Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 31. Akad Nikah


__ADS_3

Setelah Kal selesai di make up dan sedang berganti pakaian. Kal meminta pada tukang make up nya untuk merias Vera juga agar terlihat lebih natural.


Vera tentu menolak permintaan Kal itu karena ia sudah memakai make up. Meski terlihat lebih dewasa dan menggoda seperti biasanya.


Kal terus memaksa hingga akhirnya Vera pasrah dengan make up nya yang di rombak dan di ulang oleh tangan-tangan ahli.


Tok tok tok


"Kal! Kamu sudah selesai?" suara ayah Indra terdengar di luar.


Vera yang sudah selesai di make over mendekati pintu dan membukanya.


"Semok, eh! Maksud ku Kal sedang ganti baju Om." Vera terkekeh garing dan tidak enak pada ayah indra.


Gadis itu selalu salah memanggil nama Kal jika di hadapan keluarga Kal sendiri. Karena sudah terbiasa memanggil nama panggilan akrab mereka, jadi sering lupa tempat.


Ayah Indra awalnya bingung saat Vera memanggil anaknya Semok. Tapi setelah Kal mengatakan kalau itu panggilan pertemanan mereka. Barulah pria itu tahu dan maklum, apa lagi tubuh anaknya memang berbeda dengan gadis lainnya.


Vera juga selama berada di rumah Kal selalu berpakaian sopan dan tidak terbuka seperti ketika keluar rumah atau di rumahnya sendiri.


"Baiklah, kalau sudah selesai segera turun. Pengantin prianya sudah tiba," ucap ayah Indra di angguki Vera.


"Iya, Om. Nanti aku bawa Kal turun."


Ayah Indra tersenyum tipis kemudian berlalu pergi ke bawah di mana acara akad akan berlangsung.


"Siapa, Bo?" Tanya Kal saat Vera menutup pintu rapat.


Vera balik badan dan melihat Kal yang sudah berganti pakaian pengantinnya. Kedua mata Vera melotot lebar dan mulutnya menganga tak kalah lebar.


Gadis itu sangat shok melihat penampilan Kal yang berbeda 100% dari biasanya. Jika baru make up nya tadi saja sudah sangat cantik. Apa lagi sekarang sudah di padukan dengan gaun pengantinnya.


"Astaga, ya ampun, oh my my. Mok, kamu luar biasa."


Vera sungguh kagum melihat penampilan Kal.


"Ck, biasa saja kali." Kal malah terlihat santai dan biasa-biasa saja dengan penampilannya.


Meski kurang terbiasa dan agak risih karena tak pernah memakai gaun dan bulu mata palsu membuat matanya gatal. Jika tidak ingat dengan lamanya para perias membantunya tadi, Kal sudah mencabut bulu palsu itu.


"Tidak bisa biasa-biasa saja, Mok. Ini sungguh luar biasa."


Vera mengacungkan dua jempolnya untuk Kal dengan wajah kagum.


"Teman Nona benar. Penampilan Nona sangat luar biasa, kami saja yang merias sampai tak percaya dengan hasil yang fantastis ini."

__ADS_1


Kedua perias Kal juga sangat mengagumi kecantikan dan keanggunan Kal dalam balutan gaun pengantinnya dan make up yang pas.


Kal hanya bisa menghela napas saja mendengar semua pujian itu. Ia tidak merasa bagaimana-bagaimana dengan penampilannya ini.


Di lantai bawah ...


Delon dan keluarganya sudah tiba di kediaman mempelai wanita. Mereka masuk dan duduk di tempat yang sudah di sediakan.


Kini barulah Delon merasa gugup meski coba ia tutupi dengan wajah datarnya.


"Jangan gugup, Mas. Nanti kalau salah sebut nama atau maharnya, nikahnya batal." Putri yang duduk di belakang Delon menggoda pria di depannya.


"Berisik," ucap Delon tak ingin di ganggu.


"Itu fakta, Mas. Inget-inget siapa nama lengkap kakak ipar, jangan sampai salah."


Putri tak juga diam dan tetap mengganggu.


"Put! Jangan ganggu Mas kamu." Gadis yang seorang desainer itu menatap mamanya dengan senyuman saja.


Beberapa saat kemudian, Delon di panggil untuk maju mendekati penghulu. Acara akan segera di mulai.


"Semangat, Mas Delon." Putri sedikit bersuara keras untuk menyemangati Delon.


"Jangan berisik!" Boy yang di samping Putri protes.


Delon menghela napas pelan untuk mengurangi kegugupannya. Duduk di depan ayah Indra yang akan menikahkan dia dengan Kal.


"Mana pengantin wanitanya?" Tanya penghulu menatap ayah Indra.


"Itu pengantinnya, Pak." Edo memberitahu.


Posisi duduk Edo yang di belakang ayahnya dan sejak tadi melihat tangga dapat melihat adiknya yang melangkah turun. Bersama dengan Mina dan Vera yang mendampingi.


Semua mata tertuju pada pengantin wanita yang turun dengan anggunya. Selendang putih yang menutupi kepala Kal semakin menambah pesona untuk gadis itu.


Delon hampir saja tak bisa bernapas melihat pesona sang calon istri. Semakin guguplah pria itu ketika Kal mendekat.


Kal duduk di samping Delon yang sedang mengepalkan kedua tangannya yang basah.


Setelah Kal tiba, pak penghulu memulai acara ijab kabulnya. Delon memegangi celana bagian bawahnya agar basah di tangannya hilang.


Hingga beberapa saat kemudian, pernikahan keduanya sah. Kal dan Delon telah resmi menjadi pasangan suami istri sata ini.


Barulah hati Delon terasa lega dan tidak gugup lagi. Setelah menandatangani buku nikah, Delon memasangkan cincin pernikahan untuk Kal, begitupun sebaliknya.

__ADS_1


"Sudah, Nak." Mama Asti yang duduk di belakang Delon dan Kal mengingatkan anaknya yang tak mau melepaskan kecupannya di kening Kal.


"Sabar, Mas. Nanti malam sudah bisa mesra-mesraan kok sama istrinya," ucap pak Penghulu menggoda Delon.


Semua orang tersenyum bahagia menyaksikan interaksi sederhana pasangan itu. Dan candaan dari pak penghulu.


Hanya satu orang yang masih merasa tak percaya dengan apa yang di dengarnya tadi. Nama kakak iparnya sama dengan nama perempuan yang pernah di permainkannya.


"Tidak mungkin dia kan?" Boy berucap sangat pelan hingga tidak ada orang yang mendengarnya.


Apa lagi saat ini semua orang sedang sibuk dengan pasangan pengantin yang ada di tengah-tengah ruangan.


"Ayo ke sana, Mas. Ngapai bengong di sini?" Putri menepuk pundak Boy hingga pemuda itu kaget.


Meski putri lebih tua dua tahun dari Boy, namun karena Putri anak dari adik papa Adi. Maka gadis itu memanggil Boy seperti Delon.


Boy mengikuti langkah Putri mendekati pasangan pengantin baru. Boy juga ingin melihat wajah kakak iparnya lebih jelas untuk menguatkan kayakinannya tentang siapa gadis yang menjadi istri saudaranya.


Kal dan Delon melakukan sungkem pada orang tua dan keluarga mereka. Kal bahkan menangis ketika ia meminta ijin pada ayahnya.


"Berbahagialah putri kesayangan, Ayah. Sekarang kamu harus menuruti suami kamu dan ikut dengannya. Jadilah istri yang berbakti dan jaga rumah tangga kamu."


Ayah Indra turut meneteskan air mata, hatinya sangat sedih melepaskan putri kesayangannya pada pria lain. Tapi mau bagaimana lagi, setiap anak gadis yang menikah pasti akan menjadi milik suaminya.


Kal hanya mengangguk karena tak sanggup berkata apapun. Ia hanya memeluk ayahnya erat untuk mengungkapkan perasaannya.


Mereka terus bersalaman dengan seluruh keluarga. Sekaligus berkenalan pada anggota keluarga yang belum di kenal.


Sampai tiba pada kedua orang tua Delon. Pria itu di beri nasehat lagi oleh papanya.


"Delon, ingat pesan Papa yang satu ini. Jangan pernah ucapakan kata pisah apa lagi talak pada istrimu. Meskipun niatmu hanya bercanda atau menggertak, jangan pernah ucapkan kalimat itu. Keramatkan kata itu agar kamu tidak mengucapkannya. Karena sekali kamu mengatakannya walau bercanda, maka hukumnya sah dan kalain harus berpisah."


"Bimbinglah rumah tangga kamu dengan baik, Nak. Papa, sangat percaya kalau kamu bisa berhasil dalam pernikahan ini."


Papa Indra mengusap bahu kekar anak sulungnya dengan bahagia.


"Terumakasih, Pa. Nasehat Papa akan selalu ku ingat," ucap Delon seadanya.


Mama Asti memeluk Kal bahagia karena akhirnya keinginannya punya menantu terwujud. Sekaligus harapan serta doa agar Delon memiliki pendamping terlaksana.


Vera sendiri duduk dengan tenang menyaksikan kebahagiaan sahabatnya. Gadis itu tersenyum bahagia pula.


"Ehem, boleh duduk di sini?"


Vera melihat ke samping di mana Kris berdiri. "Silahkan." Gadis itu jadi salah tingkah karena kehadiran Kris di sampingnya.

__ADS_1


Kris tak kalah mempesona dan sangat tampan bagi Vera. Begitupun dengan Kris yang terpesona dengan Vera yang terlihat berbeda.


__ADS_2