Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 63. Bayi Kembar


__ADS_3

Sejak Dimas mengultimatum Daniel dua manusia itu hanya duduk diam di ruang tunggu, tak ada yang saling bertegur sapa sama sekali. Mereka juga terus bergelut dengan perasaan masing-masing, antara menyesal telah membuat Vanye masuk rumah sakit serta rasa menyesal telah mengucapkan kata-kata ancaman pada Daniel.


Untungnya semua tak berlangsung lama karena seorang perawat tiba-tiba keluar sambil berkata, "keluarga bu Vanye!"


"Kami, Sus!" Dimas segera berdiri.


"Bagaimana keadaan istri saya? Apa dia baik-baik saja, suster?" Daniel juga tak ingin kalah dari Dimas.


"Bu Vanye sudah di pindah ke kamar inap. Sementara waktu beliau harus Bedrest total, agar kandungannya tidak bermasalah lagi," balas suster.


Diam, dua lelaki itu pun seketika diam tanpa kata. Mereka seperti tidak percaya akan berita yang diberikan oleh perawat, apalagi mengingat beberapa hari lalu Vanye sempat haid meski hanya satu hari saja.


"Apa ini Daniel! Vanye hamil tapi kamu nggak memberi kabar!" marah Dimas tapi langsung dapat gelengan dari Daniel.


"Pa, aku nggak pernah merahasiakan apapun. Ini susternya salah informasi mungkin, jelas-jelas Vanye sempat haid beberapa hari lalu," balas Daniel tak percaya.


Perdebatan kecil mereka pun membuat perawat tersenyum melihat kebingungan dua orang di depannya. "Pak, bu Vanye memang sedang mengandung. Dokter baru saja melakukan pemeriksaan, dan kandungan istri anda masuk Minggu ke delapan. Kalau tidak percaya tanya sama dokter," balas sang perawat.


Daniel masih tak percaya, dia langsung mendudukkan dirinya dan berusaha mengingat perlakuan Vanye akhir-akhir ini.

__ADS_1


Sering mual, muntah, marah-marah gak jelas, emosi meletup-letup, curigaan ternyata semua itu ada sebabnya.


"Jelas beberapa minggu ini moodnya sangat hancur, ternyata Daniel junior mulai tumbuh subur di dalam rahim istriku."


***


Daniel terus tersenyum bahagia saat dokter melakukan USG pada Vanye, Daniel melihat dengan jelas calon anaknya itu terus bergerak-gerak di dalam sana dan yang membuat semakin bahagia saat dokter mengatakan bayi mereka kembar.


Sungguh hatinya sangat senang, Daniel juga tak memperdulikan tentang pertanyaan dokter apakah mereka memiliki atau mempunyai saudara kembar. Dengan tenang, Daniel menjawab tidak tahu karena dia sendiri tak tau tentang silsilah keluarganya.


Sedangkan Vanye, dia tak ada keturunan atau sanak saudara kembar. Berarti ini semua dari Daniel, namun dia tak begitu memikirkan. Yang terpenting saat ini kandungan Vanye baik-baik saja.


"Semua sehat, tapi janinnya sedikit lemah. Bu Vanye harus istirahat total ya, jaga kandungannya dan harus jaga pola makan agar bayi kalian mendapatkan nutrisi lengkap," jelas Dokter Anna.


"Baik, Dok," balas Daniel tak ada henti tersenyum. Sungguh hatinya sangat bahagia, dia akan menjadi seorang ayah. Ayah dari bayi kembar yang sangat menggemaskan nantinya.


Selesai pemeriksaan, Daniel memutuskan untuk menebus obat istrinya. Untungnya dokter sudah memperbolehkan Vanye pulang, jadi setelah obat tertebus mereka langsung pulang.


Sesampainya di rumah Dimas menyuruhnya Vanye untuk istirahat, dia juga mengomel panjang lebar agar Daniel tak melakukan kesalahan. Bahkan Daniel tak menganggap serius ucapan mertuanya, karena semua orang tua pasti akan posesif jika anaknya sedang mengandung.

__ADS_1


"Kamu mau apa, aku akan membelikannya untukmu," ucapnya sangat lembut. Daniel terus mengelus lembut perut rata Vanye, dan mencium lembut perut itu.


"Aku nggak ingin apa-apa, Daniel. Aku hanya ingin peluk saja, tapi Papa masih ada di sini. Jadi, nanti saja setelah Papa pulang," ungkap Vanye tersenyum malu.


Entah kenapa saat ini dia ingin sekali dipeluk, bahkan Vanye ingin tidur di ketiak Daniel. Rasanya pasti sangat nikmat dan hangat.


"Sabar ya, nggak mungkin dong aku ninggalin Papa. Apalagi, Papa habis dari luar negeri pasti ada hal penting yang akan dibahas. Kamu istirahat saja, aku akan temui Papa," balas Daniel.


Setelah itu Daniel merebahkan tubuh Vanye dan tak lupa dia menyelimuti istrinya. Sebelum pergi, Daniel sempat mencium lembut puncak kepala Vanye sebagai syarat agar istrinya tak merindukannya nanti.


"Aku tinggal dulu," bisiknya sebelum pergi.


"Cepat sana pergi, dari tadi pamit terus," balas Vanye tersenyum lembut.


Daniel balas tersenyum, rasanya berat meninggalkan Vanye. Tapi dia harus keluar, untuk sekedar basa-basi dengan mertuanya.


"Aku keluar nie," ucapnya lagi.


Vanye menaikan kedua bola matanya dengan kesal, dia bahkan sampai melempar boneka ke arah Daniel sambil berkata. "Cepat keluar!"

__ADS_1


"Iya iya sayang! Ini aku keluar, selamat istirahat istriku," ucapnya semakin membuat Vanye geli sendiri mendengarnya.


Tanpa menunggu Vanye marah lagi, Daniel segera pergi dari hadapan istrinya. Semua karena Vanye akan melemparkannya dengan bantal, jadi dengan cepat Daniel keluar dari kamar.


__ADS_2