
"Ayah! Ayah baik-baik saja, kan?" Tanya Kal setelah mereka sampai di kamar.
Kal sangat yakin kalau saat ini keadaan sang ayah sedang kurang baik.
"Ayah, tentu baik-baik. Apa lagi setelah melihat putri kecil kesayangan Ayah ini sudah sehat." Ayah Indra tersenyum menatap Kal sembari mengelus kepala anak gadisnya.
"Oh maaf, seharusnya Ayah tidak mengelus kepala kamu." Kal mengerutkan keningnya tidka mengerti.
"Memangnya kenapa, Yah? Biasanya Ayah sama Mas Edo sama Mas Ferdi juga sering melakukan itu. Bahkan Kak Mina juga pernah." Polos Kal yang membuat ayah Indra tersenyum.
"Tadikan kepala kamu habis di elus sama calon suami kamu, Mas Delon. Karena tadi Ayah menyentuhnya, sekarang bekas sentuhan Mas Delon pasti sudah hilang. Saya sekali." Ayah tersenyum jahil pada Kal.
Mina ikut tersenyum juga bersama ayah mertuanya. Tentu ia tahu apa yang di lakukan Delon tadi pada Kal.
"Ayahh ..." rengek Kal malu dan langsung menelungkupkan dirinya. Menyembunyikan wajah malunya di bantal.
Sontak saja hal itu mengundang tawa pada ayah Indra dan Mina. Begitu juga Tomy yang ikut tertawa, meski tidak tahu apa yang di tertawakan oleh ibu dan kakeknya.
"Kamu istirahat dulu, ya? Ayah keluar sebentar." Kal mengangguk masih dengan menyembunyikan wajahnya di bantal.
Ayah Indra keluar dari kamar Kal dengan cepat sebelum cucunya mengulurkan tangan ingin di gendong. Karena saat ini pun wajah Tomy sudah terlihat mulai cemberut hendak menangia ketika kakeknya memilih keluar.
"Cup cup cup sayangnya Mama. Kakek, masih sibuk jadi tidak bisa bermain." Mina membujuk anaknya agar tak menangis.
Bagaimanapun saat ini Mina tahu kalau ayah mertuanya akan menyelesaikan urusannya dengan ibu mertuanya. Haruskah Mina memanggilnya ibu mertua, atau bibi? Entahlah, Mina tidak ingin ambil pusing dengan itu.
Kal yang mendengar bujukan kaka iparnya pada Tomy langsung duduk dan mengajak keponakannya itu bermain.
Sedangkan ayah Indra berjalan turun tangga menuju kamar tamu di mana ia mengurung ibu tirinya dan istrinya. Istri atau saudara tiri? Ah, keduanya batin ayah Indra.
"Bereskan pakaian istri saya, masukkan ke dalam koper semuanya. Ingat! Hanya pakaian, tidak dengan yang lainnya," ucap ayah Indra pada pelayan yang di temuinya di depan kamar.
"Baik, Tuan Besar." Pelayan itu langsung bergegas pergi mengerjakan perintah.
Saat membuka pintu kamar, di dapatinya Tuti yang sedang berdiri dengan gelisah. Sedangkan ibu tirinya duduk dengan menatap Tuti.
Kedua wanita itu melihat ke arah ayah Indra yang masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Mas, kenapa kamu kurung kami di sini?" Tanya Tuti sembari mendekati ayah Indra.
"Ada beberapa hal yang harus ku beritahu pada kalian berdua." Ayah indra menatap bergantian pada Tuti dan ibu tirinya.
"Apa?" Tanya Tuti penasaran.
"Rumah ayahku yang sekarang di tempati olehmu, Ibu. Akan aku jual beserta seluruh isinya." Nenek menatap tak percaya pada anak tirinya.
"Apa? Kenapa kamu jual? Itu rumah ayahmu, suamiku. Artinya rumah itu milikku juga, dan aku memiliki hak atas rumah itu sebagai istri. Kamu tidak bisa menjualnya tanpa persetujuanku." Marah nenek pada ayah Indra.
"Aku tidak butuh persetujuanmu," ucap ayah Indra enteng yang semakin membuat nenek meradang.
"Dasar anak durhaka! Sia-sia aku membesarkanmu selama ini," ucap nenek.
"Buka kamu yang membesarkanku, kamu hanya mengambil uang ayahku untuk kesenanganmu dan juga kebahagiaan putri kandungmu ini." Tatapan ayah Indra beralih ke Tuti.
"Apa maksud kamu, Mas? Sejak tadi kamu terus menuduhku dan ibu, sebagai ibu dan anak. Apa kamu punya bukti, hah?" Tuti mencoba marah untuk mengalihkan kesalahnnya dan kenyataan.
Ayah Indra tersenyum miring menatap Tuti yang sedikit mundur. Wajah ayah Indra saat ini terlihat mengerikan baginya. Selama ini pria yang sudah menikahinya itu selalu berwajah lembut dan datar saja jika melihatnya.
Namun hari ini seakan badai besar akan menimpa Tuti dan ibunya.
"Ku rasa ini cukup sebagai bukti." Ayah Indra melemparkan sebuah amplop berlogo rumah sakit ke arah Tuti.
Tuti menangkap amplop itu dan membukanya dengan perasaan takut. Apa lagi ibu tiri ayah Indra, wajah keriputnya sudah mulai pucat.
"Ini ... Hasil tes DNA siapa ini, Mas?" Tanya Tuti pura-pura tidak tahu.
"Milikmu dan ibumu tercinta." Pandangan ayah Indra beralih pada wanita tua yang duduk tegang di kasur.
"A-apa? Tidak mungkin. Bagaimana kamu bisa mendapatkan ini, Mas? Atau ini cuma hasil rekayasa kamu saja, untuk menjatuhkan aku dan ibu."
Tuti menatap ayah Indra dengan senyum miringnya, meremehkan pria di depannya.
"Apa untungnya bagiku menjatuhkan kamu dan ibumu? Kalian tidak punya apa-apa yang bisa membawa keuntungan padaku. Berbeda dengan kalian berdua yang terus bersandiwara, demi harta dan kehidupan mewah. Menipu ayahku dan aku selama bertahun-tahun. Apa kalian pikir semua itu akan terus tersimpan?"
Ayah Indra balik menatap remeh Tuti di depannya yang tidak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu tahu semua itu?" Tanya nenek penasaran.
Setahunya tidka ada seorangpun yang mengetahui identitas dirinya yang mempunyai anak dan di titipkan di panti asuhan. Apa lagi pengurus panti yang tahu tentang itu sudah lama meninggal dunia.
"Tentu saja dari kalian berdua, cinta antara kalianlah yang memberitahu padaku."
Tuti dan nenek menatap ayah Indra bingung. Mereka tidak pernah merasa memberitahu apapun pada ayah Indra.
"Apa kamu yang memberitahu padanya, Tut?" Tanya nenek pada anaknya.
"Hah? Tidak, Bu." Elak Tuti menatap ibunya serius.
"Jangan asal menuduh jika kamu hanya punya kertas itu saja, Ndra. Bisa saja isinya kamu palsukan." Nenek masih mencoba berkilah dari kenyataan yang sudah ada.
"Baiklah, aku akan beritahu kalian berdua. Saat kamu pergi dengan ayahku ke sebuah acara, aku masuk ke kamar kalian dengan seijin ayahku. Ayah memintaku mengambil kartunya yang tertinggal di kamarnya."
"Saat aku masuk, ada sebuah album foto tergeletak di bawah bantal. Karena penasaran aku membukanya, ku kira itu album foto kenanganku bersama ibu dan ayah kandungku. Tali ternyata di dalamnya terdapat fotomu bersama seorang anak perempuan."
"Di sana juga ada foto kalian berdua yang berdiri di depan panti asuhan tempat Tuti tinggal. Bahkan di salah satu foto tercetak tulisan yang menyatakan kalau kedua orang itu ibu dan anak. Awalnya aku sudah mengira kalau itu mungkin hanya anak angkat saja."
"Tapi setelah seminggu yang lalu aku melihat buku harian dan foto album yang sama seperti yang ku lihat dulu di kamar ayahku. Barulah aku tahu kalau kalian itu ibu dan anak kandung. Wanita yang begitu kamu unggul-unggulkan di hadapan ayahku agar aku menerima pernikahan itu. Ternyata adalah anak kandungmu sendiri, kamu melakukan itu agar bisa selalu bertemu degan anakmu tanpa harus sembunyi-sembunyi."
"Padahal saat itu Tuti sudah punya suami dan anak. Tapi kamu memisahkan mereka dan menikahkannya denganku. Sungguh cantik permainan yang kalian perankan selama ini."
Ayah indra menatap ibu tirinya dengan sinis dan tak bersahabat.
"Berterimakasih lah pada buku harian anakmu itu, juga album foto kalian. Karena dari sana aku tahu segalanya tentang bangkai yang kalian sembunyikan. Dan bukti tes yang sudah ku tunggu selama seminggu ini, sangat cukup untuk membuktikan status ibu dan anak kalian berdua."
Tuti melangkah mundur mendekati ibunya dengan gemetaran. Ia sungguh takut saat ini untuk berhadapan dengan ayah Indra.
"Sekarang rumah ini dan rumah ayahku sudah tidak bisa menampung kalian berdua lagi. Jadi, supirku akan mengantarkan kalian ke tempat dimana kalian seharusnya."
Mata Tuti melotot mendengar ucapan ayah Indra, apa itu artinya ia di usir? Oh tidak!
"Apa maksudmu, Mas? Aku ini istri kamu."
"Sekarang aku talak 3 kamu, Tuti. Kita bukan suami istri lagi, dan aku melepaskan semua tanggung jawabku padamu dan ibumu."
__ADS_1
Tuti dan ibunya shok mendengar hal itu, bahkan ibu tiri ayah Indra itu langsung jatuh pingsan.