
Dua minggu berlalu begitu cepat, kini kondisi Dona sudah semakin pulih dan proses hukum berjalan dengan lancar. Setelah beberapa kali melakukan pemeriksaan penyidik, sekarang mereka membutuhkan keterangan dari korban pemerkosaan. Sebab itulah Daniel memutuskan pulang ke Bandung sendiri, untuk menjemput mamanya.
Selama dia di Jakarta, Daniel tak pernah berbicara langsung dengan Aily meski sering kali Daniel menghubungi Rappah. Pamannya itu selalu beralasan jika Aily tengah tidur dan tak bisa diganggu, sampai terbesit rasa curiga di benak Daniel.
"Mama, aku pulang Ma." Daniel masuk ke dalam rumah dan langsung mencari keberadaan Aily.
"Ma ...." Daniel terus mencari sampai masuk ke dalam kamar, semua orang juga tak ada dan ini membuat Daniel khawatir.
"Kemana sih mereka ini!" serunya amat kesal.
Daniel mencoba menghubungi Rappah, tapi berkali-kali panggilan tersambung tak sedikitpun diangkat.
"Om ...."
Daniel menoleh ke arah pintu, disana terlihat Ramon tengah berdiri di ambang pintu sambil menangis.
"Ramon, ada apa Nak? Kenapa kamu menangis, apa terjadi sesuatu?" tanya Daniel mulai merasa ada yang tak beres.
"Nenek." Ramon menangis lagi.
"Nenek kenapa? Kakek Rappah kemana? Kok hanya ada kamu di rumah," ucap Daniel semakin merasa tak karuan.
"Nenek hilang dan Kakek Rappah belum kembali, katanya mencari Nenek sampai ketemu."
Deg!
Rasanya jantung Daniel terasa berhenti berdetak. Mendengar namanya hilang seketika otaknya bleng, kenapa dia baru tau dan pamannya tak berterus-terang akan hal ini.
"Sejak kapan Nenek hilang?" Pandangan Daniel seketika kosong.
"Sejak beberapa jam Om pergi dari rumah, maaf aku nggak bisa menjaga nenek. Ini semua salahku," ucap Ramon menyalahkan diri sendiri.
Daniel tak menjawab, tubuhnya mendadak lemas sehingga dia memilih duduk di atas sofa. Kepalanya berdenyut sakit, masalah baru mulai datang padahal yang dulu belum selesai.
"Om, om baik-baik saja?" tanya Ramon.
"Kepala om sakit sekali, Ramon." Daniel terus memijat keningnya. Terasa berat sekali hidupnya, padahal baru saja dia bertemu dengan orang tua kandungnya.
"Aku ambilkan minum, tunggu sebentar."
Ramon segera meninggalkan Daniel dan menuju dapur, dengan cepat dia mengambil air minum meski kini tangannya bergetar hebat karena takut, takut jika Daniel sudah tak menginginkan dia lagi.
"Om minum ini dulu, mungkin bisa menghilangkan rasa sakit kepala yang Om rasakan." Ramon menyodorkan segelas air, tapi Daniel menolak.
Daniel memilih berdiri dari duduknya meski kondisi tubuhnya sangat tak memungkinkan, dengan kaki lemas Daniel berusaha berjalan sampai akhirnya semua menjadi gelap gulita dan tubuhnya ambruk ke lantai.
"Om!"
__ADS_1
***
"Kita mau kemana?" tanya Aily terus menggandeng tangan Tama. Dia terus menatap ke sembarang arah dan merasa takut dengan orang-orang yang berlalu lalang.
"Kita mau priksa, Sayang." Tama memanggil Aily dengan sebutan sayang.
"Siapa yang sakit? Kamu sakit?" Aily bertanya begitu polosnya sehingga membuat Tama gemas sendiri.
"Nggak ada yang sakit, tapi kamu harus menjalani beberapa pemeriksaan untuk melihat kondisi badanmu," balas Tama terus mengacak-acak rambut Aily.
Aily tak menjawab, dia hanya mengikuti langkah kaki Tama sampai mereka masuk ke salah satu ruangan.
"Akhirnya datang juga kamu," ucap lelaki bernama Aldi itu.
"Kejebak macet," balas Tama sambil membenarkan kursi yang akan diduduki Aily.
"Jadi dia istrimu?" Aldi terus menatap Aily sampai membuatnya tak nyaman.
"Tama, ayo pulang," rengek Aily.
Dia takut dengan tatapan Aldi sehingga membuatnya berdiri dan bersembunyi di belakang Tama.
"Jangan takut, dia yang akan menyembuhkanmu," bujuk Tama.
"Nggak mau, dia jahat, ayo pulang," rengeknya lagi sampai menangis.
"Sayang, lihat aku. Kamu percaya kan sama aku?" Tama terus menenangkan Aily.
"Kalau kamu percaya, kamu juga harus percaya sama dokter. Dia baik kok, nggak jahat, percaya sama aku," ucapnya lagi.
Aily menggeleng, dia sudah trauma akan namanya dokter, apalagi dulu dia selalu di pasung karena tak mau minum obat.
"Aku takut, mereka pasti mengurungku seperti dulu, aku nggak mau."
Aldi pun memilih menghampiri Aily, dia melihat istri temannya ini memiliki trauma tentang penangan rumah sakit, jadi dia harus pelan-pelan mengambil hatinya.
"Jangan takut, aku orang baik." Aldi ingin memegang pundak Aily, tapi dia malah berteriak dan semakin menyembunyikan dirinya di belakang Tama.
"Nggak mau, kamu orang jahat!" serunya langsung melarikan diri.
Tama panik, dia berusaha mengejar Aily yang terus berteriak sambil berlari. Berkali-kali Tama melihat Aily menabrak seseorang, sampai akhirnya terjatuh.
"Aku nggak mau kesana, aku nggak mau!" teriak Aily semakin keras.
Tama pun memeluk erat Aily, dia berusaha menenangkan istrinya dan memberikan pengertian. "Tenanglah, Sayang. Ada aku, kamu jangan takut."
"Dia orang jahat, aku nggak mau bertemu dia."
__ADS_1
"Baiklah, kita pulang saja kalau begitu. Tapi kamu harus tenang, bisa kan?" tanya Tama.
"Kita pulang?" Aily masih ketakutan dan melirik kesana-kemari.
"Iya, kita pulang. Ayo berdiri, kita pulang sekarang."
Aily segera berdiri, dia berjalan sangat pelan sambil mengapit tangan Tama. Dia merasa semua orang jahat, bahkan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa meluluhkan Aily.
"Tunggulah disini, aku ambil mobil dulu. Jangan kemana-mana, ingat pesanku jangan kemana-mana." Aily mengangguk.
Meski dia takut tapi tetap mengikuti apa kata Tama. Tak beberapa lama Tama pergi, Aily berdiri dari duduknya. Dia seperti melihat orang yang Aily kenal, sehingga dia langsung berlari menghampiri orang itu.
"Cucuku, cucuku!" teriak Aily sambil melompat-lompat kegirangan.
"Nenek!" Ramon sangat terkejut melihat Aily berlari ke arahnya. Dengan cepat Ramon menghampiri Aily dan memeluknya erat.
"Nenek kenapa saja? Kami mencari Nenek kemana-mana," ucapnya sambil menangis. Rasanya sangat lega sekali, dia sudah bertemu dengan Aily.
"Nenek tersesat, nggak tau jalan pulang saat mencari anak Nenek," balas Aily terus tertawa.
"Syukurlah Nenek baik-baik saja. Sekarang ayo ikut Ramon masuk, om Daniel masuk rumah sakit, dia pingsan setelah tahu nenek menghilang," kata Ramon terus menuntun Aily masuk ke UGD.
"Anakku sakit?"
Ramon mengangguk. "Mungkin Om shock sekaligus kelelahan mencari Nenek, yang penting sekarang Nenek baik-baik saja," ucapnya lagi.
Mereka pun masuk ke dalam untuk melihat keadaan Daniel. Sedangkan di sisi lain, Tama terlihat panik saat tak melihat Aily. Dia panik setengah mati dan takut jika istrinya kenapa-napa.
"Aily!" teriak Tama seperti orang kesehatan. Dia terus berlari menelusuri rumah sakit, tapi sayangnya dia tak menemukan keberadaan Aily.
"Pak, istriku hilang! Tolong perlihatkan CCTV rumah sakit," kata Tama.
"Namanya siapa, Pak? Biar kami membuat pengumuman terlebih dulu, barangkali istri anda masih ada di dalam rumah sakit," kata Security.
"Aily, namanya Aily."
Security pun menganggukkan kepala, secepat mungkin mereka membuat pengumuman dan menunggu hasilnya. Hingga setengah jam berlalu tak ada kepastian, membuat Tama kesal dan marah. Dia ingin melihat CCTV langsung, agar bisa menemukan istrinya.
"Bapak ikut kami ke ruang kontrol, kalau bisa yang tenang karena semua butuh proses."
Tama tak menjawab, dia terlalu kesal dan takut kalap. Jadi Tama memilih diam, sampai akhirnya dia tau keberadaan istrinya melalui rekaman CCTV. Dengan cepat Tama berlari menghampiri istrinya, tapi langkanya kalah cepat karena Aily sudah lebih dulu keluar dari rumah sakit dengan mobil putih.
"Aily!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
__ADS_1
Judulnya JAMUR, JANDA MUDA DIBAWAH UMUR Author RAMANDA jangan lupa ya 😍😍