
Kal duduk dengan tidak semangat di kursi meja riasnya. Tak banyak peralatan kecantikan yang di miliki oleh Kal.
Hanya sekedar hand body dan pelembab wajah serta bibir saja. Bahkan bedak pun gadis itu tak punya. Yanga da saat ini di mejanya saja karena pemberian dari Mina sang kakak ipar.
Mina pernah berkata padanya untuk selalu menjaga dab merawat kulit. Meski tak berhias cantik, asal kulit terawat dan terlihat sehat, itu sudah cukup.
Kini Kal sedang di rundung ke malasan yang akut, hingga gadis itu hanya duduk diam saja di kursinya. Bahkan wajahnya ia letakkan di atas meja layaknya pelajar yang malas belajar di kelas.
"Kal! Kamu sudah selesai belum? Tamunya sudah datang." Terdengar suara Mina dari luar kamar Kal memanggil gadis itu.
Ya, malam ini keluarga tante Asti datang berkunjung ke rumah ayah Indra. Karena Tuti sudah memberitahu pada teman arisannya itu kalau anaknya menerima perjodohannya.
Acara pertemuan sengaja di adakan di rumah keluarga ayah Indra karena permintaan dari ayah Indra sendiri. Pria itu tidak ingin memaksa Kal untuk di ajak keluar rumah setelah ia sempat menolak.
"Iya, Kak. Masuk saja," sahut Kal yang masih malas-malasan.
Mina membuka pintu kamar Kal dan masuk, di dapatinya adik iparnya masih berpenampilan seperti biasa. Menggunakan celana jeans dan kaos ketat.
"Ya ampun, Kal! Kamu kenapa tidak bersiap? Mereka sudah di bawah, Dek." Mina cukup kaget melihat Kal yang begitu santai, bahkan terkesan malas.
"Mau bersiap gimana, Kak? Semua baju aku begini." Kal menegakkan duduknya menatap Mina dari kaca.
"Masa sih? Gaun yang waktu itu Kakak belikan kemana?" Tanya Mina heran.
Sebab Mina pernah membelikan Kal sebuah gaun cantik dua bulan lalu. Kenapa sekarang sudah di bilang tidak ada baju lain? Pikir Mina.
"Oh iya, baru ingat. Kakak keluar saja dulu, aku mau ganti baju." Malas Kal yang sangat terlihat di wajahnya.
"Benar, ya? Jangan aneh-aneh loh kamu," ucap Mina mengingatkan Kal.
"Iya, Kak." Kal tersenyum manis menyakinkan Mina.
"Ini tas make up, Kakak. Kamu harus berhias supaya kelihatan semakin cantik." Mina meletakkan tas make up nya ke meja hias Kal.
"Ya, ya, ya ..." sahut Kal.
Setelah Mina keluar dari kamar Kal, gadis itu memasuki ruang ganti di mana semua pakaiaannya berada.
Kal membuka semua pintu lemarinya lebar-lebar dan mulai mencari kemana ia menyimpan gaun pemberian Mina.
__ADS_1
Bukannya mendapatkan gaun yang di maksud oleh Mina. Kal malah melihat setelan yang pernah di belinya bersama Ferdi saat masih SMA dulu.
Namun baju itu hanya sekali di pakainya dan itupun hanya sebentar. Karena sang ayah yang tidak suka jika Kal memakai baju itu. Ayah Indra menganggap Kal masih terlalu kecil untuk memakai baju itu.
"Kalau aku gak bisa nolak perjodohannya, biar dia saja yang menolak. Kalau dia pilihan mamanya Dea, berarti dia pengusaha. Tidak mungkin seorang pengusaha mau sama cewek bar-bar."
Kal tersenyum kala mendapatkan ide dengan pakaian di tangannya. Kal sebenarnya belum bisa menerima 100% perjodohan itu. Hanya karena ayahnya sajala ia menerima.
Jadi cara satu-satunya yang bisa di lakukan gadis itu adalah dengan membuat si pria sendiri yang menolaknya.
Kal memakai baju itu dengan cepat dan lanjut merias dirinya seperti yang ada di pikirannya sendiri. Meski ia terkenal tomboy, Kal tetap bisa memakai make up dan memakai hells tinggi.
Tentu saja semua itu berkat Mina yang mengajari Kal cara menjadi wanita peminim. Wajah cantik Kal membuat Mina merasa sangat sayang jika adik iparnya itu malah jadi tomboy.
Tapi ke tomboyan Kal itu juga karena ulah dari Edo dan Ferdi yang selalu mengajak Kal melakukan kegiatan olah raga para pria. Meski tak semua di coba oleh Kal.
"Mana adik kamu, Nak?" Tanya ayah Indra pada menantunya yang baru turun dari tangga.
"Belum selesai, Yah. Sebentar lagi katanya," sahut Mina.
"Ya, sudah." Ayah Indra berjalan kembali ke ruang tamu di mana para tamunya sudah menunggu.
"Maaf, sudah membuat kalian menunggu. Putri ku belum selesai, sebentar lagi baru turun." Ayah Indra tersenyum menatap para tamu di depannya.
"Mungkin persiapannya harus maksimal, Ndra." Wanita yang bernama Asti angkat suara pula.
"Ya, begitulah." Ayah Indra tersenyum lagi pada tamunya yang merupakan teman kerjanya itu.
Ferdi yang merasa akan terjadi sesuatu langsung berbisik pada Edo.
"Mas! Sepertinya akan ada konspirasi," bisiknya yang membuat Edo menatap Ferdi bingung.
"Konspirasi apa?" Tanya pria itu dengan kening berkerut.
"Adik kesayangan kita pasti bakalan berulah."
"Berulah bagaimana? Kal sudah setuju dengan perjodohan ini." Edo menampik pemikiran Ferdi.
"Lihat saja nanti." Ferdi menaik turunkan kedua alisnya menatap Edo.
__ADS_1
Di antara semua orang yang ada di ruang tamu itu, hanya Tuti yang terlihat sangat bahagia sekali. Ia sudah membayangkan uang yang akan di dapatkannya saat nanti setelah pernikahan.
Asti sudah berjanji akan memberikan uang pada Tuti setelah acara pernikahan selesai.
"Dimana Kal? Tamunya sudah menunggu lama loh ini?" Ucap Tuti yang sudah tidak sabar lagi.
"Sebentar lagi katanya," sahut Ferdi santai.
"Tidak perlu buru-buru, Bu Tuti. Kami juga masih santai," kata Asti dengan senyum tipisnya.
"Iya, tapi yang namanya sudah di tunggu tetap harus cepat, Jeng Asti. Jangan sampai membuat semua irang menunggu lama." Tuti tersenyum semanis mungkin pada calon pemberi uangnya.
Ayah Indra semakin menatap curiga pada Tuti yang sangat terlihat begitu tergesa-gesa.
Tak lama terdengar suara langkah kaki turun dari tangga saat semua orang sudah sibuk berbincang lagi.
Dea yang baru selesai menghubungi kekasihnya turun dari lantai atas. Ia menggunakan dres selutut lalu duduk di samping sang mama.
"Apa ini anak yang mau di jodohkan dengan Delon?" Tanya Asti menatap Dea dari atas sampai bawah.
Sedangkan Dea yang baru saja duduk terpaku melihat seorang pria yang sangat tampan duduk di samping Edo. Bahkan pacarnya tak setampan pria di depannya itu.
Tuti yang melihat sang anak terpesona oleh pria muda yang datang bersama Asti langsung angkat bicara.
"Kalau boleh saya tahu. Anak Jeng Asti yang mana, yang mau di jodihkan dengan anak saya?" Tanya Tuti memastikan lebih dulu.
Karena Asti datang dengan dua pria muda yang tampan.
"Yang ini, namanya Adelon Pratama Adijaya." Asti menyentuh lengan anaknya yang nampak duduk diam di tempatnya.
"Kalau yang itu! Dia Asistennya Delon," ucap Asti lagi menunjuk pria yang duduk di sofa bersama Ferdi.
"Oh, begitu. Kalau begitu kenalkan, ini anak saya Adea Pertiwi. Nama mereka terdengar serasih, ya? Yang satu Delon dan satu lagi Dea. Sungguh pasangan yang sangat cocok," ucap Tuti.
Dea yang mendengar ucapan mamanya langsung menoleh dengan kedua alis yang di angkat penuh tanya.
Sedangkan ayah Indra dan kedua putra serta menantunya menatap tak percaya pada Tuti yang masih saja memasang wajah tak bersalah.
Wah, bakalan ada perang habis ini, batin Ferdi sembari melirik ayahnya yang sudah berwajah tak bersahabat.
__ADS_1
Sedangkan Edo menatap tak suka pada Tuti yang menurutnya sangat mempermainkan mereka.
Apa maksud wanita tua itu? Batin Edo kesal.