
Daniel menatap langit-langit malam di taman komplek, sudah 8 jam lamanya dia duduk di sini tanpa bergerak. Kejadian siang tadi masih melekat di mata, telinga juga hatinya. Rasa sakit itu semakin menggerogoti Daniel, sampai dia sendiri tak tau harus seperti apa.
"Tuhan, apa memang nasibku selalu seperti ini? Mencintai tapi tak pernah memiliki? Dulu aku sangat mencintai Lifta, tapi dia lebih memilih Joni. Sekarang aku mulai memiliki rasa dengan Vanye, tapi hatinya masih milik Kakak," lirihnya semakin pusing.
Daniel memilih menyalakan sebatang rokok lagi, hanya itu temannya selama diam di sini. Dia tak mau curhat dengan teman-temannya, karena menurut Daniel semua ini privasinya.
Daniel tak mau banyak orang yang menyalahkan Vanye. Sebab itulah dia lebih memilih memendam semua, daripada mengumbar masalahnya pada orang lain.
"Daniel ...."
Merasa namanya dipanggil, dia pun menoleh ke sumber suara. Dia melihat mamanya menangis. "Mama!" Daniel langsung membuang puntung rokoknya dan segera menghampiri Dona.
"Ada apa, Ma? Kenapa Mama menangis, katakan siapa yang membuat Mama seperti ini?" tanya Daniel. Dia sangat panik melihat orang tuanya menangis seperti ini, sungguh hatinya sangat sakit jika mamanya seperti ini.
"Sat-Satria!" Dona tak melanjutkan ucapannya, dia semakin menangis dan memeluk erat Daniel.
"Kenapa dengan Kakak? Coba bicara yang tenang, bilang sama Daniel, apa yang sedang terjadi." Dia begitu lembut menenangkan Dona dan inilah kenapa Dona sangat menyayangi Daniel meski masa lalunya begitu kelam.
"Tadi sore kakakmu datang ke rumah, dia marah-marah dan meminta agar papamu mengembalikan semua aset-aset yang disita papanya Vanye. Mereka berdua bertengkar hebat, sampai akhirnya papamu terkena tusukan kaca." Dona semakin menangis setelah menceritakan semua.
Dia takut suaminya kenapa-napa, sebab itulah Dona mencari keberadaan Daniel di rumah Vanye, tapi sekian lama menunggu Daniel tak kunjung pulang sehingga dia memutuskan mencari anaknya melalui GPS. Untung saja posisinya dengan rumah Vanye tak terlalu jauh, jadi Dona bisa lebih cepat menemui Daniel.
"Sial! Selalu saja buat masalah, dasar lelaki pecundang!" Emosinya menggebu-gebu.
"Mama tenang saja, kakak biar menjadi urusanku. Sekarang Mama pulang, aku akan mencari Kakak. Dia pasti masih ada di sekitar sini," ujarnya lagi.
"Satria ada di apartemennya, Daniel. Mama sempat melihatnya keluar masuk di sana," balas Dona.
__ADS_1
Daniel mengangguk paham, dia juga memutuskan pergi menemui kakaknya sendiri dan tak mau melibatkan siapapun disini. Baginya keselamatan orang-orang terdekatnya lebih penting, daripada dirinya sendiri. Jadi dia akan menghadapi kakaknya satu lawan satu.
***
Vanye mengendap-endap mengikuti Daniel dari belakang, dia memang sengaja menyembunyikan diri dari suaminya karena takut kehadirannya membuat luka di hati Daniel semakin dalam. Tapi, setelah mendengar suaminya akan menghadapi Satria sendiri membuatnya tak karuan.
Ada rasa khawatir, takut jika Daniel kenapa-napa. Apalagi dia tahu betul bagaimana tempramental Satria, lelaki itu mudah emosi dan sangat kasar. Jadi, Vanye mulai berpikir tidak-tidak.
"Kenapa aku baru tau kalau Satria punya apartemen disini? Waktu tujuh tahun ternyata tak membuat kita saling terbuka, masih ada hal-hal lain yang kamu sembunyikan Sat!" seru Vanye sangat lirih. Dia tak berani bicara terlalu keras, dia takut terdengar oleh Daniel.
Tak lama setelah itu, Vanye melihat Daniel masuk apartemen Satria. Setelah beberapa menit suaminya masuk, Vanye berusaha memikirkan cara agar bisa masuk ke dalam.
"Duh pakai pasword, mana aku nggak tau apa sandinya." Vanye jadi gelisah, dia pun berusaha berpikir keras untuk mengingat-ingat kebiasaan Satria selama mereka pacaran.
"Satria pernah bilang, ada hari yang sangat dia sukai dan memiliki kenangan terindah. Apakah password nya itu ya?"
Saat langkah kakinya mulai melangkah, Vanye sudah bisa mendengar pertengkaran dua manusia di sana. Tapi, Vanye tak mau menampakkan diri dan hanya bisa bersembunyi di balik tembok pembatas.
"Tega kamu sama orang tua sendiri, Kak! dimana otakmu saat membuat masalah? Sekarang kakak marah-marah nggak jelas, sampai membuat papa masuk rumah sakit!" teriakan Daniel mampu membuat Vanye bergetar hebat, baru kali ini dia melihat suaminya kasar dalam berbicara.
"Itu bukan urusanmu, sialan! Kamu hanya orang luar bagiku, nggak lebih!"
"Terserah kamu menganggapku seperti apa, tapi mereka tetap orang tuaku, orang tua kita! Jahat kamu, sampai melukai mereka terutama calon istrimu sendiri!" bentak Daniel.
"Ck, calon istri? Yang mana? Calon istriku banyak, nggak hanya satu? Jika yang kamu bahas adalah Vanye, itu salah besar. Sampai kiamat pun, dia hanya sebatas keset di mataku!"
Deg!!
__ADS_1
Jantung Vanye seketika terasa seperti berhenti berdetak, matanya mulai berkaca-kaca. Sakit sekali mendengar penuturan Satria, yang mengatakan dia hanyalah sebatas keset. Kesen untuk di injak-injak dan Vanye sangat bodoh, baru mengetahui hal ini.
"Gila kamu, Kak! Di mataku, Vanye orang yang sangat baik! Kamu saja yang bodoh, menyia-nyiakan wanita setulus dia! Sampai sekarang pun Vanye masih mencintaimu," ujar Daniel sangat murka, bahkan Daniel menarik kerah baju kakaknya bersiap untuk meninju Satria.
"Itu urusan dia, jadi cewek kok oon banget! Seharusnya Vanye dari awal mikir, aku dekati dia karena apa? Wajah pas-pasan, body nggak seberapa mau nikah sama aku? Nggak level, sampai kapanpun dia hanya batu pijakan saja!"
Tes!
Air matanya pun terjatuh begitu saja, sesak sekali dadanya sampai Vanye hanya bisa menepuk-nepuk dadanya sendiri. Dia benar-benar tak mengira Satria seperti ini dan bodohnya, sampai sekarang Vanye berharap Satria kembali.
Dia menyia-nyiakan ketulusan Daniel, padahal lelaki itu dari awal selalu membuktikan semua janji-janjinya. Namun, karena rasa penasaran kenapa Satria meninggalkannya dan rasa cintanya, Vanye telah melukai Daniel sangat dalam.
Merasa tak kuat lagi, Vanye memutuskan untuk segera kembali ke rumah saja. Dia tak peduli dengan pertikaian mereka di dalam, semakin lama Vanye mendengarkan ocehan Satria semakin remuk hatinya.
Dengan langkah tergesa-gesa Vanye terus menuruni anak tangga, dia tak bisa menunggu lift terlalu lama, sedangkan hatinya sudah terlanjur sakit. Air mata mengalir tanpa henti, perkataan demi perkataan Satria terngiang-ngiang di telinganya sehingga Vanye tak bisa menahannya lagi.
"Kamu jahat Satria! Apa salahku sampai mempermainkanku, apa salahku Satria!" teriak Vanye tak peduli jika suaranya terdengar oleh orang.
Dia terduduk lemas di atas tangga, Vanye menangis sejadi-jadinya. Jika tau seperti ini, lebih baik dia diam saja di rumah. Tapi, kalau hanya menunggu selamanya pun Vanye tak tau kebusukan Satria.
"AKU MEMBENCIMU! AAAAHHHHH!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya DZIKIR CINTA SANG PENDOSA uthor Santi Suki jangan lupa ya 😍😍
__ADS_1