Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 23. Kita Cari Penginapan


__ADS_3

Vanye menunggu Daniel di taman belakang sambil menikmati api unggun yang dia buat. Dia sengaja menyalah api, agar terlihat seperti kebakaran dan bisa membuat suaminya nanti panik.


Sebenarnya, dari siang Vanye tahu kalau bu Patmi selalu memberikan informasi tentangnya pada Daniel. Sebab itulah dia membuat ide membakar rumah dan sedari tadi yang dia bawa di dalam jerigen itu air biasa yang diberi sedikit pewarna.


Kalau Vanye tak seperti ini, maka sampai kapanpun suaminya tidak akan pulang. "Lama banget sih, seharusnya bu Patmi sudah memberitahu Daniel. Ish nyebelin, aku sudah di gigitin nyamuk di sini," gerutunya.


"Bu Vanye, tolong buka pintunya Bu! Jangan nekat, Bapak sebentar lagi datang!" teriakan dari belakang pun membuat Vanye tersenyum. Jika bu Patmi sudah berkata seperti ini, maka sebentar lagi suaminya datang.


"Hi hi hi, nggak sia-sia aku kunci bu Patmi di kamar tamu setelah mengambil videoku. Sebentar lagi Daniel pasti datang, aku hanya perlu membuat asap banyak agar dia semakin panik!" serunya.


Ekspresi jahil dari Vanye pun terlihat sangat jelas, dia semakin menambah serat kayu ke dalam api sampai mengeluarkan banyak asap. Sebelumnya dia sudah berkonsultasi dengan seseorang, bahan apa saja yang bisa membuat asap banyak tapi apinya sedikit. Jadi semua aman terkendali.


Sedangkan di sisi lain, mobil Daniel baru saja memasuki pekarangan rumahnya. Setelah mobil berhenti Daniel juga langsung turun dan betapa paniknya dia saat melihat banyak asap mengelilingi rumahnya.


"Sial, aku terlambat!" Daniel berlari kencang memasuki rumah, dia terus mencari-cari istrinya ke seluruh ruangan sampai akhirnya dia mendengar suara bu Patmi berteriak.


"Bu Vanye, tolong buka Bu!"


Dor! Dor! Do!


Bu Patmi terus menggedor-gedor pintu kamar tersebut, berharap Vanye membukakan pintunya.


"Kenapa Bu Patmi ada di dalam?" tanya Daniel dari luar.


"Ya Allah Pak, akhirnya Bapak datang. Saya di kunciin bu Vanye dari tadi, mungkin sekarang bu Vanye ada di taman belakang," kata bu Patmi.


"Tunggu sebentar, aku carikan kuncinya dulu!" seru Daniel.


"Jangan hiraukan saya, Pak. Sekarang lebih penting mencegah bu Vanye saya tidak apa-apa disini," tolak Bu Patmi. Dia lebih mementingkan keadaan Vanye daripada diri sendiri, padahal kalau memang benar Vanye membakar rumahnya, pasti bu Patmi akan terlahap juga jika tak mau dikeluarkan lebih dulu.


"Tapi—"


"Cepat, Pak! Sebelum terlambat!"


Daniel tak bisa membantah lagi, dia segera berlari ke taman belakang mencari istrinya. Dia bahkan tak peduli rasa sakit di tangan kanannya lagi, intinya sekarang Vanye yang lebih penting.


"Vanye kamu dimana!" teriak Daniel terus mencari. Di taman belakang sangat banyak asap, sehingga dia tak bisa melihat istrinya.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Daniel mendengar suara istrinya batuk-batuk. Rasanya ingin sekali dia mengumpat, karena terlalu pekat oleh asap dia tak kunjung menemukan istrinya yang kemungkinan kekurangan oksigen.

__ADS_1


"Van—"


"Cepat pergi dari sini, asapnya terlalu banyak!"


Tubuh Daniel langsung terhuyung ke samping, untung saja dia bisa menahan keseimbangan sehingga dia tak terjatuh.


"Tunggu, bu Patmi belum aku keluarkan!" Vanye putar arah ke kamar tamu, dia langsung membukakan pintu kamar dan setelah itu mereka semua pergi untuk mencari udara segar.


"Van, aku harus memadamkan apinya!" Daniel ingin masuk kembali tapi dicegah Vanye.


"Tenang saja, nanti kalau serat kayunya habis pasti mati kok, lagian itu aku masukin drum dan nggak ada apinya sama sekali hanya asap tebal saja," balas Vanye berusaha menarik nafas.


Dia terlalu semangat sampai berlebihan memasukkan serat kayu ke dalam drum, rasanya seperti tercekik di dalam tadi, tapi untung saja sekarang Vanye bisa bernafas lega.


"Jadi kamu nggak membakar rumah kita?" Daniel menatap kesal pada Vanye.


"Ya nggak lah! Semua itu agar kamu pulang dan —"


"Van, apa kamu gila! Kamu membuat bu Patmi dan aku khawatir, jika sampai terjadi sesuatu bagaimana? Dewasa sedikit, Van! Ini bukan main-main," marah Daniel.


Vanye menatap aneh pada Daniel, padahal disini suaminya juga salah, tapi kenapa hanya dia yang di bentak. "Terus kamu apa? Menghindariku selama dua minggu, apa itu bukan kekanak-kanakan? Ada masalah kita bicarakan baik-baik, bukannya menghilang seperti bang Toyib!" serunya tak kalah sarkas.


"Oke, aku salah. Tapi apa harus memakai cara seperti tadi? Kamu harus bisa membedakan mana bahaya mana tidak, kamu harus tau it — ummhh ...."


"Van!" Daniel reflek mendorong tubuh istrinya, tapi Vanye kembali mencium Daniel. Masa bodo ada bu Patmi, yang jelas Vanye ingin menuntaskan rindunya pada Daniel.


"Kamu terlalu cerewet, Daniel," lirihnya sambil menatap lekat suaminya.


"Aku cerewet karena khawatir, Sayang." Daniel membelai lembut wajah istrinya. Rasanya sangat senang sekali bisa seperti ini lagi dan ini juga bisa menjadi pengobat rindunya selama berpisah.


"Cih, khawatir apa? Buktinya kamu meninggalkan ku selama dua minggu tanpa kabar, itukah yang katanya khawatir?" Rajuk Vanye berhasil membuat Daniel tertawa.


"Maaf, aku pasti membuatmu bingung," balasnya sambil memeluk erat Vanye.


"Aku merindukanmu, Daniel. Sangat merindukanmu, maaf untuk kejadian dua minggu lalu. Sekarang aku sadar, hanya kamu yang mau menerimaku. Maaf, telah menggores luka di hatimu," ucap Vanye semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Daniel.


Tanpa Vanye ketahui, Daniel tengah menahan rasa sakit karena istrinya terus menenggor bekas operasinya.


"Aku juga minta maaf belum bisa menjadi suami yang sempurna untukmu," balas Daniel.


Vanye menggeleng cepat, dia tidak setuju dengan perkataan Daniel. Baginya, Daniel lebih dari sempurna. Tak ada lelaki sebaik dan sesempurna suaminya di dunia ini, tidak ada.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang bicara seperti itu, Daniel. Disini akulah yang banyak memiliki kekurangan, tapi apakah kamu masih mau menerimaku?" tanya Vanye.


"Tentu saja aku menerimamu, Van. Apapun kekuranganmu akan aku terima, sampai akhirnya kamu membuka hatimu untukku seorang," balas Daniel.


Vanye sangat tersentuh mendengar ucapan Daniel. Matanya semakin berkaca-kaca ingin menangis, beginikah rasanya dicintai seseorang dan disayangi pasangan? Sungguh Vanye baru merasakannya semua saat bersama Daniel, sedangkan bersama Satria selalu saja hambar tak ada rasa sama sekali.


"Ajari aku mencintaimu, Daniel. Ajari aku melupakan semua masa laluku," ujar Vanye menangis.


"Tentu, aku akan mengajarimu melupakan Kakak dan mengisi semua ruang di hatimu dengan namaku. Lihat saja nanti, Van. Aku akan membuatmu tergila-gila padaku."


Daniel pun langsung memagutt bibir istrinya, dia melumatt lembut benda kenyal dan terus menyesapp-nya. Vanye tak tinggal diam, dia juga ikut adil dalam hal ini. Vanye balas ciumann suaminya, sambil meremass rambut Daniel.


"Aku mencintaimu, Van."


Tak ada balasan dari Vanye, tapi Daniel tak peduli semua. Istrinya butuh waktu dan dia akan menunggu sampai kapanpun, Daniel yakin Vanye hanya miliknya sampai kapanpun tetap miliknya.


"Sentuh aku Daniel, aku sudah siap memberikan semuanya padamu malam ini," lirih Vanye.


"Apa kamu bilang!" Daniel sangat terkejut sampai mendorong istrinya agar mereka saling berhadapan.


"Ish, kasar banget sih!" kesal Vanye.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Van!" Daniel terlihat sangat penasaran sekaligus tak percaya dengan ucapan istrinya tadi. Sedangkan Vanye, malah tersenyum sambil membelai lembut pipi kanan Daniel.


"Aku mau menyerahkan diriku malam ini juga, puas kamu! Nggak ada pengulangan, kalau mengulang lagi aku —"


"Kita cari penginapan sekarang!" Daniel langsung menarik Vanye ke arah mobil.


"Ha? Kenapa harus ke penginapan? Rumah kita ada, malah luas dan hemat biaya." Vanye bertanya-tanya.


Yakali, ada rumah sebesar ini mau ke penginapan. Bisa-bisa boros biaya, lebih baik di buat belanja keperluan rumah daripada seperti itu.


"Dirumah banyak asap, Sayang. Memang kamu mau melakukannya dengan keadaan di selimuti awan buatanmu?"


Vanye langsung menggeleng, "tapi nggak ke penginapan juga, Daniel. Di rumah makan saja bagaimana? Kita jadi hebat biaya, sayang buat sewa tempat," tawar Vanye tapi ditolak mentah-mentah oleh Daniel.


Daniel bilang, hal manis mereka berdua tak boleh di tempat gratisan apalagi di rumah makan, yang jelas-jelas kamarnya sangat sempit. Jadi mau tak mau, Vanye mengikuti apa kata Daniel.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.

__ADS_1


Judulnya TETANGGAKU.... MANTANKU Author Santi Suki jangan lupa ya 😍😍



__ADS_2