Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 50. Pukulan centong


__ADS_3

"Kamu! Apa yang kamu lakukan di rumahku hah?" Suara lantang yang seperti bentakan itu membuat orang-orang yang sedang makan terlonjak kaget.


Kal yang tadinya sedang bermanja ria dengan mama Asti juga terpaksa menoleh. Di lihatnya Boy yang juga memakai pakaian hitam putih sepertinya.


Berdiri dengan pandangan kaget sekaligus tidak suka dengan keberadaan Kal.


"Apa maksud kamu, Boy? Siapa yang kamu tanyai itu?" Papa Adi bersuara sambil menatap tidak suka anaknya yang di nilai tidak sopan.


Sedangkan Kal memilih acuh dan meneruskan makannya. Mals sekali dia jika harus ribut dengan Boy yang selalu ingin menang sendiri itu.


"Itu, Pa. Perempuan kampungan yang miskin itu kenapa bisa ada di rumah kita? Itu juga kursi aku kenapa di dudukinya?" Boy mendekati Kal dengan kesal.


Papa dan mama yang mendengar kalimat hinaan Boy yang ternyata di tujukan untuk Kal merasa kaget. Sedangkan Delon sudah sangat tidak menyukai adiknya yang berani menghina sang istri.


"Heh perempuan kampungan! Per .."


GUBRAK


Suara kursi yang jatuh dengan kuat membuat semua orang lebih kaget lagi. Bahkan Kal yang sedang mengunyah makanan sampai tersedak saking kagetnya.


Mama Asti dengan cepat mengulurkan air minum untuk Kal.


"Gimana, Nak?" Tanya wanita itu di angguki Kal.


"Makasih, Ma." Kal tersenyum tulus pada emrtuanya yang tentu di balas oleh mama Asti dengan cubitan gemas di pipi Kal.


"Apa-apaan kalian ini? Apa kalian sudah tidak memiliki sopan santu dan tata krama lagi, hah?" Bentak papa Adi marah pada kelakuan kedua anaknya.


Ia paling tidak suka dengan yang namanya keributan di meja makan.


Boy mundur dua langkah dari posisinya di belakang kursi Kal. Bukan karena apa-apa, ia sudah gemetaran melihat tatapan marah Delon. Belum lagi kemarahan papanya yang semakin membuatnya tidak bisa berkutik.


"Ulangi!" Perintah Delon pada adiknya.


Boy hanya diam saja menahan ketakutannya juga kebingungannya akan alasan kemarahan Delon.


"Ma-maksud Mas, apa? Ke-kenapa Mas, ma-marah?" Gugupnya.


"Siapa yang kamu hina?" Tanya Delon.

__ADS_1


Mendengar itu Boy tanpa ragu menunjuk Kal, dan melimpahkan kesalahan pada Kal. Dengan harapan akan terbebas dari amukan Delon.


"Dia, Mas. Perempuan miskin dan kampungan yang tidak jelas asalnya," ucap Boy menatap Kal tanpa ragu.


Papa Adi dan mama Asti sangat kaget saat tahu siapa yang di maksud Boy. Delon sendiri sudah mengepalkan kedua tangannya erat lalu.


Bugh.


Boy terjatuh ke lantai setelah rahangnya di tinju oleh Delon. Siapa yang akan terima jika di depan mata sendiri pasangan kita di hina. Apa lagi memang ucapan Boy sangat kasar.


"Kenapa Mas pukul aku?" Tanya Boy sembari memegangi rahangnya yang habis di pukul.


"Kamu memang pantas di pukul anak kurang ajar. Mama tidak pernah mengajarimu untuk menghina dan mencaci orang lain. Mama selalu mengajarimu untuk bersikap rendah hati dan menjaga sopan santun. Tapi apa yang kamu katakan tadi, hah? Sikapmu sungguh keterlaluan."


Mama Asti yang marah dengan ucapan Boy tadi bangkit dari duduknya dengan centong nasi di tangannya. Centong itulah yang di gunakan untuk memukuli Boy sembari memarahi anaknya.


Delon menarik Kal berdiri lalu mendekap erat bahu istrinya. Ingin menunjukkan pada adiknya siapa wanita yang di hinanya tadi dan alasan kenapa ia memukul Boy.


"Dia istriku, jika kamu berani menghinanya, siap-siap hidup sederhana tampa semua fasilitas," ancam Delon tak main-main.


Setelahnya ia membawa Kal keluar dari rumah karena tidak mau adiknya semakin menghina Kal nanti.


Kini terjawab sudah penasarannya selama ini tentang siapa dan bagaimana rupa dari kakak iparnya sesungguhnya. Meski sudah bertemu saat akad nikah dan resepsi. Boy tidak bisa mengenali siapa istri saudaranya itu.


"Apa kamu bilang? Kampungan? Dasar anak kurang ajar kamu, Boy. Mama sangat marah, sangat marah."


Lagi, mama Asti memukuli Boy menggunakan centong nasi. Ia tidak perduli mau di bilang ibu tiri atau apapun itu. Wanita paruh baya itu hanya ingin memberi Boy pelajaran karena sudah berani menghina orang lain.


Seandainya itu bukan Kal, mama Asti tetap akan marah juga. Apa lagi ini menantu pilihannya sendiri.


"Ampun Ma, ampun. Janji tidak begitu lagi, maaf jangan pukul lagi Ma."


Boy berusaha mengelak dari pukulan mamanya yang lumayan sakit meski hanya centong plastik.


"Mama, tidak peruduli. Kamu harus di beri pelajaran supaya tidak suka menghina orang lagi," ucap mama Asti.


"Sudah, Ma."


Mendengar perintah dari suaminya, barulah mama Asti menghentikan aksi pukul centongnya. Namun wajahnya masih sangat terlihat jelas kalau masih marah.

__ADS_1


Sebagai ibu ia merasa gagal mendidik anaknya saat mendengar bagaimana Boy menghina Kal tadi. Apa lagi kata-kata yang di keluarkan Boy begitu terdengar sangat merendahkan derajat orang lain.


"Mama sangat kecewa dengan kamu, Boy."


Mama Asti meninggalkan Boy begitu saja di runag makan bersama papa Adi. Wanita tua itu memilih masuk kamar untuk menenangkan dirinya.


Sedangkan papa Adi menatap Boy dengan wajah datarnya. Entah harus bagaimana lagi dia menasehati anak badungnya ini. Boy selalu saja melawan jika di nasehati pelan.


"Duduk."


Kata penuh perintah tegas dan tidak ingin di tolak itu membuat Boy mau tak mau harus duduk. Ia juga merasa lapar setelah tadi bertarung melawan nenek centong.


Boy duduk berseberangan dengan papa Adi, karena Boy belum sarapan. Papa Adi meminta Boy untuk sarapan lebih dulu.


Setelah selesai sarapan barulah pria paruh baya itu buka suara.


"Kamu mengenal kaka iparmu?" Tanya Papa Adi yang membuat Boy mengangguk.


"Iya, Pa. Kami satu kampus," jawab Boy pelan.


"Kenapa kamu menghinanya?"


"Karena kesel saja Pa, kursi Boy di pakaia dia." Kilah Boy yang tidak mau mengatakan alasan sebenarnya.


Jika sampai Boy mengatakan kalau ia merendahkan Kal karena dendam. Sudah pasti ia akan ketahuan kalau melakukan perbuatan buruk lainnya.


"Kamu yakin?" Tatapan mata papa Adi terlihat mengintimidasi.


Dan itu sukses membuat Boy menunduk tanpa berani menatap papanya.


"Iya, Pa. Lagian kenapa sih, Mas Delon mau nikah sama perempuan itu? Dia itu perempuan tidak baik, Pa." Boy mencoba menjelek-jelekkan Kal agar bebas.


"Contohnya?" Tanya papa Adi.


"Contohnya ... Dia itu tomboy, Pa. Iya tomboy, selain itu dia juga perempuan yang kastanya berbeda dengan kita. Pacarku juga pernah bilang kalau melihat perempuan tadi masuk ke dalam mobil mewah. Padahal dia anak orang miskin," ucap Boy panjang lebar.


"Kamu tahu nama istrinya Mas Delin siapa?" Tanya papa Adi.


"Kalau tidak salah, Kalila. Panggilannya Kal," jawab Boy.

__ADS_1


"Dia adalah putri seorang pengusaha, bapak Indra. Kamu tentu tahu siapa pengusaha bernama Indra itu."


__ADS_2