Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 11. Sakit perut


__ADS_3

Setelah Delon memasangkan cincin di jari manis Kal. Pria itu mengecup tangan Kal tanpa aba-aba yang membuat Kal kaget. Sedangkan yang lainnya tersenyum senang karena Delon menerima dengan baik perjodohan itu.


"Baiklah, dengan ini kami menyatakan kalau Kal adalah tunangan Delon yang resmi. Dan karena acara tunangan mereka sangat sederhana, maka pesta pernikahannya nanti harus sangat mewah." Semangat papa Adi.


"Itu harus dong, Pa. Mama mau tunjukin sama semua temen Mama kalau sekarang Mama punya menantu yang sangat cantik." Mama Asti tak kalah semangatnya dengan sang suami.


"Sudah seperti barang antik saja menantumu, Ma. Sampai mau di tunjuk-tunjukin segala," ucap papa Adi menatap istrinya.


"Bukan antik, Pa. Tapi cantik, imut lagi. Toh hubungan mereka terjalin dengan restu dari kita dan bukan hubungan terlarang juga. Jadi ya harus di ekspos dong. Kalau hubungan terlarang baru di sembunyikan." Mama Asti tak mau di salahkan suaminya.


"Terserah mama saja lah." Pasrah pria itu.


Delon hanya tetap diam mendengar semua orang berbincang dan saling bercanda. Pria itu tetap pada posisinya duduk tenang menatap tunangannya yang begitu aktif.


"Oh iya, bukannya kalian punya dua orang putra, ya? Kenama yang satu lagi?" Tanya ayah Indra pada papa Adi.


"Oh itu, anak satu itu memang susah di atur. Tadi dia bilang ada urusan di luar sama temen-temennya. Padahal dia sudah waktunya mulai menyusun skripsi, tapi malah masih asik bermain." Papa Adi geleng kepala kala mengingat anak bungsunya.


"Ya begitulah, Pak Adi. Jangankan anak laki-laki, bahkan anak perempuan saya itu pun terkadang sangat nakal kalau keinginannya tidak di turuti." Ayah Indra dan papa Adi terkekeh bersama.


Pembahasan tentang anak memang selalu menyenangkan bagi para orang tua. Mau itu anak yang baik dan berprestasi atau tidak, para orang tua akan membagikan pengalaman mereka mengasuh anak. Walau banyak suka dukanya.


Karena hari yang semakin larut, membuat tamu ayah Indra memilih untuk undurkan diri. Tak baik bertamu hingga sangat larut malam.


Setelah kepergian tamunya, anak-anak ayah Indra masuk ke kamar mereka masing-masing. Bahkan Kal yang tadi mengatakan ingin ke supermarket sudah lari duluan ke kamarnya.


Ayah Indra memasuki kamarnya yang di dalamnya sudah terdapat Tuti yang pura-pura tidur. Ia takut sang suami marah padanya karena baru menyadari kesalahannya.


Ayah Indra yang sudah terlalu malas membahas masalah yang terjadi memilih untuk acuh. Ia punya cara tersendiri untuk membalas perbuatan Tuti yang sudah berani mempermainkannya.


Sedangkan di kamar Kal yang bernuansa biru dan putih.


Gadis itu sedang merebahkan tubuhnya yang lelah setelah selesai berganti pakaian.


"Hah, takdir seperti apa ini? Pertama iya, lalu tidak dan sekarang jadi." Kal menatap cincin berlian yang indah melingkar di jarinya.


Mata Kal terpejam dengan sendirinya dengan posisi tidur gadis itu yang masih telentang.


Sementara di dalam mobil mewah yang sedang melaju membelah jalanan di malam hari. Seorang pria yang menyetir mobil sedang mengajak bosnya untuk bicara.

__ADS_1


"Apa Bos mau dengar sesuatu yang sangat mengejutkan?" Tawarnya.


"Apa?" Delon hanya menyahut dengan singkat saja sembari fokus dengan ponselnya.


"Ibu sama anak yang tadi itu, saya pernah melihat mereka di kafe. Waktu itu mereka membahas masalah perjodohan, dan yang membuat saya kaget. Wanita tua tadi mengatakan kalau dia akan menerima uang 3 milyar dari temannya kalau berhasil mencarikan jodoh."


Kris menatap bosnya yang duduk di belakang, sedangkan kedua orang tua Delon berada di mobil lainnya.


"Saya juga awalnya tidak tahu, siapa yang mereka maksud. Karena memang mereka tidak menyebutkan nama saat itu. Tapi tadi sewaktu melihat wanita tua itu dan gadis yang bernama Dea itu. Saya sangat yakin kalau mereka itu pasangan ibu dan anak yang saya lihat di kafe."


"Ya, walaupun saya hanya melihat sekilas saat itu. Tapi dari reaksi wanita itu yang sepertinya sangat kekeh ingin menjodohkan anaknya dengan Bos. Saya yakin kalau ingatan saya tidak salah."


Kris terus berbicara mengenai apa yang pernah di dengarnya sata di kafe membeli makan siang waktu itu. Delon yang menunggu di mobil tentu tidak tahu. Tapi Kris yang sedang menunggu pesanan mendengar semuanya.


Apa lagi meja tempat Kris menunggu sangat dekat dengan meja yang di tempati Tuti dan Dea saat berbincang. Dan karena Kris hanya berdiam diri, jadi telinganya secara otomatis mendengar percakapan Tuti dan Dea.


"Mereka juga tahu kalau Bos adalah seorang duda," lanjut Kris yang membuat pandangan Delon teralihkan pada pria di depannya.


"Apa gadis aneh tadi juga tahu tentang statusku?" Tanya Delon penasaran.


"Saya tidak tahu, Bos. Tapi kalau menurut saya tidak, karena saat saya tak sengaja mendengar perkataan wanita tua itu dengan anaknya. Si Dea itu mengusulkan pada ibunya agar anak tirinya yang di jodohkan. Jadi kemungkinan besar mereka tidak mengatakan tentang status, Bos."


"Coba Bos tanya langsung saja pada tunangan Bos yang aneh itu." Kris terkekeh kala mengingat penampilan Kal saat pertama kali menampakkan diri tadi.


"Tunangan yang apa?" Tanya Delon dengan suara tak bersahabatnya.


"Maksud saya, tunangan Bos yang cantik." Kris tersenyum paksa menatap bosnya.


Delon menurunkan pandangannya lagi pada ponsel di tangannya. Sedangkan Kris bernapas lega karena masalah tak semakin panjang.


"Tapi, Bos. Bukannya tunangan Bos itu, cewek rakus yang pernah kita lihat di ruangannya pak Indra, ya?" Sekretaris Delon itu kembali buka suara lagi.


"Tunangan saya cewek yang bagaimana?" Tanya Delon melirik Kris tak suka saat tunangannya di jelek-jelekkan.


"Tunangan Bos, cewek cantik yang pernah kita lihat di ruangan pak Indra. Yang banyak makan pedes itu." Kris langsung meralat kalimatnya lagi setelah ia sadar sudah menjelek-jelekkan tunangan sang bos.


Sensi amat Bos, batin Kris.


"Iya," sahut Delon singkat pula.

__ADS_1


Kris memilih diam dan tak membahas lagi mengenai tunangan bosnya. Karena salah ucap bisa membuatnya dalam bahaya.


Waktu semakin larut dan jam dinding sudah menunjukkan angka 3. Pertanda senja akan tiba beberapa jam lagi.


Kal berkeringat sembari memegangi perutnya yang terasa sakit tak tertahakan. Gadis itu bangkit dari tidurnya dengan tertatih meraih gelas di nakas.


Setelah minum, Kal membaringkan tubuhnya berharap sakit di perutnya akan berkurang. Namun bukannya berkurang malah semakin menjadi.


Kal berjalan pelan keluar kamar dengan posisi sedikit membungkuk. Tangannya memegangi perutnya yang terasa sakit.


Gadis itu berjalan kearah kanan di mana pintu kamar Edo berada.


"Mas! Mas Edo! Tolongi aku." Kal memukulkan kepalan tangannya ke pintu kamar Edo.


"Mas! Mas Edo! Perut aku sakit." Pukulan di pintu semakin kuat saja.


Tak lama pintu terbuka dan nampaklah wajah panik Edo, apa lagi saat mendengar suara Kal yang lirih.


"Kal! Kamu kenapa, Dek?" Edo merangkul bahu Kal dan mencoba menbantu adiknya berdiri.


"Sakit banget perut aku, Mas." Kal merengek akibat sudah tak bisa lagi menahan sakit di perutnya.


Secepat kilat Edo mengangkat tubuh Kal ke gendongannya dan berlari menuju lantai bawah sembari berteriak.


"Ayah! Ferdi! Kal sakit." Edo semakin panik saat suara Kal semain lirih dan hampir tak terdengar lagi.


"Ayah! Kal sakit." Tak hanya ayah Indra dan Ferdi saja yang terbangun.


Tapi seluruh penghuni rumah terbangu, termasuk para pekerjanya.


"Kenapa, Do? Sakit apa?" Ayah Indra mendekati putra sulungnya dengan cepat sata melihat Kal di gendongannya.


"Langsung ke Dokter saja, Yah." Ferdi segera berlari menuju ruang kerja sang ayah untuk mengambil kunci mobil.


Ferdi dan ayah Indra langsung ke rumah sakit di antar supir. Sedangkan Edo tidak bisa ikut karena anaknya juga terbangun dan menangis, ia tidak bisa meninggalkan istrinya menenangkan sang anak sendirian.


"Tenang, Mas." Mini mengusap pundak snag suami yang nampak gusar.


Sedangkan yang lainnya masuk lagi ke dalam kamar mereka.

__ADS_1


Kebiasaan buat keributan, batin Tuti sembari kembali tidur.


__ADS_2