Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 53. ATAS NAMA VANYE


__ADS_3

Lima bulan berlalu ....


Tok tok tok


Ketukan palu pun terdengar sangat nyaring. Setelah beberapa bulan menghadapi persidangan yang sangat melelahkan, akhirnya kini Doni dijatuhi hukuman 15 tahun penjara dan denda 300 juta.


Meski merasa tak sebanding dengan perbuatan Doni, tapi Daniel merasa lega bisa menyaksikan papanya itu mendekam di jeruji besi.


"Dasar anak kurang ajar!" teriak Doni merasa tak terima.


"Semua perbuatan pasti ada balasannya, pak Doni. Semoga dengan ini anda bisa bertaubat, sebelum Allah benar-benar murka dan mengambil paksa nyawa anda!" seru Daniel sambil menepuk-nepuk dada Doni.


Tak mau terlalu lama bicara dengan Doni, Daniel segera pergi dan menghamp Aily. Dengan senyum puas, dia keluar dari ruang persidangan tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.


"Anakku, dia mau dibawa kemana?" Aily terus menoleh kebelakang. Teriakan demi teriakan Doni, membuatnya takut sampai perasaannya jadi tak tenang sedikitpun.


"Dia akan menerima ganjarannya, karena telah melukai Mama."


Daniel pun segera membawa Aily keluar, bersama keluarga besarnya. Sesampainya di rumah, Daniel sedikit bingung dengan permintaan mertuanya untuk menemuinya di ruang kerja.


Setelah memastikan Aily aman, Daniel langsung menuju ruangan Dimas dan duduk di hadapannya. "Daniel," panggil Dimas sangat serius.


"Iya, Pa." Daniel terlihat sangat gugup, takut jika ada kesalahan yang dia buat.


"Papa lihat, Vanye beberapa bulan lalu menarik uang lima ratus juta. Kalau boleh Papa tau, kalian pergunakan untuk apa?"


Deg!


Daniel terlihat semakin salah tingkah, dia lupa untuk membahas hal ini dengan mertuanya karena terlalu fokus pada persidangan orang tuanya.


"Jangan takut, Daniel. Papa nggak marah atau apa, hanya saja Papa penasaran untuk apa Vanye mengambil uang sebanyak itu, padahal selama berpuluh-puluh tahun dia tak pernah memakainya. Pernah sih, tapi paling banyak hanya lima juta sebulan," jelas Dimas takut jika menantunya salah paham.

__ADS_1


Padahal dia sangat suka jika anaknya itu mau memakai uang pemberiannya, Dimas hanya terkejut Vanye mau memakai uang itu.


"Jadi seperti ini, Pa. Beberapa bulan lalu, aku bertemu Ramon dalam keadaan mengenaskan dalam artian dia mengalami kekerasan dan dipaksa menjadi pengamen jalanan. Karena waktu itu Ramon tak memenuhi target, dia dianiaya," ucap Daniel berkata jujur pada mertuanya.


"Aku yang melihatnya nggak tega, jadi memutuskan untuk mengambil Ramon tapi orang yang memaksa Ramon meminta ganti rugi tujuh ratus juga, namun aku tawar sampai turun menjadi lima ratus juta. Jadi itulah kenapa Vanye mengambil uang sebanyak itu, karena ingin menebus Ramon." Jelasnya.


"Ya ampun, kasihan sekali Ramon. Tapi, kalian sudah melakukan perjanjian di atas kertas kan? Kalau orang itu nggak bisa mengganggu Ramon, sampai kapanpun?" tanya Dimas.


"Sudah dan jika dia sampai melanggar, maka urusannya dengan polisi."


Dimas menganggukkan kepala, dia sangat salut pada menantunya ini. Masih muda tapi berani mengambil keputusan besar, padahal jika orang lain belum tentu mereka mau menerima orang luar seperti Ramon.


"Terus kedepannya, kamu mau apakah Ramon? Nggak mungkin kan dia ada di rumah terus, pasti dia sangat bosan dan membutuhkan teman serta pendidikan," kata Dimas langsung diiyakan Daniel.


Jauh sebelumnya memang Daniel sudah memikirkan kedepannya untuk Ramon. Mulai mencari-cari informasi tentang sekolah terbagus dan segalanya.


"Daniel sudah mengatur semuanya, Pa. Pengacaraku sudah mengurus berkas-berkas adopsi Ramon, setelah pengadilan memberikan izin Daniel mengadopsi Ramon, baru Ramon bisa sekolah seperti anak-anak lain," ungkap Daniel.


Tak lama kemudian, Dimas mengeluarkan sebuah kertas dan langsung memberikannya pada Daniel. "Terimalah ini, Daniel."


"Pa, ini maksudnya apa?" Daniel sangat terkejut melihat sertifikat rumah beratas namakan dirinya.


"Ini rumah Papa beli untuk kamu dan keluargamu. Daniel, tolong jangan tolak pemberian Papa. Kesehatan Papa akhir-akhir ini selalu menurun, hanya Vanye yang bisa mengurus perusahaan, sedangkan dia tak mungkin selalu bekerja dari jauh. Tinggalah di Jakarta, masalah rumah makan Papa bisa bangunkan disini," kata Dimas sangat memohon.


"Bukan masalah rumah makan, Pa. Tapi ...." Daniel menyerahkan kembali sertifikat rumah itu.


"Tapi, kenapa harus rumah baru?" tanya Daniel.


"Papa takut kamu merasa tak enak tinggal dirumah ini. Bukan Papa nggak suka kalian disini, malahan sangat senang karena rumah terasa ramai dan nggak sepi seperti dulu, cuma Papa mikirnya kamu ingin privasi sendiri," balas Dimas.


"Rumah ini nggak bisa aku terima, Pa. Karena niat kita berdua mau mengontrak rumah di dekat-dekat sini, meski kecil tapi itu hasil kerja kerasku sendiri." Tolak Daniel secara halus.

__ADS_1


"Kenapa seperti itu? Kamu selalu menolak pemberian Papa, Daniel. Padahal Papa sudah memilihkan tempat terdekat dari rumah ini, agar kalau aku merindukan Vanye tak terlalu jauh." Dimas terlihat sangat kecewa.


Daniel pun jadi tak enak hati, niatnya tak mau terlalu bergantung pada mertuanya tapi jika melihat Dimas sangat sedih, membuat Daniel pikir dua kali.


"Kamu juga tau, Vanye anak Papa satu-satunya. Hanya dia yang aku andalkan, jika kamu selalu menolak pemberianku, sama saja kamu ingin memisahkan Vanye dengan keluarganya secara perlahan-lahan." Tuduh nya membuat Daniel menggeleng cepat.


"Bukan seperti itu, Papa. Astaga kok bisa Papa punya pemikiran seperti itu sih," ucap Daniel semakin frustasi.


"Terus apa? Nggak ada alasan lain kan, selain ini. Jadi, bukan salah Papa jika memiliki tuduhan seperti ini padamu. Memang ini sudah menjadi nasibku, punya anak hanya satu, tapi suaminya ingin —"


"Oke, oke! Daniel akan ambil rumah ini, tapi dengan satu syarat!" Putus Daniel agar tidak dituduh terus-menerus. Entah mertuanya sengaja menyudutkannya, atau tidak yang pasti Daniel harus menerima daripada berbuntut panjang nantinya.


"Apa? Katakan, biar aku tau apa persyaratan mu agar mau menerima pemberianku ini." Dimas terlihat menantikan syarat dari Daniel.


"Syaratnya, sertifikat harus dibalik nama menjadi Vanye. Aku nggak mau menerima rumah yang bukan milikku, ini hak Vanye jadi harus atas nama Vanye. Apa Papa setuju?" Putus Daniel agar semuanya beres.


"Kenapa harus Vanye? Kan kamu kepala rumah tangga, jadi wajar jika Papa taruh namamu."


Daniel menggeleng langsung, "meski aku kepala rumah tangga, bukan berarti seluruh aset namaku kan, Pa? Rumah ini akan aku terima jika nama pemiliknya sudah diubah menjadi nama Vanye, hanya itu permintaanku nggak sulit kan, Pa?" Daniel terlihat sangat serius dengan keputusannya.


Daripada mendengar tuduhan Dimas, lebih baik dia menerima tawaran mertuanya, tapi dengan syarat yang seperti dia ucapkan tadi.


"Kamu serius?"


"Sangat serius, bukan hanya pemberian Papa saja. Rumahku yang ada di Bandung, juga sudah beralih nama menjadi milik Vanye. Semua akan ku serahkan padanya, karena sekarang prioritasku adalah dia."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.


Judulnya NIKAHI AKU, PAK DOSEN Author AVEEII jangan lupa ya 😍😍

__ADS_1



__ADS_2