Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 10. Kesiangan


__ADS_3

"Daniel, istrimu belum bangun juga? Ini sudah jam sembilan pagi loh, segera bangunkan dia, setidaknya biar sarapan dulu, setelah itu dia boleh lanjutkan tidur," tegur Dona, tak kunjung melihat menantunya.


"Ini Daniel mau bangunin, Ma. Sekalian bawain makannya, mungkin dia kecapean jadi telat bangun," balas Daniel.


"Baguslah, lebih baik seperti itu."


Setelah itu Daniel naik ke atas dan segera masuk ke dalam kamar, dia melihat Vanye masih tertidur sangat pulas. Sebenarnya Daniel tak tega membangunkan istrinya, tapi dia tak ingin Vanye melewatkan sarapannya.


Perlahan-lahan Daniel menepuk pundak Vanye dan terus memanggil namanya sangat lembut. "Mbak Vanye ayo bangun. Apa Mbak nggak lapar? Ini aku sudah siapakan bubur ayam, ayo bangun keburu dingin," ucap Daniel penuh kelembutan.


"Uhh!"


Hanya itu yang keluar dari mulut Vanye. Bukannya bangun, dia semakin menggeliatkan badan dan matanya semakin terpejam erat.


"Mbak, kamu harus makan. Setelah selesai makan Mbak boleh tidur lagi ... eh mandi dulu, karena habis makan nggak boleh tidur," ucapnya sekali lagi.


Sebisa mungkin Daniel membangunkan istrinya, dia tak mau Vanye terlalu gegabah dalam masalah kesehatannya sendiri. Makan tidak teratur bisa membuat perut begah, yang berakhir menjadi Maag.


"Aku nggak lapar Daniel! Nanti kalau kalau lapar pasti makan kok, biarkan aku tidur sebentar saja," balasnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Nggak boleh! Mbak Vanye harus makan, nanti jadi kebiasaan kalau terus-terusan seperti ini. Dan lagi, kelakuan Mbak bisa menyebabkan penyakit karena suka menunda-nunda waktu makan. Jadi sekarang ayo bangun atau aku siram air comberan!" ancam Daniel asal ceplos.


Namun sayangnya ancam itu tak berguna bagi Vanye, dia sama sekali tak menghiraukan perkataan Daniel hingga Daniel merasa jengkel.


"Astaga, dia sulit sekali di bangunkan. Ini kalau ada kebakaran atau apa, pasti gosong duluan karena sulitnya bangun. Nggak bisa, aku harus merubah kebiasaannya. Nanti apa jadinya kalau setiap hari selalu ngebo," oceh Daniel.


Merasa sangat kesulitan membangunkan istrinya, Daniel akhirnya mengambil keputusan final. Dia tak akan memaksa lagi, tapi Daniel akan langsung mengangkat Vanye dan membawanya keluar dari kamar.


Dengan wajah jahil Daniel mendekati Vanye langsung menggendong istrinya. "Aaahh ... Daniel kamu apa-apaan sih, cepat turun kan aku! Aku takut jatuh Daniel, cepat turunkan aku!" teriak Vanye sambil melingkarkan tangan di leher Daniel.

__ADS_1


Vanye sangat ketakutan, dia bahkan tak mau memandang bawah. Vanye sangat fobia dengan ketinggian, yang paling parah dia bisa sampai pingsan.


"Siapa suruh nggak mau bangun! Tadi sudah aku bilang sarapan dulu, habis itu bersih-bersih badan. Tetapi Mbak seakan tak mendengar perkataan suamimu ini, jadi jangan marah jika aku menggendong Mbak sampai ke meja makan!" seru Daniel sambil berjalan keluar kamar.


Daniel bahkan sampai lupa, jika dia sudah membawa bubur ayamnya ke kamar. Dia terlanjur kesal pada Vanye sehingga melupakan nampan berisi makanan yang dia bawa.


"Iya aku akan makan, tapi turunkan dulu! Aku bisa jalan sendiri, Daniel!" teriak Vanye semakin ketakutan. Bahkan dia terus memukul Daniel, supaya diturunkan.


"Diamlah! Sebentar lagi sampai meja makan, jadi jangan banyak bergerak kalau nggak mau jatuh!"


Vanye tak mau menjawab lagi, dia memilih diam sambil menatap sekelilingnya. Di pojok tangga Vanye juga melihat kedua mertuanya duduk di meja makan, sambil melihat ke arahnya. Jujur, kali ini Vanye sangat malu, dan ingin menghilang saja dari hadapan mereka.


"Daniel, cepat turunkan aku. Sungguh aku malu diliatin Mama sama Papa, kumohon turunkan cepat," lirih Vanye semakin menyembunyikan wajahnya di dada Daniel.


Daniel pun ikut tersadar. Langkah kaki yang tadinya pasti mau membawa Vanye ke meja makan langsung berhenti dan menatap ke arah meja makan. "Sial kenapa aku melupakan mereka!" gumam Daniel.


"Kenapa berhenti, Sayang? Cepat bawa istrimu ke sini," ucap Dona sangat ramah. Dona begitu bahagia melihat Daniel bisa bersikap perhatian pada Vanye tanpa ada rasa canggung, walaupun mereka baru kenal.


Mungkin bagi orang Dona terlihat lebay karena takut berlebihan, tapi baginya ini sangat menakutkan. Mereka menikah tanpa cinta, bahkan terkesan mendadak. Tidak ada pendekatan sebelumnya, sehingga dia takut pernikahan ini tak akan berlangsung lama.


"Maafkan Daniel, Ma," ucap Daniel sambil menurunkan Vanye dari gendongannya.


"Buat apa minta maaf? Kamu nggak salah apa-apa juga, cepatlah kesini kalian belum sarapan dari tadi pagi," ucap Doni sedikit basa-basi.


Daniel dan Vanye hanya mengangguk. Setelah itu mereka mendekat ke arah meja makan dan duduk bersama-sama. Rasanya sangat gugup sekali, tapi Daniel tak mau terlalu memperlihatkan apalagi ini hari pertama Vanye ada di rumah.


"Kamu mau makan apa, Mbak?" tanya Daniel.


Namun pertanyaan itu langsung membuat kedua orang tua Daniel terkejut, mereka tak menyangka Daniel memanggil istrinya dengan sebutan Mbak.

__ADS_1


"Apa saja, aku bukan orang pemilih. Bagiku semua makanan sama, sama-sama membuat kenyang," jawab Vanye.


"Baiklah."


Daniel langsung mengambil nasi putih untuk Vanye, dia melayani istrinya seperti Ratu. Bahkan Daniel menaruh semua lauk-pauk di atas piring Vanye, agar dia makan banyak.


Namun sayangnya perhatian Daniel, tak bisa diterima Vanye. Dia tak terbiasa seperti ini, jadi Vanye merasa tak enak hati, apalagi mertuanya memandangnya terus.


"Daniel aku bisa ambil sendiri, seharusnya aku yang mengambilkan makan untukmu. Bukan kamu yang mengambilkan makan untukku," tolak Vanye.


Bagaimanapun juga, dia masih ingat nasihat dari mamanya. Jadi Vanye tak mau berdosa karena tak mau melayani suaminya sendiri. Meski agak aneh, tapi statusnya saat ini adalah nyonya Daniel. Nyaman nggak nyaman, dia harus mengurus Daniel.


"Nggak perlu Mbak," tolak Daniel ketika Vanye ingin mengambilkan nasi. "Aku pernah bilang kan, akan menjadikan Mbak seperti ratu? Ya salah satunya seperti ini," balas Daniel lagi.


"Tapi ...."


"Cepat makan, jangan banyak protes aku gak mau nanti Mbak punya maag!" seru Daniel.


Vanye tak bisa berkutik, dia membiarkan Daniel berbuat sesuka hatinya dan melayaninya seperti seorang ratu.


"Pa, sepertinya mereka nggak menganggap kita ada. Mereka asyik dengan dunianya sendiri," bisik Dona pada suaminya.


"Mama benar. Mending kita pergi dari sini, biarkan mereka melakukan pendekatan," balas Doni mengajak pergi istrinya dan meninggalkan anak menantunya. Doni memberikan kesempatan mereka untuk berdua dan untuk berkenalan satu sama lain.


Tapi tak lama setelah mereka pergi, Vanye mulai sadar dan menanyakan keberadaan mertuanya. "Loh, mama-papa kemana? Kapan mereka pergi dari sini?" tanya Vanye dengan mulut penuh makanan.


Daniel yang belum paham langsung menoleh ke arah samping. "Loh, mereka kemana? Masa Mbak nggak tau perginya mereka?" Daniel pura-pura nggak tau, padahal dia tau jika orang tuanya ingin memberikan waktu mereka berdua, tanpa ada yang mengganggu.


"Jika aku tau, nggak mungkin aku tanya kamu! Ini semua salahmu," marah Vanye.

__ADS_1


"Kenapa aku yang salah? Sudah jangan berdebat, cepat habiskan makannya, setelah itu mandi."


Vanye pun mendengus kesal, dia melanjutkan makannya sangat lahap. Sedangkan Daniel tersenyum melihat Vanye, dia sangat senang jika istrinya menyukai masakannya.


__ADS_2