Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 17. Bukan ibu kandung


__ADS_3

Setelah seleaai makan bersama, Kal dan Delon dalam perjalanan pulang ke rumah ayah Indra.


Delon juga tidak mungkin membiarkan Kal terlalu lama di luar. Karena tubuh gadis itu yang masih sangat membutuhkan istirahat yang cukup. Mungkin dua hari lagi setelah Kal benar-benar pulih total, baru Delon akan membawa gadis itu keluar lagi.


"Aku bisa jalan sendiri, Mas." Kal sangat kesal pada Delon yang sejak tadi tak membiarkannya berjalan sendiri.


Pada hal ia masih sangat kuat untuk berjalan, namun pria yang akan menjadi suaminya itu terus saja menggendongnya. Bahkan saat keluar dari restoran tadi, pria itu juga menggendongnya.


"Memang," sahut Delon santai sembari terus melangkah memasuki rumah besar yang di tinggali Kal.


Kal hanya mencebik saja mendengar jawaban pria yang sedang menggendongnya.


Sesampainya di dalam rumah, ternyata semua keluarga Kal sedang berkumpul di ruang keluarga. Ada juga seorang wanita tua yang sedang duduk di samping Tuti.


"Kalian sudah pulang?" Ayah Indra berdiri dari duduknya mendekati Kal dan Delon.


"Iya, Yah


Delon mendudukkan Kal di sofa kosing dekat Mina yang sedang memangku Tomy sang anak.


"Saya pamit dulu, Om. Masih banyak kerjaan." Delon berpamitan pada ayah Indra.


"Tidak duduk dulu, Nak?" Tawar ayah Indra pada calon menantunya.


"Tidak, Kris sudah menunggu."


"Baiklah, hati-hati."


Delon menganggukkan kepalanya pelan pada ayah Indra. Lalu mengelus puncak kepala Kal sejenak sebelum akhirnya peegi.


Kal hanya menatap Delon heran hingga pria itu tidak terlihat lagi olehnya.


Ngomong sama aku singkat-singkat, ngomong sama ayah kok bisa jelas, batin Kal. Gadis itu menggelengkan kepalanya heran dan tak mau terlalu memikirkannya.

__ADS_1


"Dari mana saja kamu? Anak gadis yang belum menikah tidak boleh keluyuran bersama seorang pria. Apa lagi kamu itu baru keluar dari rumah sakit." Kal menolehkan kepalanya pada sang nenek sang sedang memarahinya.


Kal tahu betul ibu dari ayahnya itu sangat tidak suka padanya dan kedua saudaranya. Neneknya selalu memasang wajah bengis setiap kali bertemu dengannya dan kedua saudaranya.


"Dia calon suami anakku, Bu. Bukan orang asing, aku mengenal seluruh keluarga Delon dan kami rekan bisnis yang cukup dekat." Ayah Indra menatap tidak suka pada ibunya yang menatap sinis Kal.


"Masih calon, belum jadi suami. Bagaimana kalau pria itu ingin melakukan sesuatu yang tidak baik pada anakmu? Apa lagi pria itu seorang duda, sudah pasti dia tidak akan bisa menahan nafsu begitu dapat pasangan. Atau bisa jadi pria itu sudah sering jajan sembarangan di luaran sana." Nenek semakin menatap tak suka pada Kal.


"Jaga ucapan, Ibu! Aku yang lebih tahu seperti apa pria yang akan ku nikahkan dengan putriku." Ayah Indra marah mendengar penilaian buruk sang ibu.


Sedangkan Kal diam saja mendengar perdebatan nenek dan ayahnya. Namun di balik diamnya, Kal cukup kaget saat mendengar status calon suaminya yang seorang duda.


"Apa yang kamu tahu, hah? Kamu itu cuma laki-laki bodoh yang tidak bisa mencari pasangan yang baik untuk dirimu sendiri. Sekarang malah sok-sokan mencarikan jodoh untuk anakmu." Nenek menatap marah pada ayah Indra.


Sedangkan Tuti duduk santai menonton pertunjukan di depannya.


"Berkacalah wahai, Ibu. Apa Ibu pikir selama ini pilihan Ibu itu sangat baik? Jangan Ibu kira aku tidak tahu apa yang selama ini Ibu sembunyikan dariku. Selama ini aku diam karena masih menghargaimu sebagai istri ayahku, meski aku hanya anak tirimu yang akan kamu sayang saat ada ayah saja."


Nenek menatap kaget pada ayah Indra yang sedang menatapnya tajam. Siapa sangka jika selama ini ayah Indra hanyalah anak tiri dari wanita yang tidak pernah menyukai Kal.


Pada hal kenyataannya hatinya sedang gelisah, takut tidak bisa mengendalikan anak tirinya yang sangat kaya ini.


"Ibu, yang paling tahu apa maksud dari ucapanku. Bahkan aku sudah tahu sejak lama kalau kamu bukan ibu kandungku. Ayahku menikahimu saat aku masih berusia 2 tahu, jadi aku tidak tahu kamu Ibu kandungku atau bukan. Aku baru tahu kenyataan itu ketika aku kuliah."


"Tapi karena ayahku mencintaimu, aku hanya bisa diam demi kebahagiaan ayahku. Namun tidak dengan kali ini, kalau Ibu berani ikut campur dalam urusan keluargaku. Maka jangan salahkan aku membuangmu, atau mengusirmu dari rumah ayahku."


Nenek semakin shok saja mendengar hal itu. Jika ia di buang atau di usir dari rumah mewah sang suami. Kemana ia harus pergi?


"Jika dulu kamu bisa mengendalikanku menggunakan ayah karena tahu aku sangat patuh padanya. Kali ini kamu harus berhati-hati dalam bertindak dan berucap, karena ayahku sudah tidak ada. Dulu kamu memaksaku menikah dengan Tuti juga menggunakan ayah."


Pandangan ayah Indra beralih kepada Tuti yang menatapnya kaget.


"Kenapa kamu? Kaget karena ternyata aku tahu semuanya? Bahkan siapa papa kandung Dea dan dimana dia berada saat ini? Aku juga tahu."

__ADS_1


Kali ini Tuti juga tak kalah kagetnya mendengar ucapan ayah Indra. Bahkan Kal dan Mina yang juga ada di sana begitu kaget mendengar kenyataan itu.


"Ma-Mas, apa maksud kamu? Siapa papanya, Dea? Dea itu anak yatim, papanya sudah tidak ada." Alibi Tuti dengan wajah yang sangat gugup.


"Jangan pura-pura lagi, Tuti. Aku sudah tahu semuanya, bahkan semua yang kamu lakukan di belakangku." Semakin sesak napaslah Tuti di buatnya.


Ayah Indra sengaja tidak mengungkit kalau perjodohan itu di usahakan oleh Tuti. Ayah Indra tidak mau sang anak merasa di jual saat tahu kalau Tuti akan mendapatkan uang banyak ketika perjodohan itu berhasil.


"Mungkin apa yang di katakan Ibu memang benar. Aku laki-laki bodoh, tapi bukan dalam hal mencari pasangan. Melainkan dalam melihat fakta kalau wanita yang kamu berikan padaku adalah anak kandungmu sendiri. Anak bersama mantan suamimu yang seorang preman. Kamu menyembunyikannya dari ayahku karena takut ayah tidak akan menerimanya. Jadi kamu titipkan anakmu di panti asuhan yang sering kamu beri donasi karena ada anakmu di sana."


"Untung selama ini aku tidak pernah menyentuhnya. Bahkan tinggal bersamanya selama ini pun sangat membuatku risih. Aku menghargainya hanya untuk anaknya Dea, yang selama ini sangat kekurangan kasih syaang dari mamanya sendiri."


Ayah Indra menatap tajam dan tersenyum sinis pada Tuti.


Tuti hanya bisa diam sembari terus mengalihkan tatapannya. Sedangkan nenek semakin shok mendengar semua kalimat yang di ucapkan anak tirinya.


Memang selama ini Tuti tidak pernah di sentuh oleh ayah Indra sedikitpun. Jika Tuti berpakaian minim di depan ayah Indra untuk menggoda. Maka pria itu akan pergi meninggalkan kamar dan memilih tidur di kamar Edo atau Ferdi.


Ayah Indra berdiri dari duduknya, mendekati Kal yang begitu shok mendengar semua fakta tentang kehidupan ayahnya.


"Ayo, Nak! Kamu harus banyak-banyak istirahat. Mina! Bawa Tomy juga, temani adikmu di kamarnya supaya dia tidak bosan."


Mina mengangguk dan ikut pergi bersama Kal dan ayah mertuanya. Mereka menuju lantai atas ke kamar Kal.


"Bawa ibu dan Tuti ke kamar tamu. Pastikan mereka tidak meninggalkan kamar sebelum aku datang," perintah ayah Indra pada pelayan yang sedang berjalan berada di dekat tangga.


"Baik, Tuan Besar." Pelayan itu segera menuju ruang keluarga untuk menemui Tuti dan ibu kandungnya.


"Mari, Nyonya, Nyonya besar. Tuan Besar, meminta saya untuk mengantarkan Anda bersua ke kamar tamu."


Tuti menatap ibunya panik setelah mendengar ucapan pelayan itu.


"Bagaimana ini, Bu?" Tanyanya.

__ADS_1


"Turuti saja dulu, jangan semakin membuat pria bodoh ibu marah." Nenek pun hanya bisa pasrah saja.


__ADS_2