
Kal mengerjapkan kedua matanya saat tubuh Satpam yang hendak memukulnya terpental cukup jauh.
Bukan tanpa alasan Satpam itu bisa jadi demikian. Seseorang datang dengan cepat dan menendang Satpam itu sebelum berhasil memukul Kal.
Satpam lain yang tadi di jatuhkan oleh Kal perlahan berdiri dan menunduk hormat pada orang yang baru saja datang.
Bahkan keempat wanita Resepsionis yang tadi hanya menonton kini berlari cepat mendekati pria itu. Ikutan memberi hormat dan terus menunduk ketakutan.
"Bos!" Panggil seseorang pada pria di depan Kal yang berrwajah dingin dan datar.
"Apa yang terjadi di sini? Kenapa kalian mengeroyok seorang wanita?" Tanya Kris menatap para Satpam yang menunduk itu.
Para Satpam itu saling pandang tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Wanita? Masa sih? Tenanganya bahkan bisa mengalahkan kami berenam, batin mereka.
Tak beda jauh dengan para Resepsionis itu, mereka tak percaya kalau Kal perempuan. Mereka bahkan memperhatikan wajah Kal dengan serius.
"Kami mendapat panggilan darurat dari meja Resepsionis, yang mengatakan kalau ada penyusup membuat onar. Saat kami datang, sudah ada pertengkaran dengan pemuda itu, Tuan Kris." Salah satu Satpam yang baru datang tadi menjelaskan.
"Iya, Tuan Kris. Pemuda itu dan pacarnya datang membuat onar, saat saya bicara baik-baik mereka marah. Itu sebabnya saya memanggil keamanan, untuk mengusir mereka."
Resepsionis yang merasa bersalah membalikkan fakta. Karena ia sudah ketakutan akan wajah tak enak atasannya.
"Kalian yang tidak sopan pada kami. Kal, sudah bertanya baik-baik masalah magang, kamu malah marah dan mengusir kami. Bahkan menarik aku dan Kal sampai terjatuh." Vera menatap marah wanita yang baru saja bicara tadi.
"Kamu baik-baik saja, Kal?" Vera yang sudah di dekat Kal langsung memeriksa tubuh temannya itu.
"Terima ... Adelon Pratama Adijaya." Vera kaget melihat siapa pria yang tadi menolong Kal.
Bahkan saking tak percayanya, gadis itu menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya melotot menatap idolanya dari dekat.
Kal menatap Vera yang baru saja menyebutkan nama lengkap calon suaminya. Bahkan dia sendiri tidak tahu siapa nama lengkah Delon.
"Kamu kenal, dia?" Kal menunjuk Delon yang berdiri di depannya menatap gadis itu serius.
"Dia idola aku, Kal. Pemilik perusahaan Pratama Grup ..." suara Vera melirih saat menyadari apa yang telah di perbuatnya.
"Maaf," ucapnya karena sudah merasa tak sopan.
__ADS_1
"Direktur? Maksud kamu, dia Direktur perusahaan ini?" Vera mengangguk cepat menajwab pertanyaan Kal.
Delon yang melihat wajah kaget dan tak percaya Kal cukup heran juga. Anak pengusaha yang cukup terkenal seperti Kal malah tak mengenalnya.
Delon menarik topi hitam di kepala Kal, hingga rambut gadis itu yang di sembunyikan di balik topi turun kebawah dengan indahnya.
Mata Delon terpesona melihat kecantikan Kal yang sangat sempurna di matanya. Pria itu memakaikan kembali topi Kal dan langsung membopong tubuh Kal seperti karung beras.
"Ambil gaji kalian." Delon beranjak dari sana bersama Kal di pundaknya yang sedang meronta.
Vera yang kaget melihat temannya di gendong oleh idolanya sampai tak mampu berkata apa-apa. Sampai akhirnya dia sadar saat mendengar suara Kal memanggilnya.
"Tunggu! Mau di bawa kemana temanku?" Vera mengejar Delon yang sudah berlalu cukup jauh.
Karena kai pria itu panjang, jadi langkahnya cukup cepat. Kris ikut mengejar bosnya juga setelah memberitahu pada orang-orang yang baru di pecat. Kalau orang yang mereka singgung tadi adalah tunangan bos besar mereka.
"Habis sudah hidup kita ..." ucap salah aatu wanita Respsionis itu saat di pecat dan mendengar siapa wanita yang berkelahi tadi.
"Bos Besar, kok mau sih sama perempuan itu? Mirip preman pasar begitu di jadikan tunangan," gerutu wanita yang bermasalah dengan Kal tadi.
"Diam kamu! Gara-gara kamu kami semua di pecat. Jangan sampai karena ucapan kamu itu kami semua ikut menanggung akibatnya lagi." Salah satu Satpam di sana memarahi wanita itu.
Di dalam lift ...
Kal terus memberontak di pundak Delon. Sampai akhirnya gadis itu kesal dan menarik rambut Delon kuat. Tapi tak membuat Delon bereaksi.
Akhirnya Kal mengeluarkan jurus terakhirnya yang di rasanya sangat mujarab.
Dug
"Akh ..." Delon sontak menurunkan Kal dan berlutut hampir duduk karena nyeri di selakangannya akibat ulah Kal.
Sedangkan Kal si pelaku yang mmebuat Delon meringis hanya tersenyum tipis.
"Rasain. Makanya jangan macam-macam sama perempuan," ucapnya.
"Anda, baik-baik saja, Bos?" Kris berjongkok mendekati bosnya dan memegang pundak Delon.
__ADS_1
Delon mengangkat tangannya dan meminta Kris mundur. Kris mundur lagi ke tempatnya semula dekat dinding lift, dimana Vera berdiri di sana dengan wajah cengo.
Vera tidak paham dengan situasi yang terjadi, tapi ia meringis juga saat Kal mendaratkan kakinya di tempat terlarang itu.
"Kamu berani?" Delon menarik tubuh Kal dan memeluk gadis itu erat sampai kesulitan bergerak.
Kedua kaki Kal di kunci oleh Delon dengan satu kakinya.
"Lepas, Mas!" Kal menatap kesal pada Delon.
"Tidak, gadis nakal harus di hukum." Delon menyeringai yang membuat Kal ngeri melihatnya.
Delon mendekatkan wajahnya pada Kal, hingga gadis itu memundurkan kepalanya. Tapi Delon semakin mendekat pada Kal yanh tidak bisa kemana-mana ataupun melawan.
"Kamu tahu? Yang kamu tendang tadi adalah tempat masa depan kita. Kalau dia cacat, kamu tidak akan bisa merasakan rasanya jadi ibu."
Delon berbisik lirih di telinga Kal sembari meniup pelan telinga gadis itu. Kal bergidik geli dengan apa yang di lakukan Delon padanya.
Vera membuka mulutnya tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Kal, bibirmu sudah tidak suci lagi, batin Vera.
Dari arah belakang, posisi Delon dan Kal memang seperti berciuman. Padahal tidak sama sekali, karena tubuh Delon yang tinggi menjulang. Membuat pandangan Vera terhalang untuk melihat adegan di depannya.
Setelah sampai di lantai 30 gedung, lantai tertinggi di perusahaan itu. Delon membawa Kal menuju ruangannya tanpa perduli dengan tatapan karyawannya yang bekerja satu lantai dengannya.
"Kapan Mas datang? Kenapa tiba-tiba muncul tadi?" Tanya Kal penasaran setelah ia di dudukkan di sofa empuk ruangan pria itu.
"Habis meting di luar, spontan saja tadi."
Yang di tanya apa? jawbaannya apa? Pikir Kal.
Delon sendiri juga tak menyangka kalau Kal akan datang ke perusahaannya. Apa lagi kedatangan gadis itu bukannya mendapatkan sambutan baik. Malah di keroyok oleh karyawannya.
Kalau saja Kal tidak bisa bela diri, sudah bisa di pastikan kalau gadis itu akan di hina dan di campakkan begitu saja oleh karyawannya tadi.
Sangat kaget saat mendapati Kal yang berkelahi dan hampir di pukul. Jika tidak memikirkan calon istrinya yang mungkin akan terkejut dengan sikapnya.
Mungkin Delon sudah memberikan hukuman yang setimpal pada orang yang berani mengganggu calon istrinya. Melakukan hal yang sama seperti apa yang mereka lakukan pada Kal.
__ADS_1
Bahkan mungkin lebih kejam lagi dari itu, agar tak lagi berbuat semaunya hanya karena bekerja di perusahaan terkenal.