Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 33. Pesta pernikahan.


__ADS_3

Di depan pintu masuk hotel, keluarga Kal dan Delon sudah menunggu. Begitupun dengan para wartawan yang ikut menantikan kehadiran pengantin baru yang akan segera tiba.


Begitu mobil yang di kendarai oleh Delon dan Kal tiba. Sorot kamera segera mengarah ke mobil mewah itu. Untung saja sudah di siapkan pembatas di pinggir karpet merah, hingga wartawan tidak bisa menerobos.


Kris membukakan pintu untuk Delon yang segera keluar dengan gagahnya. Pria itu juga membantu Kal keluar dari dalam mobil. Vera juga ikut berdiri di belakang Kal dan Delon setelah pasangan itu bersiap masuk.


Kris yang merasa ada kesempatan dalam kesempitan segera memberi kode.


"Ehem." Vera melihat ke samping.


Kris merenggangkan lipatan lengannya sebagai tanda agar Vera menggandengnya. Dengan malu-malu Vera menggandeng lengan Kris seperti yang di lakukan Kal pada Delon.


Pasangan pengantin baru itu berjalan di depan dengan sangat apiknya. Kal yang tak pernah tersorot kamera jaid merasa risih dan kurang nyaman.


Delon yang menyadari itu menghentikan langkahnya setibanya di pintu masuk hotel. Berbalik menatap para wartawan yang masih setia memotret.


Kris yang menyadari tampang bosnya yang penuh perintah segera berjalan cepat bersama Vera. Padahal tadi ia sengaja memperlambat langkah dengan berbagai alasan suapaya bisa lebih lama bermesraan dengan Vera.


"Bubarkan." Kris mengangguk mendengar bisikan bosnya.


Setelah pasangan pengantin itu berjalan masuk ke dalam hotel menuju tempat acara. Kris segera memberitahu para wartawan untuk tidak lagi mengambil foto.


"Terimakasih untuk para teman-teman Wartawan yang sudah hadir di sini. Kami minta maaf karena harus mengatakan ini. Namun karena ini acara privat, jadi kami hanya mengijinkan kalian sampai di sini saja mengambil gambarnya. Dan di mohon untuk tidak berusaha masuk ke dalam dan mencaritahu apa dan bagaimana pestanya. Nanti ada saatnya kami akan memanggil para Wartawan semua. Sekarang di persilahkan untuk bubar lebih dulu."


Mendengar ucapan Kris, para Wartawan itu segera bubar. Mereka tak ingin mengambil resiko dengan berbuat nekat. Bisa-bisa mereka kehilangan pekerjaan jika berani mengusik si bos kaya itu.


Di dalam hotel ...


Dekorasi yang sangat indah dan menawan membuat setiap tamu undangan yang sudah datang terpesona. Apa lagi ketika pintu utama aula itu di buka, dan masuklah pasangan pengantin yang di tunggu.


Semua orang terkagum melihat betapa serasinya pasangan itu. Yang satu tampan idaman banyak wanita. Yang satunya cantik dan menjadi buah bibir para pria di ruangan itu.


Delon menggandeng Kal dengan bangga karena berhasil mendapatkan istri yang sangat cantik. Beruntung ia sudah membuat aturan kalau tidak boleh ada kamera jenis apapun di dalam ruangan itu.


Ponsel pun tidak boleh di gunakan selama tamu undangan berada di dalam area pesta. Kalau sampai tamu undangan bebas membawa kamera dan bermain ponsel. Bisa di pastikan benda-benda itu akan di pecahkan oleh Delon.


Karena ada beberapa orang yang terdengar omongannya di telinga Delon. Kalau mereka ingin memotret pengantin wanitanya yang sangat cantik itu.

__ADS_1


Sampai di pelaminan, Delon meminta waktu untuk duduk lebih dulu.


"Banyak banget tamunya," keluh Kal menatap para tamu yang begitu banyak hadir.


Rata-rata dari kalangan atas semua, berjas rapi dan berpakaian mahal. Belum lagi tas dan perhiasan yang di kenakan para istri pengusaha itu.


"Kenapa? Kamu tidak nyaman?" Tanya Delon serius.


Kal menatap suaminya sembari geleng kepala.


"Bukan itu, Mas. Masalahnya aku pakai heels, pasti bakalan capek banget berdiri salamin tamu sebanyak itu."


"Jangan di salami." Kal mengerutkan alisnya heran. "Kenapa? Tidak sopan dong, Mas."


"Para wanita saja yang kamu salami, para pria tidak usah."


"Tapi kenapa, Mas?"


"Pokoknya tidak boleh! Kamu istriku dan hanya aku yang boleh sentuh dan pandangi kamu. Yang lainnya tidak boleh, mereka akan mendapatkan denda jika berani macam-macam."


"Tapi, Mas ..."


"Sst! Sekali tidak, tetap tidak." Final Delon yang membuat Kal hanya bisa menghela napas.


"Sekalian saja akunya di laminating atau di buatin kotak kaca. Jadi tidak ada yang bisa sentuh aku," gerutu Kal memajukan bibir bawahnya.


"Ide bagus," sahut Delon santai yang membuat Kal malah semakin kesal.


"Mas!" Gadis itu mencubit pelan lengan Delon yang sejak tadi di gandengnya.


"Kamu mencubit?" Tanya Delon. "Mas, sih ngeselin." Cemberut Kal.


"Jangan cemberut di sini," ucap Delon sembari menatap istrinya.


"Memangnya kenapa? Terserah aku dong," sahut Kal.


"Nanti Mas tidak tahan untuk cubit kamu, kalau Mas sudah mencubit, kamu bisa gemuk secara perlahan."

__ADS_1


Kal menatap suaminya dengan wajah sangat bingung. "Maksudnya, Mas?"


"Tidak." Delon mengalihkan pandangannya ke depan dan malah memanggil pihak penyelenggara.


"Ck, ngeselin banget jadi suami." Kal juga melihat ke arah para tamu.


Seorang petugas mendekati Delon.


"Sandal tipis." Petugas itu mengangguk dan segera pergi.


Kal tidak perduli dengan apa yang di lakukan suaminya. Gadis itu baru menyadari kalau ternyata suaminya bisa seposesif itu.


"Pakai ini." Kal kaget saat Delon tiba-tiba meletakkan sendal tipis di dekat kakinya.


"Heels nya?" Tanya Kal, tapi tetap patuh berganti sendal.


"Buang." Kal memukul bahu suaminya gemas. " Mas! Enak banget kalau ngomong," kesal Kal.


Delon hanya mengangkat kedua bahunya acuh dengan protes istrinya.


Beberapa saat kemudian, sesi foto dengan keluarga di mulai. Sebelum berfoto, mereka lebih dulu bersalaman mengucapkan selamat. Sengaja baru mengucapkan selamat sata ini, agar terlihat lebih seru.


Kedua mata Kal melotot saat melihat siapa yang ada di antara para keluarga besar suaminya itu. Dua orang yang paling tidak ingin di temui oleh Kal. Kini berada di hadapannya dan memberi selamat.


"Selamat ya, Kakak Ipar." Wina menyalami Kal dengam gaya manjanya seperti biasa jika ada Boy.


Kal hanya tersenyum kaku dan menyambut uluran tangan Wina. Lalu tiba-tiba pikiran jahilnya muncul, untuk mengerjai dua orang di depannya.


"Terimakasih, tapi ... Kamu siapa ya, di keluarga ini?" Tanya Kal dengan wajah heran.


Wina dan Boy mengkerutkan kening mendengar suara yang tidak asing bagi mereka.


"Aku ... Aku pacarnya, Boy." Wina menatap Boy di sampingnya sembari tersenyum gugup saat semua keluarga Boy melihatnya.


"Oh, begitu. Tapi kalau masih pacar, belum tentu bisa jadi adik ipar. Apa lagi ... Sepertinya pihak keluarga tidak ada yang ... Mengenal kamu," ucap Kal hati-hati namun penuh peringata sembari melihat keluarga mertuanya.


Memang sangat terlihat kalau keluarga Delon tak ada yang mengenal wanita yang bersama Boy itu. Apa lagi tadi Boy masih terlihat sendirian saja, mengapa sekarang bisa ada seorang wanita yang mengaku pacar dan adik ipar?

__ADS_1


__ADS_2