Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 32. Kuhapus Jejaknya


__ADS_3

Kini Vanye berada di pantai Dreamland, mereka menikmati deburan ombak dan saling bercanda tawa. Setelah selesai makan, Daniel dengan semangat mengajak istrinya ke pantai.


Diam-diam, Daniel memotret Vanye berkali-kali hingga tak terhitung. Mulai dari Vanye berlari, bermain pasir, dll. Dia sangat senang mengabaikan momen ini, apalagi di saat istrinya tersenyum bebas.


"Daniel kamu kesini deh, seru tau di sini," ajak Vanye sangat bersemangat.


Daniel mengangguk dan langsung menghampiri istrinya, bahkan dia langsung memeluk Vanye dari belakang sambil mencium gemas pipi Vanye.


"Tersenyumlah selalu, Van," bisik Daniel sangat lembut membuat Vanye meremang.


"Kenapa kamu selalu menyuruhku tersenyum, Daniel?" Lama-lama Vanye menjadi penasaran.


"Karena jika kamu tersenyum sangat manis, melebihi gula yang ada di toko sembako," balas Daniel membuat Vanye langsung badmood.


Baru saja dia merasakan namanya romantis, tapi Daniel membuyarkan segalanya dengan candaannya. "Aish! Kamu merusak suasana saja, Daniel! Baru saja merasakan senang, langsung di hempaskan begitu saja!" serunya amat kesal. Dengan cepat Vanye menghempaskan pelukan suaminya dan berusaha menghindari Daniel.


"Aku hanya bercanda, Sayang. Jujur, aku sangat suka kamu tersenyum. Jika kamu tersenyum wajahmu semakin cantik, bahkan membuat hati ini berdebar berkali-kali lipat. Kalau tak percaya coba dengarkan."


Daniel yang panik langsung menarik tangan Vanye dan meletakkannya di atas dadanya, buat Vanye tau bagaimana jantungnya saat ini jika berada dekat Vanye.


'Dia benar-benar berdebar? Astaga ini sangat kencang sekali, apa setiap kali aku tersenyum jantung Daniel seperti ini?'


"Daniel, aku kok jadi takut ya? Aku pernah dengar jika detak jantung melebihi batas normal, bisa menyebabkan kematian," ucap Vanye terlalu polos.


Tentunya Daniel langsung tertawa kencang, perutnya sampai sakit mendengar ucapan Vanye. Bisa-bisanya istrinya ini sampai mikir kesana, padahal semua wajar dan siapapun bisa merasakannya.


"Jadi maksud kamu, aku akan mati karena detak jantung ini?" Vanye mengangguk cepat dan Daniel kembali terbahak-bahak.


"Kamu aneh-aneh, Sayang. Aku nggak akan pernah mati, karena aku memiliki obat penawaran yaitu senyumu," kata Daniel sedikit menoel bibir Vanye.


Vanye merasa lega mendengar ucapan Daniel, dengan sangat manja dia memeluk suaminya. "Benarkah aku penawaranmu, Daniel? Kalau begitu, aku akan memberikan senyuman untukmu setiap hari agar kamu selalu hidup dan ada disampingku selamanya."


Daniel mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya. Sesekali dia mengecup lembut kening Vanye dan kecupan itu berhasil membuat istrinya tenang.


"Aku mencintaimu, Vanye."


"Aku juga sangat mencintaimu, tetaplah bersamaku sampai ajal menjemput kita."


Mereka berdua pun melanjutkan bermain air, sesekali membuat istana pasir. Mereka juga sangat menikmati teriknya matahari yang semakin lama semakin panas.


Vanye terduduk lemas di atas pasir, dia benar-benar haus. Jika tau akan sepanas ini, mungkin Vanye akan meminta Daniel membeli minuman daritadi.


"Daniel aku sangat haus." Aduh Vanye sambil memegangi tenggorokannya. Daniel melepaskan sekrup kecil itu, dan berdiri dari duduknya.


"Tunggulah di sini, aku akan membelikanmu minum," balas Daniel.

__ADS_1


"Baiklah, tapi jangan lama-lama Daniel."


Daniel mengangguk. Sedangkan Vanye kembali membuat istana pasir di tepi pantai, hingga dia mulai merasakan capek dan memutuskan untuk mengakhiri semuanya.


Vanye mencari tempat kosong untuk berlindung dari terik matahari. Rasanya sangat melekat di kulit, bahkan panasnya melebihi kota Jakarta.


"Semoga pulang dari sini aku nggak gosong. Kira-kira jika kulitku berubah apa Daniel masih suka, atau malah dia ninggalin aku?" gumamnya sedikit terkekeh.


Vanye merebahkan tubuhnya di atas kursi pantai, dia juga mengibas-ibaskan tangannya agar mendapat kesejukan. Namun, semua kenikmatan itu harus terganggu saat kedua matanya tak sengaja menangkap sosok lelaki yang amat dia benci.


Siapa lagi jika bukan Satria, lelaki bajingann yang tega meninggalkan dia di saat pernikahan akan berlangsung dua hari lagi.


"Ck! Ternyata dia juga di Bali, sungguh menyebalkan!"


Merasa terusik saat melihat Satria, Vanye memutuskan untuk pergi mencari Daniel. Tetapi sebelum pergi, dia memakai kacamata hitam dan menutup mulutnya dengan syal yang dia bawa tadi.


Vanye tak mau sampai Satria memergoki dirinya, sungguh dia nggak sudi bertemu Satria lagi. Cukup sudah dia berurusan dengan manusia sampah itu, dan dia tidak mau ikut campur urusannya lagi.


"Berhenti! Kamu Vanye kan?"


"Sial!" umpat Vanye. Dia tak menyangka akan ketahuan sebelum pergi. Dia memutuskan tak menjawab dan memilih untuk terus berjalan. Tetapi saat Vanye berjalan lebih cepat, tangannya langsung ditarik Satria hingga membuatnya terpekik.


"Aduh, sakit bodoh!" pekik Vanye kesakitan. Tetapi, Satria semakin mempererat genggamannya dan sedikit memelintir tangan Vanye.


"Kamu mau kemana, Sayang? Jangan buru-buru, kita baru saja bertemu, masa kamu mau kabur," ucap Satria sangat menjijikkan bagi Vanye.


Ingin sekali Vanye menangis, bertemu dengan Satria baginya dunia akan kiamat. Dia sudah muak melihat wajah licik mantan kekasihnya yang semakin kesini semakin memuakkan.


"Kenapa Sayang? Apa kamu marah karena aku meninggalkanmu? Jika iya, aku minta maaf."


Mual? Vanye sangat mual melihat senyum licik Satria, dia terus menatap marah pada lelaki di depannya ini. "Iya aku marah, tapi marah karena muak melihat wajah iblis sepertimu dan bagiku kamu sekarang adalah sampah yang perlu dibuang!" seru Vanye sangat lantang.


Masa bodoh dengan perasaan Satria, yang jelas mulut Vanye ingin memaki dan menghina manusia terbangsatt ini.


"Dengarkan aku, Van. Sampai sekarang, hidupmu masih milikku! Berusaha sekuat apapun kamu pergi, aku akan semakin menghantuimu!" tegas Satria semakin membuat Vanye takut.


Tetapi dengan keberanian kuat, akhirnya Vanye berani menampar wajah Satria. Bahkan dia juga meludahi wajah Satria agar dia bangun dari mimpinya.


"Jangan ngimpi kamu, Satria! Aku sudah tak mau denganmu, bahkan aku sudah jijik dengan sampah sepertimu! Sekarang lepaskan aku, karena aku mau pergi!" serunya sangat lantang.


Bukan Satria namanya jika tak memaksa, dengan sangat marah dia memeluk Vanye. Yang lebih parah, dia berusaha ingin mencium Vanye dan mencengkeram erat wanita di depannya ini agar diam.


Untungnya Vanye memiliki akal, dia langsung menarik tangan Satria dan menggigit tangan itu sangat kuat. Tapi sayangnya tenaga Satria lebih besar, jadi pelukan itu masih sangat erat.


Dengan gerak cepat, bibir Satria mendarat mulus di bibir Vanye. Dia terus menuntut, bahkan menggigit bibir Vanye agar terbuka dan mengikuti keinginannya.

__ADS_1


"Buka, Vanye!" teriak Satria.


Vanye menggeleng, dia tak peduli dengan siksaan Satria, sekuat tenaga Vanye menutup bibirnya dan berusaha melepaskan diri. Vanye sangat jijik bahkan ingin muntah saat ini juga.


"Vanye!" Satria geram, dia mencengkram pipi Vanye. Dia paksa Vanye membuka mulut dan setelah terbuka Satria langsung menggigit lidah Vanye hingga sang empu meringis sakit.


Tangisan Vanye pun pecah, dia merasa telah di nodai Satria. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri, apalagi nggak bisa melawan. Berharap orang-orang membantunya, tapi mereka seakan tak peduli.


"BERANI-BERANINYA KAMU MENCIUM ISTRIKU, BRENGSEK!"


Emosi Daniel berkobar, dia langsung menarik Satria hingga pagutan itu terlepas. Daniel langsung memberikan tinjuan yang bertubi-tubi, sampai Satria tak bisa menghindari semua.


Daniel terus menghajar kakaknya dengan brutal. Sedangkan Vanye yang melihat itu hanya menangis, doa merasa dirinya sangat kotor karena dicium oleh iblis bernama Satria.


Vanye memeluk tubuhnya sendiri, bahkan berusaha menghapus jejak Satria. Rasa anyir karena darah, membuat Anya mual, dan memuntahkan semua isi perutnya.


"Biadab kamu, jangan pernah sentuh istriku walaupun hanya sejengkal!" Murka Daniel lagi.


Satria mulai memberontak, dia segera mendorong tubuh Daniel dan berdiri menyeimbangkan tubuhnya. "Sialan! Kenapa kamu memukulku, aku ini kakakmu, sialan!" seru Satria.


"Kak Satria!"


Daniel terkejut melihat orang yang memaksa Vanye adalah kakaknya sendiri, yang notabene mantan kekasih istrinya. Dia tadi hanya melihat dari belakang, jadi belum paham jika orang ini adalah Satria.


"Iya, ini aku! Apa kamu sudah gila hingga mau membunuhku." Sinisnya berusaha menghapus darah yang ada di sudut bibir.


"Sebenarnya yang gila siapa? Bukannya Kakak dulu yang membuat onar, bahkan Kakak memaksa istriku, ini namanya pelecehan!" Daniel bergegas memukul Satria lagi, tapi sayangnya meleset.


"Istri?" Satria semakin bingung dengan ucapan Daniel.


"Vanye adalah istriku dan kamu seenaknya mencium dia di depan umum! Ingat, Kak! Kamulah yang meninggalkan Vanye, kenapa sekarang kamu berbuat seperti ini! Sangat tak bermoral," kata Daniel mulai tersulut emosi lagi.


"Ha ... ha ... jangan melucu kamu, Daniel. Kamu itu lebih muda dari Vanye, bahkan perbedaan umur kalian sangat jauh, jadi mana mungkin kamu menikah dengan dia," ucap Satria dengan tawaan mengejek.


"Tapi itulah kenyataannya, Kak. Vanye adalah istriku, dia milikku!" tegas Daniel sekali lagi.


Setelah itu Daniel langsung mendekati istrinya. Daniel membantu Vanye berdiri dan Daniel menghapus jejak Satria di tempat yang tadinya di sentuh oleh kakaknya.


Daniel mencium lembut bibir Vanye, dan menghapus segala kenangan buruk tadi. Daniel akan membuat Vanye, selalu mengingat dirinya apapun keadaannya.


"Akan aku hapus jejak Kak Satria dari bibirmu, Sayang. Karena hanya aku saja yang boleh mencium bibirmu ini, jika ada yang mencium bibir ini sekali lagi, aku pastikan dia akan tamat, tidak peduli jika itu Kakakku sendiri."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.

__ADS_1


Judulnya Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu Author Teh Ijo jangan lupa ya 😍😍



__ADS_2