
Setelah sesi foto dengan kedua keluarga selesai, kini pasangan pengantin itu menyalami para tamu dari pihak keluarga Kal pebih dulu.
Seperti yang di katakan oleh Delon kalau tidak ada satu orang pun pria lain yang boleh bersalaman dengan istrinya. Di bagian depan pelamina tempat para tamu naik, terdapat tulisan yang di pasang di sana.
......'Dilarang menyentuh dan memandangi pengantin wanita bagi tamu undangan pria.'......
Kal sampai menatap tak percaya suaminya yang pasti dalang dari semua tamu pria tak ada yang menyalaminya. Jika mengucapkan selamat pada Kal.
Para pria hanya merapatkan tangan di depan dada saja, itu pun tak lebih dari 1 menit.
Ferdi sampai menahan tawanya saat melihat Kris meletakkan tulisan yang tingginya setengah meter itu. Membacanya saja sudah membuat Ferdi geli.
"Astaga, Kal pasti kesel banget itu," ucapnya.
Edo yang tak tahu maksud adiknya langsung menoleh dan bertanya pada Ferdi. Pria satu anak itu sejak turun pelaminan masih sibuk dengan anaknya.
"Kesel kenapa?"
"Tuh lihat! Apa yang di lakukan sama adik ipar kita, Mas. Mana muka Kal kelihatan menahan bete lagi." Fardi tertawa juga akhirnya.
Wajah Kal yang biasanya selalu ekspresif dengan segala yang di rasakannya. Kini harus di tahan dan terus tersenyum di hadapan banyak tamu undangan.
Edo melihat ke arah yang di maksud Ferdi dan matanya tertuju pada tulisan yang begitu menonjol di depan sana.
"Ya ampun, habis ini pasti Kal kesel beneran sama suaminya." Edo geleng kepala.
"Syukur-syukur tidak terjadi adu kekuatan di antara mereka ya, Mas. Tahu sendiri gimana Kal kalau sudah kesel, susah di taklukin." Edo mengangguki ucapan Ferdi.
Di tempat lain ...
Keluarga Delon sedang berkumpul di satu meja, pandangan mereka terfokus pada seorang perempuan yang tadi mengaku sebagai pacarnya Boy.
"Bisa jelaskan siapa dia, Boy?" Tanya papa Adi serius.
Boy menatap papanya waspada, kalau sudah bicara serius begini. Papa Adi tidak akan pernah main-main dengan semua jawaban yang di berikannya.
"Dia Wina, Pa. Pacarku," ucap Boy hati-hati sembari melirik mamanya pula.
Wanita paruh baya itu terlihat menatap lekat Wina. Hingga membuat Wina merasa seperti di selidiki habis-habisan.
"Sejak kapan kamu pacaran sama dia?" Tanya papa Adi lagi.
"Sejak setahun lalu, Pa. Kami juga sudah bersama dan dekat sejak 2 tahun terakhir."
__ADS_1
"Kenapa kamu baru bawa dia saat ini?"
"Tadi tidak sengaja ketemu sewaktu aku dari toilet. Jadi aku bawa sekalian dia ke sini," ucap Boy lebih hati-hati lagi.
"Maksud kamu?" Kening mama Esti mengkerut mendengar jawaban anaknya. "itu artinya dia juga sudah ada di hotel ini sebelumnya begitu?" Pandangan mama Asti berpindah ke Wina.
"I-iya, Ma. Dia katanya ada urusan sama temennya di hotel ini."
Mama Asti semakin menatap penuh selidik Wina yang di rasanya sedikit janggal dengan alasna keberadaannya di hotel.
"Rumah kamu dimana?" Tanya mama Asti.
"Di jalan M, Tante." Wina tersenyum kaku pada mama Asti.
"Jalan M? Itu cuma 2 jam dari hotel ini. Kenapa kamu bisa ada di hotel sore-sore begini?" Semakin heranlah mama Asti di buatnya.
Firasatnya sebagai seorang ibu mengatakan kalau ada sesuatu yang mencurigakan dari pacar anaknya. Dan itu membuat perasaan mama Asti kurang nyaman.
"Itu ... Saya anterin keperluan teman saya yang menginap di hotel ini, Tante."
"Siapa teman kamu itu?" Mata mama Asti sedikit memicing.
"Teman dari luar kota, masih ada hubungan keluarga juga sih sama aku."
"Kalau masih ada hubungan keluarga, kenapa malah tinggal di hotel bukan di rumah kamu?" Gantian papa Adi yang bertanya pada Wina.
"Karena ... Karena dia ada urusan sama pemilik hotel ini, Om. Semacam kerja sama gitu, katanya supaya lebih mudah kalau mau urusan sama pemilik hotel. Jadi ... Dia memilih untuk menginap di sini."
Wina cukup gugup berhadapan dengan papa Adi. Meski terlihat santai, namun setiap kata yang terdengar tegas membuat nyali Wina ciut. Itu sebabnya Wina harus hati-hati dalam bicara, sebelum kegugupan membuatnya celaka.
Papa Adi mengangguk paham. "Siappa namanya?" Tanyanya yang membuat Wina tersedak ludah sendiri.
"Kenapa ya, Om? Apa ada masalah?" Tanya Wina sedikit takut.
"Siapa tahu saya bisa bantu untuk bertemu dengan pemilik hotel ini lebih cepat," jawab papa Adi santai.
"O-oh ... Itu ... Tidak usah, Om. Dia mau berusaha sendiri, supaya bisa mandiri. Itu prinsip hidup keluarga kami, tidak menerima bantuan sebelum berjuang." Wina tersenyum gugup.
"Bagus kalau begitu, keluarga saya hanya menerima kalangan pengusaha saja untuk menjadi bagian dari keluarga ini."
Wina semakin di buat gugup tak karuan mendengar ucapan papa Adi. Bahkan kedua tangannya terasa berkeringan saat ini.
Sebenarnya papa Adi sengaja mengatakan itu untuk melihat bagaimana reaksi pacar anaknya ini. Dan melihat kegugupan serta ketakutan yang coba di tutupi oleh Wina.
__ADS_1
Papa Adi yakin memang ada sesuatu yang di sembunyikan pacar anaknya. Hanya saja pria paruh baya itu tak ingin merusak momen bahagia kepuarganya. Jadi memilih menyudahi saja pertanyaannya.
"Astaga, Pa. Lihat tulisan itu, siapa yang meletakkan itu di sana?" Mama Asti yang baru menyadari ada tulisan di depan pelaminan memanggil suaminya.
"Memangnya ada apa?" Tanya pria itu mengikuti arah tangan istrinya.
"Itu ... Ah, paling juga ulah anak kita Ma," ucap papa Adi.
"Ya ampun, Mama tidak menyangka kalau ternyata Delon begitu posesifnya sama istri. Sampai tamu undangan tidak di ijinkan menyentuh apa lagi memandang. Kalau sampai ada yang memandang Kal gimana ya, Pa?" Mama Asti menatap suaminya sembari menahan senyum.
"Mungkin akan terjadi adu otot, Ma. Atau orang yang menatap Kal tidak akan bisa tenang lagi hidupnya karena ulah, Delon."
Pasangan paruh baya itu terkekeh bersama, bersama keluarga lainnya di meja sebelah mereka yang juga sedang membahas masalah tulisan yang di siapkan Delon.
Boy dan Wina saling pandang dengan kening mengkerut saat mendengar nama yang sudah membuat nama baik mereka di kampus tercoreng.
Ya, nama baik Boy dan Wina tercoreng karena Kal mengunggah video keduanya saat Boy memutuskan Kal di kafe kala itu. Mereka bisa tahu Kal yang mengunggah karena memang akun si pengunggah milik Kal.
Gadis itu tak ingin sembunyi-sembunyi jika balas dendam. Atau melakukan sesuatu utuk menjatuhkan lawan. Berhadapan langsung lebih seru.
"Siapa namanya, Pa?" Tanya Boy menatap papanya serius.
"Nama siapa?" Tanya papa Adi balik karena tak paham maksud putra bungsunya.
"Nama yang Papa sebutkan tadi, siapa?" Tanya Boy.
"Kal, kakak ipar kamu. Kenapa? Kamu kenal dia?" Mama Asti yang menjawab pertanyaan Boy sekaligus bertanya juga.
Boy dan Wina begitu shok mendengar nama yang mereka benci di sebutkan oleh mama Asti.
"Apa? Kal?" Ucap keduanya bersamaan dan berteriak.
Untung saja musik terdengar kuat hingga teriakan mereka tak sampai memancing perhatian yang lainnya.
"Kenapa kalian berteriak? Apa kalian tidak punya malu sampai teriak-teriak begitu?" Kesal mama Asti melotot pada pasangan di depannya.
"Ma-maaf, Ma. Kami cuma kaget saja kok, soalnya nama yang Mama sebutkan tadi adalah orang yang paling kami benci." Kening mama Asti berkerut mendengar itu.
"Kenapa kalian benci?" Nampak ketidak sukaan di wajah tuanya.
"Karena dia sudah membuat kami berdua malu di kampus, Tante. Dia sebarin berita bohong sampai kami di hujat seluruh siswa di kampus. Dia juga perempuan miskin yang suka godain Boy di kampus. Pokoknya dia perempuan tidak baik, Tante," ucap Wina dengan wajah julidnya.
Mama Asti dan papa Adi saling pandang mendengar penjelasan Wina. Akhirnya memilih diam dan memperhatikan kebahagiaan Delon saja. Dari pada harus mengurusi pasangan di depan mereka.
__ADS_1