
Kal melihat-lihat bagian dapur lalu membuka kulkas. Di sana terdapat beberapa lauk yang masih tersisa dan tinggal di panaskan. Kal meraihnya dan hendak memanaskan.
"Itu kan makanan dingin? Nanti kamu sakit perut syaang," ucap Delon saat melihat Kal membuka tutup makanan.
"Ini mau di panaskan dulu, Mas."
"Jangan, sayang! Buat yang lain saja, jangan makan makanan yang di panaskan lagi."
Delon meraih wadah makanan tadi dan menutupnya.
"Lah terus, mau makan apa Mas? Aku sudah laper banget," rengek Kal manja kala melihat makanan itu di kembalikan ke dalam kulkas oleh Delon.
"Mau makan nasi goreng tidak?" Delon memberi penawaran pada Kal.
"Mana?" Tanya Kal.
"Mas buat dulu, ya. Kamu duduk saja di sini." Delon menarik Kal ke arah meja makan dan mendudukkan istrinya di salah satu kursi.
"Mas bisa masak nasi goreng?" Tanya Kal tidak percaya.
"Bisa kalau cuma nasi saja," jawab Delon santai.
"Kalau begitu, bisa pakai sosis sama orek telur tidak?"
"Bisa sayang, apa sih yang tidak bisa untuk kamu?" Delon mengedipkan satu matanya menggoda Kal.
Wanita itu terkekeh kecil melihat godaan suaminya. Senyum bahagianya juga tidak luntur sembari memperhatikan sang suami memasak nasi goreng.
Delon terlihat begitu lihai memasak nais goreng sesuai permintaan istrinya. Meski Kal bisa masak sendiri, tapi dia tidak mau melewatkan kesempatan emas ini.
Kapan lagi coba, Kal melihat dan menikmati masakan seorang pengusaha hebat. Bahkan ayah Kal masih di bawah nama besar Delon meski seorang pengusaha juga.
Hingga beberapa saat menunggu, Kal sudah di suguhkan sepiring nasi goreng yang terlihat begitu menggugah selera. Belum lagi telur orek dan potongan sosis yang cukup banyak.
Semakin bersemangatlah Kal untuk memakannya.
"Kok cuma satu piring, Mas?" Tanya Kal saat suaminya hanya menyajikan satu piring saja, tapi ada dua sendok.
"Sepiring berdua, sayang." Kal tersenyum malu-malu mendengarnya.
Ternyata suaminya ini romantis juga meski wajahnya selalu terlihat datar.
Mereka makan berdua dalam satu piring, sesekali Kal dan Delon saling menyuapi.
__ADS_1
"Hem ... Enak, Mas. Nanti aku mau di buatin lagi ya, Mas." Pinta Kal menunjukkan wajah manisnya agar permintaannya di turuti.
Padahal tanpa seperti itu pun, Delon pasti akan menuruti semua permintaan Kal.
"Jangan nanti dong, sayang. Kita harus tidur, besokkan sudah harus masuk kantor. Kamu juga harus mulai magang, kan?"
"Maksud aku ya bukan nanti juga, Mas. Tapi lain kali kalau aku pengen," ucap Kal menjelaskan maksudnya.
"Iya, tidur sekarang yuk!"
Kal mengangguk dan berdiri membawa piring kotor itu menuju wastafel. Kal hendak mencuci piringnya tali di cegah oleh Delon.
"Kamu mau apa?" Kal menoleh menatap Delon dengan polos. "Cuci piring," sahut Kal.
"Sudah biarkan saja, cuma satu juga. Besok pagi ada yang bakalan kerjain itu."
Delon mendekap bahu Kal dan membawa istrinya begitu saja kelaur dapur.
"Tapi, Mas. Tidak dong kalau begitu," ucap Kal protes.
"Di enakin saja," kata Delon santai.
"Cuma satu loh itu, Mas."
"Sebentar saja."
Kal masih berusaha membujuk suaminya agar membiarkannya membilas satu piring yang mereka gunakan. Karena hanya itu piring kotornya. Masa harus di biarkan sampai besok pagi sih.
"Tidak!" Tegas Delon yang membuat Kal hanya bisa diam dan mengikuti.
Saat akan naik ke lantai atas, di tangga mereka berpapasan dengan Boy yang nampak setengah sadar hendak naik juga.
"Eh, Mas! Kamu habis dari mana malam-malam begini?" Tanyanya dengan suara pelan.
"Makan," sahut Delon singkat sembari terus berjalan naik.
"Oh ..."
Boy juga naik ke lantai atas dengan kondisi setengah sadarnya itu. Ia juga tidak menyadari keberadaan Kal di dekapan Delon. Pria itu bahkan berjalan sesekali tersandung karena mengantuknya tapi harus pindah tempat.
Sampai di kamar, Kal masuk ke kamar mabdi bersama Delon untuk gosok gigi lebih dulu. Setelahnya baru kembali tidur karena besok maish harus bersiap pergi ke kantor.
Beberapa jam kemudian ...
__ADS_1
Saat semua orang sudah bangun dan akan mulai beraktifitas seperti biasa. Pelayan yang biasa mengurus dapur untuk bagian menyiapkan makanan di buat kaget dengan keadaan dapurnya.
"Loh! Ini kenapa bisa ada di sini dan kotor begini? Siapa yang menggunakannya?" Tanyanya heran.
"Paling juga, Tuan Muda Boy. Tadi malam aku lihat beliau main game di ruang tv." Salah satu pelayan menjawab seadanya.
"Tapi kan Tuan Muda Boy tidak bisa masak, dia bisanya cuma tinggal makan," ucap si pelayan sembari mencuci piring dan alat yang di gunaka Delon tadi malam.
"Sudahlah biarkan saja, siapapun yang menggunakannya tidak penting. Yang penting barangnya tidak rusak," kata pelayan di sebelahnya.
Ternyata yang kotor bukan cuma piring dan sendok saja. Ada juga kuali dan beberapa alat lainnya yang di gunakan Delon.
Tapi pria itu tidak menumpuknya di wastafel jadi Kal beranggapan kalau hanya piring yang kotor.
Kal dan Dleon sendiri sebagai pelaku sudah bangun dan sedang mandi bersama sambil bercanda.
Selesai mandi dan bersiap, mereka keluar kamar bersama.
"Pagi Ma, Pa." Pasangan itu kompak menyapa mama Asti dan papa Adi yang sudah berada di meja makan lebih dulu.
"Pagi juga," sahut kedua orang tua itu.
"Ya ampun, Kal. Mama kangen banget sama kamu." Mama Asti berdiri dari duduknya dan memeluk hangat sang menantu.
Kal tersenyum manis menyambut pelukan mertuanya. "Aku juga kangen sama, Mama, Papa."
"Duh senangnya di kangenin anak perempuanku," ucap mama Asti tersenyum haru.
"Sudah, Ma. Biar anak-anak makan dulu," kata papa Adi.
"Ah iya, duduk-duduk."
Wanita paruh baya itu melayani Kal dengan mengambilkan beberapa lauk setelah ia melayani suaminya tentunya. Delon jadi merasa terabaikan oleh istrinya karena ulah sang mama.
Tapi ia bisa apa kala melihat kebahagiaan di wajah tua itu. Dulu saat bersama Selly, mama Asti kurang bisa akrab karena Selly yang memang tidak pernah bertemu kedua mertuanya.
Selly lebih suka menghabiskan waktu di luar bersama teman-temannya meski di rumah keluarga Delon ada acara.
Delon akhirnya mengalah dan mengambil makanan sendiri untuknya. Khusus pagi ini saja ia akan merelakan istrinya di ambil sang mama sejenak. Untuk menyenangkan wanita tua itu.
Tapi seterusnya tidak akan ada yang bisa mengambil Kal dari dirinya seperti ini. Apa lagi Delon sampai terabaikan begini.
Kal tersenyum lebar dan bahagia karena akhirnya bisa merasakan perhatian seorang ibu. Meski hanya ibu mertua, mama Asti sangat lembut dan tulus padanya.
__ADS_1
Hingga seseorang datang dan membuat suasana yang tadinya bahagia kini suram. Semua itu karena Delon yang nampak tidak suka dengan apa yang di lakukan orang yang baru saja datang itu.