Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 8. Ini Yang Terbaik


__ADS_3

"Akhirnya selesai juga, rasanya sangat lega dan aku bisa pulang memberi tau Mama tentang semua ini. Semoga pengorbananku tak sia-sia, semua akan membaik jika aku melakukan ini," ucap Daniel sangat lega bisa menyelesaikan urusan keluarganya.


Meski, masalah perusahaan masih dalam proses, tapi dia sangat bersyukur calon mertuanya mau mengembalikan semua kecuali perusahaan Satria. Dimas masih ingin memberi pelajaran bagi Satria dan juga mau melihat sampai mana anak itu bertahan tanpa harta.


Ting!


Satu pesan pun masuk kedalam ponselnya, dengan cepat Daniel melihat siapa yang mengirim pesan dan betapa terkejutnya dia saat melihat nama Vanye di layar ponselnya.


"Baru saja saling tukar, sekarang sudah kirim pesan," gumam Daniel sambil membuka chat Vanye.


"Hey, Ingat! Walaupun aku setuju tapi, itu terpaksa! Ingat satu hal, kita hanya menikah di atas kertas, nggak ada yang namanya satu kamar atau adegan terlarang. Intinya kita akan menjalani hidup masing-masing setelah menikah, camkan ini bocah!"


Seketika Daniel tertawa, benar kata papa mertuanya kalau Vanye itu wanita manja juga labil. Buktinya dia mengirim pesan seperti anak kecil, yang takut di culik om-om tajir.


"Ck! Ngakunya tua, tapi sifatnya masih anak-anak. Dasar wanita, selalu saja mau menang sendiri."


Daniel tak mau membalas pesan Vanye, dia membiarkan Vanye mati penasaran dengan balasan darinya. Bagi Daniel yang lebih penting sekarang memberitahu kedua orang tuanya tentang masalah pernikahannya nanti, setelah beres barulah dia akan menggoda calon istrinya.


***


Derap langkah Daniel terdengar sangat jelas di indera pendengar Dona dan Doni, mereka langsung berdiri ketika melihat Daniel memasuki rumah dengan wajah yang sangat bahagia. Mereka berharap ada kabar bahagia, dan sangat berharap Daniel bisa menyelesaikan masalah yang terjadi.


"Ma, Pa, aku pulang," ucap Daniel sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


“Sayang bagaimana? Apakah mereka masih marah, apa kamu di caci maki?” tanyanya sangat khawatir. Dona takut, jika mereka melukai Daniel atau menyakiti hatinya.


“Mama tenang saja, semua sudah beres. Sekarang Mama harus tersenyum, jangan panik nanti Mama jadi jelek,” canda Daniel sambil terkekeh.


“Bagaimana Mama bisa tenang, jika kamu nggak ada kabar. Mama takut kamu di apa-apain sama mereka,” balas Dona sambil mengelus lembut pipi Daniel. Jujur, Dona tak mau sampai anaknya kenapa-napa. Cukup dia yang mengalami penderitaan, jangan Daniel.


“Pa ... Ma … ada yang ingin Daniel sampaikan, apa kalian punya waktu?” tanya Daniel merasa ini waktu yang tepat untuk jujur. Pernikahan hanya tinggal satu hari lagi, jadi Daniel harus mengatakan semua sebelum terlambat.


“Tentu kami punya waktu Sayang, dari tadi kami belum tidur menunggu kabar darimu,” jawab Dona.

__ADS_1


“Betul apa kata Mamamu, kami menunggu kabar darimu. Jadi jelaskan apa yang terjadi," sahut Doni sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


Daniel pun mengajak kedua orang tuanya duduk di sofa, setelah itu Daniel berjongkok sambil menggenggam tangan mamanya.


Dona semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan Daniel, dia hanya bisa memohon agar anaknya itu segera bicara, agar tak membuatnya penasaran.


“Daniel sudah bicara baik-baik sama mereka, dan pernikahan akan tetap berlangsung,” kata Daniel.


Terkejut, itu ekspresi kedua orang tuanya. Mereka bingung kenapa Daniel berkata seperti itu, padahal jelas-jelas pernikahan tak akan pernah bisa terjadi jika Satria tak ada.


“Apa maksudmu, Daniel? Apa kakakmu sudah kembali hingga pernikahan tetap berlangsung!” seru Dona amat bingung.


Daniel menggeleng lembut, dia rapuh kembali tangan Dona dan mencium lembut punggung tangan mamanya.


“Kakak belum kembali. Mungkin nggak akan kembali, Ma. Namun pernikahan itu akan tetap terjadi dan yang menikahi Vanye adalah aku. Aku akan menggantikan kakak di pelaminan nanti,” jelas Daniel membuat kedua orang tuanya terkejut. Bahkan Dona langsung berdiri sehingga genggaman tangan dari Daniel terlepas begitu saja.


Sedangkan Daniel hanya tersenyum kecil sambil menggigit pipi dalamnya. Daniel sudah mengira ini akan terjadi, tidak muda bagi orang tuanya mendengar kabar seperti ini.


Namun, mau bagaimana lagi? Semua harus terjadi, apalagi pernikahan itu sudah di depan mata. Daniel tak mau melukai dua keluarga atau menghancurkan martabat mereka.


“Daniel sadar seratus persen, Pa. Ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan reputasi Papa Dimas dan Papa. Yakinlah ini jalan terbaik, Vanye pun juga sudah setuju," jawab Daniel.


Seketika Doni mengusap wajahnya sangat kasar, dia merasa kesal, marah jadi satu. Dia tak mengira, anaknya akan membuat keputusan tanpa berunding. Bahkan yang lebih parah, keluarga calon besannya menyetujui semua itu. Ini sungguh gila, dan membingungkan.


“Sayang kamu nggak perlu melakukan semua ini. Kamu dan Vanye sangat berbeda jauh, dia lebih tua darimu, apa kamu nggak malu nantinya?” tanya Dona mencoba memberi tau perbedaan mereka.


Dia sama sekali tak mau anaknya menyesal di kemudian hari, jadi lebih baik hancur daripada mengorbankan Daniel. Toh semua sudah terjadi, mau dipertahankan juga percuma.


"Kenapa harus malu, Ma? Sebuah hubungan nggak harus dilandasi umur seseorang, menurut Daniel umur nggak jadi masalah, yang penting keyakinan masing-masing. Daniel yakin menikah dengan Vanye dan ingin membuka lembaran baru bersama Vanye," jelas Daniel sangat lembut.


Dona sungguh tak mengira ternyata pemikiran anak terakhirnya ini sangat dewasa, beda dengan Satria yang notabene anak pertama. Sifat mereka seakan terbalik dan Dona merasa anak pertamanya itu Daniel bukanlah Satria.


Dari dulu Daniel selalu hidup mandiri, sedangkan Satria? Dia selalu mencari kesenangan dan kepuasan batin di luar sana. Seringkali mempermainkan wanita hanya karena trauma masa lalunya dan ini semakin membuat Dona sedih melihat kondisi putranya sekarang.

__ADS_1


“Tapi bagaimana dengan, Lifta? Dia masih kekasihmu Daniel, apakah kamu akan mengorbankan cintamu? Apa sedikitpun nggak ada niatan memperjuangkan dia?" tanya Dona.


"Benar kata mamamu, Papa nggak mau di sampai sakit hati karena keputusanmu ini," jelas Doni.


“Buat apa diperjuangkan, jika di saat aku ingin berjuang dia malah selingkuh. Aku sempat berfikir di jalan, sangat lucu takdir mempermainkan kita. Aku di tinggalkan orang yang aku cintai, sedangkan kakak meninggalkan orang yang sangat mencintai dia. Bukankah kita jodoh, Pa,” jawab Daniel sambil tersenyum sinis.


Tetapi setelah itu Daniel kembali berbicara. “Mungkin saja jalan takdir Daniel seperti ini, jadi aku mohon restui hubungan kami,” ucapnya sekali lagi.


Dona pun menangis mendengar jawaban Daniel, dia memeluk erat putranya dan berkata, "Mama bangga sekali sama kamu Daniel, pemikiranmu sangat bijak, beda dengan Satria padahal dia lebih tua darimu," ucapnya sambil menangis.


"Jangan menangis lagi, Ma. Semua sudah selesai, lupakan kakak, jangan terlalu memikirkan dia. Kakak sudah dewasa dan sudah paham tujuan hidupnya untuk apa," balas Daniel sangat lembut.


Doni yang melihat semua ini merasa sangat malu. Dia malu pada dirinya sendiri, anak yang selalu dihina ternyata menjunjung tinggi martabat keluarganya.


Sedangkan anak yang sangat dia bangga-banggakan tak sejalan dengan pikirannya, selalu membuat ulah, bahkan membuat mereka selalu di labrak orang karena sifat playboy nya.


Anda saja Daniel bukan hasil dari kesalahan terbesarnya, mungkin Doni akan sangat menyayangi Daniel. Namun masa lalu kelam, membuat dia semakin benci dengan Daniel.


Doni merasa sangat kesal, marah, bahkan benci jika melihat Daniel berada di dekatnya. Ingin sekali dia berdamai dengan semua, tapi sayang tidak bisa.


“Daniel, selama ini Papa tak pernah memandang mu dengan serius. Papa selalu meremehkanmu dan membangga-banggakan Satria. Tetapi nyatanya kamu yang menjunjung tinggi orang tua," ucap Doni sangat menyesal.


“Satria yang selalu Papa bangga-banggakan, malah membuat malu keluarga. Sungguh maafkan Papa Daniel,” ucapnya sekali lagi.


Setelah itu Doni memeluk anaknya. Dia menangis sejadi-jadinya, juga sangat lelah menghadapi sikap Satria jika terus-menerus seperti ini.


Doni saat ini butuh sandaran, dan sandaran itu terletak pada Daniel. Anak yang tak pernah dia banggakan, selama ini.


“Daniel sudah memaafkan Papa dari dulu. Walaupun Papa meremehkan Daniel, tapi aku tak pernah membenci Papa. Daniel juga nggak mau Mama-Papa malu menanggung semua ini, kalian adalah hidup dan mati Daniel. Mungkin kini waktunya Daniel membalas budi." Daniel pun akhirnya ikut menangis.


Apalagi ini kali pertama Doni mau memeluknya. Dari kecil Daniel sangat merindukan pelukan papanya, namun Doni tak pernah memperlakukan Daniel dengan baik. Cacian, makian yang selalu Daniel dapat dari dulu. Jadi, jika Doni sekarang berubah, dia sangat bersyukur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Dear pembaca, jika kalian melihat ada adegan sama, dengan satu nopel jangan nuduh aing plagiat ya 😄😄


dasarnya, Ini novel pernah terbit diakun satunya, tapi memerlukan revisi jadi ku ulang disini. awas aja, nuduh aku tak pecat jadi anak 😆😆


__ADS_2