
Acara pernikahan masih berlangsung hingga malam hari. Dan kali ini para tamu dari pihak keluarga Delon yang berdatangan. Dan jumlahnya tak main-main banyaknya.
Teman-teman Delon sendiri yang hadir begitu banyak. Di tambah lagi rekan bisnis dari dalam dan luar negeri. Belum lagi tamu kedua orang tua Delon.
Kal menghela napas panjang saat tamu lainnya mulai berjalan naik. Delon melihat istrinya tak tega dan langsung memanggil Kris yang selalu setia di dekat pelaminan.
"Ada apa, Bos?" Bisik Kris.
"Hentikan mereka, 15 menit," ucap Delon.
"Siap, Bos."
Kris bergegas menemui pihak WO yang bertugas di dekat pelaminan juga.
Setelah para tamu yang terlanjur naik selesai bersalaman dan turun. Tamu berikutnya di tahan dan di persilahkan naik 15 menit kemudian.
Kal bernapas lega dan langsung duduk begitu saja di kursi pelaminan.
"Capek?" Tanya Delon di angguki Kal.
"Berapa banyak sih tamu yang di undang, Mas? Sepertinya malam ini tamunya lebih banyak." Kal melihat seluruh penjuru ruangan.
"Jangan lihat sana." Delon menarik lembut wajah Kal dan mengarahkan ke dirinya sepenuhnya.
"Kenapa?" Tanya Kal dengan satu alis di naikkan.
"Pokoknya tidak boleh!" Tekan Delon tanpa bantahan lagi.
Kal memajukan bibir bawahnya dengan dengusan napas panjang. Delon mengalihkan pandangannya ke arah lain, sedangkan Kal tetap di pegangi dagunya agar tetap menatap Delon.
Pegal dengan posisinya yang hanya menoleh ke kanan terus. Gadis tomboy itu dengan cepat menaikkan dagunya dan menoleh ke arah lainnya.
Delon yang menyadari apa yang di lakukan Kal segera menoleh dan mendapati Kal tersenyum pada Vera. Pria itu mendengus dan hendak menarik kembali dagu Kal.
Namun sepertinya tidak semudah itu untuk menaklukan Kal. Karena gadis itu malah menghindar secara halus. Seperti pura-pura menunduk, melihat ke arah lain, atau berdiri sebentar.
Delon yang kesal langsung saja mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke pangkuan. Kal memekik kaget dengan apa yang di lakukan suaminya.
"Mas! Apa-apaan sih? Malu tahu." Kal memukul bahu Delon cukup kuat hingga pria itu menoleh. "Kuat juga tenaga kamu," ucapnya.
__ADS_1
Kal tidak menjawab dan malah bersedekap di pangkuan Delon. Belum lagi wajah kesal gadis itu yang sedang menggembungkan kedua pipinya.
Delon mengecup pipi Kal dengan santainya yang membuat Kal menoleh sembari melotot.
"Malu, Mas. Banyak orang," ucap Kal dengan mengetatkan gigi-giginya.
Gadis itu sungguh malu saat ini dengan kelakuan sang suami. Ia tidak pernah bermesra-mesraan dengan seorang pria, jadi merasa sangat malu dengan apa yang di lakukan Delon.
Hingga 15 menit kemudian, para tamu kembali di persilahkan untuk naik ke pelaminan bagi mereka yang ingin bersalaman.
"Halo bro, selamat untuk pernikahannya!" Beberapa pria naik dan memeluk Delon ala pria.
"Terimakasih, kalian mau hadir." Delon menyambut kedatangan teman-temannya.
"Tentu kami harus datang, kami sangat penasaran dengan istrimu," kata salah satu di antara mereka.
"Iya, siapa sih perempuan yang bisa taklukin duda kita ini?" Teman Delon itu menepuk bahu Delon dua kali.
"Halo! Selamat ya, untuk pernikahannya." Salah satu teman Delin menyapa Kal dan hendak menjabat tangan Kal.
Delon yang melihat apa yang akan di lakukan temannya segera mencegah. "Ini milikku, jangan sentuh!"
Sontak saja teman Delon tadi mengangkat kedua tangannya. Kaget mendengar ucapan Delon yang cukup keras bagi mereka yang ada di pelaminan.
"Kamu tidak lihat tulisan itu? Di larang sentuh atau pandang istrinya Delon," kata seorang teman mereka.
"Seperti kamu baru kenal Delon saja. Sesuatu yang sudah jadi miliknya, akan sulit untuk di sentuh orang lain."
"Hah ... Untung saja tadi belum ke sentuh," ucap pria yang tadi menyapa Kal. Ia memang tak membaca tulisan di depan pelaminan.
Setelah mengucapkan selamat juga pada Kal dengan cara yang cukup aneh bagi gadis itu. Para teman Delon turun dan berganti dengan tamu lainnya.
Tangan kiri Delon memeluk erat pinggang ramping Kal. Untung saja sejak awal ia sudah meminta pada perias agar istrinya di beri manset baju. Jadi bagian depan yang begitu menonjol itu tak terlihat oleh mata nakal para pria.
Tiba-tiba pelukan Delon sedikit mengerat di pinggang Kal. Meski tidak sakit tapi cukup membuat heran.
"Selamat untuk pernikahannya, Tuan Delon." Seorang pria bule menghampiri Delon dan mengulurkan tangannya.
"Terimakasih." Delon menyambut uluran tangan pria yang merupakan tamu papanya itu.
__ADS_1
Kal menatap heran wanita di samping pria yang menyalami suaminya. Pandangan mata kaget dan tak percaya begitu terpancar di wajah wanita itu.
"Saya tidak menyangka bisa bertemu langsung dnegan putra Tuan Adi yang begitu hebat seperti Anda," ucapnya ramah.
Delon mengangguk pelan menanggapi. "Saya juga tidak percaya bisa bertemu dengan Anda, Mr Mark."
"Hahaha ... Saya hanya pengusaha yang masih mengharapkan kerja sama dengan pengusaha hebat seperti Anda, Tuan Delon."
"Istri Anda cantik, Mr Mark." Delon menatap istrinya yang tersenyum tipis pada wanita di samping Mark.
"Oh, dia bukan istri saya. Hanya kekasih yang selalu saya bawa kemana pun saya pergi," sahut Mark.
Pandangan Delon nampak merendahkan namun tetap dingin. Sedangkan Kal hanya ber oh ria saja.
"Oo ... maaf kalau begitu," ucapnya santai.
Dapat Kal lihat bagaimana wajah wanita di samping Mark yang tersenyum paksa padanya. Bahkan pandangannya lebih banyak mengarah pada Delon.
Setelah Mark dan pasangannya turun dari pelaminan. Para tamu lain juga ikut naik dan mengucapkan selamat.
Pukul 11 malam barulah para tamu tidak ada lagi yang naik ke pelaminan. Di situlah Kal baru merasa sangat lega dan duduk di kursi pelaminan.
Bukan duduk cantik layaknya seorang pengantin yang anggun. Kedua kaki Kal justru terbuka lebar dengan posisi tubuh ala duduk orang malas. Untung saja gadis itu memakai rok yang besar. Jadi kakinya yang mengangkang tak terlihat.
Vera yang melihat cara duduk Kal segera naik pelaminan dengan tergesa. Apa lagi Delon yang sedang berbincang dengan orang tuanya.
"Mok! Ya ampun ... Kamu itu pengantin yang palinh cantik, tapi duduk kamu mirip preman pengangguran."
Vera merapatkan kedua kaki Kal lalu menarik tubuh gadis itu agar duduk yang anggun.
"Apa sih, Bo? Aku sudah mager," ucap Kal yang sudah lelah dan malas bergerak lagi.
"Tapi tidak di sini juga, Mok. Masih banyak orang lain yang kerja beres-beres." Vera masih berusaha menarik tubuh Kal agar duduk dengan baik.
Namun karena tenaga Kal dan Vera berbeda, jadilah tubuh Kal tidak tertarik.
Delon yang baru selesai bicara pada orang tuanya menoleh. Mendekati Kal yang masih saja berdebat kecil dengan Vera.
Vera yang menyadari kedatangan Delon segera menyingkir. "Urus tuh! Istri kamu yang malas." Vera berjalan pergi meninggalkan Kal.
__ADS_1
Delon mengangkat tubuh Kal dengan mudahnya tanpa perlawanan. Kal sudah sangat malas dan lelah hari ini. Gadis itu juga memejamkan matanya begitu saja di dekapan Delon.
Kedua tangannya di kalungkan di leher Delon dan menyamankan posisinya di gendongan Delon.