
Tak terasa pernikahan Kal dengan Delon akan berlangsung minggu depan. Hari ini Kal duduk bersama Vera di taman kampus setelah selesai dengan kelas mereka.
"Kamu kenapa sih harus ambil cuti 2 minggu? Aku sama siapa dong kalau kamu cuti selama itu?" Vera menggerutu kesal.
"Nih!" Kal memberikan undangan pernikahannya pada Vera.
"Apa ini?" Vera membuka sampul undangan berwarna biru muda yang memiliki inisial K & D.
"Undangan siapa i ... Apa?" Vera begitu shok saat melihat nama yang tertera di sana.
"Semok? Ini beneran kamu? Kamu mau menikah sama idola aku?" Kal menutup rapat kedua telinganya.
Suara teriakan Vera membuat telinga Kal sedikit berdengung karena cukup keras. Hingga beberapa orang yang mendengar teriakan itu langsung menoleh.
"Jangan teriak-teriak dong, Bo! Malu di lihatin sama yang lainnya."
Vera menutup mulutnya sembari melihat sekeliling lalu minta maaf.
"Makanya, Bo! Punya mulut itu di rem sedikit, jangan asal buka mulut saja. Malu sendiri kan kamu akhirnya." Vera mendengus menatap Kal.
"Jawab pertanyaan ku tadi, Mok."
"Iya, aku mau nikah sama idola kamu. Besok aku kirim seragam yang buat kamu ke rumah."
"Ya ampun, Mok. Rasanya aku tidak percaya kamu mau nikah minggu depan. Sama laki-laki paling tampan dan perfec pula." Vera memegangi kedua tangan Kal.
"Biasa saja kali, Bo." Malas Kal melihat ekspresi sedih Vera.
"Biasa kamu bilang? Ini tuh tidak biasa, Mok. Calon kamu itu, selain good lucking, good dompet juga. Kurang apa lagi? Kamu gadis paling beruntung di dunia ini, Mok. Tapi hatiku sangat sakit ..."
Vera mengusap matanya seperti orang menangis saat mendengar berita idolanya menikah. Yang lebih mengejutkan lagi, calin istri idolanya adalah sahabatnya sendiri.
Sebagai penggemar dan sahabat yang baik, tentu saja Vera sangat mendukung pernikahan itu.
"Hah ... Jangan pura-pura nangis. Aku tahu di hati kamu ada lagi ada seseorang." Kal melirik Vera yang terlihat salah tingkah mendengar ucapan Kal.
"Kamu tahu dari mana? Memangnya aku dekat sama siapa?" Vera menyimpan undangan di tasnya.
__ADS_1
"Jadi kamu tidak punya perasaan apa-apa sama laki-laki itu? Ya sudah, nanti aku bilang sama dia supaya tidak cari perhatian lagi kalau ketemu kamu." Kal berucap santai, tapi membuat Vera gelagapan.
"Jangan dong, Mok! Kamu gimana sih? Bukannya jodohin aku sama dia, malah mau jauhin dia dari aku." Vera cemberut menatap Kal.
"Tapi kamu harus hati-hati dekat dia. Walau pun kata Mas Delon, Sekretarisnya itu orangnya baik dan bertanggung jawab. Tetap saja kamu harus hati-hati dan jangan mudah terlena sama rayuannya. Kalau dia berani macam-macam sama kamu, kasih tahu aku. Nanti aku yang kasih dia pelajaran." Kal mengingatkan Vera.
"Iya, kamu memang yang paling the best pokoknya. Sahabat terbaik aku." Vera memeluk Kal bahagia.
Kal yang tidak suka di peluk orang lain selain keluarganya langsung melepaskan pelukan Vera.
"Jangan peluk-peluk! Aneh banget sesama perempuan peluk-pelukan." Kal bergidik ngeri karena ia memang tak pernah berpelukan dengan sesama wanita.
Meski lama berteman dengan Vera, mereka tak pernah berpelukan. Jika sedang bahagia, mereka hanya akan berpegangan tangan sembari melompat-lompat bersama.
"Aku yang peluk di bilang aneh. Nanti giliran idola aku yang peluk, kamu ketagihan." Vera terkekeh saat Kal menghela napas panjang mendengar ucapannya.
"Jangan suka bener ya, kalau ngomong," ucap Kal.
Keduanya tertawa bersama, lalu memutuskan untuk pulang. Kal hari ini di jemput oleh Edo atas perintah ayahnya. Kal akan di kurung selama seminggu sebelum pernikahan.
"Ternyata penampilan tak menjamin seseorang bersikap baik. Yang terlihat tomboy, apa lagi? Bahkan bisa naik turun mobil mewah dengan laki-laki yang berbeda setiap saat."
Wina yang beberapa kali melihat Kal naik dan turun mobil mewah merasa panas. Ia tidak suka dengan apa yang di dapatkan Kal. Entah apa sebabnya hingga Wina begitu tidak menyukai Kal.
Pada hal Kal dan Wina baru bertemu saat Boy mulai mendekati Kal. Wina berteman dengan Kal dan Vera juga karena ada maksud tertentu, bukan murni ingin berteman.
Kal dan Vera menghentikan langkah kakinya, kali ini Kal ingin meladeni Wina sebelum ia cuti. Sesekali meladeni orang tukang sindir dan banyak bicara seperti Wina.
"Kemarin aku lihat kamu keluar daei mobil mewah sama laki-laki lain. Trus kemarinnya lagi yang jemput lain. Pergi pulang kampus selama seminggu ini selalu di antar jemput orang yang berbeda. Banyak banget ya sugar daddy kamu."
Wina menatap Kal mencibir sembari tersenyum miring.
Kal dan Vera saling tatap sembari mengangkat bahu mereka tak paham dengan maksud ucapan Wina.
"Kamu sudah mirip kecap yang ada gambar burungnya itu. Dan selalu mengeluarkan argumen sesuka kamu," ucap Vera yang membuat Wina bingung.
"Apa maksud kamu? Enak saja menyamakan aku dengan kecap." Wina tidak terima.
__ADS_1
"Kamu memang sama seperti kecap. Tidak pernah berubah. Atau seperti deodorant, setia setiap saat. Setia dalam hal merecoki orang lain dengan kesombongan kamu," ucap Kal terkekeh bersama Vera.
Bukan hanya mereka berdua saja yang tertawa, para mahasiswa yang mendengar ucapan Kal juga ikut tertawa.
Wina mengepalkan kedua tangannya marah.
"Jaga mulut kalian kalau bicara! Aku bisa mengeluarkan kalian dari kampus ini kalau aku mau." Wina tersenyum miring.
"Aku juga bisa keluarkan kamu dari kampus ini kalau mau," ucap Kal mengikuti kalimat Wina.
"Orang seperti kamu mau keluarkan aku dari kampus? Jangan mimpi kamu. Apa kamu tahu dimana aku kerja magang?" Wina menatap sombong Kal dan Vera.
"Siapa kamu sampai kami harus tahu?" Tanya Kal yang membuat Wina semakin marah dan kesal.
"Aku adalah pacar Boy. Pria tertampan di kampus ini, dan anak seorang pengusaha kaya. Calon kakak ipar ku juga pengusaha yang sangat berpengaruh di negara ini. Bahkan Asia dan negara. Kami akan magang di perusahaan besar milik kakak ipar saya nanti."
Wina berucap sombong membanggakan Boy dan dirinya sebagai kekasih pria itu.
"Ya, ampun ... Kok Boy mau ya punya pacar yang bisanya cuma jual namanya saja. Mana keluarganya di sebut-sebut lagi, kalau aku jadi Boy. Sudah ku buang perempuan modelan begini." Vera menayap Wina dari atas hingga bawah.
"Yang kaya dan pengusaha berpengaruh itu bukan pacar kamu. Untuk apa kamu banggakan laki-laki yang punya uang banyak hasil minta orang tua? Kalau pacar kamu punya usaha sendiri dan dia pengusaha yang berpengaruh itu. Baru kamu bisa banggakan dirinya dan diri kamu yang menjadi pacarnya." Kal berucap santai.
"Baru jadi pacar saja sudah berani bawa-bawa nama pacar dan keluarganya. Gimana nanti kalau sudah jadi istri? Bisa-bisa nama baik keluarga Boy hancur karena kamu yang selalu menjual nama mereka demi keuntungan pribadi kamu." Kal terkekeh.
"Itu bukan urusan kamu. Kamu hanya perempuan yang sudah aku buang dan tidak berguna." Boy muncul dan langsung mendekap Wina.
Wina tersenyum manis pada Boy yang datang dan membelanya.
"Sayang, mereka sudah hina aku sedari tadi." Wina merengek manja pada Boy.
"Huek ... Pergi yuk, Bo! Bau banget di sini." Kal berbalik mengajak Vera pergi.
Kal malas harus berdebat dengan Boy yang sudah menyakiti perasaannya. Kal berjalan sembari melakukan sesuatu di ponselnya.
"Mau kemana kalian? Tadi berani hina aku, sekarang pacar ku datang kalian pergi. Dasar orang-orang rendahan!" Wina tersenyum puas melihat perginya Kal dan Vera.
"Kami tidak tahan dengan bau busuk yang sedang pelukan. Lebih baik pergi dari pada bertahan di situ," ucap Kal tersenyum misterius menatap Boy dan Wina.
__ADS_1