
"Oh, namanya Dea. Cantik juga," ucap Asti tersenyum tipis sembari menatap Dea dari atas hingga bawah.
Dea sendiri mencubit paha sang mama yang tepat di dekat tangannya. Kenapa jadi ia yang di jodohkan? Bukannya sudah sepakat kalau akan menjodohkan Kal? Pikirnya.
"Ma! Apaan sih?" Dea menatap sang mama tak suka sembari berucap pelan seperti bisikan.
"Diam saja kamu! Bukannya kamu suka sama pria itu?" Bisik Tuti sangat pelan hingga hanya dia dan Dea saja yang dengar.
Tapi pandangan semua orang tertuju pada ibu dan anak itu.
"Siapa yang ..."
"Sst," Tuti melotot pada Dea agar anaknya itu diam dan tidak membantah.
"Maaf, semua. Anak saya ini memang suka begitu kalau banyak orang." Tuti tersenyum lebar meminta kemakluman dari orang-orang di depannya.
Pria yang seumuran dengan ayah Indra itu menatap curiga pada Tuti yang bersikap aneh menurutnya. Begitupun dengan Delon dan Asistennya juga demikian menatap Tuti curiga.
Sadar ia menjadi bahan tatapan penuh kecurigaan. Tuti dengan cepat mengalihkan percakapan.
"Oh iya, Bagaimana kalau kita makan malam dulu? Sebelum makanannya menjadi dingin, nanti sudah tidak enak lagi."
"Mari silahkan." Ayah Indra mempersilahkan tamu-tamunya untuk ke ruang makan lebih dulu.
Ia akan diam saat ini karena tidak ingin membuat keributan yang hanya akan mempermalukan keluarganya. Tapi nanti ia akan membuat perhitungan dengan Tuti yang sudah berani mempermainkannya.
Saat para tamu sudah berdiri dan hendak beranjak. Muncullah Kal dengan penampilannya yang sungguh mengagetkan.
"Ayah! Kal, pamit dulu sebentar, mau ke supermarket." Kal mendekati ayahnya dan mengulurkan tangan minta di salam.
"Kenapa baru turun?" Tanya ayah Indra dengan senyuman lembutnya.
Meski ia sedang kesal, namun di hadapan Kal. Pria tua itu selalu berusaha untuk bersikap sewajarnya.
"Maaf, Yah. Tadi kelamaan mencari bajunya." Kal tersenyum polos pada sang ayah.
"Ya sudah, kita makan malam dulu. Nanti minta Mas Ferdi mengantar kamu kalau mau keluar." Ayah Indra merangkul bahu Kal dan membawanya ke ruang makan.
Sebenarnya tadi Kal sudah hampir sampai di bawah anak tangga saat mendengar ucapan Tuti yang mengenalkan Dea. Bahkan menjodohkan Dea dengan anak Asti.
Sengaja gadis itu belum menampakkan diri karena tak ingin merusak momen sang ibu tiri. Ia bersyukur karena tak perlu repot-repot membuat calonnya ilfiel padanya.
__ADS_1
Sang ibu tiri sudah lebih dulu berpindah haluan untuk menjodohkan anaknya sendiri. Dan itu membuat Kal lega karena tak harus menikah muda dengan orang yang tak di kenalnya.
Hingga akhirnya Kal harus turun juga dan berpura-pura ingin keluar.
Dan kini Kal malah di bawa sang ayah untuk makan malam bersama.
"Dia siapa, Indra? Apa putrimu yang lain?" Tanya Adi ayahnya Delon saat mereka sudah duduk di kursi meja makan.
"Ini putri kandungku, Kalila Putri Indrana. Kami biasa memanggilnya Kal," sahut ayah Indra.
"Kok riasan kamu berantakan begitu, Nak? Apa kamu tidak malu keluar rumah dengan riasan seperti itu?" Tanya Asti menatap Kal penasaran.
Bagaimana tak penasaran kalau riasan yang Kal gunakan begitu tebal. Kedua pipinya cukup merona dengan pewarna pipi.
Bibirnya merah menyala dan cukup tebal, kedua matanya menghitam karena Kal banyak memakai pewarna hitam di sekitar matanya.
Belum pagi pakaian yang di gunakan oleh Kal. Rok span jeans setenag paha di padukan dengan dalaman ketat yang du lapisi kemeja hitam. Pakain Kal full hitam, hingga membuat Asti sedikit ngeri melihat penampilan Kal.
"Maaf, Tante. Biasanya Kal tidak seperti ini, tadi tas make up saya tertinggal di kamarnya. Mungkin Kal salah pakai riasan dan pakaian." Mina merasa canggung dan serba salah jadinya.
Bagaimanapun juga, Mina yang memberikan Kal make up. Ia berharap adik iparnya akan berdandan anggun. Tapi siapa sangka kalau jiwa tomboynya sulit di hilangkan.
Mina mendekati Kal dengan membawa tisu basah sang anak.
Ayah Indra mengangguk mengiyakan saat menantunya menarik Kal dari kursinya.
"Ini keren, Kak. Jangan di hapus, susah buat riasannya." Tolak Kal berusaha menghindari tangan Mina yang memegang tisu basah.
"Tidak seperti ini juga, Dek. Sudah pakaian kamu hitam, riasan kamu aneh begini. Seram yang ada, bukan keren." Mina masih berusaha menghapus make up Kal.
Kedua orang itu sedang berada di dapur saat ini.
"Keren tahu, Kak. Kelihatan macho aku."
"Macho dari mana? Aduh ... tenang sebentar, nanti yang lainnya kelamaan nungguin kita."
Kal diam dengan wajah cemberutnya, ia merasa sia-sia dandanannya saat ini. Mina dengan mudahnya membersihkan make di wajah adik iparnya.
Cuci muka kamu dulu di sana, Kakak ambil tisu." Mina menunjuk wastafel dapur.
"Itu ada tisu," ucap Kal melirik tisu dapur yang biasa di gunakan pelayan di rumah mereka.
__ADS_1
"Ya, sudah. Cepat sedikit," kata Mina.
"Iya, iya." Kal mencuci wajahnya di wastafel hingga bersih dari cairan tisu basah tadi.
Kal juga menggunakan tisu dapur untuk mengeringkan wajahnya.
Hancur sudah rencanaku, untung mamanya Dea sudah alihkan perjodohannya. Jadi tidak terlalu mengsedih, batin Kal.
Kedua wanita itu keluar dari area dapur menuju ruang makan yang sebenarnya masih satu ruangan dengan dapur. Hanya saja bagian tempat masak di beri sekat setengah dinding.
Sehingga apa yang di lakukan dan di bicarakan oleh Mina dan Kal masih dapat di dengar orang yang ada di ruang makan.
"Bos, mendingan sama cewek seram itu saja. Kalau sama yang tadi, Bos bisa rugi." Bisik Kris pada Delon.
"Kenapa begitu?" Tanya Delon singkat.
"Nanti saya jelaskan di jalan, Bos."
Delon mengangguk saja mendengar ucapan Kris. Ia juga sebenarnya tidak tertarik sama sekali dengan Dea. Malah dengan Kal, ia merasa begitu penasaran.
Gadis muda yang di temuinya saat ke kantor Indra untuk membicarakan urusan bisnis. Gadis yang selalu membuat matanya tak bisa berpaling meski harus curi-curi pandang.
Kini gadis itu muncul di depannya dengan penampilan anehnya.
"Silahkan di nikmati, maaf atas kejadian tadi." Ayah Indra mempersilahkan tamunya makan juga meminta maaf atas kelakuan putri dan menantunya.
Semua orang menikmati makan malam dengan tenang. Hanya Kal yang tak bisa tenang, ia kembali membuat pandangan Asti dan Delon melirik padanya yang makan cukup lahap.
Bukan hanya lahap tapi porsinya juga lumayan. Bahkan tanpa jaim gadis itu makan layaknya orang kelaparan.
Kal tentu saja tahu jika ada orang yang melirik-lirik dirinya. Dan tebakan Kal mengarah pada pria yang berada di depan Edo.
Itulah sebabnya Kal makan cukup banyak malam itu agar pria di depan Edo itu ilfiel.
Ini namanya jurus makan orang kelaparan yang sudah lama belum makan, batin Kal.
Gadis itu bahkan tidak menggunakan sendok untuk membantunya makan. Tapi tangan kanannya ia pakai untuk membantunya menghabiskan makanan di piring.
"Pelan-pelan, Nak." Ayah Indra membersihkan makanan di bawah bibir Kal yang tertinggal.
Pria itu sama sekali tidak merasa malu dengan cara makan sang putri. Ia hanya khawatir Kal akan kekenyangan dan sakit perut karena makan terlalu banyak.
__ADS_1
Dasar rakus, untung perjodohannya sudah ku alih kan pada Dea. Kalau tidak aku bisa malu, batin Tuti pula kala matanya melirik cara Kal makan.