Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 43. AKU PEGANG JANJIMU, NAK.


__ADS_3

"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Apa dia baik-baik saja?" Daniel langsung menanyakan kondisi istrinya ketika dokter keluar dari ruangan UGD.


"Istri anda baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan butuh banyak istirahat," balas Dokter sambil menepuk pundak Daniel.


"Syukurlah, apa saya boleh masuk?" Daniel terlihat sangat tak sabaran untuk menemui istrinya.


"Boleh, istri anda juga sudah siuman dan mencari anda tadi. Jika sudah nggak pusing boleh langsung pulang," balas Dokter membuat hati Daniel lega. Setidaknya Vanye baik-baik saja dan tidak ada hal gawat.


Karena sudah mendapat izin dari dokter, Daniel pun bergegas masuk ke dalam dan melihat kondisi Vanye. Sedangkan Dona, lebih memilih menunggu di luar dan membiarkan mereka berdua.


"Semoga saja kejadian tadi tak membuat Daniel terguncang, andai saja aku bisa mengontrol emosi, pasti semua tak akan terungkapkan secepat ini," gumam Dona.


"Semua pasti baik-baik saja, yakinlah jika Daniel bisa bersikap lapang dada. Mungkin ini waktunya kamu jujur tentang siapa Daniel, barangkali dengan kehadirannya, Aliy bisa sembuh."


Seketika Dona mendongakkan kepalanya, di depannya kini sudah berdiri sosok lelaki yang ternyata adalah kakaknya. Dona pun tak bisa menahan tangis, dengan cepat dia memeluk kakaknya sambil menangis histeris.


"Aku nggak kuat, Kak. Rasanya sangat capek bertahan dan selalu mengalah, bertahun-tahun aku berusaha terlihat baik-baik saja, tapi sekarang sudah tak bisa," ucapnya semakin menangis.


"Jangan ditahan, Dona. Kamu berhak mengeluarkan semua isi hatimu, jika nggak kuat lepaskan. Dari dulu kakak sudah berkali-kali bilang, tinggalkan Doni tapi kamu selalu bilang bertahan demi anak-anak. Sekarang anakmu sudah dewasa dan kamu berhak bahagia," jelas Rappah.


Dona tak menjawab, dia hanya bisa menangis memikirkan semua. Dia bingung harus mengambil langkah seperti apa, lepaskan atau bertahan. Jika bertahan hatinya selalu terluka, namun jika lepaskan Dona masih bimbang.


***


"Van, kamu harus banyak-banyak makan dan minuman bergizi. Kata dokter tubuhmu terlalu lemah, juga kurang istirahat, jadi aku mohon kurangi pekerjaanmu ya," mohon Daniel.


Dia tau istrinya sekarang sangat kewalahan mengurus perusahaan, apalagi beberapa hari ini Vanye turun lokasi sampai larut malam.


"Aku sudah kenyang, Daniel. Ish, kamu ingin membuatku gendut ya," omel Vanye menolak makanan yang disodorkan suaminya.


Semenjak dia sadar, Daniel selalu memberikan makanan-makanan sehat, sampai perutnya terasa mual karena kebanyakan makan.


"Ini belum habis," tolak Daniel.

__ADS_1


"Nggak mau, itu rasanya nggak enak. Kamu saja yang makan kalau mau, enak saja nyuruh-nyuruh orang makan salad sayur," marahnya semakin menutup rapat-rapat mulutnya.


"Ini makanan sehat, Sayang."


"Sekali nggak ya nggak, kamu saja yang makan!" serunya semakin merajuk.


Tak lama kemudian, terlihat Dimas dan Ratna datang. Mereka terlihat sangat panik setelah mengetahui jika Vanye masuk rumah sakit, padahal tadi baik-baik saja.


"Ya ampun, Nak. Kok bisa kamu masuk rumah sakit, tadi sebelum berangkat kamu baik-baik saja loh." Ratna terlihat panik.


"Vanye hanya kecapean kok, Ma. Kan beberapa hari ini dia lembur terus, sampai lupa makan, sudah tau ada maag malah makannya nggak teratur," jelas Daniel masih sedikit kesal.


"Ini semua salahmu, Pa. Sudah Mama bilang jangan membebani Vanye, biar dia menikmati masa mudanya dan fokus pada program kehamilan, bukan malah sibuk urus perusahaan," cetus Ratna memarahi suaminya.


"Papa kan nggak tau kalau akhirnya seperti ini, Ma. Eh, tapi tunggu sebentar membahas tentang program hamil, saat ini kamu nggak sedang hamil kan? Soalnya dulu mamamu juga sering pingsan saat mengandung kamu," kata Dimas.


"Mana ada, Ma. Aku murni kecapean saja, jangan berpikir aneh-aneh deh," sahut Vanye cepat. Dia tak mau orang tuanya salah paham dengan kondisi tubuhnya saat ini, jika pun hamil itu nggak mungkin karena dia baru saja menyerahkan semua pada Daniel beberapa minggu ini.


Ratna sudah membayangkan bagaimana nanti kalau dia punya banyak cucu, pasti rumahnya nggak akan sepi lagi karena ada tangisan bayi menggelegar di dalam rumah.


"Sabar dong, Ma. Ini juga usah, nanti pasti hamil kok, tapi nunggu waktu saja."


Selagi anak dan istrinya berbincang-bincang, ternyata Dimas terus memperhatikan menantunya. Dia merasa ada yang tidak beres pada Daniel, apalagi tak ada senyum sedikitpun di wajahnya.


Karena penasaran, Dimas memilih mengajak Daniel keluar sebentar. Di luar pun menantunya ini masih terlihat diam tanpa suara, sampai akhirnya Dimas menepuk pundak Daniel.


"Kamu ada masalah?" tanya Dimas.


"Nggak kok, Pa." Bohongnya. Padahal jauh dalam lubuk hatinya, Daniel takut jika keluarga Vanye menolak menantu yang dilahirkan tak ada ikatan pernikahan.


"Kamu nggak pandai berbohong, Daniel. Jadi jangan pura-pura tak ada masalah, cerita sama Papa barangkali bisa bantu." Pancing Dimas. Bagaimanapun dia harus mencari sumber dari kegelisahan Daniel.


Daniel terlihat sangat kebingungan, dia tak tahu harus berkata jujur atau tidak. Tapi, Daniel belum siap jika nantinya Dimas menolak statusnya.

__ADS_1


"Daniel, bicaralah."


"Huft!" Daniel menghembuskan nafas kasar. Dia menatap sang mertua dengan tatapan sulit diartikan, rasanya sangat berat dan campur aduk.


"Pa, jika aku bukan anak sah dan bisa dibilang anak haram, apa Papa masih mau memiliki menantu sepertiku?"


Akhirnya Daniel mengutarakan isi hatinya pada Dimas. Sekarang dia menanti jawaban mertuanya dengan perasaan dag dig dug, takut jika jawabnya tak sesuai angan-angan.


"Jadi ini yang membuatmu diam saja dari tadi?"


Daniel mengangguk cepat. "Iya, Pa. Jika Daniel bukan anak Sah, apakah aku masih boleh menjadi menantu Papa dan suami Vanye?"


"Daniel, didunia ini nggak ada namanya anak haram maupun anak sah. Bagi Papa semua sama dan anak yang lahir dari sebuah kesalahan juga berhak bahagia, jadi kamu nggak perlu takut jika Papa akan menjauhkan kamu dari Vanye. Kalian sepasang suami-istri, jadi untuk apa dipisahkan hanya karena sebuah status?"


Dimas meyakinkan Daniel, meski status Daniel anak haram pun Dimas akan tetap menjadikan Daniel menantu, karena sifat manusia bukan dinilai dari statusnya.


"Papa serius?" Daniel tak menyangka dengan jawaban Dimas.


"Sangat serius, Daniel. Papa nggak tau masalah apa yang kamu hadapi saat ini, tapi yakinlah Nak, sampai kapanpun hanya kamu pendamping Vanye. Nggak ada yang bisa menggantikanmu, sampai kapanpun."


Daniel benar-benar terharu mendengar ucapan mertuanya. Dengan perasaan bahagia, dia memeluk erat Dimas sambil menangis.


"Terima kasih, Pa. Terima kasih, aku berjanji akan selalu menjaga Vanye sampai aku menutup mata, inilah janjiku pada Papa."


Dimas menganggukkan kepala, dia hanya bisa melakukan itu dan berharap ucapan Daniel bisa dipegang. "Papa pegang janjimu, Nak."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.


Judulnya SANG PELAKOR Author TIKAPERMATA jangan lupa ya 😍😍


__ADS_1


__ADS_2