
"Mama, mama dari mana saja? Aku pikir kita nggak akan bertemu lagi, tolong jangan seperti ini lagi ya," ucap Daniel terus menggenggam erat jemari-jemari Aily.
"Iya, Nenek jangan hilang lagi ya. Kasian Kakek Rappah dan Om Daniel, mereka sangat panik saat tahu Nenek hilang." Ramon juga ikut mendekati Aily sambil memeluknya.
"Mama nggak hilang, mama berada di rumah Tama." Aily menjawab sambil tersenyum.
"Tama?" Daniel sedikit tercengang.
"Iya Tama. Eh ...." Aily terdiam sejenak, dia baru menyadari ada yang hilang setelah mengucapkan kata Tama.
"Tama nya kok ketinggalan di tempat tadi! Anakku ayo kembali kesana, Tama-nya ketinggalan di tempat jahat!" serunya menjadi tak tenang. Dia seperti ingin keluar, tapi dicegah Daniel.
"Tama siapa, Ma? Daniel nggak paham, coba jelaskan pelan-pelan, jangan panik biar bisa menceritakan semuanya." Daniel berusaha memberi pengertian ke Aily.
Jujur, Daniel bingung dengan ucapan mamanya yang terus menanyakan Tama. Siapa Tama dan orang mana, sampai mamanya menangis tau orang itu tertinggal di rumah sakit.
"Jadi gini, Mama itu bangun tidur nggak liat kamu. Mama pikir kamu hilang lagi, akhirnya Mama cari kamu keluar," kata Aily menceritakan kejadian beberapa minggu lalu.
"Terus?"
"Mama cari kamu kemana-mana, tapi ada mobil mau nabrak Mama —"
"Apa! Mama mau tertabrak mobil? Apa ada yang lecet? Pasti Tama kan yang menabrak Mama?" Daniel terlihat panik dan langsung memeriksa kondisi Aily.
"Bukan, Tama yang menolong Mama. Katanya dia teman kamu dan juga bilang kalau kamu minta Tama jaga Mama sampai kamu pulang," kata Aily menceritakan semua.
Memang Aily terkadang sifatnya seperti anak kecil, tapi terkadang normal seperti orang biasa. Dia seperti memiliki dua kepribadian, yang sampai saat ini belum bisa sembuh karena trauma masa lalunya.
"Tapi Daniel nggak kenal sama Tama, Ma. Lain kali jangan sembarangan percaya sama orang asing dan kalau mau pergi, bilang sama orang rumah biar mereka nggak kebingungan cari-cari Mama, ya."
Aily tak menjawab, tapi pikirannya selalu ke Tama. Dia takut Tama di siksa orang-orang yang ada di rumah sakit, bayang-bayang halusinasi pun mulai merasuki pikiran Aily.
"Tapi Tama nanti di pasung orang jahat," ucapnya sambil menangis.
"Nggak ada orang jahat, Ma. Yakin sama aku, Tama pasti baik-baik saja." Daniel langsung memeluk mamanya, dan berusaha menenangkannya. Tak lama setelah itu, Rappah masuk dengan nafas ngos-ngosan seperti habis berlari kencang.
"Astaga, Aily! Kamu dari mana saja, Sayang! Kakak mencarimu kemana-mana sampai lapor polisi juga, tapi kamu tetap nggak ketemu!" seru Rappah merasa sangat lega.
__ADS_1
Beberapa hari ini dia sampai tak pulang ke rumah hanya mencari Aily, menyusuri banyak jalanan dan perkampungan tapi juga tak kunjung ketemu.
"Kenapa Paman nggak jujur dengan aku, kalau sebenarnya Mama hilang?" Daniel terlihat marah.
"Maafkan Paman, Daniel. Semua Paman lakukan agar kamu nggak panik dan bisa lebih fokus pada Dona," kata Rappah terlihat sekali sangat menyesal.
"Tapi jika Mama nggak ketemu bagaimana, Om! Apa selamanya akan tetap dirahasiakan tanpa memberitahuku!" bentak Daniel.
Dia benar-benar tak bisa menahan emosinya, karena menurut Daniel ini bukan main-main mengingat kondisi mamanya tak seperti orang normal lainnya.
"Anakku, jangan marah-marah. Mama takut," lirih Aily.
Mendengar itu Daniel langsung menarik nafas panjang dan berusaha menetralisir kemarahannya, sekuat mungkin dia mencoba tersenyum agar mamanya tidak takut lagi.
"Maaf, Daniel terlalu kesal. Sekarang Mama masuk kamar, biar Ramon membantu Mama membereskan baju, kita akan ke Jakarta dan selama proses persidangan kita akan tinggal di sana."
***
"Kamu beneran mau pindah ke Jakarta, Daniel?" tanya Pamukas.
"Iya, sampai proses hukum Doni selesai dan menemukan titik terang," balas Daniel. Dia sengaja mampir ke rumah makan terlebih dulu, karena kemungkinan usahanya akan di pegang kendali oleh Pamukas juga Zac.
"Kamu benar, Zac. Untung saja Mama masih hidup, kalau nggak mungkin aku merasa sangat bersalah sekali karena belum bisa membahagiakannya." Daniel pun menoleh ke arah sofa, di sana mamanya tengah bermain dengan Ramon. Wajah bahagianya mampu membuat hidupnya berwarna.
"Anakku, lihatlah ini. Mama mau makan ini, Anakku," ucap Aily terus melambai-lambai tangannya agar Daniel mendekat.
Daniel pun mengangguk, dia mendekati mamanya dan melihat gambar yang di maksud. "Mama mau makan ini?" tanya Daniel.
"Mau anakku, mau!" Aily bersorak bahagia.
"Kalau seperti itu tunggu sebentar, aku pesankan sama orang dapur. Kamu mau juga, Ramon? Biar Om sekalian pesankan," kata Daniel.
"Boleh, Om?"
"Tentu saja boleh, Nak. Apapun yang kamu mau bilang saja, biar Om pesankan," balas Daniel sambil mengacak-acak rambut Ramon.
Daniel merasa senang melihat perubahan Ramon, dulu saat mereka bertemu bocah di hadapannya ini seperti tak terurus, sekarang terlihat sangat tampan dan juga gemukan.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku mau makan ini Om." Ramon menunjuk ke menu ikan gurami asap. Daniel mengiyakan permintaan Ramon, setelah itu dia segera ke dapur untuk memesankan pesanan mereka.
"Mel, tolong pesankan Gurami asap sama udang asam manis ya. Nanti kamu kasih ke mereka, tolong layani dengan baik," kata Daniel.
"Baik Pak." Meli terlihat cari-cari perhatian sekali pada Daniel. Namun, Daniel tak menanggapi dia dan lebih memilih kembali ke teman-temannya.
"Hey, mereka siapa sih kok pak Daniel sepertinya sangat menyayangi mereka?" tanya Meli pada Lili.
"Mana aku tau, Mel. Sudah ah jangan banyak ghibah, takutnya seperti dulu kita salah paham. Mungkin saja itu keluarga pak Daniel," jawab Lili sudah trauma bertindak tak sopan pada keluarga bosnya.
"Ish, masa orang idiott seperti itu keluarga pak Daniel. Nggak mungkin lah," ucap Meli sambil berlalu.
Sebenarnya dia sangat malas melayani orang gangguan mentall, tapi karena ini perintah orang yang sangat dia sukai, maka Meli harus memperlihatkan keseriusannya.
Setelah memesankan makanan dan hidangan sudah matang, Meli segera menghampiri meja Aily. Di situ Meli berusaha bersikap ramah, tapi sayangnya kesabarannya diuji.
Dengan sengaja, Aily melemparkan saus asam manis ke wajahnya sambil bersorak senang. Meli berusaha menahan, tapi lama-lama dia kesal dan melemparkan udang asam manis ke atas kepala Aily.
Meli benar-benar tak peduli pandangan orang lain, yang jelas dia ingin bertindak sesuka hatinya karena merasa Daniel akan memaafkannya nanti.
"Rasakan ini! Kalau gila nggak perlu datang ke tempat makan besar, sana pergi ke rumah sakit jiwa!" seru Meli.
"Kakak, jangan seperti itu!" teriak Ramon ingin menghalangi Meli.
"Minggir bocah ingusan!" Meli mendorong Ramon dan kembali melanjutkan akhirnya mempermalukan Aily.
"Lagi, lagi! Hore hujan udang," ucap Aily kegirangan. (Ya ampun Aily 😭😭😭)
"Dasar orang stres!"
"Meli!"
Plakkk!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
__ADS_1
Judulnya SUAMIKU BUKAN MILIKKU Author ZAFA jangan lupa ya 😍😍