Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 43. Menikmati Senja di Pantai


__ADS_3

Delon menghela napas saat melihat istrinya menggelengkan kepala. Pria itu mengambil kelapa muda yang baru di antarkan pelayan pada mereka.


Setelah menyesap segarnya air kelapa muda, Delon menatap istrinya lagi. Kal juga menyesap air kelapa muda miliknya sembaru menatap lekat pada Delon.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Aku tidak ingat pernah bertemu Mas, di tempat pelatihan kuda atau karate. Atau bahkan di tempat pelatihan lainnya kalau ikut Mas Edo atau Mas Ferdi," jawab Kal jujur.


Kal memang merasa tidak pernah bertemu dengan Delon selain di kantor kala itu. Entah mereka yang tidak pernah lihat atau memang wanita itu sudah lupa.


Delon mengulurkan jari telunjuknya ke pasir pantai. Lalu membuat sesuatu yang membuat ingatan Kal memutar kembali kenangannya.


"Ah! Mas Jalan Tol!" Pekik Kal tiba-tiba yang membuat Delon sedikit kaget dengan reaksi Kal.


"Apa? Mas Jalan Tol?" Tanya Delon dengan kedua alis bertaut heran.


Apa hubungan antara huruf yang di tulisnya di pasir dengan jalan tol? Kenapa pula jalan tol di panggil, Mas? Batin Delon.


"Iya. Jangan bilang kalau laki-laki yang di bajunya sering ada huruf A'P'A. Itu kamu Mas?" Kal melotot menatap suaminya.


Kal menutup mulutnya tak percaya saat mendapati anggukan tegas dari Delon.


"Demi apa? Mas Jalan Tol yang dulu ku sumpahi dapat istri yang bar-bar. Malah jadi suamiku sendiri," gumamnya pelan.


Kening Delon mengkerut mendengar gumaman Kal.


"Maksud kamu apa? Kamu dulu pernah sumpahin Mas, gitu?" Tanya Delon penasaran.


"Eh! Itu ... Itu ... Ehehe ..." Kal hanya bisa nyengir sembari menggaruk belakang kepalanya.


Ia malah keceplosan mengatakan hal yang dulu di ucapkannya di belakang Delon. Kini mapah di ungkapkan lagi di depan orangnya langsung.


"Itu apa? Ngaku kamu," ucap Delon memaksa.


"Ya ... Gitu deh, Mas." Kal tersenyum polos pada Delon yang semakin mendekatkan diri padanya.


"Gitu apa? Siapa Mas Jalan Tol itu? Jangan bilang kalau itu suami kamu ini?"


Kal semakin gugup dan salah tingkah saja di buat suaminya.


"Ayo jawab!" Desak Delon yang membuat Kal cemberut.

__ADS_1


"Iya, iya."


Kal menghela napas panjang lebih dulu untuk menetralkan kegugupannya.


"Mas, kan dulu mukanya datar banget seperti jalan tol. Bahkan sewaktu yang lainnya ketawa dan bercanda. Mas, diam saja dengan ekpresi datar. Waktu aku jatuh dari kuda ketika ikut Mas Edo latihan, Mas juga diem saja. Makanya aku pernah bilang sama Mas Edo kalau temennya itu datar seperti jalan tol."


Kal mengatakan sesuai apa yang di pikirkannya dulu mengenai Delon.


"Trus kenapa bisa ada sumpahnya?" Tanya Delon.


"Itu ... Karena aku kesel sama, Mas." Satu alis Delon terangkat mendengar jawaban Kal. "Kenapa?" Tanyanya.


"Habisnya Mas setiap tolongi aku, mukanya datar banget. Tidak bertanya ada yang sakit atau tidak? Ada yang luka atau tidak? Cuma ulurin tangan doang dengan muka datar. Mas, juga pernah habisi minuman aku tanpa ijin dulu."


Kal menatap kesal suaminya kala mengingat bagaimana perlakuan Delon dulu. Itu sebabnya Kal tidak mau mengingat tentang Delon yang menyebalkan baginya.


"Masalah minum, itu sudah ijin Edo. Kalau masalah jatuh, kamu memang baik-baik saja saat itu. Jadi untuk apa bertanya?"


Kal berdecak kesal mendengar alasan suaminya melakukan semua hal menyebalkan di masa lalu.


Memang saat berlatih kuda dulu, Kal sering terjatuh. Namun Kal tidak pernah menyerah apa lagi trauma, sakit juga tidak di perdulikannya. Dan saat Delon membantunya kala itu, memang kondisi Kal baik-baik saja.


Namun kalau mengingat bagaimana wajah Delon dulu kala menolong. Kal sungguh kesal sendiri jadinya. Sebagai seorang perempuan kecil yang butuh perhatian, Kal merasa kesal saat Delin hanya diam saja dan berlalu pergi.


"Untuk sumpah ke Mas yang dapat istri bar-bar ..." Delon menatap Kal mengejek. "Sepertinya memang terjadi, dan itu kamu sendiri. Istriku yang bar-bar dan nakal," lanjutnya.


Kal melotot pada Delon, tidak terima dirinya di bilang bar-bar dan nakal.


"Aku tidak bar-bar dan nakal, cuma pemberani dan tangguh," ucap Kal.


"Ya, berani. Tapi di malam pertama ketakutan sampai nangis dan gigit leher," ejek Delon menggoda Kal.


Tangan pria itu juga menyentuh bagian belakangnya yang di gigit Kal. Untung mereka sempat menutupinya dengan foundasion. Jadi tidak terlihat dan memalukan saat pergi ke tempat umum.


"Apaan sih, Mas?"


Kal cemberut dan pura-pura kesal dengan Delon untuk menutupi wajah malunya. Wanita itu juga beranjakn dari duduknya ingin meninggalkan Delon.


Namun pria itu tidak membiarkan istrinya pergi begitu saja. Delon menarik Kal yang sudah berdiri hingga jatuh dan terduduk di pangkuannya.


"Mau kemana kamu? Istriku yang bar-bar dan nakal," bisik Delon di telinga Kal.

__ADS_1


Kal bergidik karena merinding mendengar bisikan suaminya. Apa lagi pria itu juga mengecup leher Kal yang membuat wanita itu sontak melihat sekitar yang cukup ramai.


"Mas! Jangan aneh-aneh, kita di tempat umum," bisik Kal sembari melototi Delon.


Yang di pelototi hanya acuh saja dan kembali mengecup leher Kal. Hanya sebatas mengecup saja, tidak lebih. Posisi Kal yang duduk menyamping di panguannya membuat pria itu bisa memeluk Kal erat.


"Biarin, supaya mereka tahu kalau kamu itu milik Mas seorang."


"Tapi tidak begini juga, Mas." Kal sedikit risih karena ada beberapa orang yang nampak melirik-lirik mereka.


"Trus gimana? Seperti mereka yang di sana?" Delon menunjuk ke arah air yang terdapat sepasang kekasih sedang bermesraan.


Bahkan di tengah banyaknya orang yang ingin melihat senja. Kedua orang itu tidak sungkan melakukan kemesraan yang sedikit intim.


"Itu mereka lagi kecelakaan, Mas." Kal segera mengalihkan pandangannya dari pemandangan di depan sana dan melihat suaminya.


"Kecelakaan gimana? Orang mereka baik-baik saja di sana," ucap Delon bingung dengan ucapan Kal.


"Iya memang, mereka baik-baik saja di sana. Yang aku maksud kecelakaan itu, bibir mereka. Itu bibir mereka berdua kan lagi kecelakaan karena saling di tabrakkan," kata Kal yang membuat Delon mengerti.


Pria itu tersenyum menatap Kal lalu ikutan mengecup bibir istrinya juga. Hal itu membuat Kal terpekik kaget dan shok.


"Mas, malu, ih! Jangan ikuta-ikutan mereka." Wanita itu memukul dada suaminya yang malah terkekeh pelan.


"Kalau itu namanya kecelakaan, artinya itu adalah kecelakaan paling enak yang sangat di sukai," ucap Delon sembari memegang tangan Kal yang tadi memukulnya.


Lalu mengecup tangan itu mesra dan mengalungkan di lehernya sendiri.


"Ya di sukai memang, tapi kalau sudah sah dan di lakukan di tempat yang privasi, itu tidak masalah. Tapi kalau belum sah dan malah melakukan hal itu, apa lagi di tempat umum. Yang ada cuma malu, Mas."


Delon semakin terkekeh mendengar ucapan istrinya yang terdengar polos itu.


"Ini negara bebas sayang, kalau hanya sekedar ciuman di tempat umum. Itu hal wajar kalau di sini, asal jangan di negara kita." Kal juga ikut terkekeh bersama suaminya.


"Bisa di grebek ya, Mas. Setelah itu di paksa nikah dan viral di sosmed. Jadi makanannya neti lagi," ujar Kal.


"Neti? Neti siapa?" Tanya Delon.


"Netizen, Mas. Mereka kan suka usil sama urusan pribadi orang lain. Menghujat dan menghakimi orang lain tanpa tahu masalah sesungguhnya. Benar salahnya seseorang selalu jadi bahan komenan buat Netizen." Kal terkekeh lagi.


Sedangkan Delon tersenyum sembari geleng kepala mendengar ucapan istrinya.

__ADS_1


Mereka berdua menikmati senja di pinggir pantai. Melihat matahari yang tenggelam bersama pasangan di tempat yang indah. Sungguh mebjadi hal yang membahagiakan bagi keduanya.


__ADS_2