Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 32. Resepsi


__ADS_3

Pasangan pengantin baru yang telah menikah beberapa jam lalu itu kini berada di kamar milik Kal. Karena hari yang semakin siang, Kal harus berganti pakaian lagi dan bersiap untuk ke hotel tempat acara pernikahan.


Para orang tua dan keluarga lainnya sudah lebih dulu berangkat menuju hotel. Hanya tinggal Kal dan Delon yang maish bersiap. Di temani oleh Vera dan Kris yang terus berusaha mendekati Vera.


Ada juga Edo yang di tugaskan untuk memastikan pasangan itu akan segera tiba di hotel. Papa Adi yang meminta Edo tetap tinggal, mengingat jika Delon adalah orang pasti akan sangat banyak syarat jika sudah punya istri.


Kal di rias sembari makan siang, karena ia belum makan apa-apa siang ini. Delon yang melihat Vera menyuapi istrinya segera meminta piring itu.


"Sini," ucapnya menarik pelan piring di tangan Vera.


Dengan senang hati Vera menyerahkan piring di tangannya pada suami sahabatnya.


"Aku keluar dulu ya, Mok!" Kal mengangguk. "Jangan jauh-jauh, Bo. Di sofa depan kamar saja." Gantian Vera yang mengangguk.


Di lantai dua dekat tangga memang ada sofa yang muat untuk 3 orang duduk. Tentu saja Kris yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar itu merasa senang karena bisa kembali berdekatan dengan Vera.


Di dalam kamar Kal, pria yang baru menjadi suami dari Kal itu sedang duduk santai di samping istrinya. Menyuapi Kal makanan dengan telaten dan sabar.


Apa lagi kondisi Kal yang sedang di rias kembali karena riasan sebelumnya sudah rusak akibat tangisan Kal.


"Tidak mau yang itu, Mas." Kal protes saat Delon menyodorkan sendok berisi sayur dan nasi yang ada wortelnya.


"Kenapa?" Tanya Delon.


"Itu tidak enak."


"Vitamin." Delon menyodorkan lagi sendoknya.


Kal menutup mulutnya rapat-rapat demi menopak suapan suaminya.


"Buka mulutnya," ucap Delon yang mendapat gelengan kepala dari Kal.


"Jangan bergerak, Mbak!" Si perias mengingatkan Kal. "Maaf, Mbak." Kal meringis tak enak hati.


Delon akhirnya memakan sendiri nasi dan sayur yang ada di sendok lalu mengambil makanan lainnya untuk di suapkan pada Kal.


Keduanya jaid makan satu piring berdua, dengan Delon yang memegang piringnya dan menyuapi Kal. Nasi sepiring yang tadinya untuk Kal sendiri jadi Delon ikut makan juga.


Tok tok tok

__ADS_1


Delon melihat ke arah pintu yang di ketuk, lalu berjalan mendekat untuk membuka pintu.


"Kenapa?" Tanya Delon pada adiknya.


Ya, Boy masih tinggal di kediaman mertua saudaranya karena penasaran dengan kakak iparnya.


"Tidak, aku hanya ingin bicara sebentar saja."


Meski bicara dengan Delon, mata Boy terus berusaha melihat ke dalam kamar. Delon mengerutkan kedua alisnya melihat gelagat dari Boy.


Keluar dari kamar dan menutup pintu di belakangnya. Tak ingin ada orang lain yang melihat istrinya. Apa lagi pandangan dan wajah Boy sangat terlihat jelas kalau sangat ingin melihat Kal.


"Katakan."


Boy tersentak kaget mendengar ucapan Delon yang tegas dan datar. Mengusap-usap tengkuknya sembari berpikir, apa kira-kira yang harus di bicarakannya pada saudaranya?


Padahal kedatangannya yang mengatakan akan bicara hanya alibi supaya bisa masyk ke dalam kamar dan melihat wajah kakak iparnya dari dekat.


"Itu ... Ehmm ... Anu Mas ... Aku ..."


Delon menajamkan pandangannya pada Boy. Yang semakin membuat pemuda itu gugup bercampur takut.


Boy terpaksa ambil langkah seribu dengan cara kabur jauh dari hadapan singa yang siap menerkam di depannya. Meski Delon saudaranya, pria beristri itu tak mudah di hadapi seperti papa Adi.


Delon merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Boy darinya. Kecurigaannya mengarah pada satu hal. Kedatangan Boy tadi bukan untuk pamit, tapi hanya untuk melihat istri cantiknya.


Begitulah pemikiran posesif Delon bekerja.


"Awas saja kalau berani macam-macam," ucap Delon pelan sembari menatap tajam tangga di mana Boy pergi tadi.


Delon masuk ke kamar untuk melihat istrinya, sekaligus mengganti jas dan kemejanya dengan yang senada dengan gaun biru milik Kal.


Di sofa yang tak jauh dari tangga, Vera yang tadi merasa gugup karena Kris yang terus saja menatapnya. Mata gadis itu melotot seketika saat melihat kehadiran Boy di lantai atas itu.


Vera tak melakukan apa-apa selain menatap kaget pemuda yang mengetuk pintu kamar Kal itu. Apa lagi Delon yang cepat keluar, membuat Vera tetap diam di tempatnya.


Sampai akhirnya Boy pergi dari sana dan Delon masuk ke dalam kamar. Vera berdiri dengan cepat dan mengejar Boy. Untuk lebih memastikan pandangan matanya baik-baik saja.


"Mau kemana?" Kris yang melihat Vera pergi segera menyusul.

__ADS_1


Tentu saja Kris tahu apa yang menyebabkan gadus pujaannya sampai berlari menuruni tangga.


"Kamu cari siapa? Apa kamu kenal sama adiknya, bos?" Tanya Kris.


Vera melotot pada Kris karena tak percaya dengan pendengarannya.


"Apa, Mas? Coba ulangi lagi kalimat kamu tadi."


Kris menatap Vera bingung, kenapa reaksi gadis ini sampai seperti itu. Apa tuan muda Boy kekasihnya? Batin Kris yang mulai merasa patah hati di buatnya.


"Pemuda tadi adalah adiknya, Bos. Tuan Muda Boy, putra bungsu Tuan Besar Adijaya bersama Nyonya Asti. Adik iparnya Nona Kal," ucap Kris mengatakan siapa Boy selengkap-lengkapnya pada Vera.


Mendengar ucapan Kris, gadis itu begitu shok dan tak percaya. Adik ipar? Adik kandung idolanya?


"Mas, tidak bohongkan? Ini bukan hoaks kan?" Vera menatap serius Kris yang semakin patah hati saja.


"Siapa yang bohong? Memangnya kamu tidak lihat wajahnya sedikit mirip, Bos?" Kris menanggapi dengan malas.


"Oh Tuhan! Kenayataan seperti apa ini? Aku bener-bener tidak menyangka kalau si buaya buntung itu adik, Pak Delon."


Vera yang terlihat tak percaya dan shok membuat Kris penasaran. Ada harapan kalau prasangkanya salah mengenai hubungan Vera dengan adik bosnya.


"Memangnya kenapa? Kamu kenal sama adiknya, Bos? Dimana kalian kenalnya?"


Vera menatap Kris.


"Siapa yang tidak kenal dengan, Boy? Satu kampus kenal semuanya. Laki-laki brengsek yang tega mempermainkan perempuan hanya demi mobil spot. Bahkan pacarnya si Boy itu sering hina mahasiswa lain yang tidak di sukainya. Sering menggunakan nama keluarga besar pak Delon, demi kenyamannya dalam kemewahan. Apa lagi untuk mendapatkan semua yang di inginkannya."


Mulut Vera yang memang tak bisa di rem dan jaga rahasia kalau sudah kesal mengatakan semua kelakuan Boy dan Wina di kampus.


Kris sampai melongo mendengar ucapan Vera yang cukup cepat. Juga apa yang di sampaikan oleh gadis di depannya. Kris harus menyelidiki semuanya kalau begitu. Ia tidak mau ada orang yang menyalah gunakan nama baik keluarga besar bosnya.


Ada rasa bahagia dan lega juga di hati Kris saat tahu kalau gadis yang di incarnya ternyata tidak menyukai Boy. Syukurlah, pikirnya.


"Kalian di sini rupanya," ucap Edo yang berjalan menggendong putranya bersama sang istri.


Kris dan Vera menoleh ke arah di mana pasangan pengantin keluar dan bersiap untuk masuk berangkat.


Kris berlari menuju mobilnya dan membukakan pintu untuk Raja dan Ratu yang sangat serasi itu. Vera tentu saja ikut di mobil Kal, supaya ia tidak terlihat ngenes karena tak memiliki pasangan.

__ADS_1


__ADS_2