Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 51. Indentitas Kal di ketahui Boy


__ADS_3

"Bapak Indra. Apa Indra yang masuk jajaran orang tersukses itu, Pa?" Tanya Boy di angguki papa Adi.


"Papa, tidak bohong sama aku kan?" Papa Adi menggeleng lagi.


"Heh, tidak mungkin dia anaknya Pak Indra itu. Papa jangan mau di tipu sama si Kal itu. Anak pengusaha sukses seperti Pak Indra pastinya sangat cantik dan anggun. Bukan seperti si tomboy yang bar-bar itu," ucap Boy yang langsung mendapatkan lemparan sendok dari papa Adi.


Untung Boy cepat menghindar, jadi sendok itu tidak mendarat di kepalanya. Papa Adi memang selalu bertindak celat jika anaknya kurang ajar.


Tidak perduli apa yang ada di sampingnya, jika anaknya kurang ajar maka akan di beri pelajaran secepatnya. Meski itu akan melukai anaknya, ia tidak perduli. Luka itu malah akan mengingatkan anaknya untuk tidak bertindak sembarangan.


"Faktanya Kal memang anak dari pak Indra. Bukankah kamu juga melihat sendiri kehadiran pak Indra dan keluarganya di pesta kemarin? Bahkan akad nikah di lakukan langsung oleh pak Indra sebagai walinya. Jadi apa yang membuat kamu tidak percaya?"


Boy terdiam dan berpikir, mengingat sata akad dan resepsi Delon yang memang di laksanakan langsung oleh ayah Indra.


"Kenapa dia tidak pernah bilang?" Gumam Boy merasa di bohongi oleh Kal.


Kalau saja ia tahu bahwa Kal adalah anak seorang pengusaha besar. Mana mungkin ia akan memutuskan dan menyia-nyiakan Kal begitu saja. Kal bisa di jadikan biduk untuk mendapatkan banyak kemewahan.


"Apa maksud kamu? Apa kamu dan Kal pernah menjalin hubungan sebelumnya?" Tanya papa Adi tepat.


Boy langsung gelagapan di buat pertanyaan papanya. Dengan cepat ia menyangkal hal itu karena takut juga jika papanya tahu kebenarannya.


"Apa sih Papa ini? Mana mungkin aku pacara sama perempuan tomboy seperti dia. Tipe ku itu yang lemah lembut dan manja, penurut juga."


"Jangan sampai Papa mengetahui sesuatu yang kamu sembunyikan, Boy." Gertak papa Adi semakin membuat Boy salah tingkah.


"Aku pergi dulu, Pa. Sudah terlambat," ucap Boy yang segera berlari meninggalkan ruang makan dan papanya.


Papa Adi semakin menaruh curiga pada Boy yang di nilainya semakin nampak mencurigakan.


Di tempat lainnya ...


Delon masih saja terlihat marah meski sudah pergi dari rumah. Kal yang tadinya bingung harus melakukan apa untuk menenangkan suaminya, akhirmya memilih untuk memeluk Delon.


"Mas," panggil Kal dengan suara manjanya.


Jangan lupakan wajahnya yang di buat sepolos mungkin untuk meluluhkan amarah Delon.


Pria itu menoleh pada Kal, luruhlah amarahnya tadi melihat wajah polos istinya. Delon mengecup kening Kal dalam.

__ADS_1


"Maaf sudah membuat kamu takut tadi," ucap Delon lembut di angguki Kal.


"Jangan suka buat kaget lagi ya, Mas? Nanti kalau aku jantungan gimana? Mas mau jadi duda lagi?"


Delon langsung melotot pada Kal yang berani mendoakannya menduda lagi.


"Kok kamu doa in Mas menduda sih?" Protesnya.


"Habisnya tadi aku kaget sampai tersedak, untung mama kasih aku minum," ucap Kal cemberut karena merasa di abaikan suaminya.


Delon menghela napas pelan lalu kembali mengecup kening Kal.


"Maaf ya, sayang. Tidak begitu lagi deh kedepannya," kata Delon.


"Iya, asal jangan marah lagi."


Delon tersenyum sembari mengangguki ucapan Kal.


Mereka sampai di kantor dan turun bersamaan dari mobil. Kal terus saja di gandeng oleg Delon hingga masuk ke dalam kantor. Tadinya wanita itu tidak mau dan ingin bersama Vera.


Tali karena Vera belum terlihat, Delon punya alasan untuk menahan istrinya. Namun tidak lama karena ternyata Vera sudah menunggu di depan lift.


Juga Boy dan rombongannya yang berjumlah 4 orang termasuk Wina.


"Mok! Ya ampun, akhirnya ketemu lagi. Aku kangen tahu," ucap Vera sembari memeluk Kal.


"Aku juga kangen sama kamu, Bo. Ini mau kemana?" Tanya Kal karena mereka masuk ke dalam lift.


"Ke ruangan HRD, katanya nanti di sana kita baru di bagi tugasnya," jelas Vera di angguki Kal.


Di dalam lift ada beberapa orang lainnya juga tapi bukan anak magang. Karena mereka punya id card karyawan. Sedangkan Kal dan Vera menggunakan kartu pengenal magang.


Sesampainya di ruangan HRD, mereka di minta menunggu karena ketuanya belum hadir. Sampai beberapa menit berlalu barulah datang ketua HRD yang merupakan seorang wanita.


"Masuk!" Ucapnya ketus.


Kal dan Vera masuk ke dalam dan mendapati ketua HRD itu duduk di kursinya.


Bukannya di sapa atau segera di beri perintah, wanita itu malah memperhatikan penampilan Kal dan Vera bergantian dari atas hingga bawah.

__ADS_1


Kal dan Vera saling pandang tidak mengerti dengan arti tatapan dan selidikan wanita yang duduk itu.


Kal juga merasa penampilannya wajar, layaknya peserta magang yang di hruskan memakai pakaian putih hitam. Kal bahkan memakai rok selutu yang mengembang dan kemeja yang besar agar bentuk tubuhnya tidak terekspos.


Begitupun dengan Vera yang sudah menutupi tubuhnya dengan baik. Walau masih sedikit membentuk.


"Jadi, kami harus melakukan apa Bu?" Tanya Kal yang sudah jenuh karena terus di pandangi.


Ada rasa risih juga di tatap dari atas hingga bawah berulang kali. Serasa ingin di telanjangi saja oleh wanita berlipstik tebal itu.


"Badu kali ini perusahaan menerima badut pancoran seperti kamu." Tunjuknya pada Kal yang memang nampak gemuk dengan abju serba besarnya.


Sontak saja ucapan wanita itu membuat Kal dan Vera melotot tak percaya.


"Jangan melototi saya, kalian cuma anak magang di sini. Dan karena penampilan kalian seperti badut, silahkan pergi ke bagian OB. Bantu mereka bekerja di sana, karena hanya itu pekerjaan yang pantas buat kalian berdua," ucapnya santai.


Vera baru akan protes kalau Kal tidak menahannya.


"Baik, Bu. Permisi," ucap Kal lalu menarik Vera keluar dari sana.


"Yang bener saja, Mok. Masa kita di suruh bantuin OB bersih-bersih. Itu pikirannya di taruh mana sih?" Kesal Vera.


"Kalian cuma dua wanita penggoda, jangan harap bisa mendapatkan pekerjaan yang layak."


Kal dan Vera menoleh ke belakang di mana ketua HRD tadi sudah berdiri di depan pintu dengan pandangan remehnya.


"Apa maksud anda?" Tanya Kal.


"Maksud saya sudah jelas, kalian berdua hanya wanita penggoda. Yang satu menggoda Bos, yang satunya menggoda Pak Kris. Paket komplit kalian berdua memang," cibir wanita itu.


"Kamu benar, Mbak. Mereka memang komplit penghodanya, jangan kasih mereka pekerjaan yang enak-enak."


Terlihat Wina datang bersama tiga temannya Boy.


"Oh, jangan bilang kalau kalian berdua bsrsaudara? Atau kalian satu kelompok?" Tebak Vera.


"Kami punya hubungan apa? Kalian tidak perlu tahu. Segera pergi bantu OB," usir wanita itu.


"Kalau aku tidak mau?" Tantang Kal santai.

__ADS_1


__ADS_2