Suami Posessif

Suami Posessif
Bab 22. Pratama Grup


__ADS_3

Setelah mendapatkan rekomendasi dari kampus, Kal dan Vera langsung pergi menuju perusahaan itu. Menurut pihak kampus, banyak mahasiswa yang ingin kerja magang di perusahaan besar itu.


Itu sebabnya sejak awal para mahasiswa magang sudah lebih dulu mengajukan kerja magang mereka. Namun tak sembarangan perusahaan itu menerima peserta magang.


Hanya orang-orang terpilih saja yang bisa di terima magang di sana. Dan kuotanya juga tak banyak.


"Kita naik angkot saja ya, Mok." Vera melihat ke arah Kal.


"Ya sudah, aku juga tidak bawa motor." Kal menyetujui.


"Pantesan setuju, biasnaya juga main angkut saja walau aku tidak mau," ucap Vera.


"Naik motor enak tahu, Bo. Lebih cepat juga sampainya," kata Kal.


"Enak bagi kamu sendiri saja, Mok. Bagi aku tidak, malah mengesalkan."


"Makanya pakai celana panjang, jadi kalau ku bawa naik motor tidak perlu repot dengan baju kamu yang mini ini." Kal menyentuh baju Vera bagian pundaknya yang hanya seutas tali saja.


"Ini tren, Mok. Kamu saja yang mirip preman, coba pakai baju seperti ini. Aku jamin pasti semua mata tertuju sama kamu yang sangat cantik dan Semok." Vera sengaja menekan kata terakhir.


Kal dan Vera memang memiliki nama panggilan sohib mereka berdua. Yaitu Semok untuk Kal dan Bohay untuk Vera.


Kenapa Kal di panggil Semok oleh Vera? Sudah pasti karena memang tubuh Kal semok. Bahkan dengan Vera masih lebih berisi tubuh Kal. Hanya saja bentuk tubuh Kal tertutup oleh pakaiannya.


Meski Kal sering memakai celana jenas, bokongnya tertutup dengan panjang jaketnya. Begitupun dadanya yang di balut pakaian ketat, tetap di tutupi oleh jaket.


Belum lagi baju Kal rata-rata hitam, jadi menyamarkan bentuk yang di sembunyikan di dalam jaket.


"Eh, naik becak saja, yuk! Tuh dia becaknya." Vera menunjuk becak yang sedang berhenti tak jauh dari gerbang kampus.


"Ayo lah, biar cepat." Kal dan Vera berjalan mendekati tukang becak yang sedang istirahat sembari mengelap wajahnya yang berkeringat.


"Pak, bisa anterin kami ke perusahaan Pratama?" Tanya Kal.


"Bisa, Mas. Mari silahkan." Bapak tukang becak langsung semangat karena mendapatkan penumpang.


Kal dan Vera naik ke atas becak sepeda itu. Setelah becak berjalan meninggalkan kampus, Kal membalikkan sedikit tubuhnya agar bisa melihat si bapak tukang becak.


"Pak, aku ini perempuan, bukan laki-laki." Kal mengajukam protes karena tadi di panggil 'Mas'.


"Eh, maaf. Bapak, kira laki-laki tadi soalnya penampilan kamu seperti laki-laki. Serba hitam, pakai celana, jaket, topi hitam juga. Bapak tidak terlalu memperhatikan wajah tadi, karena terlalu senang ada penumpang."


Bapak tukang becak meminta maaf karena sudah salah mengira.


"Santai saja, Pak. Teman aku ini bisa jadi laki-laki, bisa juga jadi perempuan." Vera terkekeh saat mendapatkan pukulan pelan dari Kal.

__ADS_1


"Kamu kira aku banci, apa? Aku ini perempuan tulen, masih doyan laki-laki." Kal tak terima.


"Iya, iya, Nona tulen." Vera semakin tertawa mendapati wajah malas Kal.


"Bapak, tadi mau kemana? Tidak biasanya kami melihat becak lewat depan kampus." Kal penasaran.


"Cuma lewat, Neng. Soalnya sekarang cari penumpang susah. Apa lagi ada ojek online, Bapak yang cuma becak sepeda begini jarang dapat penumpang. Bahkan terkadang tidak ada sama sekali."


Kal terdiam mendengar cerita bapak itu, sangat miris memang saat teknologi mengalahkan cara kerja manual.


"Biasanya Bapak dapat berapa sekali antar penumpang?" Tanya Vera.


"Tidak tentu, Neng. Terkadang di kasih 20 ribu, terkadang 15 ribu. Ya, tergantung penumpangnya mau bayar berapa, Bapak tidak mematok harga."


Kal menghela napas, betapa selama ini ia sudah sangat mudah dalam menjalani hari-harinya dengan segala fasilitas yang mewah.


Sesampainya di perusahaan Pratama Grup, Kal dan Vera turun dari becak. Kal yang sudah menyiapkan uang untuk bapak tukang becak. Memberikan begitu saja sembari menyalami.


"Semoga bermanfaat ya, Pak. Besok datang lagi ke kampus, nanti aku naik becak Bapak lagi." Kal melepaskan salamannya sembari mengeratkan genggaman bapak itu sendiri.


"Terimakasih, Neng." Bapak itu melihat sedikit genggaman tangannya yang cukup besar karena isinya.


Mata bapak itu melotot saat mendapati uang seratus ribu. Mungkin lebih karena banyak di bulatan tangannya.


"Neng, tunggu!" Panggil bapak itu mengejar Kal dan Vera.


"Ini kebanyakan," ucap bapak itu mengulurkan tangannya, tapi tak membuka genggamannya karena takut uangnya hilang.


"Itu rezeki, Bapak." Kal tersenyum sembari meneruskan langkahnya bersama Vera.


Bapak tukang becak sangat senang dan bersyukur dengan apa yang di dapatkannya itu. Dengan cepat kaki yang tak lagi muda itu berjalan mendekati becaknya dan pergi.


Kal dan Vera memasuki perusahaan besar dan megah itu.


"Kita mau kemana ini, Kal? Banyak banget jalannya, bisa kesasar ini kita kalau magang di sini." Vera melihat kesana-kemari.


"Berdoa saja supaya kita di terima. Kita ke sana, tanya sama mereka." Kal mengajak Vera ke resepsionis.


"Permisi, Mbak. Kami ingin menyerahkan formulir magang. Kami harus menyerahkan kemana, ya?" Tanya Kal sopan pada salah satu wanita dari empat orang yang ada di sana.


"Cari sendiri, saya sibuk." Ketus wanita itu.


"Kalau saya tahu, untuk apa bertanya pada orang pemalas seperti Anda." Sarkas Kal kesal.


Bagaimana tak kesal kalau sudah bertanya baik-baik tapi malah di balas tak baik. Padahal wanita itu hanya bermain ponsel sembari senyum-senyum. Jadi dimaba sibuknya, pikir Kal.

__ADS_1


Mendengar ada perlawanan dari orang di depannya, wanita itu angkat kepala dan menatap Kal serta Vera.


"Heh, kalian itu cuma mahasiswi yang mau magang. Jangan kebanyakan gaya dan sok melawan senior," marahnya.


"Satpam! Ada pembuat onar." Wanita itu tanpa bertanya dan banyak bicara langsung memanggil keamanan yang sedang patroli.


"Ada apa?" Tanya salah satu Satpam.


"Usir mereka berdua, anak jalanan pembuat kerusuhan. Menganggu pekerjaan saja," sinis wanita itu.


"Jaga omongannya ya, Mbak. Kami sudah baik-baik bertanya tentang magang, tapi ..."


"Cepat usir mereka, Pak." Salah satu teman wanita itu ikut buka suara karena meras aterganggu pekerjaannya dengan keributan di sekitarnya.


Ketiga Satpam itu langsung menarik tangan Kal dan Vera.


Vera yang memakai hak terjatuh karena tak siap dengan pergerakan Satpam yang tiba-tiba menariknya. Kal yang melihat temannya terjatuh dan masih akan di seret langsung melawan.


Bug bug bug


Dua Satpam yang menahannya jatuh karena pukulan Kal. Selanjutnya Kal menendang Satpam yang menarik Vera.


Bug bug bug.


Tiga pukulan mendarat di tubuh pria itu hingga tersungkur juga.


"Apa kalian tidak bisa menghargai orang lain sebagai sesama manusia? Hanya karena bekerja di perusahaan hebat kalian merasa sangat hebat dan berkuasa?"


Kal menatap tajam ketiga Satpam yang sudah berdiri itu.


"Kurang ajar! Serang."


"Hati-hati, Kal." Vera menatap khawatir temannya.


Sementara Kal sedang adu jotos dengan ketiga Satpam itu.


Terbiasa nerlatih bela diri dengan Edo dan Ferdi, bahkan melawan keduanya. Membuat Kal tak kesulitan melawan ketiga Satpam itu.


Resepsionis yang tadi mengusir Kal langsung memanggil pihak keamanan lain saat melihat ketiga Satpam itu kalah.


Kal kembali berhadapan dengan tiga Satpam lain yang baru datang.


"Kal!" Teriak Vera saat melihat salah satu Satpam hendak memukul dari belakang menggunakan tongkatnya.


Bug

__ADS_1


Vera membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


__ADS_2