
Kal di jemput oleh Edo dari kampus, setelah gadis itu memberitahu kalau kelasnya sudah selesai. Vera tentu saja sangat kaget melihat siapa yang menjemput Kal.
Meski berteman lama dengan Kal, gadis itu tak pernah tahu kehidupan pribadi Kal. Vera bahkan tak tahu dimana rumah Kal, tapi Kal sendiri tahu dimana rumah Vera.
Bukannya tak ingin mengatakan tentang jati dirinya pada Vera. Mereka hanya saling menjaga privasi masing-masing dengan tidak mencampuri urusan pribadi. Namun kalau ada yang berani macam-macam dengan Vera.
Kal orang pertama yang akan maju menghabisi pengganggu itu.
"Dia beneran saudara kandung kamu, Mok?" Bisik Vera pada Kal.
Kedua gadis itu duduk di kursi belakang, sedangkan Edo duduk di samping supir kantor yang di bawanya.
"Iya, kenapa? Ganteng kan, seperti aku." Kal berucap dengan pedenya.
"Ck, jangan bercanda, Mok."
Vera mengulur-ulurkan kepalanya hendak melihat kembali wajah Edo yang sedang menunduk.
"Siapa yang bercanda? Bahkan aku punya satu saudara laki-laki lagi."
Kedua mata Vera melotot menatap Kal tak percaya.
"Yang benar kamu? Gantengan yang mana, Mok?" Tanya Vera penasaran.
"Gantengan ayahku," sahut Kal tersenyum lebar.
Vera menyipitkan kedua matanya pada Kal.
"Serah deh Mok, serah." Pasrah Vera karena pertanyaannya tak mendapatkan jawaban memuaskan.
"Sehari sebelum acara, kamu ke rumah. Temani aku nanti," kata Kal.
"Memang akad nikahnya jam berapa? Dimana?" Tanya Vera.
"Akad nikahnya jam berapa, Mas?" Kal malah balik bertanya pada Edo.
Gadis itu memang tidak bertanya dan tidak tahu jam berapa akad nikah. Ia hanya mengikuti semua ucapan ayahnya saja.
"Jam 9 pagi, akadnya di rumah ayah. Nanti jam 2 siang kita ke hotel setelah kamu ganti gaun. Siang hari tamu-tamu ayah, malam hari tamu mertua kamu sama suami kamu."
Edo menoleh kebelakang sebentar sebelum akhirnya melihat ponselnya lagi.
"Huh ... Pasti capek banget nanti." Kal sudah dapat menebak meski belum menjalani.
Vera sendiri sempat tak percaya melihat tampannya Edo.
Pantas saja Semok cantik meski tampilannya seperti laki-laki. Mungkin sudah gen keluarganya oke semua, batin Vera.
__ADS_1
"Bo! Dah sampai rumah kamu, tuh!"
Kal menepuk lengan Vera yang bengong. Dengan gelagapan Vera membuka pintu mobil. Kal melongo melihat sikap aneh Vera.
"Hati-hati." Vera melambaikan tangan sebentar pada Kal sebelum masuk ke dalam pagar yang sudah di buka satpam.
Setelah Vera masuk, mobil kembali melaju meninggalkan komplek perumahan itu.
"Kenapa teman kamu kelihatan heran gitu waktu lihat, Mas? Apa Mas seseram itu?" Tanya Edo pada adiknya.
"Karena dia memang tidak pernah tahu keluarga kita. Bahkan aku dari keluarga mana? Bagaimana kehidupan keluargaku? Siapa keluargaku? Dia tidak tahu. Begitupun aku yang cuma tahu papa mamanya saja."
Kening Edo mengkerut heran mendengar penjelasan adiknya. Bagaimana mungkin bisa ada persahabatan seperti itu? Pikirnya.
"Kenapa begitu?" Tanya Edo.
"Karena kami ingin berteman, bukan mau pacaran apa lagi menikah. Pertemanan kami juga bukan karena status sosial, tapi karena kami sama-sama butuh teman dan merasa saling cocok untuk berteman."
Edo hanya bengong mendengar jawaban adiknya yang di luar dugaan itu.
"Kamu tahu dari mana siapa orang tuanya?" Edo bertanya hal lain.
"Aku sering anterin dia pulang kalau selesai kerjain tugas di laur kampus."
"Memangnya dia tidak bawa kendaraan?"
Edo sangat penasaran dengan pertemanan adiknya. Lebih tepatnya karena jawaban Kal tadi, Edo ingin tahu bagaimana cara kedua orang itu berteman.
"Kenapa gitu?"
"Trauma."
Edo menghela napas lalu kembali menhadap depan lagi. Sudahlah, asal mereka saling mebdukung saja, batinnya.
Vera bukannya tak punya kendaraan sendiri, sebagai anak pemilik restoran yang cukup maju. Vera di beri fasilitas kendaraan oleh orang tuanya.
Hanya saja Vera yang pernah merusak pagar rumah orang dengan menabrak kan mobil baru milik kakaknya. Membuat gadis itu tak mau lagi membawa mobil atau motor sendiri.
Vera juga sering kali menolak saat Kal hendak mengantarkannya pulang. Namun Kal selalu punya alasan hingg akhirnya Vera di antar pulang oleh Kal.
Di rumah ayah Indra ...
Mobil yang membawa Kal dan Edo tiba dengan selamat.
Kal masuk ke dalam rumah dan di sambut tawa riang keponakannya yang mulai lancar melangkah. Dengan giginya yang belum banyak, membuat Kal gemas saat keponakannya tertawa.
"Ugh ... Gemasnya keponakan aku." Kal hendak meraih tubuh mungil Tomy. "Tunggu!" gerakan Kal terhenti.
__ADS_1
"Kenapa, Kak?" Heran Kal menatap Mina yang tak jauh dari Tomy.
"Kamu kan habis dari luar, Kal."
Kal baru saja ingat akan hal itu. "Tunggu ya anak ganteng, Tante mandi dulu." Kal pergi menuju kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Kal turun dengan keadaan sudah mandi dan sangat segar. Gadis itu menggunakan celana longgar selutut dan kaos oblong kebesaran.
"Kal!" Ayah Indra memanggil anak gadisnya.
"Ayah ..."
Kal yang melihat ayahnya sudah pulang berlari mendekat dan memeluk pria itu.
"Manja banget," ejek Ferdi yang sedang makan.
Kal hanya memajukan sedikit bibirnya dan membuang muka dari Ferdi. Pertanda kalau ia tidak perduli dengan ejekan pemuda itu.
Mereka akhirnya makan siang bersama dengan damai. Selesai makan siang, keluarga ayah Indra duduk sejenak di ruang keluarga.
"Kal! Kamu tahu kan kalau minggu depan kamu menikah?" Tanya Ayah Indra.
Kal yang sedang duduk di karpet bersama Tomy mengangguk mendengar ucapan ayahnya.
"Kamu sudah ambil cuti kuliah?" Tanya ayah Indra lagi. "Sudah, Yah. Cuti untuk 3 minggu kedepan." Kal menatap ayahnya.
"Selama seminggu ini, kamu tidak boleh kemana-mana. Dan Ayah harus bilang kalau kamu cuma boleh di kamar saja. Kalau bosan boleh keluar, tapi tidak untuk turun ke lantai bawah, paham!"
Kal menghembuskan napasnya panjang.
"Nanti bibi yang akan bawakan makanan kamu, atau apapun yang kamu mau. Bahkan selama seminggu ke depan kamu tidak boleh bertemu calon suamimu apa lagi pakai ponsel. Seminggu ini ponsel kamu Ayah sita."
Kedua mata Kal melotot kaget mendengar hal itu. Tidak keluar kamar, oke lah. Tidak boleh bertemu calonnya, bisa lah. Tapi ponselnya?
"Yah ... Ponselnya boleh, ya? Soalnya aku mau kerjakan tugas kampus dari rumah walau tidak kuliah. Temanku juga nanti tidak bisa kasih kabar kalau dia mau datang. Aku minta dia datang sehari sebelum pernikahan."
Kal memasang wajah memelasnya pada sang ayah. Tentu saja ayahnya tidak berani melihat wajah anaknya karena takut luluh.
"Ayah ... " Kal berucap lirih sembari cemberut.
Edo dan Ferdi saling pandang melihat adegan di depan mereka. Ada rasa tidak tega juga melihat ekspresi adik mereka.
"Hah ... Baiklah, tapi ingat untuk tidak melakukan video call dengan calon suami kamu."
Ayah Indra akhirnya mengalah karena tidak sanggup melihat wajah cemberut Kal.
"Iya," sahut Kal tersenyum senang karena ponselnya tidak jadi di sita sementara.
__ADS_1
Ayah Indra sengaja ingin menyita ponsel Kal supaya anaknya bisa fokus pada pernikahannya. Pria itu merasa khawatir jika ada orang yang akan mempengaruhi Kal hingga membatalkan pernikahan.
Terdengar berlebihan memang, namun itu lah kekhawatiran yang di rasakan ayah Indra menjelang pernikahan Kal. Anaknya yang akan menikah, ayahnya yang gugup.