Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 15. Komunikasi Ajaib


__ADS_3

Ayah Indra melihat ke datangan Delon merasa heran. Karena tidak ada orang lain yang tahu di mana ia berada selain keluarganya saja. Bahkan calon besannya pun tidak ia hubungi karena tak ingin merepotkan.


"Nak Delon? Ada apa?"


"Tidak ada, Om. Hanya menjenguk saja," sahut Delon.


Delon berjalan ke samping bed dimana Kal berada.


"Oh, kalau begitu Om titip Kal sebentar. Om, mau ke kamar kecil dulu." Delon mengangguk menatap ayah Indra yang segera pergi.


Tinggallah Kal dan Delon di sana, sedangkan Kris memilih menunggu di luar.


"Sakit apa?" Tanya Delon singkat.


"Perut," jawab Kal singkat pula.


"Kapan?" Kening Kal mengkerut heran dengan maksud pertanyaan pria di sampingnya.


"Apanya?" Tanya gadis itu tak paham.


"Sakit!"


"Iya, sakit. Kalau tidak sakit mana mungkin sampai di sini"


Kal yang salah paham dengan pertanyaan Delon menjawab dengan sepemahamannya saja.


Padahal maksud Delon bukan itu, tapi menanyakan kapan gadis itu mulai sakit. Namun sifat Delon yang pendiam dan tak banyak bicara malah menimbulkan kesalah pahaman komunikasi.


"Hasilnya?" Tanya Delon lagi.


"Hasil apa?" Bingung Kal.


"Periksa."


"Sudah, Dokternya baru keluar tadi."


Delon menghela napas karena Kal yang tidak mengerti maksud perkataannya.


"Pulang?"


"Ya sudah sana, pulang tinggal pulang juga." Kal menatap Delon mengusir.


"Kamu?"


"Kenapa aku? Kalau mau pulang duluan saja."


Delon memalingkan wajahnya kesal, perbincangannya dengan Kal tidak ada yang nyambung satupun. Entah ia yang terlalu singkat bertanya hingga orang tak paham atau memang Kal yang loading lama.


"Om, tidak lama kan? Kal tidak menyusahkan kamu kan, Del?" Tanya ayah Indra pada calon menantunya.


"Tidak," sahut Delon.


"Mana aku nyusahin dia, Yah." Kal tidak terima karema di bilang menyusahkan.

__ADS_1


"Jangan tidak sopan, Kal. Calon suami kamu ini seumuran dengan Mas Edo. Jadi, yang sopan kalau manggil." Kal yang mendengar ucapan ayahnya menatap Delon tak percaya.


"Masa sih, Yah? Bukannya lebih muda dari, Mas Edo? Ku kira satu tahu di bawah Mas Edo, atau 1 tahu di atas umur Mas Ferdi." Kaget Kal mengetahui umur suaminya yang ternyata sudah cukup matang untuk berumah tangga.


"Untuk apa Ayah bohong, maka dari itu kamu harus sopan sama calon suami kamu." Ayah Indra kembali mengingatkan sang anak.


"Iya, Yah." Kal melirik pria yang berdiri diam di samping bednya seperti tadi.


Layaknya patung yang hanya diam di tempat, begitulah Delon saat ini.


Tok tok tok.


"Permisi, maaf saya harus menyampaikan pesan, Bos." Kris menampakkan dirinya dari balim pintu.


"Hm," sahut Delon yang membuat mata Kal menatapnya.


"Tuan Edo, ingin melakukan pembahasan proyek dengan, Bos. Tapi, beliau ingin melakukannya di sini karena tadi saya mengatakan kalau kita berada di sini." Kris memberi tahu.


"Kapan?" Tanya Delon pada Kris yang malah membuat Kal mengerutkan keningnya lalu melihat Kris.


"Sebentar lagi, Bos. Tuan Edo, sedang menuju ke sini dengan membawa berkas-berkas yang di perlukan."


"Sudah?" Kembali Delon memberikan pertanyaan pada Kris.


"Sudah selesai, Bos. Hanya menunggu tanda tangan Anda dan Tuan Edo atau Tuan Indra. Maka proyek itu bisa di mulai."


Kal melongo dengan mulut terbuka mendengar komunikasi atasan dan bawahan itu. Satu pertanyaan dengan satu kata yang tadi membuat Kal bingung.


"Dia, paham pertanyaan begitu? Haduh ... Kepalaku." Kal memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing melihat kejadian di depannya.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya ayah Indra saat melihat putrinya memegangi kepala dan mengeluh.


"Pusing, Yah."


Kedua mata Delon menajam saat mendengar keluhan calon istrinya.


"Dokter?" Ucapnya sembari menatap Kris.


"Ah, iya." Kris segera berlari mendekati bed dan menekan tombol di panggilan untuk Dokter di sana.


"Kenapa?" Tanya Delon heran menatap Kris. Di suruh panggil Dokter kok malah masuk dan menekan tombol.


"Ini tombol untuk manggil Dokter, Bos. Lebih efisien dan cepat," sahut Kris enteng.


Kal yang melihat komunikasi ajaib antara calon suaminya dengan bawahannya kembali merasa pusing saja.


"Pulang, Yah! Aku mau pulang!" Pinta Kal menarik-narik tangan ayahnya dengan wajah sedih.


"Kamu belum sembuh, Nak. Belum boleh pulang." Bingung ayah indra dengan permintaan anaknya.


"Aku mau pulang," rengek Kal.


Gadis itu merasa jika lebih lama lagi di rumah sakit dengan adanya Delon di sana. Bisa-bisa ia semakin sakit parah akibat mendengar komunikasi ajaib calon suaminya dengan sang bawahan.

__ADS_1


"Kalila!" Tegas Delon yang membuat Kal terdiam dan menatap pria di sebelahnya dengan wajah cemberut.


Delin menarik kedua tangan Kal agar melepaskan tangan ayah Indra. Lalu merebahkan gadis itu dengan lembut.


"Kalau masih sakit, jangan harap kamu bisa pulang. Jadi diam dan tunggu Dokter datang," ucap Delon tegas masih dengan memegangi kedua pundak Kal yang posisinya setengah duduk.


Kal mengerjapkan kedua matanya berulang kali mendengar kalimat panjang dari calon suaminya.


"Ada apa, Tuan?" Dokter datang dengan tergesa-gesa saat tadi mendapat panggilan darurat dari ruangan ini.


"Periksa," ucap Delon pada Dokter yang baru datang, sembari melirik Kal yang masih menatapnya.


Dokter mendekati Kal dan mulai memeriksa gadis itu.


"Apa yang Anda rasakan, Nona?"


"Mau pulang," sahut Kal lirih.


"Apa Nona masih merasakan sakit di perut?" Kal menggeleng.


Dokter mengeluarkan alatnya dan mulai memeriksa pasiennya.


"Nona, sudah baik-baik saja. Siang ini sudah boleh pulang, nanti jika ada yang di rasa kurang nyaman segera ke rumah sakit. Agar bisa segera di tindak lanjuti," ucap Dokter itu.


"Baik, Dokter. Terimakasih banyak," sahut ayah Indra.


Delon menatap intens pada Kal yang berbaring miring, tidak mau melihat pria menyebalkan yang berdiri layaknya patung itu.


Setelah Dokter pergi, kini masuklah Edo bersama Sekretarisnya.


"Ada apa, Yah? Apa kata Dokter?" Tanya Edo penasaran dengan kondisi adiknya.


"Kata Dokter, Kal sudah boleh pulang siang ini." Ayah Indra melihat anak gadisnya yang diam.


Edo mendekati Kal dan menyentuh pipi adiknya lembut.


"Hey, adik kecil Mas yang nakal." Kal yang tadinya sudah mulai memejamkan mata kembali membuka matanya dan melihat Edo.


"Mas, kok baru dateng sih? Aku sudah mau pulang," ucap Kal cemberut.


"Maaf, Mas harus menggantikan ayah di perusahaan. Ferdi, harus pergi meninjau pekerjaan." Edo mengecup kening Kal dengan lembut.


Betapa ia sangat menyayangi adiknya ini.


Tanpa di sadari oleh semua orang, Delon yang sejak tadi diam mematung di samping Kal. Sedang menatap tidak suka dengan apa yang Edo lakukan.


Ingin melarang tapi dia belum menjadi suami, jadi terpaksa Delon harus bersabar menunggu hingga bulan depan.


Setelah menyapa Kal, kini Edo sedang duduk bersama dengan Delon dan para Sekretaris mereka.


Sedangkan Kal memejamkan matanya karena pengaruh obat yang baru saja di minumnya tadi sebelum Edo beranjak bersama Delon.


Ayah Indra sendiri dengan telaten membereskan barang-barang Kal. Tidak banyak memang, tapi pria itu tetap melakukannya sendiri tanpa keberatan.

__ADS_1


__ADS_2