
Vanye menatap sebal ke arah suaminya, dia benar-benar marah dan ingin mencakar-cakar wajah Daniel. Apalagi mengingat, dia gagal mendapatkan klimaksss hanya karena Daniel sakit perut.
"Sayang ...."
"Nggak sayang-sayangan!"
Vanye langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia menarik selimutnya dan tak memperdulikan Daniel yang masih membujuknya agar berhenti marah.
"Sayang, jangan marah dong. Ini semua juga karena kamu terlalu pedas kalau masak sesuatu, padahal kamu ada Maag harusnya bisa —"
"Oh jadi ini semua salahku?" Sungutnya langsung terduduk.
"Bukan, ini salahku kok. Iya aku salah, maaf ya Sayang." Daniel langsung menghampiri Vanye dan memeluk istrinya sangat lembut.
"Lepas, aku nggak mau di peluk!" Vanye terus mendorong tubuh Daniel.
"Jangan marah terus, Sayang. Ini masih on kok, jika kamu marah karena nggak jadi keluar, aku akan membuatmu keluar berkali-kali sekarang," balas Daniel sambil mengambil tangan Vanye dan dia suruh istrinya merasakan betapa tegangnya Daniel.
"Sudah nggak nafsu! Sana pergi, aku mau tidur!" serunya segera melepaskan tongkat berurat suaminya.
"Baiklah, kamu yang memaksa aku berbuat kasar!" Daniel tersenyum devil, dia seperti ingin melahap istrinya dan tak akan melepaskannya begitu saja.
"Ma-mau apa kamu?" Vanye sedikit takut.
Belum juga pertanyaan di jawab, Vanye sudah dikejutkan dengan tindakan Daniel. Tubuhnya langsung didorong ke belakang sampai terlentang, setelah itu kakinya di pegang kuat dan di buka lebar-lebar oleh Daniel.
"Apa yang akan — akkhh!"
Vanye menjerit ketika kepala Daniel menelusup masuk ke dalam gua Frindafan Nya, lidahnya terus bergerak liar di sana sehingga Vanye merasakan sengatan listrik bertegangan tinggi.
Bulu kuduknya berdiri semua, mulutnya tak bisa berhenti meerancaau merasakan nikmat luar biasa itu. Vanye tak bisa membuka matanya, dia terus memejam erat sambil mereemass kuat sprei sampai terlepas dari springbed.
"Iya yang itu, lebih cepat!" serunya tanpa sadar.
Daniel menyeringai senang, tanpa aba-aba dia langsung memasukkan dua jarinya ke dalam gua vrindavan istrinya. Dia obrak-abrik sampai membuat istrinya terus berteriak-teriak dan kakinya semakin di lebarkan.
Lama semakin lama, Daniel merasa gua Vanye mulai menyempit dan semakin basah. Daniel begitu semangat, dia percepatan gerakannya sampai akhirnya semburan air mancur mengalir deras ke atas ranjang.
__ADS_1
Dia melihat tubuh istrinya masih bergetar hebat dan berusaha mengatur nafas, tapi Daniel tak mau Vanye menikmati semua secara tenang, dia ingin istrinya semakin menjerit, jadi tanpa permisi dia memasukkan Tongkat berurat itu begitu saja.
Plak plak plak
Bunyi perpaduan antara dua biji telur dan Vokong mereka sampai terdengar sangat merdu, ranjang yang tadinya baik-baik saja sekarang sangat berantakan, decitan ranjang juga semakin terdengar kencang karena Daniel sangat bersemangat melakukan semua.
"Daniel!"
teriak Vanye saat tubuhnya ditarik begitu saja oleh Daniel, tanpa melepaskan pennyatuuan mereka Daniel meminta mereka melakukan dengan gaya berdiri.
Vanye hanya pasrah, dia mengikuti kemauan Daniel meski kakinya sudah sangat lemas karena terlalu banyak mengeluarkan cahiran cinta.
"Van, aku ... aku, mau lepas!" seru Daniel langsung mendorong tubuh istrinya agar tengkurap di atas ranjang.
Dengan gaya kodok, Daniel semakin kencang menerjang Vanye sampai beberapa menit kemudian Daniel mengeraaang kuat saat benih-benih kecebongnya berhasil keluarga dan berenang masuk ke dalam.
"Huft, huft! Kamu sangat nikmat, Sayang." Daniel ambruk di atas punggung Vanye, dia masih berusia mengatur nafas begitu juga Vanye yang masih merasakan sisa-sisa getaran ciinta.
"Semoga kali ini, Daniel Junior jadi. Aku sudah nggak sabar ingin memiliki bayi," kata Daniel sambil menggeser tubuhnya ke sampai Vanye.
"Semoga saja, Daniel. Semoga kita disegerakan memiliki keturunan, agar keluarga kita lengkap."
Pagi harinya, Daniel mempersiapkan berkas-berkas untuk pergi ke pengadilan. Hari ini mereka akan menghadapi Doni di pengadilan, dengan saksi dan bukti-bukti yang ada.
Sebenarnya, Daniel sedikit tagu. Dia takut mamanya tak bisa diajak kompromi mengingat trauma masa lalunya, tapi pihak pengacara juga sudah mengajukan permohonan agar tidak terlalu memojokkan mamanya demi kesehatan mental Aily.
"Semua sudah siap?" tanya Dimas pada semua orang. Daniel, Vanye, Rappah, serta Dona mengangguk mantap.
"Kalau begitu ayo kita berangkat," balas Dimas sekali lagi.
Untuk sementara waktu, Daniel menitipkan Ramon pada mertuanya. Karena mertuanya memiliki riwayat jantung, maka dia tak diizinkan untuk ikut daripada terjadi sesuatu nantinya.
"Kamu bisa jalan, Sayang?" lirih Daniel sangat pelan, takut di dengar oleh orang.
"Sebenarnya nggak bisa, rasanya sangat perih. Tapi ya masa aku harus pakai kursi roda kan nggak mungkin," Jawab Vanye sambil tertawa. Daniel pun ikut tertawa, tapi dia langsung terdiam saat Dimas menatap mereka berdua.
Dimas seperti penasaran, tapi dari gelagat mereka berdua dia paham jika semalam anak dan menantunya habis melakukan malam yang indah.
__ADS_1
Mereka semua masuk kedalam mobil, sesekali pengacara mereka mengajak bicara Aily dan memberikan arahan agar dia bisa memberikan keterangan yang tepat. Tapi, namanya orang sakit maka saat diajak bicara selalu melenceng kemana-mana sehingga membuat Sean sedikit kesulitan.
"Nggak apa-apa, kita coba pelan-pelan saja," ucap Sean.
Beberapa menit berlalu, mereka semua kini sudah sampai di pengadilan. Dengan cepat, Daniel menghampiri Aily dan langsung menggandengnya.
Terlihat sekali Aily sangat takut, tapi dia berusaha tentang karena Daniel selalu menenangkannya meski itu tak berlaku lama. Setiap beberapa menit, Aily selalu merengek minta pulang dan mengatakan banyak orang jahat di sini. Lama sekali mereka menenangkan Aily, sampai akhirnya benar-benar mau di ajak masuk ke dalam.
"Mereka jahat," lirih Aily.
"Mama tengan saja, ada Daniel, Vanye, Paman, dan Mama Dona. Jika ada yang menyakiti Mama, kita akan menjadi garda terdepan," balas Daniel sangat lembut.
Aily mengangguk, dia akhirnya mau duduk di samping Daniel. Meski terus menutup matanya, tapi telinga Aily modem on, hingga beberapa kali dia meremass kuat roknya.
Namun, karena rasa penasarannya tinggi Aily sengaja membuka matanya lebar-lebar ingin melihat suasana di depannya. Tetapi, siapa sangka mata indah Aily menangkap sosok lelaki yang pernah memperkosanya dua puluh lima tahun lalu.
"JANGAN! AKU MOHON JANGAN LAKUKAN INI, AKU NGGAK MAU!" teriak Aily terus menutup telinganya. Semua orang menatap ke arahnya, bahkan Daniel berusaha menanyakan apa yang terjadi dan Aily langsung menunjuk ke arah Doni.
"Jahat, dia pria jahat! Mama takut, dia yang memperkosa Mama dulu dan mengancam akan membunuh Mama jika sampai membocorkan semua. Dia iblis, dia kejam!"
Bruug
"Mama!"
Daniel panik bukan main, Aily pingsan setelah berteriak histeris. Tak lama Aily pingsan, datanglah beberapa polisi dan membawa Aily ke tempat pemeriksaan.
Semua orang mengikuti kemana Aily di bawah pergi, kecuali Daniel. Dia menatap tajam Doni dan hatinya benar-benar marah, sehingga dia tak bisa mengontrol emosi.
Daniel menghampiri Doni, Daniel hajar papanya tanpa ampun. Meski dia beberapa kali di peringati oleh polisi dan hakim, tapi dia tak perduli yang Daniel tau ingin membunuh Doni.
"Pergi saja kau ke neraka, biadabb!"
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Judulnya JANDA KEMBANG PILIHAN CEO DUDA Author CIMAI jangan lupa ya 😍😍
__ADS_1