Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 54


__ADS_3

Waktu pulang kantor sudah tiba, Kal berjalan keluar dari ruang kerja Delon dengan semangat. Ia ingin pulang bersama dengan Vera. Rencana wanita itu akan pergi ke mall untuk belanja pakaian yang bisa di pakai untuk ke kantor.


Dalam hati ia ingin seidkit mengubah penampilannya agar tidak menjadi celaan orang saat tahu siapa dirinya. Kal menyadari kalau ia sekarang sudah menikah dan suaminya bukan orang sembarangan.


Jadi Kal berpikir untuk sedikit mengubah cara berpakaiannya meski tidak harus berpakaian terbuka dan seksi.


"Tunggu! Kemana?" Langkah kaki Kal terhenti di depan pintu yang sudah terbuka kala mendengar suara panggilan suaminya.


Wanita itu menoleh ke belakang dan mendapati Delon yang menatap kearahnya.


"Mau ketemu, Vera."


"Kemana?" Tanya Delon lagi yang membuat Kal tidak paham.


"Ketemu, Vera."


Delon menghela napas sembari mendekati Kal lalu menarik tangan istrinya itu untuk pergi pulang bersama.


"Mau kemana, Mas?" Tanya Kal bingung.


"Pulang," sahut Delon santai.


"Tapi aku mau ketemu Vera, Mas. Kami mau pergi ke mall," kata Kal yangmembuat langkah Delon terhenti dan menoleh sejenak.


Setelahnya kembali melangkah dengan santai, hal itu malah membuat Kal seidkit kesal. Bukannya melepaskan dan membiarkannya pergi, Delon malah membawanya pergi.


"Mas, aku mau pergi sama Vera ke mall." Kal menggoyangkan tangannya yang di pegang opeh Delon.


Berharap pria itu mengerti dan membiarkannya pergi.


"Bos, pulang sekarang?" Tanya Kris yang kebetulan keluar dari ruangannya bersama Vera.


"Mall, sahut Delon di angguki Kris.


"Maksudnya apa, Mas? Mas, mau ke mall juga? Atau kita pergi sama-sama?" Tanya Kal menatap suaminya.


"Teman kamu." Kal melongo mendengar ucapan yang tidak bisa di pahaminya itu.


Kenapa suaminya harus kembali ke habitat aslinya yang suka bicara singkat sih? Kan jadi bingung, keluh Kal dalam hati.

__ADS_1


"Maksud, Bos. Nyonya Bos dan teman Nyonya Bos harus pergi bersama dengan kami ke mall," ucap Kris menjelaskan maksud atasannya.


"Hah! Masa iya begitu?" Heran Kal dengan Kris yang mengerti maksud dari suaminya.


Dirinya sendiri saja tidak bisa memahami maksud ucapan Delon jika hanya satu atau dua kata saja.


"Iya, Nyonya Bos. Jadi kamu harus ikut juga." Kris mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang sejak tadi mengikuti langkah kaki mereka dengan wajah yang polos dan tidak paham situasi.


Vera yang tadi baru kepuar bersama Kris dari ruangan pria itu di buat kaget dengan kehadiran Delon dan Kal yang melintas di depan mereka. Bukan karena kehadirannya yang buat kaget tapi cara mereja berjalan yang jadi perhatiannya.


Kal yang berjalan dengan ogah-ogahan dan cenderung menolak. Sedangkan Delon yang berjalan santai sembari menggenggam erat tangan Kal. Terlihat seperti menarik wanita itu untuk ikut dengannya tanpa penolakan.


Mereka berempat naik ke dalam mobil yang di supiri oleh Kris. Vera duduk di sebelah pria itu dengan Kal dan Delon yang duduk di belakang.


Ting


Kal meraih ponselnya yang ada di saku tas selempangnya. Tas selempang biasa yang hanya berharga 35 ribuan di pasar. Melihat pesan yang ternyata dari Vera.


"Maksudnya gimana ini, Bo?" Tulis Vera di pesannya.


"Kurang paham aku, Mok. Yang jelas kita bakalan ke mall sama mereka berdua," balas Kal.


"Tadinya aku mau pergi sama kamu seperti rencana kita tadi. Tapi malah di tahan sama suamiku."


"Jadi gimana sekarang?"


"Ya sudah, jalani saja. Lumayan juga kalau ada suamiku, bisa dapat belanjaan gratis karena di bayarin."


"Tapi apa tidak akan canggung?"


"Anggap saja mereka berdua pengawal yang bisa bawain barang. Supaya kita bisa belanja dengan tenang."


"Apa tidak masalah seperti itu, Bo? Kesannya kok kita jahat banget, ya?"


"Biarin saja, siapa suruh mereka gangguin kita yang mau belanja. Pria yang selalu mau ikut kemana perempuan pergi, harus sedikit di kasih pelajaran."


Vera mengangguk di tempatnya lalu mengangkat jempol kirinya. Kal yang melihat itu segera mengkode dengan deheman kecil sebagai tanda kalau kode dari Vera di terimanya.


Delon yang tidak tahu dengan kode-kode para wanita itu hanya diam saja. Tangan kiri merangkul bahu Kal dan tangan kanan bermain ponsel untuk membaca emailnya yang banyaj berisi pekerjaan.

__ADS_1


Sesampainya di mall, Kal tidak langsung turun dari mobil. Delon yang tidak mendapati pergerakan apapun dari istrinya menoleh.


"Kenapa?" Tanya Delon heran.


"Aku mau turun asal dengan satu syarat," sahut Kal.


"Apa?" Tanya Delon lagi dengan satu alis di naikkan.


"Jangan mengekangku di dalam, aku mau belanja sepuasnya bersama Se, Vera. Jadi jangan melarangku melakukan apapun yang ku mau," pinta Kal. Hampir saja wanita itu menyebut Vera dengan nama sohib mereka.


"Tidak!" Tolak Delon dengan cepat.


Mana mungkin ia bisa melepaskan istrinya begitu saja di tempat umum seperti ini. Bagaimana jika ada pria lain yang merayu atau mendekati istrinya? Mana boleh miliknya di ganggu siapapun.


"Oke, tidak ada jatah nanti malam." Kal buang muka dan melihat ke arah kirinya agar tidak menatap Delon.


Kedua mata Delon melotot sempurna mendengar ancaman Kal. Kenapa harus itu yang menjadi senjata sang istri? Mana bisa ia menolak kalau sudah jatah jadi senjata.


"Hah, baiklah." Pasrah Delon dengan perasaan kurang suka tapi terpaksa mengijinkan.


"Janji!" Kal menatap serius Delon yang menjaeab dengan anggukan malas dan ogah-ogahan.


Kal tersenyum lebar, tidak sia-sia ia mengeluarkan sedikit ancaman. Meski niatnya tadi tidak serius dan maksudnya jatah tidur di kamar. Namun siapa sangka kalau ternyata suaminya mapah mengijinkan.


Delon yang melihat istrinya keluar dengan cepat kepuar juga. Berjalan di belakang sang istri dengan jarak hanya satu langkah saja.


Kal dan Vera memasuki mall dengan bahagia, naik ke lantai dua mall. Memasuki toko pakaian, Kal memilih pakaian untuk di pakainya bekerja besok.


Bukan hanya untuk bekerja saja, tapi ada beberapa juga yang khusus untuk di pakai harian saja. Karena kebanyakan pakaian Kal celana dan kaos. Wanita itu membeli dres dan beberapa setelan yang feminim.


Kal sempat di nasehati kakak iparnya agar berpenampilan menarik untuk suami. Karena menyenangkan suami itu bisa membuat kehidupan rumah tangga tentram. Dan suami bisa lebih betah di rumah. Serta meminimalisir kehadiran orang ketiga alias pelakor.


Itu sebabnya Kal mengambil beberapa pakain yang menurutnya feminim. Vera menatap Kal tidak percaya saat melihat apa yanh di ambil oleh temannya itu.


"Bo, kamu beneran mau beli ini? Untuk siapa? Kak Mina?" Cecar Vera yang mendapat gelengan dari Kal.


"Untuk ku sendiri," sahut Kal yang membuat Vera melongo tak percaya.


"Hah! Serius kamu?" Kal mengangguk lagi.

__ADS_1


__ADS_2