
Pagi harinya, Vanye sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Kini dia sudah bisa sedikit-sedikit memasak, meski hanya makan ringan.
Semua berkat kelas memasak yang direkomendasikan suaminya, dia kini bisa merasakan bagaimana nikmatnya menjadi seorang istri. Bahkan Vanye juga merasakan betapa senangnya, ketika Daniel memuji masakannya meski kurang garam.
"Duh, istriku rajin sekali pagi ini."
Vanye tersentak kaget, ketika Daniel tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Kebiasaan deh, kalau aku jantungan gimana!" serunya amat kesal.
"Amit-amit, Sayang. Jangan sembarangan ngomong, ucapan itu doa dan aku nggak mau sampai kamu sakit," protes Daniel langsung membalikkan badannya.
"Kalau begitu jangan sering-sering ngagetin aku, Sayang." Vanye pun menoelkan tepung terigu ke hidung Daniel sampai meninggalkan bekas di sana.
"Vanye!"
"Ha ha ha, kamu lucu kalau seperti ini!"
Vanye terbahak-bahak melihat wajah Daniel, dia sangat bahagia melihat itu. Namun, suaminya juga menulis niat jahil juga sehingga Daniel mengambil tepung terigu dan langsung mengucapkan ke seluruh wajah istrinya.
"DANIEL!!" Vanye berteriak keras.
"Ha ha ha, impas kan sekarang," balas Daniel masih tertawa.
"Curang! Aku hanya sedikit, tapi kami malah banyak seperti ini! Nggak mau tau pokoknya kita harus seimbang!"
Vanye pun segera mengambil tepung terigu ukuran setengah kilo itu dan bersiap melemparkannya pada Daniel, tapi sayangnya Daniel berlari menghindari serangan Vanye sehingga mereka berdua lari-larian di dapur.
"Daniel berhenti kamu!"
Seluruh ruangan pun penuh dengan tepung terigu, sebelum Daniel kena Vanye tak akan lega sampai akhirnya dia mendapatkan kesempatan melempar. Tapi, sayangnya dia salah sasaran dan ternyata mengenai seorang lelaki yang baru saja masuk.
"Astaga!"
"Papa!"
Teriak mereka bersamaan. Vanye yang tau lemparan nya salah sasaran langsung mendekati Dimas, namun ketika Vanye berlari kakinya terpeleset bekas tepung terigu. Untung saja Dimas sangat gesit, sehingga Vanye tertangkap ke dalam pelukannya.
"Pelan-pelan, Van!" tegur Dimas.
__ADS_1
"He he he, maaf. Ya ampun muka Papa putih semua!" Vanye segera melepaskan pelukan papanya dan berusaha membersihkan wajah Dimas, tapi usahanya sia-sia karena tepung terigu semakin merata sehingga terlihat seperti memakai bedak putih.
Daniel yang melihatnya saja sampai mau terbahak, namun berusaha untuk menahan takut mertuanya tersinggung. Belum tertawa saja dia sudah mendapat tatapan tajam, seperti ingin membunuh.
"Uhuk! Kalian ini sudah dewasa, tapi kenapa seperti anak kecil. Main-main seperti ini juga sangat membahayakan, apalagi tepung terigu itu sangat licin kalau kena lantai." Dimas berusaha terlihat biasa saja, tapi jauh dalam hatinya sangat malu sekaligus ingin tertawa. Bagaimana tak tertawa jika melihat anak dan menantunya putih semua, wajah asli mereka saja tak nampak.
"Bercanda dalam suatu hubungan itu wajar, Pa. Ini namanya bumbu-bumbu pernikahan, kalau kita hanya diam saat jatuhnya nanti monoton dan tak memiliki hal manis untuk diingat saat masa tua nanti," balas Daniel langsung menarik Vanye agar mendekat dengannya.
Jujur melihat papa mertuanya memeluk istrinya penuh kasih sayang dia menjadi cemburu, meski dia paham itu pelukan seorang ayah, tapi Daniel tak rela tubuh istrinya di pegang-pegang lelaki lain.
"Ck, dia anakku Daniel! Kamu harus ingat itu, jadi terserah aku mau memeluknya atau bagaimana!" Dimas menarik anaknya kembali.
Tanpa dikasih tau Dimas tau kalau menantunya tak rela Vanye dipeluk orang lain, tapi kan Dimas juga ingin memeluk Vanye, apalagi sudah beberapa minggu tak bertemu.
"Tapi dia sekarang istriku, aku nggak rela Vanye di peluk lelaki lain!" Daniel ingin merebut istrinya lagi, tapi di tahan Dimas.
Vanye kini jadi bahan tarik-menarik kedua lelaki posesif di depannya, dari tadi kedua tangannya selalu di tarik sana-sini, sehingga membuat Vanye memutar kedua bola matanya kesal.
"Stop! Aku bukan tali tambang yang bisa kalian tarik terus-menerus sampai mendapatkan pemenangnya! Sakit tau!" serunya langsung menepis kedua tangan lelaki di depannya.
Dimas dan Daniel pun menurut, setelah itu mereka terkejut karena Vanye memeluk mereka secara bersamaan sangat erat. "Seperti ini kan enak, kita sama-sama berpelukan seperti teletubies," kata Vanye.
Namun, sedetik kemudian Vanye merasa pengap karena mereka membalas pelukannya terlalu erat. Dia seperti terjepit dua pintu, sehingga membuatnya kesulitan bernafas.
"Lepas! Lepas! Aku nggak bisa bernafas!" Vanye sangat panik. Untung saja mereka segera melepaskan pelukannya dan dia bisa bernafas lega.
"Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Dimas.
"Iya, apa kamu baik-baik saja?" Daniel ikut menyahut.
"Sepertinya pelukan bertiga bukan ide bagus, kalian sama-sama mau menang sendiri sampai mau membunuhku barusan. Sudah, jangan bahas peluk-peluk terus. Lebih baik Papa dan kamu bersihkan badan dulu," ucapnya mendorong kedua manusia itu ke arah kamar mandi masing-masing.
Mereka berdua tak bisa melawan, jika melawan pasti Vanye akan menjadi galak dan lebih memilih menurut. Sedangkan Vanye, sambil menunggu mereka bersih-bersih dia memanggil bu Patmi untuk membantunya membersihkan semua kekacauan di dapur.
***
"Van, kapan kamu memberikan Papa cucu?"
__ADS_1
Dieng!!
Pertanyaan ini akhirnya datang dan langsung menerjang relung hatinya. Vanye sudah memprediksi ini dari jauh-jauh hari, pasti papanya akan bertanya akan hal ini.
"Emm ... sabar ya, Pa. Kita masih berusaha kok, pasti nanti dapat cucu," balas Vanye gelagapan.
"Sabarnya sampai kapan? Ini sudah mau enam bulan pernikahan kalian loh, masa belum ada tanda-tanda? Papa sudah pengen gendong cucu," keluhnya lagi.
Namun, Vanye malah terlihat sangat bersalah. Papanya hanya ingin seorang cucu, tapi dia belum pernah melakukannya dengan Daniel, bagaimana bisa dapat cucu.
"Sabar dulu ya, Pa. Mungkin belum waktu kita di kasih anak, jadi Papa harus sabar. Ini Daniel mau ajak Vanye honeymoon beberapa hari lagi, barangkali setelah pulang dari bulan madu langsung jadi anak kembar delapan," ucap Daniel sedikit bercanda agar tak terlalu tegang suasananya.
"Ish, nggak mau ah langsung kembar delapan. Nanti biasa-biasa perutku meledak kalau seperti itu, no satu saja cukup!" tolak Vanye mentah-mentah.
"Papa setuju dengan Daniel, buat cucu yang banyak sekalian biar rumah nggak sepi. Selama bertahun-tahun di rumah tak pernah terdengar tangisan bayi, jadi kamu harus berikan papa cucu sebanyak-banyaknya," ujar Dimas di sahuti tawaan dari Daniel.
Vanye semakin kesal, dia ingin sekali mencekik dua lelaki ini. 'Satu saja belum buat, ini sudah mikirin harus buat banyak cucu. Dimana-mana buat dulu, baru merencanakan!' gerutunya sangat kesal.
Tak mau meladeni mereka berdua, Vanye lebih memilih menikmati sarapannya saja. Dia pikir papanya datang ke Bandung sepagi ini karena merindukannya, tapi tak di sangka hanya menanyakan kapan dia memberikan cucu.
"Akkhh! Nyebelin!" seru Vanye tiba-tiba sampai membuat dua lelaki di depannya kaget.
"Kamu kenapa, Van?" tanya Dimas dan Daniel secara bersamaan.
"Bukan urusan kalian!" Vanye langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Sedangkan Dimas menatap Daniel, tapi Daniel hanya menaikan kedua bahunya. "Mungkin efek datang bulan, Pa."
"Ooohhh."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya JANDA BENGSRAT VS PERJAKA TUA Author Thatya0316 jangan lupa ya 😍😍
__ADS_1