Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 35. Irinya Wina


__ADS_3

Acara resepsi sudah selesai untuk sesi pertama ini. Nanti malam akan ada resepsi lagi untuk seluruh tamu dari pihak keluarga Delon.


Pengantin baru itu sendiri sedang duduk bersama keluarga mereka untuk makan malam bersama setelah para tamu pulang semua.


Vera dan Kris juga ada di sana sebagai keluarga juga. Beberapa meja di satukan agar semakin lebar dan cukup untuk seluruh keluarga dari kedua pengantin itu.


Kal sendiri masih sibuk dengan makanan di depannya tanpa memperdulikan sang suami yang terus saja menatapnya. Delon bahkan tak memperdulikan makanan di depannya.


Kal dengan iseng mengambil sepotong daging di piring Delon. Memakan daging itu di depan si pemilik langsung.


Bukannya marah, Delon malah memotong-motong kecil daging steak di piringnya lalu menyuapi Kal.


Tanpa menolak, Kal memakan semua daging steak milik suaminya yang di suapkan untuknya.


"Mas Delon sweet banget, sih."


Semua pandangan orang-orang yang sedang sibuk makan teralihkan. Menatap bersamaan ke arah Wina yang menatap Delon penuh minat.


Ini kali pertama Wina bertemu langsung dengan Delon si pengusaha sukses. Wajahnya begitu tampan sampai membuat Wina terlena dan lupa di mana ia berada saat ini.


Boy langsung menyenggol lengan Wina yang sedang tersenyum penuh arti menatap Delon. Wina yang baru menyadari kondisi jadi kikuk sendiri.


"Apa-apaan sih kamu ini? Buat malu saja, awas kalau kamu berani macam-macam," bisik Boy yang membuat Wina menelan ludah kasar.


Belum lagi tatapan mata semua orang yang seperti ingin menghabisi dirinya.


Kal yang melihat cara pandangan Wina tadi yang berbeda pada suaminya tersenyum miring. Ia kembali memiliki ide jahil untuk memanasi Wina.


"Mas, mau lagi steak nya." Delon tersenyum bahagia kala mendengar suara manja istrinya.


Dengan cepar Delon mengambil daging steak yang ada tak jauh dari jangkauannya. Memotong kecil-kecil agar sang istri dapat makan tanpa kesulitan.


Delon kembali menyuapi Kal yang jadi manja padanya. Meski sadar apa penyebab manjanya sang istri, Delon tidak perduli dengan itu. Yang penting istrinya tidak melanjutkan aksi ngambeknya karena masalah tadi di pelaminan.


Kal tersenyum manis pada Delon saat pria itu akan menyuapi Kal lagi. Delon terdiam melihat senyuman manis Kal yang baru pertama kali di lihatnya.

__ADS_1


Tanpa sadar Delon malah mengecup bibir Kal, bukan menyuapkan daging steak yang ada di tangannya.


Kedua mata Kal melotot sempurna mendapatkan serangan mendadak suaminya. Delon malah dengan sengaja menahan kecupan itu.


"Woy! Sadar tempat." Edo melemparkan tisu bekas mengelap mulut anaknya ke arah Delon.


"Banyak anak kecil, Mas. Tahan dulu," ucap Putri pula sembari terkekeh.


"Hawanya pengantin baru memang begitu," ucap ayahnya Putri yang merupakan adik kandung papa Adi.


Delon melepaskan kecupannya saat mendapatkan cubitan di perutnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Kal. Gadis itu begitu malu menjadi tontonan semua orang melakukan hal yang tak pernah di lakukannya selama ini.


"Kamu cubit, Mas?" Tanyanya.


Kal tidak menjawab dan malah mengdengus melirik suaminya. Delon sama sekali tak terlihat malu, pria itu nampak santai dan biasa saja.


"Sabar, Nak. Masih ada acara lagi nanti malam, tapi kalau kamu sudah tidak tahan. Mama siap gantikan kamu mengurus tamu, asal Mama cepat di beri cucu," ucap mama Asti sembari tersenyum bahagia.


"Mama, ada-ada saja. Tidak di perintah saja anakmu main nyosor di tempat umum, ini malah semakin di dukung pula," kata papa Adi.


"Sabar, Ma." Mama Asti menghela napas panjang mendapatkan elusan di pundaknya dari papa Adi.


Wina yang melihat kemesraan pengantin baru itu merasa sangat iri. Apa pagi di lihatnya Delon lebih tampan dari Boy. Selain itu Delon juga sangat kaya pastinya.


Vera yang duduk di dekat Kal menyenggol kaki sahabatnya hingga Kal menoleh.


"Ada yang kebakar tuh! Muka iri nya kelihatan jelas banget," bisik Vera yang membuat Kal melirik Wina.


"Dia kan memang kompor meledup, gampang panas dan meledak," bisik Kal pula pada Vera.


"Iya, tapi apa dia tidak mengenali kita berdua ya? Sejaj tadi dia bahkan mengabaikan ku. Biasanya kan di manapun aku berada, asal kelihatan di matanya. Dia pasti bakalan berisik seperti petasan banting, tapi ini diam saja."


"Mungkin memang dia tidak mengenali kita dengan baik. Apa lagi saat ini posisinya sangat canggung dan gugup berhadapan dengan keluarga mertuaku," ucap Kal di angguki Vera.


"Iya juga, ya. Gimana ya, reaksi keluarga mertua kamu kalau sampai tahu bagaimana sikap Wina yang sebenarnya? Apa Boy pernah sakiti kamu," kata Vera.

__ADS_1


"Entah lah, biarkan saja mereka mau berbuat apa. Selama tidak menggangguku, yang penting saat ini seru melihat wajah irinya itu." Kal dan Vera terkekeh bersama.


Delon yang di dekat Kal ternyata mendengar apa yang di bicarakan oleh istrinya dan Vera. Pendengaran Delon yang tajam memang cukup berguna untuk saat-saat seperti ini.


Lihatlah bagaimana sekarang Delon melepaskan jasnya dan memakaikannya di bahu Kal yang terbuka. Pria itu juga berdiri dari duduknya untuk membawa Kal pergi.


"Kalian ganti pakaian dulu untuk acara malam ini. Jangan lama-lama mandinya, supaya periasnya bisa cepat bekerja. Waktunya juga tinggal 2 jam lagi," ucap mama Asti mengingatkan anak dan menantunya.


"Iya, Ma." Kal menolehkan kepalanya ke belakang di mana seluruh keluarganya menatap ke arah pengantin itu.


Papa Adi melihat besannya yang tersenyum menatap kepergian Kal dan Delon yang semakin menjauh.


"Kedepannya ku harap kamu dan keluarga bisa mengerti, Ndra. Sikap anak sulungku itu begitu posesif kalau sudah berhubungan dengan seseorang yang sudah menjadi miliknya."


Papa Adi memberi tahu besannya terlebih dahulu supaya nantinya tidak ada kesalah pahaman. Apa lagi jika mengingat tulisan yang di pajang oleh Delon tadi, bukan lah sekedar pajangan saja.


Ayah Indra terkekeh mendengar ucapan papa Adi. Besan sekaligus teman bisnisnya itu sepertinya merasa takut ia akan terganggu dengan sikap Delon.


"Tidak masalah, Di. Kami pun akan sangat senang kalau Delon bisa memanjakan apa lagi menjaga Kal dengan baik. Bagi kami, Kal adalah harta tak ternilai. Semoga kalian juga nantinya bisa memaklumi sikap Kal yang, ya ... Kekanak-kanan atau manja. Karena kami memang memanjakannya di rumah."


Ayah Indra balik memberi tahu besannya juga tentang sikap Kal yang sebenarnya.


"Iya, kami mengerti Ndra. Kalian tenang saja, pokoknya sekarang putrimu sudah jadi putri kami juga. Dan kami akan memanjakannya seperti kalian memanjakannya," ucap mama Asti senang.


"Terimakasih karena kalian sudah mau menganggapnya sebagai putri kalian juga. Ku harap di tempat kalian, Kal bisa mendapatkan yang di dapatkannya di rumah ku," kata ayah Indra.


Papa Adi tersenyum sembari menepuk pundak ayah Indra. "Tenang saja, Ndra. Kami akan berusaha membahagiakan putri kita itu. Dan kami akan mengusahakan segala yang terbaik juga untuknya."


Ayah Indra mengangguk sembari tersenyum pada besannya.


Wina yang mendengar percakapan kedya pria paruh baya itu merasa sangat iri dengan kehidupan Kal yang masih tak di ketahuinya siapa.


Bahagia banget sih perempuan itu, keluarganya sendiri orang kaya ke 2 di Asia. Mertuanya pengusaha kaya juga, suaminya malah lebih kaya lagi. Andai aku yang ada di posisinya, aku pasti bakalan bahagia seumur hidup dan memiliki kemewahan tak terkira. Tapi ... Kenapa nama kakak iparnya Boy mirip sama perempuan itu, ya? Yang duduk di sampingnya mukanya juga tidak asing, batin Wina.


Wina menatap Vera yang berdiri bersama Kris meninggalkan meja.

__ADS_1


Karena acara selanjutnya akan segera di mulai, maka mejanya harus kembali di susun seperti semula. Dan seluruh keluarga kedua pengantin mulai bubar.


__ADS_2