah semakin menatap wajah Kal.


Kal memalingkan wajahnya ke arah jendela, ia sedikit kesal karena tadi di angkat dengan cara yang tidak mengenakan.


"Kenapa?" Tanya Delon.


Kal menatap ke arah Delon lagi.


"Apanya?" Tanya gadis itu bingung.


"Tidak." Kening Kal mengkerut mendengar jawaban dari Delon.


"Boleh aku tanya sesuatu, Mas?" Ragu Kal.


"Silahkan." Delon membalas tatapan Kal.

__ADS_1


"Apa bener kalau ... Mas itu ... Duda?" Tanya Kal lirih sekaligus takut.


Takut kena marah karena salah memberi pertanyaan maksudnya.


"Iya, kenapa?" Santai Delon yang membuat Kal mengerjabkan kedua matanya berulang.


"Mas, tidak marah?" Gantian Delon yang mengerutkan keningnya.


"Untuk?"


"Untuk ... Pertanyaan aku tadi."


"Tidak."


"Kenapa?"


"Fakta."


Kal membuka mulutnya kaget mendengar jawaban enteng pria di sampingnya.


"Beneran Mas itu duda?" Tanya Kal sekali lagi untuk lebih meyakinkan dirinya.


"Iya," jawab Delon tegas.


"Sebentar, sebentar." Kal mengubah posisi duduknya jadi membelakangi Delon yang menatap heran dengan apa yang akan di lakukan calon istrinya itu.


Sedangkan Kal menghadap kaca pintu samping sembari berucap pelan pada dirinya sendiri.


Delon yang masih mendengar apa yang di ucapkan Kal hanya bisa menahan senyum.


Apa calon istriku ini memang polos begini? Batinnya.


Delon masih saja setia memperhatikan Kal yang masih nampak berpikir dan bergumam sendiri.


"Caranya biar bisa jadi janda gimana, ya? Masa iya aku harus jadi janda dulu baru bisa sama, Mas Delon?"


Kal mengetuk-ngetuk dagunya berpikir, apa yang harus ia lakukan agar bisa bersama si duda keren di sampingnya.


"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa, hanya harus terus berada di sisiku saja dan setia padaku."


Tubuh Kal menegang mendengar bisikan lembut di telinga kanannya yang berasal dari Delon.


Delon yang sudah tidak tahan lagi mendengar gumama polos Kal langsung saja mendekat dan berbisik. Dapat Delon rasakan tubuh Kal yang menegang setelah ia berbisik.


"Mas, jangan terlalu dekat-dekat. Kita belum nikah tahu." Kesal Kal mendorong tubuh besar Delon agar sedikit menjauh darinya.


Tidak tahu saja Delon kalau saat ini jantung Kal sudah bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya. Bahkan suasana di dalam mobil juga berubah menjadi panas menurut Kal.


Sedangkan Delon hanya berdehem ketika menyadari apa yang baru saja di lakukannya pada Kal. Hanya saja Delon pandai menyembunyikan kegugupan dan debaran jantungnya, jadi tidak akan ketahuan apa yang sedang di rasakan pria itu.


"Mau nikah sekarang?" Tawar Delon pada Kal.


"Tidak." Kal melotot menatap Delon.

__ADS_1


"Kenapa? Sama saja kapapun itu."


"Tidak, no way."


Delon menahan senyumnya melihat wajah menggemaskan Kal yang kedua pipi chuby nya masih merona karena bisikannya tadi.


"Apa bedanya ucapan kamu itu?" Tanya Delon mengenai penolakan terakhir Kal.


"Tidak ada, sama saja."


Delon tersenyum tipis saat Kal tidak melihatnya.


Sesampainya mereka di kampus tempat Kal belajar. Mobil yang di kendarai Kris berhenti di depan gerbang.


Karena banyak mahasiswa yang berdatangan, Kal memilih untuk keluar secepatnya daei mobil mewah itu. Ia tidak ingin jadi bahan gosipan, apa lagi selama ini Kal tidak pernah terlihat menaiki mobil.


Kal menyalami tangan kanan Delon dan segera keluar dari mobil.


"Hey ..." Delon menatap kepergian Kal yang sudah berlari masuk ke dalam lingkungan kampus.


"Kejar, Bos. Cinta itu harus di kejar, bukan di biarkan berlalu hingga sangat jauh dan sulit di gapai." Kris memutar tubuhnya melihat Delon yang masih menatap kepergian Kal dari dalam mobil.


"Jalan."


Mendengar suara bosnya yang bernada dingin membuat Kris buru-buru melajukan mobilnya. Sebelum tatapan maut ikut menyapa pagi harinya yang cerah.


Kal yang sudah berjalan cukup jauh dari gerbang kampus bernapas lega. Ia berjalan dengan santai menuju kelasnya.


"Kal!" Panggil seseorang yang membuat gadis itu menoleh.


"Vera."


"Hah, hah, hah, capek banget." Gadis yang bernama Vera itu ngos ngosan setelah berlari mengejar Kal.


"Kenapa kamu lari-lari?" Tanya Kal pada Vera temannya si gadis seksi yang bar-bar.


"Kenapa? Ya, kejar kamu lah. Lagian kamu sendiri kenapa tadi lari-lari?" Tanya Vera balik.


"Takut ketinggalan kelas." Alibi Kal sembari tersenyum canggung.


"Alasan, waktunya masih setengah jam lagi." Vera melihat jam mewah di pergelangan tangannya.


"Sudahlah, ayo kita masuk." Kal merangkul bahu Vera yang terbuka.


Jika Kal senang berpakaian seperti laki-laki, maka Vera suka berpakaian terbuka dan membentuk tubuh layaknya seorang model.


Pertemanan yang berbeda karakter tak membuat Kal dan Vera berselisih. Keduanya malah saling melengkapi daalam kekurangan mereka.


"Yo ... Siapa ini yang baru datang? Gadis taruhan miskin yang sedang berjalan dengan si wanita penghuni bar."


Kal dan Vera mengacuhkan Wina yang sedang mencibir mereka. Tadinya Vera sudah akan membalas ucapan Wina, tapi Kal menahannya. Jadi keduanya memilih acuh saja.


Wina yang di acuhkan merasa geram dan tidak terima. Jika sebelumnya ia bersikap baik pada Kal hanya untuk memuluskan rencananya bersama Boy. Maka kini ia bisa sesuka hatinya menyombongkan diri di hadapan dua orang yang sebenarnya tak di sukainya.

__ADS_1


__ADS_2