
Pagi ini Delon sudah siap dengan setelan kerjanya. Ia berjalan menuruni tangga menuju ruang makan di mana keluarganya sudah menunggu.
"Pagi semua," sapa Delon.
Meski di luar terkenal pendiam dan kejam, Delon selalu berusaha menyapa orang tuanya setiap pagi sebagai komunikasi.
"Pagi, Nak." Papa Adi dan mama Asri menyahut bersamaan.
"Pagi juga," sahut seorang pemuda yang tak lain adik kandung Delon.
"Aku nebeng ya, Mas." Pinta adik Delon.
"Tidak," sahut pria itu singkat pdat dan jelas.
"Ck, anterin aku sebentar saja."
"Tidak."
Mama Asti melihat kearah kedua anaknya.
"Memangnya mobil kamu kemana, Boy?" Tanya wanita itu.
"Bengkel," sahut Boy.
Ya, Boy mantan kekasih Kal yang penipu itu adalah adik dari Delon.
"Memangnya kenapa mobil kamu?" Tanya papa Adi penasaran pula.
Pasalnya setahu dirinya, mobil anak bungsunya itu baru selesai di servis seminggu lalu dan sudah mendapatkan pemeriksaan total. Jadi apa lagi masalahnya, pikirnya.
"Bannya bocor, Pa. Tadi malam waktu aku pulang, tiba-tiba saja kempes." Boy melihat papanya sejenak.
"Pak Min!" Boy menatap papanya yang sedang memanggil supir.
"Ada apa, Tuan Besar?" Seorang pria yang lebih muda dari papa Adi datang mendekat.
"Ambil mobil Boy di bengkel."
Kening pria yang berdiri di belakang papa Adi mengkerut heran.
"Bukannya mobil Tuan Muda ada di garasi, Tuan Besar? Mobil mana yang harus saya ambil?" Tanya pria itu.
Papa Adi langsung balik badan menatap supirnya dengan pandangan heran.
"Di garasi? Kata Boy mobilnya ada di bengkel karena bocor ban." Papa Adi mengalihkan pandangannya pada putra bungsunya yang menunduk.
Boy merutuki kebodohannya yang lupa kalau keluarganya tidak ada yang tahu mengenai mobil spot yang di dapatkannya dari teman-temannya.
"Bisa beri Papa penjelasan?" Tegas papa Adi menatap Boy.
Boy masih saja diam menunduk, bingung harus menjelaskan bagiaman pada papanya.
__ADS_1
"Ah, saya sudah ingat Tuan Besar." Pak Min tiba-tiba berseru lagi yang membuat Boy ketar-ketir.
"Ingat apa?" Tanya papa Adi.
"Dua hari yang lalu, saya sempat melihat Tuan Muda Boy membawa mobil spot hitam pulang. Bahkan tadi malam sebelum kita pergi, saya melihat lagi Tuan Muda Boy membawa mobil itu pergi." Pak Min menjelaskan pada tuannya apa yang pernah di lihatnya.
Boy menghal napas panjang mendengar ucapan supir papanya itu. Kecerobohannya mebuatnya dalam bahaya, meski ia bisa memperhitungkan kapan waktu keluarganya pergi dan pulang.
Tetap saja apa yang di sembunyikannya akan ketahuan.
"Bapak boleh pergi." Pak Min mengangguk sebentar pada tuannya sebelum pergi.
"Mobil siapa itu, Boy?" Tanya papa Adi lebih tegas lagi.
"Mo-mobil temen, Pa," sahut Boy dengan gugup yang coba di tutupinya.
"Temen yang mana?"
"Temen aku yang baru pergi keluar negeri. Dia titipin mobilnya sama aku." Boy menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Siapa namanya?" Tanya papa Adi lagi karena merasa tak puas dengan jawaban Boy.
"Dia ... Cuma titip sebentar kok, Pa. Besok sudah di ambil lagi mobilnya." Boy tersenyum garing pada papanya yang sangat sulit di bohongi.
"Jangan coba-coba berbohong, Boy! Kamu tahu bukan akibatnya jika sampai Papa tahu sendiri." Papa Adi menatap tajam anak bungsunya yang sudah mulai takut.
"Tadi kamu bilang mobil kamu yang masuk bengkel, sekarang kamu bilang mobil temen kamu. Mana yang benar?" Bentak papa Adi.
"Sabar, Pa."
"Huh, kali ini kamu Papa lepas. Tapi kalau sampai Papa mengetahui kebenaran yang kamu tutupi itu, semua fasilitas yang kamu miliki Papa sita." Ancaman yang sungguh membuat spot jantung bagi Boy.
"Iya, Pa." Pasrah Boy akan setiap peringatan papanya.
Meski ia nakal di luar, namun di rumah ia tidak berani macam-macam karena ada Delon. Jika dengan papanya, Boy maish berani melawan walau sekali.
Tapi dengan Delon, Boy angkat tangan dan memilih menjadi bisu. Dari pada melawan setiap perintah dan akan mendapatkan akibat yang lebih parah lagi.
Karena Delon tidak seperti papa Adi yang akan memberi peringatan lebih dulu. Pria itu lebih suka main cepat dan pembuktian langsung, bukan sekedar kata-kata.
Boy melirik Delon yang diam di tempatnya menghabiskan sarapannya.
"Aku pergi, Ma, Pa." Pamit Delon pada kedua orang tuanya yang di balas senyuman dan anggukan.
Sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruang makan. Delon menyempatkan mendekati Boy dan berbisik.
"Jangan lama-lama menyimpan bangkai, baunya sangat busuk."
Delon meninggalkan adiknya setelah mengatakan itu.
Sedangkan Boy yang mengerti maksud Delon hanya bisa diam membisu. Saudaranya itu memang jarang berbicara sekarang, tapi sekalinya bicara langsung jleb di hatinya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Boy? Apa yang di katakan, Mas mu?" Penasaran Mama Asti menatap Boy yang diam tak bergerak.
"Oh eh, bukan apa-apa. Aku berangkat dulu, Ma, Pa." Boy pergi meninggalkan meja makan dengan tergesa-gesa karena takut di beri pertanyaan lain.
Sementara Delon sudah berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh Kris.
"Ke rumah pak Indra." Kris melirik atasannya dengan heran.
"Bos, mau kerumah pak Indra?" Tanya Kris meyakinkan pendengarannya tadi.
"Hm," sahut Delon.
"Siap, Bos." Kris melajukan mobilnya menuju kediaman calon mertua bosnya.
Sesampainya di rumah calon mertuanya, Delon turun dan mendekati pintu bersama Kris. Namun bekum sempat Kris menekan bel, pintu sudah terbuka lebih dulu.
"Eh, ada Nak Delon." Tuti yang melihat Delon langsung memasang senyuman manisnya.
Iya tadi hendak keluar menemui suaminya di rumah sakit sekalian mengantarkan makan siang. Sekaligus merayu pria itu agar tidak marah padanya perihal tadi malam.
"Mau menemui Dea, ya?" Tanya Tuti dengan percaya dirinya.
"Sayang banget, Dea nya sudah pergi." Lanjutnya masih dengan tersenyum.
"Saya mencari, Kal." Senyuman di wajah Tuti langsung hilang begitu mendengar nama anak tirinya yang di sebut Delon.
"Tidak ada di rumah, dia sekarat di rumah sakit." Tuti berucap dengan kesal dan pergi begitu saja dari hadapan Delon.
Tujuannya kini beralih ke rumah mertuanya, bukan lagi ke rumah sakit. Tuti ingin mengadukan semua perbuatan suaminya serta anak-anak tirinya pada sang mertua alias ibu kandung ayah Indra.
"Untung orang tua," ucap Kris repleks karena tidak suka dengan sikap Tuti yang terlalu sombong baginya.
"Kerumah sakit." Delon berbalik menuju mobilnya sembari melakukan panggilan pada Edo.
Setelah mendapatkan alamat rumah sakit tempat Kal di rawat. Delon meminta Kris menuju ke sana dengan segera.
Sesampainya di rumah sakit, Delon dan Kris menuju kamar rawat Kal.
Pria itu membuka pintu kamar rawat Kal setelah menemukannya. Namun, belum juga pintu terbuka sepenuhnya. Delon sudah mendengar sesuatu yang membuatnya terdiam.
Kasih sayang ayah kepada anak gadisnya begitu terasa di dalam sana.
Aku berjanji akan selalu menjaganya dalam kondisi apapun, batin Delon.
Tak ingin larut dalam suasana melo yang tercipta, Delon membuka lebar pintu ketika ayah Indra hendak menyuapi Kal dengan buah.
"Pagi, Om." Sapa Delon yang di balas oleh ayah Indra.
Sedangkan Kal hanya diam saja menatap calon suaminya yang datang.
Tubuh yang tinggi menjulang, dirinya saja kalah tingginya. Kal hanya memiliki tinggi 169 cm saja, sedangkan Delon memiliki tinggi 189 cm.
__ADS_1
Pandangan Delon beralih ke calon istrinya yang sedang menatapnya, dan langsung buang muka ketika ia tatap balik.