
Vanye diam tanpa mau bicara di dalam mobil, moodnya benar-benar hancur saat ini. Kenapa seolah-olah dunia ingin dia marah-marah terus, tanpa ada kedamaian.
Sedangkan Daniel, dia juga tak mengira jika Lifta akan muncul kembali setelah menghilang beberapa waktu. Bahkan dia juga tidak tahu jika Lifta akan se nekat tadi.
"Daniel, bagaimana bisa sih kamu kenal Lifta? Bukan apa sih, kamu ini baik tapi kok kenal wanita sejahat itu!" seru Vanye tiba-tiba bersuara.
Daniel menghela napas kasar, dia sudah mengira kalau Vanye akan membahas hal ini lagi. "Dia sebenarnya baik, Van. Aku nggak tau kenapa dia bisa seperti ini, padahal dulu sebelum ketahuan selingkuh dia sangat baik, kalem banget malahan," kata Daniel terus menatap lurus ke arah jalan.
"Kamu masih mencintainya Daniel?"
Daniel menggeleng. Jujur dia memang pernah mencintai Lifta, tapi setelah kejadian itu dan bertemu dengan Vanye rasa cinta itu telah hilang.
"Kamu bohong, buktinya kamu membelanya!" seru Vanye lagi.
"Maksudmu apa, Van?"
"Tanpa aku jelaskan kamu sudah paham, Daniel! Kamu masih mencintai Lifta, apalagi tatapanmu tadi sangat dalam penuh penyesalan!" Vanye semakin memojokkan Daniel.
Daniel menghentikan mobilnya secara mendadak, hingga membuat Vanye terpental ke depan. Dia bahkan langsung menatap tajam Daniel, dan mulai berkaca-kaca.
"Gila kamu!"
__ADS_1
"Kamu yang gila, Van! Bisa-bisanya kamu memiliki pemikiran seperti itu, sumpah demi Allah aku nggak ada rasa lagi sama Lifta. Dulu iya, tapi sekarang nggak!" tegas Daniel semakin membuat Vanye menangis.
Entah kenapa emosinya naik turun akhir-akhir ini, sering berprasangka buruk tentang Daniel. Terkadang, Vanye suka menangis di pojokan dengan perasaan takut jika Daniel akan meninggalkannya suatu hari nanti.
"Aku bukan asal berprasangka, Daniel! Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku, kamu masih mencintai Lifta. Ya, aku akui dia lebih cantik dariku. Dia masih muda, sedangkan ak-"
Belum selesai Vanye berbicara, dia sudah merasakan pusing yang amat luar biasa. Bahkan perutnya terasa kram, hingga membuatnya meringis.
"Auh!" pekiknya sambil meremas perut.
"Van, kamu baik-baik saja?" tanya Daniel sangat panik. Dengan cepat Daniel melepaskan sabuk pengamannya dan melihat kondisi istrinya.
Daniel melihat ini kondisi tak biasa, dia segera memutuskan membawa Vanye ke rumah sakit. Daniel tak ingin istrinya kenapa-kenapa, jika sampai istrinya terluka dia tak akan memaafkan dirinya sendiri.
****
Dua jam lamanya Daniel menunggu Vanye di ruang observasi. Hatinya sangat gusar, apalagi dokter tak kunjung keluar. Daniel juga sudah menghubungi sang mertua dan mereka sedang perjalanan ke rumah sakit.
Daniel duduk termenung di ruang tunggu, dari tadi banyak sekali orang keluar masuk. Namun, kenapa Daniel tidak diizinkan. Itu yang membuatnya kesal, sekaligus marah pada dirinya sendiri.
"Daniel, dimana Venye?" Terlihat Dimas datang dengan keadaan kacau balau.
__ADS_1
"Pa, Vanye masih ditangani dokter," balas Daniel.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Vanye sampai seperti ini. Bahkan aku mendengar laporan dari Zac jika ada keributan di rumah makan mu!" seru Dimas meminta penjelasan.
Baru saja dia pulang perjalanan bisnis, tapi dia sudah mendapat kabar tak mengenakan dari orang-orang suruhannya. Semenjak kejadian pelecehan waktu itu, seluruh perusahaan di pegang lagi dan membiarkan anaknya istirahat sementara waktu.
"Ini semua salahku, Pa. Lagi-lagi aku gagal melindungi Vanye dari amukan nggak jelas dari Lifta, emosinya naik dan kita bertengkar," sesal Daniel.
Jika tahu akan seperti ini dia tak akan membentak Vanye atau marah-marah, sungguh dia sangat menyesal saat ini.
"Lifta lagi, Lifta lagi! Mana janjimu akan melindungi anakku Daniel, bagaimana kalian bisa bahagia jika kamu belum bisa membereskan Lifta!" bentak Dimas.
"Kalau kamu belum bisa mengendalikan mantan kekasihmu, maka Papa yang akan turun tangan! Cepat bereskan dia atau Vanye akan Papa bawa pergi jauh, agar hidupnya jauh dari orang-orang gila semacam Lifta dan Satria!"
Dimas tak pernah main-main dengan ucapannya ini, jika sampai kejadian seperti ini terulang maka dia akan langsung membawa Vanye pergi jauh. Cukup penderitaan Vanye, terlalu banyak orang yang mengganggu nya dan Dimas tak terima itu.
"Pa, jangan seperti ini. Aku nggak bisa kehilangan Venye, aku berjanji hal ini tidak akan terulang lagi," ucap Daniel memohon.
Jika sampai ini benar-benar terjadi, mungkin Daniel tak akan bisa melanjutkan hidup. Venue adalah segalanya bagi Daniel, sebab itulah Daniel akan berusaha lebih keras untuk menjaga Vanye.
"Papa nggak butuh janji, Daniel. Papa mau bukti, jika sampai Vanye seperti ini lagi. Siapkan diri untuk berpisah dari anakku!"
__ADS_1