
Delon membawa Kal ke ruangannya tanpa memperdulikan pandangan orang-orang yang menatap heran bos mereka. Penampilan Kal yang terlihat sederhana dan terkesan kampungan bagi mereka.
Membuat para karyawan Delon menatap sinis Kal yang di nilai sangat mencari muka dan berani menggoda Delon.
Tapi siapa yang perduli dengan tatapan orang-orang itu. Kal hanya diam saja di dekapan posessif suaminya.
Sesampainya di ruang kerja Delon, pria itu membawa Kal untuk duduk di sofa lalu memeriksa seluruh tubuh istrinya.
"Mana yang luka? Mana yang di sakiti?" Tanya Delon sembari memutar tubuh Kal.
"Sudah lah, Mas. Tidak ada yang luka atau di sakiti, aku telpon Mas tadi cuma supaya Mas tahu saja kalau di kantor Mas ini ada orang yang menyalah gunakan jabatannya."
Kal menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Delon. Meski penjelasan itu tidak di hiraukan oleh Delon yang masih memeriksa tubuh istrinya.
"Kamu jadi Asisten pribadi Mas di sini, sebentar." Delon berdiri dari duduknya dan langsung mengambil tumpukan berkas di mejanya.
Meski Kal istrinya dan di jadikan Asisten pribadi, Delon tidak mungkin membiarkan Kal hanya duduk diam tanpa mengerjakan apapun. Yang ada wanita itu nanti akan marah padanya.
"Kamu susun berkas-berkas ini sesuai urutannya, ya. Tidak perlu terburu-buru, santai saja." Kal mengangguk dan mulai mengerjakan apa yang suaminya perintahkan.
2 menit mengerjakan apa yang suaminya minta, Kal sudah selesai dengan pekerjaannya yang memang tidak banyak. Wanita itu berdiri membawa berkas-berkas itu ke meja Delon.
"Ini Pak, sudah selesai. Apa lagi yang bisa saya kerjakan?" Tanya Kal bersikap formal karena di kantor.
"Kapau hanya kita berdua jangan panggil Mas seperti itu, sayang. Tapi kalau ada orang lain tidak masalah kamu gunakan panggilan formal itu," ucap Delon yang merasa kurang nyaman dengan panggilan Kal saat mereka berdua seperti ini.
"Baiklah, jadi suamiku sayang. Apa lagi yang bisa istrimu ini bantu?" Kal memasang senyum manisnya pada Delon.
Pria itu bukannya menjawab mapah berdiri lalu mendekap tubuh Kal erat. Mengecup bibir Kal dengan gemas secara berulang kali.
"Cukup, Mas. Nanti kalau ada yang masuk bagaimana?" Kal menahan wajah Delon agar tak mengecupnya lagi.
__ADS_1
"Kamu sih gemesin." Delon mengecup kening Kal sebelum melepaskan wanita itu.
"Duduk saja di sofa, lakukan apa yang mau kamu lakukan. Mas, tidak mungkin memberi kamu banyak pekerjaan berat." Pria itu mengelus pipi Kal lembut.
"Kok gitu sih, Mas? Aku kan di sini mau kerja magang. Nanti apa yang bisa ku kerjakan di jurnal kalau tidak tahu apa-apa." Protes Kal menatap kesal Delon.
"Hah ... Kamu ini istri seorang bos besar di sini. Jadi tidak perlu banyak melakukan sesuatu, nilai kamu Mas jamin bagus."
"Tidak bisa begitu dong, Mas. Aku tetal mau kerja selayaknya anak magang lainnya. Kalau Mas tidak kasih aku kerjaan seperti yang lain, aku pindah saja ke perusahaan lain."
Kal bersedekap dan menatap ke arah lain karena kesal dengan suaminya. Ia paling kurang sreg kalau harus di istimewakan dan di bedakan dengan yang lainnya.
Hanya karena hidupnya beruntung terlahir di keluarga kaya dan mendapatkan suami milyarder. Kal tidak mau terlalu di kekang dengan segala perlakuan istimewa.
Delon menghela napas panjang mendengar protes dari istrinya. Padahal ia sudah berusaha memberi pekerjaan paling ringan dan mudah. Ternyata istrinya tidak puas dengan apa yang di lakukan Delon.
"Baiklah Nona Asisten, buat saya kopi."
Delon berjalan meninggalkan Kal dan menuju kursinya untuk kembali berja. Kal segera tersenyum dan mengangguk.
Delon yang melihat itu hanya bisa geleng kepala saja. Mungkin hanya istrinya saja wanita yang lebih memilih bekerja secara profesional meski di perusahaan suami sendiri. Kalau wanita lain sudah pasti ingin segala hal di permudah.
Kal yang belum hafal bagian-bagian kantor itu hanya bisa bertanya pada orang yang di temuinya di jalan.
"Permisi, boleh tahu pantry di sebelah mana?" Tanya Kal sopan.
"Satu lantai di bawah lanti ini, Mbak. Nanti Mbak belok kanan setelah keluar lift, lalu jalan lurus saja. Ruangannya ada di bagian ujung, nanti ada tulisannya di bagian atas pintu," jelas OB itu sopan.
"Terimakasih, kalau begitu saya pke sana dulu."
"Iya silahkan, Mbak."
__ADS_1
Kal bergerak cepat menuju tempat yang di beritahu OB tadi. Sesampainya di ruangan itu, Kal bertemu dengan Vera yang ternyata sedang membuat kopi juga.
"Bo, kamu kok bisa kesini?" Kaget Vera yang sedang memegangi secangkir kopi yang baru di seduhnya.
"Mau buat kopi, pak Delon minta." Kal mendekati tempat pembuatan kopi dan mulai menggunakan mesin pembuat kopi itu.
"Ooh ... Eh, aku duluan. Nanti pak Kris marah kalau aku terlalu lama," ucap Vera di angguki Kal.
"Nanti pulang bareng, ya. Temani aku ke satu tempat." Vera mengangguk meski tidak menoleh.
Kal dengan cekatan membuat kopi dan setelah selesai ia segera kembali ke ruangan suaminya. Namun baru saja keluar dari ruangan itu, Kal berpapasan dengan Wina.
"Eh, ngapain kamu di dalam? Habis buat kopi? Kamu di jadikan OB sama bos? Hahaha makanya jangan sok cantik. Bos itu sudah punya istri, jadi jangan sok kecentilan," ucap Wina mengejek.
Kal yang mendengar ucapan Wina hanya tersenyum miring saja.
"Mau aku kerja apa? Itu bukan urusan kamu. Selesaikan saja pekerjaan kamu di gudang, jangan keluyuran sembarangan." Kal berjalan meninggalkan Wina yang semakin kesal saja.
"Ish, lihat saja nanti kamu perempuan kampungan. Ku pastikan kamu keluar dari perusahaan ini dan tidak bisa menyelesaikan magang. Aku akan adukan kamu sama istrinya bos," gumam Wina.
Kal sendiri tidak perduli dengan apa yang akan di lakukan oleh Wina. Sudah biasa baginya berhadapan dengan Wina yang bermulut pedas.
"Kok lama?" Tanya Delon saat Kal baru saja masuk ke dalam ruangan pria itu.
"Namanya juga ruangan pantry ada di 3 lantai dari sini. Tadi aku juga tanya-tanua dulu di mana pantrynya."
Kal meletakkan secangkir kopi di meja Delon lalu duduk di kursi yang ada di hadapan hadapan Delon. Hanya berbatas meja saja kursi antara milik Delon dengan yang di duduki Kal itu.
"Hem, enak." Delon yang mencoba kopi buatan Kal kembali meminumnya meski perlahan.
Kopi yang menurutnya sangat pas dan enak, bahkan kopi yang biasa di buatkan oleh OB. Tidak seenak buatan Kal saat ini, apa ini yang di namakan racikan tangan istri lebih istimewa? Pikir Delon.
__ADS_1
Kal tersenyum senang saat suaminya menyukai kopi buatannya.
"Nanti Mas taruh kopi expresso di ruangan ini," ucap Delon yang hanya di angguki Kal.