Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 47. Bulan Empedu


__ADS_3

Hari yang baru telah di mulai lagi, Kal dan Delon berjalan santai keluar hotel setelah sarapan di dalam kamar tadi.


Baru saja turun dari dalam lift dan menuju lobi di mana mobil sudah menunggu mereka. Datanglah Selly mendekat dan mengacaukan hari.


"Delon!" Teriaknya hingga mengundang perhatian orang-orang di sekitar.


Kal berdecak kesal melihat kedatangan orang yang tidak di harapkan itu.


"Delon! Ternyata semalam aku memang tidak berhalusinasi. Kamu memang ada di sini, senangnya." Selly mendekat dan hendak meraih tangan Delon yang bebas.


Namun dengan cepat Delon menghindar dari sentuhan Selly. Tapi namanya usaha, Selly tidak pantang menyerah dan masih berusaha meraih tangan Delon.


"Kamu kenapa sih? Aku kangen sama kamu, tahu tidak?" Manjanya saat berhasil meraih tangan Delon.


Kal yang tidak terima suaminya di sentuh oleh Selly segera berpindah tempat dan menggeser Selly begitu saja. Hampir saja Selly terjatuh karena dorongan dari Kal itu.


"Heh! Kamu itu tahu sopan santun tidak sih?" Marahnya pada Kal yang sama sekali tidak peduli.


Kal malah semakin melenggak lenggokkan bokong seksinya yang tertutup rok dres selututnya.


Selly sangat kesal melihat cara jalan Kal yang menurutnya di sengaja untuk mengejek dirinya.


"Dasar perempuan ganjen! Jauhi suamiku!" Selly hendak menarik rambut Kal saat sampai di lobi hotel.


Delon menahan tangan Selly yang hampir menyentuh tubuh Kal. Pria itu menghempaskan tangan Selly dengan kasarnya.


"Siapa?" Tanya Delon dengan maksud kalau Selly bukan siapa-siapa baginya.


Tapi rupanya Selly salah sangka dengan maksud pria di depannya yang sama sekali tidak berminat padanya.


"Aku Selly, istri kamu." Wanita itu nampak begitu senang karena akhirnya Delon mau bicara padanya.


"Tidak kenal," ucap Delon singkat yang membuat Selly terperanjat.


Kal menjulurkan lidahnya mengejek Selly sebelum ia masuk ke dalam mobil. Delon juga masuk ke dalam mobil lalu menutup pintu.


"Delon! Jangan tinggalin aku. Kamu mau kemana? Bawa aku juga," teriak Selly kala mobil terus melaju meninggalkan dirinya.


"Tolong jaga ketertiban, Nona. Jangan ganggu Tuan kami jika masih ingin tetap menginap," ucap seorang keamanan membuat Selly mengerutkan keningnya.


Bukan karena teguran pria itu, tapi karena panggilan untuk Delon yang sepertinya sangat di hormati. Apa lagi Selly tahu kalau keamanan yang menegurnya itu adalah pihak hotel.


"Apa? Tuan kalian? Jangan bilang kalau hotel ini milik Delon?" Tunjuk Selly pada hotel yang di tempatinya.


"Milik siapapun itu, Anda tidak boleh membuat keributan, Nona." Keamanan itu pergi meninggalkan Selly.

__ADS_1


Selly menutup mulutnya dengan jari-jari lentiknya dengan wajah tidak percaya.


"Woah, sekaya apa kamu Delon? Ternyata yang selama ini beredar di internet dan majalah belum mengungkapkan semua tentang kamu," gumam Selly berdecak kagum.


Semakin menggebulah keinginan di hatinya untuk mendapatkan Delon kembali. Apapun halangannya, ia yakin mampu mendapatkan Delon lagi.


"Tunggu aku, Delon. Kita pasti bisa kembali bersama dan menikmati semua kebahagiaan yang sesungguhnya." Senyum wanita itu lebar.


Selly pergi melakukan panggilan pada seseorang dan segera meninggalkan lobi.


Sementara Kal dan Delon pergi menuju suatu tempat yang sempat di janjikan Delon saat bangun tidur tadi.


"Kok itu kutu bisa ada di hotel sih, Mas?" Tanya Kal yang membuat Delon menatapnya heran.


"Kutu? Kutu apa?" Tanya Delon balik.


"Itu perempuan tadi, dia kan seperti kutu. Gatel," sahut Kal yang membuat Delon manggut-manggut sembari tersenyum tipis.


"Mas, tidak tahu. Mungkin dia memang menginap di hotel," kata Delon.


"Ish, pasti nanti dia bakalan gangguin kita lagi." Kesal Kal yang sudah merasa malas sendiri.


"Abaikan saja," ucap Delon enteng.


"Bagaimana mau di abaikan kalau dia tiba-tiba muncul? Ini namanya bukan bulan madu, Mas. Tapi bulan empedu."


"Jelas empedu kalau yang di temui pelakor terus. Bukannya bahagia malah jengkel sepanjang masa," gerutu Kal.


Delon mendekap istrinya dan mengecup kening Kal lembut.


"Anggap saja dia hantu tidak terlihat, dan kamu harus selalu bahagia dengan senyuman yang tidak luntur."


Kal menggigit bibir bawahnya menahan senyuman yang hampir lepas.


Akhirnya mereka tiba di sebuah tempat di mana ada kapal yang sedang bersandar di dermaga.


"Mana kapal yang mau kita naiki, Mas?" Tanya Kal tidak sabar.


Ya, hal yang di janjikan oleh Delon adalah naik kapal dan berkeliling.


"Coba tebak," ucap Delon sembari menggandeng istrinya.


Kal menatap satu persatu kapal yang ada di dermaga itu. Lalu matanya melihat salah satu yang memiliki logo kebanggaan suaminya.


"Itu! Uang itu kan, Mas?" Tunjuk Kal pada salah satu yang lebih besar.

__ADS_1


"Benar sekali." Delon tersenyum tipis pada Kal yang tentu membuat wanita itu senang karena tebakannya benar.


Mereka naik ke atas kapal yang sudah siap untuk membawa pasangan itu berlayar.


Kal berdecak kagum melihat betapa bagus dan mewahnya bagian dalam kapal itu. Semua fasilitasnya lengkap di dalam.


Delon membawa Kal keluar dan menuju bagian depan kapal saat kapal itu mulai bergerak.


"Mas! Kapal ini ada kamarnya tidak?" Tanya Kal menatap suaminya.


"Ada, kenapa?"


"Kalau kita bermalam di kapal ini bagaimana? Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menginap di kapal."


"Permintaan di kabulkan." Delon mengelus kepala istrinya.


Kal semakin tersenyum bahagia menatap suaminya. Tak lupa pelukan ia berikan untuk pria yang sudah menemaninya sebulan ini.


Mereka menikmati kebersamaan itu dengan bahagia. Makan siang juga di lakukan di atas kapal. Bercanda bersama dan saling berbagi cerita masa kecil.


Masa-masa saat mereka satu tempat pelatihan. Meski tidak banyak kenangan saat latihan dulu. Namun ada saja hal yang di bicakan Kal hingga Delon juga terpancing untuk banyak bicara.


Sedang asik-asiknya mereka menikmati cuaca indah yang sangat bersahabat itu. Suara seseorang kembali mengganggu pasangan itu.


"Delon! Delon! Di sini!" Teriakan yang menarik perhatian Kal untuk melihat.


Sedangkan Delon masa bodo dan tetap pada posisi duduk santainya.


"Lah! Si kutu muncul lagi," ucap Kal malas.


Ya, orang yang berteriak memanggil Delon itu adalah Selly. Wanita itu terlihat bersama seorang pria yang turut memperhatikan ke kapal Delon.


"Abaikan saja." Delon menarik Kal untuk kembali duduk.


Tentu saja Kal tidak menolak dekapan suaminya. Malah ia ikut memeluk Delon dan meletakkan kepalanya did ada bidang sang suami.


"Delon! Kamu dengar aku tidak? Delon!"


Masih saja terdengar teriakan dari Selly, bahkan suaranya terasa semakin dekat.


"Menjauh," ucap Delin pada petugas kapal.


"Baik, Tuan."


Kapal Delon menjauh dari kapal yang di naiki Selly dan prianya. Kal melambaikan tangan lalu mengangkat jempol yang di arahkan ke bawah.

__ADS_1


"Dasar kutu, benar-benar pembawa bulan empedu dia," gerutu Kal menatap Selly yang semakin menjauh.


__ADS_2