
Dua minggu sudah Vanye dan Daniel tak saling bertemu, setelah kejadian siang itu Daniel tak pernah pulang sedang Vanye setelah mendengar perkataan Satria, lebih memilih diam di rumah dan merenungi kesalahannya sendiri.
Tepat, pagi ini ada seorang supir yang mendatangi rumah kediaman Dimas. Supir itu diutus oleh Daniel dan disuruh menjemput Vanye pulang, karena Daniel masih sangat sibuk di Bandung.
"Nak, apa kamu ada masalah dengan Daniel?" tanya Ratih.
Vanye tak bisa menjawab, dia hanya menatap sendu papanya dan di balas gelengan pertanda dia tak boleh berkata jujur pada mamanya.
"Nggak ada masalah kok, Ma. Sebelumnya memang Daniel sibuk banget, apalagi sempat ada renovasi dapur," balas Vanye. Dia jujur masalah dapur, tapi tidak dengan permasalahan mereka.
"Memang dapur kalian kenapa kok sampai di renovasi?" tanya Ratih lagi.
"Emm, dapurnya kebakaran Ma," balasnya cengengesan.
"Kok bisa?" Ratih terlihat terkejut, perasaannya mulai tak enak.
"Ya karena aku bakar, he he he."
"Astaga, Vanye! Sudah Mama katakan berapa kali, jauhi dapur. Cukup dapur Mama yang pernah kamu buat kebakaran, sekarang lagi?" Ratih terlihat shock.
Meski dia pernah menasehati untuk melayani Daniel dalam urusan makan, tapi kan dia sudah bilang harus belajar ke ahlinya dulu sebelum bertindak, eh ternyata anaknya ini mengulangi kejadian delapan tahun lalu.
"Tapi kasusnya beda, Ma. Kalau dulu kan aku memang nggak bisa nyalain kompor, kalau sekarang karena goreng ikan," balasnya sedikit tak terima.
Dulu memang pernah ingin membuat susu coklat hangat, karena terlalu lama menunggu bibi ke pasar dan dia juga nggak tau kalau dispenser ada air panasnya, jadi dia nekat buat sendiri. Tapi Vanye kebingungan cara menyalakan kompor, sehingga dia mengambil kertas untuk di bakar.
Setelah kertas itu terbakar, gas dalam kompor langsung menyambar begitu saja. Karena memang sebelumnya Vanye sudah membuka aliran gas dan terjadilah kebakaran itu.
__ADS_1
"Mau beda, mau sama kamu harus didampingi orang, Nak. Jangan ulangi, untung kalian selamat kalau nggak?" Ratih menjadi kesal.
"Iya, Ma. Daniel juga sudah janji kok mau cariin aku kelas memasak. Jadi, jangan marah-marah lagi Mamaku sayang." Vanye langsung memeluk Ratih dan menciumnya berkali-kali.
"Ya sudah, pokoknya kamu harus hati-hati. Jangan sampai ceroboh, nyawa itu nggak bisa datang dua kali," balas Ratih.
Vanye mengangguk paham, setelahnya dia menyuruh supir tadi menunggu. Dia ingin membereskan barang-barangnya terlebih dulu. Tak membutuhkan waktu lama bagi Vanye, jadi setelah semua beres dia langsung pamit pulang.
Di perjalanan, Vanye merasa penasaran. Selama dua minggu ini suaminya tak pernah menghubunginya, tapi dia sempat menyuruh orang untuk menjemputnya.
"Pak, apa Bapak bertemu Daniel?" tanya Vanye.
"Tidak, Bu."
"Terus? Kok Bapak bisa tau kalau Daniel menyuruh menjemput aku, jangan bilang —"
"Pak Daniel menghubungi saya lewat telepon, Bu. Beliau bilang harus menjemput Bu Vanye dan mengantarkan sampai rumah dengan selamat, tanpa kekurangan satupun," jelas pak Supir.
Vanye pun diam, dia kembali menghubungi Daniel tapi tak ada jawaban sama sekali. Padahal dia berkali-kali menelepon.
"Kemana sih kamu, Daniel!" geramnya.
Merasa tak di hiraukan, Vanye lebih memilih mematikan ponselnya. Dia sangat kesal pada suaminya, padahal dia ingin meminta maaf dan sudah memantapkan hati untuk menerima Daniel sepenuhnya.
Sedangkan di sisi lain, Daniel menatap terus menatap layar ponselnya. Sebenarnya ingin sekali dia mengangkat panggilan dari Vanye, tapi Daniel urungkan karena ada suster yang ingin melihat kondisinya.
Daniel tak mau Vanye tau kalau selama dua minggu dia bolak-balik rumah sakit. Karena pertengkarannya dengan Satria, dia tak sengaja mengalami kecelakaan saat mengejar kakaknya.
__ADS_1
"Bagaimana Sus?" Tanya Daniel.
"Semuanya baik, Pak. Tapi kata dokter belum bisa lepas dari pen sekitar sembilan bulanan, untuk sementara harus di sangga seperti ini dan jika dipaksa tanpa penyangga akan memperburuk keadaan," jelas Suster.
Daniel pun menjadi bingung, bagaimana dia bisa bertemu istrinya jika keadaannya seperti ini. Masalah pelepasan pen mungkin bisa disembunyikan dengan memakai lengan panjang, tapi jika harus memakai penyangga akan lebih sulit.
"Apa separah itu?"
"Iya, Pak."
Mulutnya pun tak bisa berkata-kata, mau tak mau Daniel harus menghindari Vanye lagi dan mungkin tak akan pulang ke rumah. Setelah pemeriksaan, Daniel kembali menghubungi asisten rumah tangga yang baru dia pekerjakan.
Selama dia sakit, mungkin tak akan bisa melakukan pekerjaan rumah dan Daniel tak mau istrinya kelaparan. Sebab itulah dia memutuskan mencari asisten rumah tangga, biar bisa membantu selama Daniel masa pemilihan.
"Buk, istriku sebentar lagi datang, apa makanannya sudah disiapkan?" tanya Daniel.
'Semua sudah beres, Pak. Tinggal menunggu bu Vanye datang.'
"Kerja bagus. Oh ya, mungkin malam ini aku nggak pulang, jika istriku tanya bilang saja masih sibuk dengan pekerjaan. Ingat jangan sampai keceplosan jika aku pernah kecelakaan," kata Daniel.
'Baik, Pak.'
Panggilan pun berakhir. Daniel menghembuskan nafas gusar, tak lama setelah itu namanya dipanggil oleh petugas informasi untuk pengambilan obat. Merasa semua beres, Daniel segera meninggalkan rumah sakit dan menuju rumah makan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
__ADS_1
Judulnya Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan) Author Senja_90 jangan lupa ya 😍😍