Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 55


__ADS_3

Vera meletakkan telapak tangannya ke kening Kal lalu ke keningnya sendiri. Wajah bingung Vera juga sangat kentara sekali kalau ia masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Sama," gumam Vera yang membuat Kal menepuk lengannya pelan.


"Kamu kira aku sakit apa?" gerutu Kal.


"Habisnya kamu aneh, Bo. Tidak biasanya beli baju seperti ini, biasanya kan kamu sukanya baju kaos atau kemeja. Yang pasti bukan baju dres seperti ini," ucap Vera sembari mengangkat mini dres yang tadi di pilih Kal.


"Aku cuma dengerin nasehat kak Mina saja. Katanya kita sebagai istri harus bisa jaga penampilan supaya tidak buat suami malu. Apa lagi suamiku itu bukan orang sembarangan. Banyak pelakor yang siap ambil kapan saja, jadi aku mau coba pelan-pelan pakai baju seperti ini."


Vera mengangguk paham akhirnya setelah mendengar penjelasan Kal. Memang benar adanya apa yang di katakan Kal tadi. Meski Kal memang sejatinya juga bukan berasal dari keluarga biasa.


Namun dengan statusnya yang saat ini sudah menjadi seorang istri. Kal tidak mungkin terus menghindari halayak umum dan menyembunyikan identitasnya.


Kalau hanya sekedar anak, Kal masih bisa menyembunyikan jati dirinya. Karena yang paling penting adalah orang tuanya. Tapi kini sudah lain lagi ceritanya.


"Kalau begitu, ayo kita cari pakaian yang cocok untuk kamu. Harusnya tadi kamu jelasin sama aku, jadi aku bisa bantu kamu cari yang paling perfek." Vera menarik tangan Kal menuju kasir lebih dulu untuk membayar pakauan itu.


Saat Kal mengeluarkan kartu dari dompetnya, mata Vera melotot sempurna dan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Widih, istri sultan mah beda kartunya." Kap hanya tersenyum sembari melirik suaminya yang berdiri di belakang mereka.


"Ayo." Kal menarik lengan Vera setelah menyerahkan tas belanjaannya pada Kris.


"Kamu kalau ada pakaian yang di sukai, boleh kamu ambil," bisik Kal yang membuat Vera menoleh.


"Yang bener! Nanti suami kamu marah lagi?" Vera bertanya untuk lebih meyakinkan ucapan temannya itu.


"Tidak akan, lagian uang segitu tidak akan terasa baginya. Selagi orangnya juga ada di sini," kata Kal meyakinkan Vera.


Akhirnya Vera hanya mengangguk saja dari pada Kal semakin panjang bicara dan memaksanya.


Kedua perempuan itu belanja sepuasnya dengan Delon dan Kris sebagai pembawa barang belanjaan mereka. Bagi Delon itu bukan masalah selama istrinya tidak melakukan sesuatu yang membuatnya tidak suka.

__ADS_1


Kalau hanya sekedar menghabiskan uangnya saja. Bukan masalah besar bagi Delon, selagi masih di gunakan untuk hal yang tidak merugikan orang lain.


Setelah lelah berjalan dan berbelanja, Kal dan Vera memutuskan untuk istirahat makan. Tak ketinggalan pula kedua pria yang sejak tadi mengikuti kedua perempuan itu belanja.


"Mas, mau pesan apa?" Tanya Kal menatap suaminya.


"Terserah," sahut Delon yang membuat Kal menaikkan satu alisnya.


Biasanya para wanita yang akan memberi jawaban demikian jika di tanya oleh pasangan mereka. Tapi beda cerita dengan pasangan yang satu ini.


Kal melihat buku menu dan memilih mana makanan yang membuatnya selera.


"Mau makan apa, Mas?" Tanya Kal lagi.


"Terserah," sahut Delon lagi.


"Minumnya?"


"Terserah."


Setelah menunggu beberapa saat, makanan mereka datang. Posisi duduk Kal dan Delon hanya berdua di satu meja dan Vera serta Kris di meja lain.


"Mau ini tidak?" Tanya Kal sembari menunjuk mie pasta.


Delon geleng kepala pertanda tidak mau, lalu Kal menunjuk makanan lainnya. "Kalau ini?" Delon mengangguk saat Kal menunjuk steak.


Kal mengambil piring berisi steak yang di inginkan suaminya. Setelahnya memberikan daging steak pada Delon, Kal makan sendiri dengan nikmatnya. Karena di rasa sang suami mungkin sudah tidak membutuhkan yang lainnya.


Apa lagi sejak tadi jika di tanya jawaban Delon membuat Kal tidak paham. Jadi diamkan saja dulu sampai pria itu buka suara sendiri nanti.


Benar saja dugaan Kal kalau suaminya akan buka suara sendiri jika apa yang di inginkannya ada yang tidak sesuai atau kurang.


"Mau," ucap Delon sembari menarik tangan sang istri yang memegang sendok berisi mie pasta.

__ADS_1


Kal menatap suaminya yang memasukkan sendok berisi pasta itu ke dalam mulut oria itu sendiri.


"Tadi tidak mau sekarang mau," gerutu Kal lalu mengambil lagi pastanya.


Saat Kal akan memasukkan sendok berisi pasta ke mulutnya. Delon membuka mulut dan lebih dulu menyambar pasta itu.


"Mas! Apa-apaan sih? Kalau memang mau di suap bilang dong, jangan seperti itu. Buat kaget saja," sungut Kal menatap kesal suaminya yang nampak biasa saja.


Delon tidak merespon ucapan Kal, tapi mapah membuka mulut yang sudah kosong pertanda minta di suapi.


Akhirnya Kal makan sembari menyuapi sang suami. Meski kesal tapi ia tidak ingin mengbaikan Delon lagi. Sudah cukup tadi ia menikmati waktu berbelanja bersama Vera tanpa di rusuhi Delon.


Bagi Delon sendiri, apa yang di lakukannya adalah sebagai bentuk memberi hukuman pada sang istri. Karena wanita itu sudah berani mengabaikannya tadi dan menjadikannya sebagai pembawa barang.


Tapi pastinya itu hanya alasan saja bagi Delon agar bisa mesra-mesraan dengan Kal. Jika nanti Kal protes lagi, maka alasan itu akan di keluarkannya.


Selesai makan mereka langsung pulang kerumah masing-masing. Karena Delon dan Kal di jemput supir, maka Vera pulang berdua dengan Kris yang akan mengantarkan gadis itu pulang.


"Awas kalau sampai temenku lecet, Sekretaris Kris. Jangan kamu apa-apain dia," ucap Kal memperingatkan Kris sebelum ia masuk ke dalam mobil.


Rasa kesalnya pada Delon akibat lebih banyak menghabiskan makanan tadi seperti di lampiaskan pada Kris.


"Baik, Nyonya Muda." Kris menundukkan kepalanya sebentar dan itu semakin membuat Kal kesal saja.


Atasan dan bawahan sama saja, batin Kal.


Wanita itu masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka oleh supir. Delon ikut masuk dan duduk di samping Kal dengan santainya.


Setelah mobil yang di tumpangi Kal dan Delon melaju meninggalkan lobi mal. Barulah Kris dan Vera pergi juga dari sana.


Di dalam mobil yang di tumpangi Kal dam Delon, terjadi keheningan karena Kal yang mendiamkan suaminya. sudah Delon jarang bicara, Kal pula diam saja.


Delon menolehkan kepalanya saat merasa bahunya berat. Ternyata Kal tertidur dan kepalanya bersandar di bahu pria itu.

__ADS_1


Delon mengantongi ponselnya lalu mendekap tubuh sang istri. Memposisikan tubuh wanita itu agar tidurnya lebih nyaman.


__ADS_2